Meidina Mayangsari tak menyangka akan terjebak dalam kehidupan Presdir yang begitu arogan, dia menjadi asisten pribadi.
di kelilingi oleh pria pria tampan, siapa yang akan menjadi pelabuhan terakhirnya? nikmati ceritanya dan ingat ini novel 21++++
seoson 2
Samuel harus menerima kenyataan pahit karena kecelakaan yang di alami, tapi dia bersyukur wanita yang di cintainya tetap berada di sisinya.
akankah mereka bersama kita lanjutkan baca ceritanya cuzz.... tetap dengan21++
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meidina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
luka baret itu sakit.
malam hari David dan Mei pun terlelap dalam perasaan dan pikiran masing-masing.
keesokkan paginya, Mei bangun dengan kepala yang pusing karena menangis sepanjang malam.
dia pun segera mandi dan duduk bersama pak Rozak dan kedua adiknya.
"kamu kenapa? sakit?" tanya pak Rozak.
"tidak pak, hanya belum terbiasa dengan suhu pagi di rumah ini," jawab Mei meminum teh panas.
"itu teh panas loh mbak," kata Anto.
"gak papa, mbak kedinginan," jawab Mei tertawa.
"sudah sekarang cepat makan, kaloan ini suka temen gangguin mbak nya," kata pak Rozak.
"iya pak," jawab Anto.
sedang di villa milik David, keempat pria itu sudah berangkat ke tebing yang berada di air terjun di daerah itu.
David dan Bastian naik tanpa mengunakan tali pengaman, karena mereka yang memiliki perjanjian.
David terlihat begitu biasa memanjat tebing yang cukup curam itu, berbeda Bastian memilih mundur dari pada terluka.
David sudah hampir sampai atas, tapi pijakannya tergelincir karena licin.
tanpa sengaja kaki dan tangan David terluka, tapi dia tak merasakannya karena terlalu fokus panjat tebing.
setelah sampai atas David langsung meloncat turun dari atas hingga jatuh ke bawah.
David pun tertawa saat bisa mengalahkan kedua sahabatnya itu, tapi senyumnya hilang saat melihat tatapan Mei yang begitu sedih.
"kamu disini?" tanya David.
"maaf menganggu waktu kalian yang ingin mati konyol, aku pergi," kata Mei kesal.
pak Qin segera mengikuti Mei yang pergi, bahkan gadis itu beberapa kali mengusap air mata yang jatuh di Pipinya.
"nona tolong tenanglah, tuan sering melakukan itu," kata pak Qin.
"dia tak tau jika di bawah air terjun itu banyak batu tajam yang bisa melukainya, dan itu membuatnya bisa mati," lirih Mei yang menangis sambil berjongkok.
"kenapa kamu setakut itu, bahkan orang tua ku saja akan biasa saat aku mati, jadi tak usah lebay begitu," kata David yang datang menghampiri keduanya.
mendengar perkataan David yang menyepelekan hidupnya, Mei merasa begitu geram dan marah.
plak... tamparan keras di berikan oleh Mei di pipi David, "kalau begitu mati sana, aku tak peduli dengan mu tuan, kau menyebalkan," kata Mei langsung pergi dari sana.
Bastian, Arman dan Ferdi terdiam melihat Mei yang berani menampar David begitu saja.
David yang marah berlari dan menangkap Mei, dia mencengkram dagu Mei dengan begitu keras.
"berani kau memukulku, kamu sudah bosan hidup hah, aku bisa saja aku membunuh mu dan keluargamu, ingat batasan mu dan juga derajat mu!" bentak David marah.
Mei hanya bisa menangis di depan David, pria itu pun mendorong Mei hingga terjatuh.
"maafkan aku tuan, sesaat aku lupa jika aku tak berhak atas anda ...."
"sekarang ikut aku ke villa, dan berhenti menangis atau aku akan membuatmu tak bisa menangis lagi," ancam David.
Mei pun hanya bisa mengangguk dan mengikuti David bersama pak Qin.
sedang Arman, Bastian dan asisten Ferdi melihat saja tanpa bisa berkomentar apapun.
"apa David gila, dia tak bisa melihat perasaan asistennya?" kata Arman.
"sudahlah, kamu juga tau bagaimana David itu, semoga dia segera sadar, ayo Ferdi kita balik, sebelum David makin menggila," kata Bastian.
"baik tuan," jawab Ferdi yang membawa perlengkapan keselamatan milik David.
sedang David menarik tangan Mei dengan begitu kasar, dan saat sampai di villa pria itu mendorong Mei hingga tersungkur di lantai.
Mei pun hanya bisa menahan semuanya, dan tetap berusaha tersenyum di depan David.
David pun kemudian meninggalkan Mei begitu saja, sedang pak Qin membantu gadis itu bangkit.
pak Ali dan pak Khan terkejut menyaksikan itu, pasalnya Bastian dan Arman tidak pernah melakukan hal yang begitu buruk seperti itu.
"apa nona baik-baik saja?" tanya pak Qin.
Mei mengangguk dan langsung menghampiri David yang kini berada di kamarnya.
"semoga tuan segera berubah," lirih pak Qin melihat Mei naik ke lantai dua.
Mei memberanikan diri masuk ke kamar itu, dia langsung menuju ke kamar mandi.
dan memeluk tubuh David dari belakang, "maafkan aku tuan, untuk sesaat aku lupa semua batasan ku, apalagi melihat anda melompat dari atas air terjun tadi ...."
"apa sakit?" tanya David mengusap pipi Mei saat berbalik.
Mei mengeleng pelan, yang saat ini dia rasakan bukan sakit secara fisik, tapi hatinya yang terluka.
David pun memeluknya, mereka pun berpelukan di bawah guyuran shower.
Mei pun membereskan semuanya,
dan membawa kotak p3k. dia pun duduk di meja.
sedang David mengulurkan kakinya untuk di obati wanita di depannya itu, Mei dengan hati-hati mengusapkan obat merah.
David hanya tersenyum, dia bahkan tak bisa merasakan sakit luka itu, tapi dia bisa melihat Mei yang meringis.
"apa sakit, ah.. maafkan aku," lirih wanita itu takut.
"berhenti meminta maaf, obati saja," kata David mengambil telpon dan meminta pak Qin membawakan minuman untuk keduanya.
sekarang Mei memeriksa tangan David yang terluka, Mei meniup dan mengobati luka itu.
"disini juga terluka," kata David menunjuk Pipinya.
Mei pun perlahan mendekat, dengan gerakan cepat David menahan tengkuk Mei.
"lain kali jangan berani melukai ku sayang, atau kamu akan tau kemarahan ku," kata David menyatukan kening mereka.
"iya tuan," jawab Mei ketakutan.
David pun melepaskan cengkeramannya, sedang Mei terdiam melihat sosok pria itu.
meski sudah tiga tahun bersamanya, dia masih belum bisa membuat pria itu jujur dengan masalahnya.
ingin rasanya Mei membuatnya membuka mulut pria itu, pasalnya dia ingin mengetahui semuanya.
dan berharap bisa membantu pria itu untuk membuka lembaran baru agar tak terjebak di masa lalu.
terlebih David yang tak bisa membuka hati untuk siapapun. pak Qin datang saat Mei sudah mengobati luka David.
"hei mau kemana?" tanya David melihat Mei ingin pergi.
"mau ke bawah tuan, aku ingin membuat makan siang, karena aku lapar," jawab Mei.
"tunggu disini, pak win buatkan dua pasta dan ayam goreng untuk kami, dan jangan biarkan dua pria menyebalkan itu naik dan menemui kami," kata David.
"baik tuan," jawab pak Qin sebelum pergi.
"kenapa masih diam di situ, kemarilah!" panggil David.
mendengar itu,Mei pun buru-buru duduk di samping David, ingin rasanya David tertawa melihat itu.
"kenapa kamu begitu mengemaskan saat seperti ini, maaf sering menyakitimu, aku hanya tak ingin kamu meninggalkan diriku, aku terlalu sering terluka dan di tinggalkan, hingga mengikat erat apa yang aku miliki saat ini," kata David merapikan rambut Mei kebelakang telinga.
"aku tak akan pergi, jika tuan tak membuangku, karena aku bisa seperti ini karena tuan," jawab Mei tersenyum melihat David.
tanpa sadar David mengusap pipi Mei dengan lembut, entahlah hanya dengan melihat senyum itu David begitu tenang.
sukses.....semangat
mksh
sukses....semangat
mksh
biar kebuka kedok widya,,,
Dan mei bisa balikan dgn david
ron jg penjahat
orang baik mah harusnya gak nyulik kek gt, mey jelas punya keluarga malah diculik.
parah gilak
coba dia ga bawa pergi si mei, david jelas berubah baik kok.
maling treak maling ini mah namanya