ANDI ALDA MAROLAH merupakan putri tunggal mantan Anggota DPRD. Ia terlahir dari garis keturunan bangsawan suku bugis. Andi Alda berprofesi sebagai ASN PNS. Guru di salah satu SMA di Kota Makassar.
Suatu hari ia dipertemukan dengan seorang pria yang bernama IBNU RAJAB. Keduanya jatuh cinta. Namun, orang tua Alda tidak merestui. Mereka memilih menjodohkan putrinya dengan ANDI PANGERANG ADAM. Seorang pria berusia 45 tahun dan menjabat sebagai Kepala Dinas Pariwisata.
Bagaimana akhirnya? Yuk mampir! Jangan lupa tinggalkan jejak like, vote dan komentar🥰
Salam
AAH❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AAH♥️, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
APAKAH PANTAS?
Ibu Hilda memindahkan empat mika kue kering tersebut ke sampingnya. Wanita paruh bayah itu bahkan beranjak mencari kantong kresek berwarna putih dengan logo salah satu tempat perbelanjaan yang cukup familiar.
"Berikan pada dia. Sampaikan salam Ibu untuknya," ucap dengan penuh keyakinan.
Dia tahu, bahwa putranya telah memiliki tambatan hati meski tidak menyebutkan secara gamblang siapa orang tersebut. Bu Hilda juga tidak ingin memaksa. Biarlah puteranya yang berinisiatif sendiri untuk menyampaikan.
Ibnu hanya mengangguk dan tersenyum penuh arti. Pria dengan jambang tipis menghiasi wajahnya kemudian membawa benda tersebut dan berlalu menuju kamar.
Sekitar pukul tujuh malam, Ibnu bersiap-siap. Jaket kulit dengan kualitas standar telah membalut tubuhnya yang berisi. Ransel telah bertengger di balik punggung lebarnya.
Setelah ritual berpamitan yang dilakukan kepada Sang Ibu, pria itu segera membawa motornya meninggalkan kediamannya.
Yah, salah satu rumah mewah dua tingkat dengan cat berwarna putih menjadi tempatnya merajut asa. Mencoba mengumpulkan keyakinan agar langkahnya tertuntun sampai.
Ibnu membuka helm. Bola matanya menyapu bangunan tersebut membuat percaya dirinya kian retak. Meski pernah mendatangi sebelumnya, namun kali ini rasanya berbeda.
"Bismillah ...."
Tak dapat dihindarkan degupan jantungnya semakin memacu. Kembali ia mengingat percakapannya dengan Alda beberapa puluh menit lalu. Wanita itu yang menyarankan untuk datang malam ini dengan dalih besok ia tak memiliki waktu luang.
Ibnu bisa apa selain mengiyakan.
Pria itu memencet bel yang terpasang di tembok samping pagar. Harap-harap cemas ia menanti kedatangan Andi Alda Marolah dan menemui dirinya.
Satu kali.
Ibnu menghembuskan napas. Mengusap wajahnya yang memancarkan raut kegelisahan. Saat tangannya kembali hendak menekan tombol tersebut, tiba-tiba suara telapak kaki mendekat dan membuka gembok yang menimbulkan suara decitan dan nyaring.
Sedikit demi sedikit benda itu terbuka menampakkan seorang wanita muda dengan wajah ayunya. Seperti sebelum, dia mampu menghipnotis Ibnu dengan sudut bibir yang terangkat berhias lesung pipi.
Indah.
"Assalamualaikum ...." Ibnu berusaha bersikap tenang.
"Waalaikumussalam ... masuk, yuk!"
Pria itu meremas tali tasnya seolah membagi apa yang ia rasakan. Rumah dua tingkat itu tak hanya menampakkan kemewahan dari luar saja. Namun juga di dalam.
Saat kakinya berpijak di ruang tamu, bola mata Ibnu menangkap foto berukuran besar yang di dalamnya menampakkan sosok pria paruh baya dengan senyuman terkembang di bibir. Tampak tidak asing. Wajahnya seringkali menghiasi setiap sudut kota beberapa tahun yang lalu.
Benar saja, napas Ibnu tertahan kala melihat tulisan pada foto tersebut.
...ANDI SHADAM MAROLAH, S.E., M.M...
...Anggota DPRD Periode 20xx - 20xx...
Sekelebat ingatan pria tersebut tertuju pada pertemuan pertamanya dengan Alda di hotel. Ucapan Nana terngiang-ngiang menjelaskan siapa wanita itu sebenarnya.
Putri tunggal mantan anggota dewan, pendidikan oke ... PNS lagi! Dan yah, seorang bangsa-
"Silahkan duduk, Nu."
Suara lembut itu kembali menyapa indera pendengaran Ibnu. Merapikan kembali ingatan pria tersebut. Gerakan spontan, ia mengangguk.
"Terima Kasih."
"Mau minum apa?"
Ibnu mendongak menatap netra hitam yang kini menanti jawabannya. "Apa saja."
"Harus memilih. Nanti tidak sesuai dengan sele-"
"Teh."
Alda hanya mampu tertawa. "Ya sudah. Aku ke dapur."
Ibnu menautkan jemarinya. Pertanyaan demi pertanyaan mencuat dalam pikiran. Pun dengan rasa percaya dirinya semakin menurun.
Apakah dia salah telah bertamu ke rumah ini?
Apakah pantas ia menyimpan rasa pada wanita itu?
Kurang lebih lima menit, Alda telah tiba dengan membawa nampan berisi cangkir teh. Ia meletakkan itu tepat di depan Ibnu dan membuka toples berisi nastar.
"Diminum," ucap Alda seraya mendudukkan bokongnya di sofa.
Ibnu hanya mengangguk. "Sendiri?"
"Ayah dan Ibu ada di dalam."
"A-apa aku tidak mengganggu?"
Alda mengerutkan kening. "Kan, kamu sudah izin."
Pria dengan jambang itu menipiskan bibir. Meskipun begitu, Ibnu merasa sungguh tidak enak.
Ditengah perbincangannya, tiba-tiba seorang pria paruh baya bersuara diantara mereka. Wajahnya begitu mirip dengan figura yang terpasang di dinding. Hal itu tentu mengalihkan perhatian keduanya.
"Alda."
Suara bariton itu mampu membuat Ibnu menelan ludah. Saraf-sarafnya begitu tegang hingga bernapas pun begitu sulit.
"Ayah."
Pria paruh baya itu menatap Ibnu dengan tatapan sulit diartikan. Ibnu beranjak dari duduknya dan mengucapkan salam hendak meraih tangan Andi Shadam. Namun ....
.
.
.
.
.
Like-like, komentar, dan vote yah readers sayang😁
follow igeh : asriainunhasyim
Salam Sayang
AAH♥️
smg ibnu jg bisa mncintai nana