Hawa Hasnawi gadis penjual kripik singkong, yang dipaksa menikah dengan pemuda sombong, dingin dan angkuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon harsupi fakihudin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Apartemen Baru Part 2
"Nanti, kalau mama papa atau mami papi datang, aku tidak bertanggung jawab"
Fariz masuk kedalam kamar utama, dengan membanting pintu
Brakkk
Hawa hanya mengelus dada
Hawa mengurungkan niatnya untuk masuk kekamar tamu. Hawa juga tak berani masuk kekamar, dimana Fariz berada
Hawa berjalan pelan menuju dimana ruang televisi berada. Hawa duduk disofa dengan kebingungannya
Sementara,
Fariz sudah selesai mandi, berganti pakaian, lalu, keluar menuju televisi yang masih off, tapi sudah ada seseorang yang duduk disana
Fariz duduk disamping Hawa, ia mulai menyetel televisi "Kudengar, kamu masih kuliah"
"Iya" Jawabnya
"Terus, rencanamu?" Fariz bertanya, sambil melirik Hawa yang sedang memainkan kukunya karena takut
"Tidak tau" Jawabnya takut
"Kenapa tidak tau !!"
"Karena alat alat yang kupunya kebakar semua" Jawab Hawa pelan
"Aku tidak tanya itu"
"Oh" Tersayat lagi hati Hawa
Fariz sibuk menonton televisi
"Bang, ktp Hawa mana" Hawa menoleh kearah Fariz
"Buat apa meminta ktp" Ketus Fariz
"Kan hanya kartu identitas itu yang Hawa punya bang" Jawabnya takut
"Hey... Urusanmu denganku belum selesai. Mobilku penyok, mau, kamu bertanggung jawab??!!"
Hawa menarik koper, yang ada disampingnya. Ia mengambil amplop yang dikasih Wahidah
"Abang, ambillah" Hawa menyodorkan amplop berwarna coklat pemberian Wahidah "Uang ini pemberian mami. Selain ini, Hawa tidak punya apa apa. Mulai besok, Hawa akan mencari kerja, agar bisa melunasi hutang hutangku pada abang" Hawa sudah berkaca kaca
Fariz berdiri, merebut amplopnya, mengeluarkan isinya, dan menumpahkan uang tersebut diatas kepala Hawa
Hawa sudah tidak bisa bicara, sakit rasanya dihina.
Hawa berjongkok, memunguti satu persatu uang yang disebar oleh Fariz "Bagi abang, uang segini mungkin tak ada apa apanya. Tapi bagi orang yang tidak mampu semacam aku, satupun akan berharga" Hawa terisak tak berdaya
"Persetan apa katamu" Fariz pergi keluar apartemen, meninggalkan Hawa yang sudah mematung didepannya
Braaakkk
Airmata Hawa sudah tidak dapat dibendung lagi
"Hwahahaha, kenapa ? kenapa ini terjadi denganku hwahaha" Hawa menangis sejadi jadinya
Dalam isakannya "Aku harus kuat, mungkin inilah nasibku"
Setelah Hawa mengusap wajah dengan kasar, Hawapun berjalan terseok seok manarik kopernya kedalam kamar tamu.
"Bang.. Hawa akan bayar, berapapun jumlahnya" Hawa duduk ditepi ranjang, mengusap air matanya yang susah dihentikan
"Aku harus kerja, tapi dimana, Hp tidak punya, ijazah tidak punya" Hawa meringkuk meratapi nasib
-
Pagi harinya
Hawa bangun, dan melangkahkan kakinya menuju dapur. Hawa mengabsen seluruh ruangan dapur. Terlihat komplit penuh perabotan. Hawa melihat kulkas dua pintu. Ia penasaran sekali dengan isinya.
Setelah Hawa membuka
"Wah.." Mata Hawa terbelalak melihat isi kulkas tersebut.
Isinya komplit, dan penuh
Hawa mengambil bahan yang perlu dimasak. Dan ia mulai memasak ala rumahan. Setelah beberapa menit, masakan sudah siap disantap
Hawa celingak celinguk "Tak ada orang. Pria galak kemana?"
"Cari siapa?" Tiba tiba Fariz sudah berdiri, dan sudah berpakaian rapih disamping kiri Hawa
Fariz menarik kursi, untuk dirinya duduk
"Kenapa semalam kamu tidur diruang tamu?!" Tanyanya galak
"Maaf"
"Kenapa minta maaf"
"Hawa takut dikira tidak sopan" Jawabnya takut
"Bagus. Rencanamu hari ini apa?" Tanyanya sedikit waras
"Mau kesekolahan SMA"
"Mau nglamar kerja disana?" Tanya Fariz
"Semua barang barang berharga lenyap, termasuk ijazaku..." Hawa belum sempat meneruskan kata katanya, sudah disamber oleh Fariz
"Nggak usah sebut sebut mengenai kebakaran kenapa sih. Kau seakan ingin menukar guling masalahmu menabrak mobilku, dengan masalah kebakaran, yang disebabkan oleh kompor yang belum aku matikan"
"Bukan"
"Lalu?"
"Aku akan melapor, kalau ijazaku hilang. Dan aku ingin meminta Ijaza duplikat, agar aku bisa melamar kerja" Jawabnya takut salah ucap
"Dipabrikku, ada lowongan kerja besar besaran. Kalau mau melamar disana, secepatnya. Takut keburuh ditutup"
Hawa melihat Fariz sibuk mau mengambil nasi
"Sini, aku ambilkan" Hawa meminta piring yang barusan dipegang Fariz
Fariz diam tidak menolak, iapun menerima nasi yang diambilkan oleh Hawa
Hawa dan Fariz sarapan dengan hening
Setelah selesai sarapan, Fariz berjalan akan meninggalkan apartemen ini. "Jadi nggak mau melamar kerja ?"
"Tanpa surat lamaran?" Tanyanya bingung
"Ya harus pakai dong"
"Aku belum membuat surat lamaran"
"Ya bikinlah"
"Kan tidak ada kertas folio untuk menulis lamaran"
"Oh, gitu ya.. Ya sudah beli sana"
"Tanpa ijaza juga boleh?"
"Ya nggak bolehlah ! lalu, personalia tau kamu lulusan darimana kalau tanpa ijaza" Bicaranya mulai ngegas
"Ijazaku kan terbakar" Lirihnya
"Lalu rencanamu" Fariz menurunkan oktaf bicaranya
"Akan meminta kesekolah, untuk meminta duplikat. Siapa tau boleh"
"Kalau tidak boleh?"
"Terpaksa kerja lain tanpa ijaza"
"Yasudah terserah kamu" Fariz
Dan Fariz pergi meninggalkan rumah
-
Hawa sudah siap siap. Ia segera keluar, untuk pergi kesekolahan SMA nya dulu.
Setelah sampai disana, ternyata prosesnya susah dan lama. Kalau cuma alasan kebakaran, semua orang juga bisa beralasan seperti itu. Hawa harus lapor ke kepolisian, mengenai kebakaran, dan dari balai desapun harus ada laporan berita tersebut, termasuk harus ada saksi yang bertanda tangan diatas kertas pernyataan tersebut
Hawa bingung, harus cari pekerjaan dimana
Akhirnya Hawa pergi kesuatu tempat, tak sengaja, ia melihat penjual sosis telur, yang ramai pengunjungnya.
Hawa mendekatinya, dan ternyata, penjual sosis tersebut adalah temannya waktu diSMA
"Hawa.."
"Eh, Barudin ya" Hawa menebak
"Iya betul Hawa. Eh, kamu darimana mau kemana?" Tanya Barudin yang sibuk melayani pelanggan
Hawa akhirnya menceritakan semuanya mengenai kebakaran dan datang kesekolah
"Hai, kalau kau jaga ini mau nggak. Lumayan buat pendapatan kamu. Gajiannya persenan. Kalau kau mampu menjual sosis banyak, mala gajianmu juga banyak. Gimana mau nggak?"
"Kalau aku sambil kuliah bagaimana?"
"Nggak apa apa, nanti tukeran sift"
Kapan aku mulai?"
"Besok datang jam 10:00 , nanti langsung tampil. Gampang kok. Nanti aku bantu, jangan takut"
"Baiklah, sampai besok ya Din"
-
Malampun tiba,
Hawa keluar dari kamar tamu, ia keluar ingin mengambil air minum didapur.
Tiba tiba
"Besok mama mau datang kemari" Ucap Fariz sambil menonton televisi
"Jam berapa?"
"Kenapa tanya jam"
"Nggak, hanya tanya saja"
"Kalau tidak sore, malamnya" Fariz
"Oh..." Hawa melintas kedapur
"Hanya itu?" Tanya Fariz
"La terus, aku harus bagaimana?"
"Terserah kamulah, semalam aku sudah ngomong. Jika mama atau mami datang, aku tidak bertanggung jawab" Lalu Fariz mematikan televisi, dan masuk kekamarnya
Hawa tak ambil pusing. Barang barang yang ada didalam koper, ia tarik dan dibawa masuk kekamar dimana Fariz berada
Gerret
Hawa membuka pintu kamar Fariz sambil boyongan
"Lho, tadi kamu mau tidur dikamar sana lagi, kenapa kesini"
"Kata abang, tidak akan bertanggung jawab kalau Hawa tidur dikamar sana" Hawa berdiri, namun netranya mengikuti kemana Fariz melintas
Hawa duduk disofa "Bang, kalau Hawa tidak melanjutkan kuliah boleh?" Sambungnya
"Serah"
BERSAMBUNG.......
trenyuh aku..... banyu moto gak bisa mandek....
trenyuh aku..... banyu moto gak bisa mandek....