Bella sudah berusia dua puluh delapan. Ia masih belum memikirkan soal pernikahan dengan siapapun. Namun, ketika adiknya dilamar orang lain ia dijodohkan dengan seorang yang bahkan tak ia kenal dan sama sekali bukan tipenya.
Bella si perfeksionis harus menikah dengan Aska si urakan. Lantas kehidupan Bella berubah drastis setelah pernikahan tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Etika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjanjian di Malam Pertama
Aska membaringkan tubuhnya di kamar hotel usai acara pernikahannya yang berjalan lancar dan meriah. Ia memejamkan mata dan nyaris terlelap jika saja tak ada suara pintu diketuk.
Aska bangun dan membuka pintu, Romi rupanya.
" Hape."
Aska menerima ponselnya yang disita selama tiga hari. Setelah mengucapkan terimakasih, ia menutup pintu bahkan sebelum Romi pamit.
" Ck, masih sore. Udah nggak sabar ya!"
Aska tak peduli. Ia langsung mengunci pintu dan kembali merebahkan tubuh di atas ranjang king size hotel. Lagi-lagi hadiah pernikahan yang cukup mewah dari kakak-kakaknya. Voucher menginap di hotel tempat resepsi selama dua hari dua malam.
" Gua pesenin di hotel ini, supaya kalian nggak capek bolak-balik," begitu kata Romi sebagai pencetus ide ini.
Benar juga. Resepsi empat jam beserta persiapan dan sesudahnya, memang menguras banyak tenaga. Aska sampai kelalahan dan pegal-pegal.
Aska memandang langit-langit ruangan. Ia benar-benar tak siap dengan pernikahan ini. Dinyalakannya ponsel yang ada di genggaman. Di sana tampak sangat banyak panggilan tak terjawab dari Diana sejak tiga hari yang lalu, dan ratusan pesan di salah satu aplikasinya.
Ia tahu Diana sangat mengkhawatirkannya begitu juga sebaliknya.
Aska ingat hari ketika ia bertemu dengan Diana. Perempuan itu begitu kacau setelah minum dua botol alkohol di sebuah kelab malam. Diana pingsan dan dibawa kabur dua orang yang rupanya punya niat jahat. Aska mengikuti mobil jeep yang dikendarai salah satu dari mereka.
Diana dibawa ke villa kamar di Bogor. Aska mencium niat jahat mereka ketika mendengar suara orang menjerit dari balik pintu villa. Aska mendengar suara tamparan dan pukulan. Aska langsung mendobrak pintu villa.
Orang-orang itu kaget bukan main dan langsung kabur. Setelah kejadian itu, Aska membawa Diana ke hotel dekat kelab untuk memulihkan diri. Namun, di tengah kesadaran Diana yang tak sampai dua puluh persen, Aska ditarik dalam pelukan Diana hingga lupa diri.
Setelah kejadian itu, Aska mencarikan Diana tempat tinggal yang jauh dari keramaian agar Diana bisa menenangkan diri hingga pada suatu hari ia mengajak Diana untuk tinggal bersama.
Semuanya terjadi tujuh tahun silam. Sejak saat itu, ia berjanji untuk selalu mencintai Diana dengan sepenuh hati.
" Kamu belum mandi?"
Suara Bella menarik Aska kembali pada kenyataan jika ia menikah bukan dengan Diana.
" Males."
Bella membuang muka dan duduk di depan meja rias, membelakangi Aska. Meski begitu, ia dapat melihat Aska yang sedang berbaring dari pantulan cermin.
" Saya punya youghurt di kulkas. Saya harap kamu mau minum."
Aska masih asik dengan ponselnya untuk mengabari Diana, " Gue nggak ambeyen."
" Kamu habis berhubungan badan, kan?"
Aska menghentikan aktifitasnya. Ia meletakkan ponsel dan mengalihkan atensinya kepada Bella, " tahu dari mana?"
Bella menyandarkan punggung di sandaran kursi, kemudian membalas tatapan Aska lewat cermin, " S2 saya di Psikologi. Jangan macem-macem kamu sama saya."
Aska tertawa, " apa hubungannya psikologi sama berhubungan badan?"
Bella meraih benda bulat di atas meja, kemudian memutar-mutarnya, " kamu kelihatan lebih bahagia sehabis dari toilet, udah cukup menjelaskan apa yang kamu lakuin sama perempuan yang kamu antar ke parkiran."
Aska terkejut. Ia bahkan sudah memastikan tak ada yang melihat kejadian itu.
" Kenapa diam? saya benar, kan?"
Aska merubah posisinya menjadi duduk, " itu cuma asumsi. Gue cukup banyak belajar politik waktu kuliah. Lo mau ngejatuhin gue, kan?"
Bella nyengir, " kamu takut, ya?"
Aska geleng-geleng kepala. Ia kemudian bergegas ke kamar mandi, mengisi air di bath tub dan beremdan di sana sampai ketiduran.
***
Aska tersentak ketika mendengar suara pintu kamar mandi diketuk tiga kali. Ia bangun dari tidurnya dan kaget mendapati dirinya masih berendam dalam bath tub.
" Kamu mandi atau punya rencana bunuh diri? udah satu setengah jam nggak keluar-keluar," ucap Bella dengan intonasi tenang.
Aska membasuh seluruh tubuhnya dan cepat-cepat mengelap tubuhnya dengan handuk. Ia menggigil.
Ketika membuka pintu, Bella sudah tidak ada di sana. Perempuan itu duduk di atas ranjang sambil membaca kembali surat yang diberikan Pak Dwi sebagai hadiah pernikahan mereka.
" Anggota komunitas pengusahanya ada tiga ratus orang lebih," ucap Aska berusaha menjawab pertanyaan Bella.
Bella menoleh, mendapati Aska bertelanjang dada yang hanya ditutupi handuk pada bagian bawah pusar hingga atas paha, menampakkan tubuh yang cukup atletis. Agak malu, namun Bella berusaha tenang dan bersikap biasa saja.
" Beruntung kan menikah sama anak pengusaha kaya raya? hidup kamu jadi lebih cerah kedepannya. Bisa kerja di perusahaan Ayah, dapet hadiah pernikahan mewah dan amplopnya melimpah ruah."
Bella melirik Aska jijik, " lebih bangga lagi kalau punya suami pengusaha. Bukan anak pengusaha."
Aska meraih tas di dalam lemari, menarik kaus oblong dan celana kolor dari dalamnya, " kalau mau punya suami pengusaha harusnya tolak aja dari awal."
" Saya kepepet."
Aska memakai pakaiannya, tak peduli ada Bella di depannya. Lagipula mereka suami istri.
" Kasian ya. Menikah cuma karena dimanfaatin adiknya supaya cepat nikah."
Bella menggeser duduknya ke pojok ranjang ketika Aska mendekatinya, " saya nggak ngerasa begitu."
" Sekarang apa yang lo mau?"
Bella tersenyum, " saya nggak mau diapa-apain kamu sampai waktu yang belum bisa ditentukan."
Aska menyipit dan beringsut mendekati Bella. Ia kurung tubuh Bella dengan telapak tangan yang ditempelkan pada dinding, kemudian berbisik di telinga Bella, " gue juga nggak berniat ngapa-ngapain lo sampe waktu yang nggak bisa gue tentukan."
Bella nyaris kehabisan napas dengan posisi ini, tetapi ia masih tetap berusaha tenang.
" Satu lagi. Jangan larang gue untuk ketemu siapapun yang gue mau," Aska menarik kepalanya, memandang wajah tenang Bella yang hanya berjarak dua inci dari wajahnya, " let's play the game?" tanyanya kemudian menarik tubuhnya dan berguling ke arah berlawanan dengan posisi Bella.
" Deal?" Aska bertanya lagi sambil menyusun bantal untuk ia tidur.
Bella tak menjawab apa-apa. Ia kemudian turun dari ranjang dan bergegas menuju pantry untuk mengambil minum.
Drama apa yang akan ia perankan setelah pernikahan berlangsung?
Bella meneguk air putih dalam botol hingga habis setengahnya. Jika bukan karena keluarganya, Bella tidak akan mungkin menikah dengan Aska.
" Gue bakal gugat cerai elo setelah Citra menikah."
Tiba-tiba Bella ingat kata-kata itu. Bella tahu, usia pernikahannya tak akan lama. Ia pun mulai paham bagaimana Aska akan mempermainkannya. Tetapi Aska salah jika melakukannya terhadap Bella.
Bella lebih tahu apa yang harus ia lakukan dalam situasi macam ini. Bella menjadi lebih tenang setelah minum, setelah tahu bagaimana Aska sebenarnya.
Bella tahu, Aska bukan lawan yang kuat. Karena Aska tak mempunyai superego yang kuat.
***
sukses
.....semangat