Hope memutuskan untuk tinggal di rumah kakeknya di desa Bibury—Inggris Selatan, setelah ia dipecat dari pekerjaannya. Di sana, Hope bertemu dengan Blue Hawkins. Pria muda, kaya dan bertalenta yang memilih untuk mengurung diri di rumah almarhum kakeknya.
Pertemuan pertama mereka tidak berjalan dengan baik. Blue tidak suka diganggu oleh orang asing dan Hope berusaha masuk ke dalam hidup Blue.
Saat Blue Hawkins bertemu dengan Hope Miller, di situlah ia sadar bahwa beberapa rencana dalam hidup tidak akan berjalan sesuai rencana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sin Cera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 11: Membersihkan Rumah Blue [2]
[Kau selalu berhasil membuatku kehabisan kata-kata. —Blue Hawkins]
Hope menaiki tangga batu menuju rumah Blue dan segera membuka pintu rumah Blue lebar-lebar. "Ayo kita bersihkan rumahmu," kata Hope sembari memasuki rumah Blue.
Blue mencekal tangan Hope sebelum gadis itu masuk semakin jauh ke dalam rumahnya. "Kurasa kau bisa menghentikan segalanya sekarang."
Hope berusaha melepaskan cengkraman Blue di pergelangan tangannya. Namun, tenaga Blue cukup kuat. Sepertinya Blue sangat serius dengan perkataannya sekarang. Kalau dipikir-pikir, Blue memang selalu serius dengan apa yang ia katakan. Hanya saja Hope yang tak pernah menanggapinya dengan serius.
Hope membuang napasnya pelan. "Bagaimana aku bisa berhenti? Aku bahkan belum memulai," ucap Hope sambil memutar tangannya sehingga Blue dengan refleks harus melepaskan cengkramannya jika tak ingin tangannya terkilir.
"Aku serius, Hope! Pergilah! Jangan membuatku mengulang perkataan dua kali," seru Blue yang mulai merasa kesal karena perkataannya diabaikan sejak kemarin.
Bukan Hope namanya jika ia mundur begitu saja. Saat Hope mengatakan bahwa ia adalah orang paling keras kepala, ia tak berbohong. Karena memang begitulah faktanya.
Hope menggelengkan kepalanya sambil menatap ke arah Blue dengan menyipitkan matanya.
"Ekspresi macam apa itu? Dan mengapa ia menggelengkan kepalanya?" batin Blue sambil menautkan kedua alisnya.
"Kenapa kau menggelengkan kepala?" tanya Blue heran.
"Kau tidak tahu? Menggelengkan kepala adalah bentuk non verbal untuk mengatakan tidak atau tidak mau," jawab Hope sambil melipat kedua tangannya di dada. Kantung plastik yang ia bawa tadi sudah ia letakkan di lantai.
Blue mengusap wajahnya frustasi. "Aku mengerti kau berniat baik. Tapi, ini rumahku! Kau tidak bisa bersikap seenaknya di sini!" seru Blue lagi.
"Aku tidak bersikap seenaknya. Aku hanya ingin membantu," balas Hope santai.
"Aku tidak butuh bantuanmu! Aku bisa mengurus diriku sendiri!"
"Aku tidak menerima penolakkan," balas Hope lagi. Sungguh gadis itu tak pernah kehabisan kata-kata untuk membalas perkataan Blue. Hal itu membuat Blue terperangah, kehabisan kata-kata.
"Haruskah aku melakukan kekerasan agar kau mau mengangkat kaki dari rumahku?" geram Blue kesal. Ia merasa perlu mengancam Hope agar gadis itu pergi dari rumahnya.
Hope mengabaikan perkataan Blue. Ia melambaikan tangannya di depan wajahnya. "Ayolah, kita membuang-buang waktu untuk berdebat. Lebih baik sekarang kita mulai bekerja. Waktu sudah semakin siang," ucap Hope sambil memungut plastik sampah di bawah kakinya.
"Hope Miller!" bentak Blue.
"Ya?" jawab Hope santai sambil mengangkat wajahnya.
"Keluar dari rumahku sekarang! Atau aku tidak akan segan-segan untuk menyeretmu keluar dari sini," geram Blue yang sepertinya sudah benar-benar sangat kesal dengan gadis yang suka seenaknya sendiri ini.
Hope berdeham. Ia diam sejenak meniti wajah Blue. Pokoknya ia tak boleh kalah.
Hope mengangkat bahunya. "Kurasa almarhum kakekmu tidak akan merasa senang jika kau menghancurkan rumahnya seperti ini," kata Hope hati-hati sambil melemparkan pandangan ke sekitar. Ke arah ruangan yang benar-benar sangat berantakkan.
Blue mengikuti arah pandang Hope. Hope benar kakeknya akan sedih jika rumah kesayangannya ia rusak. Wajah Blue yang awalnya keras, melunak seketika.
"Bingo! Sudah kuduga dia akan luluh jika aku menyingung kakeknya," kata Hope dalam hati. Ia menjentikkan jarinya sambil menyeringai puas.
"Aku akan membersihkan rumahku sendiri. Kau bisa pulang," usir Blue halus.
Hope tak mendengarkan Blue. Ia malah mengambil kembali kantong sampahnya dan mulai memunguti sampah-sampah di ruang tamu Blue. "Sudah kubilang. Aku akan membantumu."
Blue membuang napasnya pelan tanda menyerah. "Sudahlah. Terserah kau saja."
Blue mulai membantu Hope dengan memunguti beberapa sampah bekas makanan cepat saji. Mengumpulkan baju-baju yang berserakkan. Entah kotor atau bersih, ia jadikan satu dan ia masukkan dalam keranjang baju kotor. Hope tersenyum puas melihat Blue yang akhirnya menyerah padanya.
Seluruh ruangan sudah bersih. Kecuali kamar Blue dan kamar mandi. Hope baru saja hendak memasuki kamar Blue, sebelum Blue menghadangnya.
"Aku akan membersihkan kamar dan kamar mandiku sendiri. Kau tentu mengerti yang dinamakan privasi, bukan?"
Hope menganggukkan kepalanya setuju. Ia memang suka seenaknya. Namun, ia tak akan melanggar batasan. "Baiklah kalau begitu."
Blue menatap Hope penuh selidik. Membuat Hope memegang wajahnya dengan kedua telapak tangannya yang masih dipenuhi debu. Membuat wajahnya yang sudah kusam akibat seharian melakukan bersih-bersih, bertambah lebih kusam lagi karena debu yang mengotori wajahnya.
"Mengapa kau menatapku? Apa ada yang salah dengan wajahku?"
Blue menyandarkan pungung di daun pintu kamarnya. Ia melipat kedua tangannya di dada dan menggeleng. "Aku hanya heran. Tumben sekali kau langsung mendengarkanku," komentar Blue.
"Hei! Biarpun suka seenaknya sendiri, aku juga mengerti batasan," protes Hope.
Hope mengedarkan pandangannya ke sekitar rumah Blue. Hingga tatapannya jatuh ke atas foto-foto yang bejejer rapi di atas nakas.
"Aku ingin menanyakan ini sejak tadi.... Apa ini kakekmu?" tanya Hope sambil menunjuk salah satu foto yang menampilkan seorang pemuda dan seorang lelaki tua seusia kakeknya. Lelaki tua itu memiliki sorot mata yang lembut.
Blue berjalan mendekat ke arah Hope, dan berdiri di sampingnya. Menatap potret dirinya dengan kakeknya. Foto tersebut diambil tiga tahun yang lalu saat Blue mengajak kakeknya berlibur. Foto tersebut di ambil saat mereka berada di Paris. Nampak menara eiffel menjadi latar belakang foto.
"Ya. Itu kakekku."
"Dia tidak mirip denganmu," komentar Hope sambil menatap bergantian ke arah foto di hadapannya dan Blue.
"Kau orang pertama yang mengatakan bahwa kami tidak mirip."
"Apa ini kau?" tanya Hope sambil menunjuk gambar pemuda di dalam foto yang berdiri di samping kakek Blue yang tak lain adalah Blue sendiri.
Blue menganggukkan kepala untuk meng-iyakan perkataan Hope.
"Kau yang di foto ini mirip dengan kakekmu. Tapi, kau yang sekarang berdiri di sampingku sekarang, sama sekali tak mirip dengan kakekmu," komentar Hope sambil menatap Blue dari atas ke bawah.
"Jelas-jelas orang yang berada di foto dan orang yang berdiri di sampingmu adalah orang yang sama," balas Blue sambil berdecih kesal.
"Ya. Kalian mungkin orang yang sama. Namun, orang yang berdiri di sampingku sekarang tampak kacau. Kurasa kau harus memotong rambut kusutmu dan bercukur agar kau bisa kembali menjadi pemuda tampan seperti di foto ini," ujar Hope panjang lebar sambil menunjuk gambar Blue di dalam foto.
Hope mengerutkan dahinya tat kala melihat sebuah figura yang di balik. Hope mengangkatnya untuk melihat gambar di baliknya.
"Wah. Cantik sekali. Dia terlihat seperti seorang supermodel," komentar Hope saat matanya menangkap gambar Blue bersama seorang gadis berambut merah yang sangat cantik.
Blue melirik ke arah foto yang pegang Hope. "Dia memang supermodel."
"Apa dia pacarmu?" tanya Hope penasaran.
"Mantan pacar."
Hope meletakkan kembali foto di tangannya ke atas meja. Ia lalu berdecih sambil menatap Blue dari atas ke bawah. "Pantas saja dia meninggalkanmu. Ayo, bersihkan dirimu. Aku akan membuatmu kembali tampan."
"Aku bisa mengurus diriku sendiri," kata Blue sambil beranjak pergi.
Hope memutar kedua bola matanya. Ia mencekal tangan Blue. Membuat Blue menatapnya heran. Sementara yang ditatap hanya tersenyum menyeringai.
"Aku bisa membantumu memangkas rambut dan bila perlu aku bisa membantumu bercukur," ucap Hope sungguh-sungguh dan penuh semangat.
buat author nya, terimakasih untuk karya cantiknya
huwaaa hu-hu-hu 😭😭😭😭😭🤧😤
😭😭😭😭😭😭😭🤧🤧🤧🤧🤧
masa' iya datang ke pernikahan mantan cuman ajak teman atau ngaku bw tetangga, hi-hi-hi. nggak lucu atuh Hope, ketahuan jomblo nya, wkwkwk 😂🤣🤣🤣
💕💕💕
can't we wish them together with love
semangat ya ka💪💪👍
baperrr kok marah-marah neng....
🤪🤪🤪
auto ngakuin perasaannya sama Blue ☺️🙈🙈🙈
Blue : "tentu Hope... jika aku masih punya waktu dan harapan, tentu aku akan menangkap hatimu." 💕💕💕🥰
i hope so
Will punya kekasih baru dan sekarang pasti memutuskan hubungan dengan Hope
jangan-jangan dia sudah punya pacar yang lain