Kisah tentang langit dan bumi yang meskipun sama luasnya, namun tak dapat bersatu.
Angkasa adalah anak hasil perselingkuhan ibunya. Dia dibenci banyak orang. Kekerasan dan pembullyan yang sering dia dapatkan membuatnya ingin mengetahui alasan untuknya hidup.
Suatu hari Angkasa bertemu dengan seorang Gadis. Gadis itu membuatnya tersadar bahwa selama ini dia terlalu pengecut untuk menolak ketidakadilan yang dia dapatkan. Dari situ, hidup Angkasa mulai berubah.
Kisah tentang seseorang yang ingin hidup bertemu dengan seseorang yang sangat menginginkan mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hulapao, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEMENANGAN
“Wah wah adikku yang dulu pemurung sekarang sudah lebih berani. Apalagi tampil di depan banyak orang, padahal dulu bahkan setiap hari mengurung di kamar. Seharusnya tikus sepertimu lebih pantas bersembunyi di got saja.” Kakak tiriku tertawa.
Aku sudah terbiasa dengan perkataan hinaan seperti itu, namun yang kukhawatirkan adalah gadis itu. Kini dia tampak kebingungan.
“Hei, sejak kapan kau berhenti mengamen? Padahal kupikir kau lebih pantas jadi anak jalanan yang hanya bisa bernyanyi dan memetik gitar kesana kemari, mengemis minta uang. Sejak kapan kau mulai sekolah lagi?"
“Bukan urusanmu.”
“Apa kau sudah lupa? Dulu kau sangat ketakutan jika disuruh Ibu pergi ke sekolah.”
“Benarkah? Aku sama sekali tak ingat.”
Kakak tiriku itu menatapku sinis. “Kau sudah berubah.”
“Bukankah itu hal yang bagus?”
Dulu aku selalu terpengaruh dengan kata-katanya yang menyakitkan dan berakhir dengan overthinking. Tapi sekarang, benar, aku sudah berubah. Aku bukan Angkasa yang pengecut lagi.
Kakak tiriku menghampiri gadis itu. “Kau anak panti asuhan itu juga?” Tanya Kakak tiriku.
Gadis itu menggeleng. “Bukan.”
“Oh pantas saja pakaianmu tak kampungan seperti anak-anak panti itu.”
“Cukup. Sebaiknya kau pergi dari sini.” Kataku tegas.
“Kau mengusirku?! Kau sudah makin berani denganku ya?!” Kak tiriku itu menatapku marah. Lalu dia beralih menatap gadis itu, tersenyum sinis. “Hei cantik, kenapa kau bisa mengenalnya?”
“Eh, hanya kebetulan.” Jawab Gadis itu.
“Memang kau tahu siapa dia? Asal kau tahu, dulu dia sering dibully di sekolah. Tak ada satupun anak yang mau mendekatinya. Mereka memandang jijik adikku ini. Apa kau ingin tahu kenapa dia bernasib seperti itu?”
“Hentikan!” Aku berteriak.
Gadis itu tampak terkejut.
“Ah, maaf.” Aku tahu apa yang akan dibicarakan oleh kakak tiriku itu. Aku menggeram marah. “Tutup mulutmu!”
“Hei tenanglah, aku hanya ingin sedikit memberi informasi.” Kakak tiriku menatap gadis itu, tersenyum. “Kau tahu, yang membuatnya bernasib sial adalah karena dia anak hasil perselingkuhan Ibuku, anak haram. Menjijikkan, bukan? Dia sudah terlahir sial.”
“Lalu?” Tanya Gadis itu.
EH?! apa aku tak salah dengar? Lihatlah ekspresi yang ditunjukkannya sama persis saat dia melawan para berandalan waktu itu.
Kakak tiriku menatapnya heran.
“Memang kenapa jika dia terlahir seperti itu? Aku tak pernah membenci seseorang karena latar belakangnya. Aku hanya membenci orang-orang yang suka menindas orang lain, menghina orang lain, dan mempermalukan orang lain. Menurutku mereka lebih buruk dari tikus yang kau bicarakan tadi.” Gadis itu menatapku. “Ayo kita pergi.”
Aku mengangguk. Kami meninggalkan kakak tiriku yang bahkan tak bisa mengucapkan sepatah kata pun. Lagi-lagi aku diselamatkan olehnya.
“Maaf aku tadi berteriak di depanmu.”
Gadis itu tertawa. “Sepertinya kau salah paham. Aku hanya terkejut karena kau sudah cukup berani berteriak pada orang yang bersikap buruk padamu. Aku senang.”
Aku tersentak, kemudian menghembuskan napas lega.
“Permisi.” Seseorang datang menghampiri kami. Dia salah satu panitia lomba band ini. “Apa kau peserta lomba?”
Aku mengangguk. “Benar.”
“Untuk seluruh peserta diharapkan berkumpul di backstage sekarang. Sebentar lagi akan pengumuman.”
“P-Pengumuman? Secepat itu?” Tanyaku tak percaya.
“Benar. Juri sudah selesai memberikan penilaian. Sekarang ayo ikut saya.”
Aku mengangguk, kemudian menatap gadis itu. “Aku pergi dulu. Sampai nanti lagi.”
Gadis itu hanya tersenyum sambil melambaikan tangan.
Suasana di backstage sudah ramai. Semua peserta ada disini, aku mencari timku. Mereka semua sudah berkumpul, mereka tampak tegang, sampai-sampai tak sadar jika aku sudah datang. Aku memberi mereka minuman yang sempat kubeli tadi.
“Akhirnya kau datang.” Kata kak Mawar.
Aku mengangguk. “Apa pengumumannya sudah sejak tadi?”
Awan menggeleng. “Baru saja. Sekarang para juri mengumumkan juara harapan.”
Aku bisa merasakan perasaan mereka. Mereka sudah berjuang keras selama ini mulai dari mencari anggota club sampai dengan mengajarkanmu bermain drum. Aku tahu, itu semua mereka lakukan agar bisa ikut lomba ini. Bahkan kak Lang sama sekali tak mengalihkan pandangannya dari panggung.
Tiba-tiba suara ponsel berbunyi. Membuyarkan ketegangan di backstage. Kami semua saling menoleh sana sini, mencari ponsel milik siapa yang berbunyi.
“Mawar cepat angkat!” Kata kak Lang.
“Eh, i-iya.” Kak Mawar segera mengangkat telepon, dia berbisik-bisik. Ekspresi wajahnya seketika berubah, dia tertegun. “B-Baiklah.”
“Ada apa kak?” Tanya Awan.
Kak Mawar tampak cemas. “Aku harus pulang sekarang. Adikku masuk rumah sakit.”
Kami bertiga kompak tersentak.
“A-Aku boleh pulang kan?” Tanya kak Mawar.
“Siapa yang tidak memperbolehkanmu pulang?” Kata kak Lang. “Cepat pulanglah, adikmu sedang membutuhkanmu.”
Kak Mawar mengangguk mantap. Dia menyibak kerumunan peserta, sedikit berbincang dengan panitia dan pergi dari backstage. Aku tak pernah melihat kak Mawar se-cemas itu sebelumnya.
Aku menatap kak Lang, dia kembali fokus pada pengumuman. Aku berpikir terntang kesalahanku saat tampil, setidaknya aku berharap kami bisa menang di juara harapan. Karena jika kita tidak membawa hasil sama sekali, aku tak tahu wajah kecewa seperti apa yang akan ditunjukkan kak Lang.
“Juara harapan satu dimenangkan oleh peserta nomor 3. Juara harapan dua diraih oleh peserta nomor 16, dan terakhir untuk juara harapan ke tiga dimenangkan oleh peserta nomor 27.”
Aku menghela napas. Pupus sudah harapanku.
“Kau patah semangat Ang?” Tanya Awan.
Aku lemah mengangguk.
“Jujur saja aku juga berharap menang di juara harapan.” Awan diam sejenak, kemudian menatap panggung dimana para juri memberikan piala dan sertifikat untuk para juara.
“Tapi kupikir masih ada juara utamanya. Siapa tahu.” Awan mengangkat bahunya.
Ah baiklah, terus saja berharap.
“Selanjutnya pengumuman untuk juara utama.” Si MC membuka lembar yang diberikan oleh juri. “Kita mulai dari juara tiga lomba band nasional, dimenangkan oleh peserta nomor 21. Untuk peserta nomor 21 segera menaiki panggung.”
“ANG AYO!”
Teriakan Awan membuatku yang tertegun sadar. Itu kami?
Penonton bersorak saat kami menaiki panggung. Mereka tampak senang dengan kemenangan kami. Eh, apa penampilan kami sebagus itu hingga mereka sangat menyukainya? Bagaimana dengan kesalahan yang kubuat? Ini pasti salah kan?
“Ang, terima sertifikatnya.” Kata kak Lang, dia yang menerima pialanya.
Aku mengangguk menerima sertifikat yang bertuliskan ‘JUARA TIGA’, disana juga tertulis nomor peserta da nasal sekolahnya. Aku tak sedang bermimpi kan?
***
“ANG! AWAN!” Fajar melambaikan tangan.
Aku menghampirinya dengan sisa shock yang masih terasa atas kemenangan kami.
“Selamat! Kau sangat keren kak!” Seru Bunga.
“Aku bangga padamu, Ang. Bahkan seluruh penonton kompak memberikan tepuk tangan saat penampilan kalian berakhir.” Kak Jay menepuk pundakku. “Juara tiga ya? Bukankah kita harus merayakan ini?” Kak Jay menyikut perut Fajar.
“Benar! Kau harus berterimakasih pada kami karena sudah mendukungmu.” Fajar tertawa. “Awan kau juga, selamat!” Mereka berdua berpelukan.
Awan mengangguk. “Ayo kita makan-makan. Aku yang traktir.” Kata Awan. “Ang, kau ikut kan?”
“Eh, sebentar.” Aku celingukan. Petugas satpam sudah mengunci gedung. Area parkir tampak sepi, bahkan tak ada kendaraan yang bersisa.
“Ang kau mencari siapa?” Tanya Fajar.
“Eh, bukan siapa-siapa.” Kupikir dia sudah pulang. Aku menghela napas, baiklah. “Ayo.”
aku bacanya nyicil ya kak, udah aku fav