NovelToon NovelToon
Pembantu Kesayangan Tuan Abian

Pembantu Kesayangan Tuan Abian

Status: tamat
Genre:Romantis / Contest / Nikahmuda / Tamat
Popularitas:2.1M
Nilai: 4.5
Nama Author: Titin

Rara Depina atau biasa di panggil Rara, terpaksa menggantikan ibunya yang sedang sakit sebagai Art di ruamah tuan muda Abian Abraham.

Rara bekerja tanpa sepengetahuan tuan muda Abian. Abian yang pergi kerja saat Art belum datang dan pulang saat Art sudah pergi membuat Rara bisa bekerja tanpa di ketahui Abian.

Apa jadinya saat tak sengaja Abian memergoki Rara tengah berada di apartemennya.

Dilema mulai muncul saat diam-diam Abian mulai jatuh cinta pada pembantu cantiknya itu, dan di tentang oleh keluarga besarnya yang telah memilihkan calon buat Abian.


Akankah Abian mampu mempertahankan Rara di sisinya, cuus baca kelanjutannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 12

Bian kelimpungan sendiri di apartemennya, amarahnya meluap-luap,kesal jengkel semua jadi satu, mengaduk aduk isi kepalanya.

Siapa lelaki yang mencuri pembantunya secara paksa tadi, berani sekali dia, apa tidak tau dia, Rara itu pembantu kesayangannya.

Ini tidak boleh terjadi bagaimanapun caranya Rara harus kembali lagi ke apartemennya.

Sementara hal yang sama menimpa Rendra, dia tak kalah uring-uringannya, emosi, marah, cemburu,nah lho, bercampur jadi satu.

"Seneng ya gandengan terus berjam-jam," sungut Rendra.

"Gak nyampek berjam-jam, paling juga setengah jam, lebih-lebih dikitlah," bantah Rara dengan bibir mengerucut.

"Apa pun itu, intinya dia menyentuhmu dengan waktu yang lama, aku gak rela Ra," sentak Rendra kesal.

"Kenapa?" Tanya Rara seraya menatap Rendra lekat. Seketika Rendra kelabakan, pertanyaan Rara membuatnya lebih kelimpungan, apa harus dia bilang kalau dia suka gadis SMA, apa kata dunia.

"Kerena aku sudah menganggap kamu seperti adek ku Ra." Tentu saja itu bohong. Yang ada Rendra cemburu Ara di sentuh lelaki lain.

Rara menarik wajahnya menjauh dari Rendra, ada gurat kecewa tergambar jelas di wajah Rara. tiba-tiba Rara merasa bodoh mengharap lebih pada hubungan mereka, harusnya dia sadar jarak antara mereka bagaikan langit dan bumi.

"Aku mau pulang capek," tukas Rara tak bersemangat.

"Tunggu bentar kenapa Ra, kita kan baru ketemu," bujuk Rendra menatap Rara yang mempersembahkan wajah murung.

Rara menatap Rendra,mencoba menyelami manik hitam yang selalu mengetarkan hatinya, berharap Rara menemukan setitik Rasa di sana, tapi belum dia menemukan apa yang dia cari.Rara menarik pandangannya melepas kesembarang arah.

Rara beranjak bangkit dari duduknya, berniat akan pergi tapi Rendra menarik tangannya.

"Ada apa?" tanya Rara.

"Mau pulangkan biar aku antar," ujar Rendra.

Mobil melaju dengan kecepatan sedang, jalanan yang lumayan ramai, dengan lalu lalang kendaraan jadi objek perhatian Rara. Tiba-tiba bayangan wajah Bian melintas di benaknya. hatinya kini bercabang, setengah hari berada dekat Bian dengan tangan saling menggenggam buat rasa yang berbeda muncul di hatinya.

Tapi kebaikan Rendra juga membiusnya, hingga terkadang Rara berharap lebih pada kedekatan mereka.

Tapi kedua lelaki ini tak kan terjangkau oleh Rara, jurang yang terbentang di antara mereka terlalu dalam, Andai Rendra hanya lelaki biasa Rara akan memperjuangkan perasaannya, tapi lihatlah siapa Rendra, anak babu sepertinya cukup tau diri mengharap lelaki yang sepadan dengannya.

"Ra,!" seru Rendra jengkel, berulang kali memanggil Rara tapi di abaikan.

"Hah, apa kak?"

"Ngehayalin apa sih, berada sedekat ini dipanggilin gak respon.!"

"Maaf, aku cuma mikir udah mau tamat selanjutnya mau gimana, cari kerja dulu atau langsung nikah," ujar Rara seraya tersenyum.

"Nikah? memangnya udah punya calon?"

"Ada tukang bubur ayam di simpang gang rumah udah sering nembak tapi gak perna aku respon," sahut Rara seenaknya. Rendra membulatkan matanya lebar, tukang bubur?

"Cari suami kok sembarangan gitu sih Ra, cari dong yang bagusan dikit, pemilik restauran ternama, atau gak Ceo gitu."

Rara terkekeh, Ceo, Rendra, Rendra, dia siapa bermimpi di nikahi Ceo.

"Kok ketawa."

"Mau nangis tapi malu ya udah ketawa, kakak tuh kasih saran yang masuk akal dikit kenapa sih, Ceo sakit jiwa yang mau sama anak babu sepertiku," ucap Rara di barengi dengan tawa pelan.

"Enak aja kamu bilang Ceo sakit jiwa, kalau ngomong kira kira dong Ra," sungut Rendra.

Rara menatap Rendra bengong, kita lagi ngomongin Ceo kenapa dia yang merasa, aneeh.

"Ra, kalau bisa menghindarlah dari lelaki itu," ujar Rendra menatap Rara yang menatap lurus kedepan.

"Tergantung," sahutnya tanpa menoleh.

"Ra!!"

"Hhhmm"

Rendra berdecak kesal, Susah amat sih kasih pengertian keRara, tinggal jawab iya apa susah nya sih.

"kak."

"Apa!"

"Gang rumah ku dah lewat tuh," ujar Rara mengarahkan telunjuknya kebelakang.

"Masak sih," ucap Rendra menepikan mobilnya kepinggir jalan, Astaga benar udah lewat.

Rara senyum-senyum sambil melirik Rendra yang pasang tampang masam.

Terpaksa mobil Rendra berputar arah baru kemudian berhenti di simpang gang rumah Rara.

"Terimakasih kak," Ucap Rara seraya turun dari mobil, berlalu meninggalkan Rendra yang masih menatapnya hingga menghilang dì balik bangunan rumah.

"Asalamualaikum," Rara melepas sepatunya membawanya masuk kedalam rumah.

"Waalaikumsalam, baru pulang kak?" sapa Dimas yang sedang nonton tv di ruang tengah.

"Dedek kemana Dim?" Tanya Rara sambil berjalan kekamarnya.

"Nemeni ibu belanjak ke simpang," sahut Dimas.

Tak berapa lama ibuk sudah pulang bareng Dedek dengan menenteng belanjaan.

"Belanja apa buk?" tanya Rara saat keluar dari kamar seraya menyanggul rambut panjangnya, baju seragamnya udah berganti dengan stelan baju tidur berwarana biru muda di atas lutut.

"Beli keperluan adek mu di swalayan di depan gang," sahut ibu seraya mengeluarkan semua berang dari dalam kantong pelastik.

"Ra tadi ibuk lihat, kamu di antar mobil, siapa dia?" tanya ibu beralih menatap Rara.

"Temen buk."

"Hati-hati berteman dengan orang yang tidak sekelas dengan kita, akan banyak kesalah pahaman nanti," nasehat ibu masih menatap anak sulungnya itu.

"Iya buk."

"Ibuk rasa besok ibuk udah bisa masuk kerja Ra, biar kamu fokus belajar, mau ujian kan?"

"Apa ibuk dah sehat betul, kalau belum gak usah di paksa buk, aku masih bisa kok belajar walau kerja."

"Udah kuat kok ibuk kerja, lagian di rumah gak kerja badan ibuk sakit semua."

"Ya udah kalau memang ibuk bisa kerja, besok aku gak masuk."

Sebenarnya Rara lega ibuk sudah bisa masuk kerja lagi, dia masih canggung ketemu Bian setelah apa yang terjadi.

**

Satu mangkuk bakso ditambah dua buah tahu ludes di lahab Rara, gak nyangka perut langsingnya mampu menampung Makanan sebanyak itu.

"Laper Ra," tanya kiki seraya mengadul aduk jus jeruk di hadapannya.

"Iya gak sarapan tadi," sahut Rara menyandarkan tubuhnya di kursi.

"Ra kau ada masalah? oh ya apa kabar tuan mu, gak tejadi apa-apa kan waktu kami pulang?" tanya Imel, fia sedikit curiga dengan sikap Rara belakangan ini, dia seperti ada masalah.

"Tuan ku baik- baik aja, gak lah, aku juga langsung pulang malam itu," ujar Rara berbohong dia tidak mungkin cerita kebenarannya dengan mereka.

"Hari ini kamu kerja Ra?"

"Gak ki, ibuk udah kerja hari ini."

"Alhamdulillah ibuk dah sehat, pulang sekolah belajar bareng yok, bentar lagi ujian, banyak materi yang tertinggal gak paham jugak," ajak imel, seraya menatap kedua sahabatnya.

"Bukannya kalian pakai bimbel?"

"Iya kami ngajak kamu Ra, biar tambah semanagat kan kalau bertiga," sahut Kiki.

"Gak ah ibu gak akan sanggup bayar."

"Ya elah Ra, yang suruh kamu bayar siapa datang aja kita belajar bareng, soal biaya urusan papa ku," sahut Imel.

"Gak ngerepotin kalian kan?"

"Iss anak ini, ya gak lah, udah nanti telpon ibuk bilang kita bimbel di rumahku," ujar imel lagi.

"Baiklah kalau gitu."

Susah cari sahabat kayak mereka, pengertiannya tingkat dewa, seakan paham apa aja yang lagi Rara butuhkan, padahal berda kasta tapi itulah sahabat, tak kan terhalang oleh kasta, perbedaan sosial.

Setelah menelpon ibu, Rara pun ikut bimbel di rumah imel, sehabis magrib Rara baru pulang diantar oleh supirnya Imel.

Rara berhenti melangkah saat melihat sepasang sepatu pria terparkir cantik di depan pintu. Siapa tamu ibu batin Rara.

"Asalamualaikum," sapa Rara seraya melangkah masuk.

"Wa'alaikumsalam," sahut ibu dan duo kembar barengan.

"Tuan abian menunggu sejak tadi katanya ada perlu sama kamu," ujar ibu memberitahu Rara, Rara tak menyahut, dia malah lagi bengong , matanya tak berkedip menatap Abian yang dengan gaya santainya duduk di kursi usangnya.

"Ra kok malah bengong," tegur ibu yang melihat Rara cuma melongo liat Abian.

.

.Happy reading

tingalin jejak untuk author ya🙏🙏🥰

1
Baiq Belva
luar biasa
juwita
mampir
Umi Syafaah
semoga ceritanya menarik ya ,aku nyimak dulu
Dewi Siahaan
Kecewa
Dewi Siahaan
Buruk
Ai Siti
Biasa
Ruli Ana
Kecewa
Ruli Ana
Buruk
Farani Masykur
coba mampir thor
💟노르 아스마💟
Luar biasa
Christina Dariyem
Kecewa
Christina Dariyem
Buruk
yuni_nuraeni
Rika Fitria
keren ceritanya
Siti Zubaedah
Luar biasa
sherly
novel yg bagus, tq Thor...
sherly
ya jelas donk, situ siapa ngarep dilembutin bian... ngaca mbak
sherly
aku tu sebenarnya sebel dgn sikap araa.. masih aja ngk mudeng kalo si bian tu sayang, cintaaaaa banget Ama dia... . emang sih si bian tu posesif tp itu menunjukkan kalo dia sayang banget lagian boleh pergi tp TDK boleh ada teman laki yg ikut kalo menurutku itu hal yg wajar
sherly
netizennya plinplan...
sherly
Luar biasa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!