Setelah mengorbankan wujud fananya untuk menyelamatkan jiwa Su Qingyue, Lin Chen hancur oleh cakar Kaisar Langit dari Ras Naga Sejati.
Sisa jiwanya yang nyaris sirna diselamatkan oleh pengorbanan umur Tian Yu yang memanggil Esensi Phoenix Abadi, mengubahnya menjadi sebuah kepompong api. Atas kehendak Tuan Istana Ujung Takdir, kepompong itu dibuang ke dunia fana murni Kerajaan Chen tempat di mana hukum kultivasi, Qi spiritual, dan ancaman dewa tidak pernah ada.
Ratusan tahun berlalu dalam keheningan, menunggu sang Penantang Langit untuk menetas kembali. Tanpa kultivasi, tanpa tombak dewa di tangannya, namun membawa fondasi fisik gabungan dari Naga, Kekacauan, dan Phoenix Abadi, Lin Chen memulai kehidupan keduanya bukan sebagai monster kehancuran, melainkan sebagai seorang pangeran fana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2: Roti Kukus Tengah Malam
Darah menodai kelopak bunga persik yang berjatuhan di halaman belakang istana. Tiga sosok pembunuh berpakaian hitam legam melompati tembok taman layaknya bayangan gagak, pedang mereka memantulkan kilatan matahari sore yang mematikan. Para pengawal kerajaan yang berjaga di koridor tumbang satu per satu dengan tenggorokan tergorok sebelum mereka sempat meniup terompet peringatan.
Di tengah taman yang kini berubah menjadi arena pembantaian, Lin Feng yang baru berusia enam belas tahun berdiri gemetar namun menolak untuk mundur. Ia memosisikan tubuh remajanya tepat di depan kedua adiknya.
"Xue'er, bawa Chen'er masuk ke Paviliun Dalam! Sekarang!" raung Lin Feng, menghunus pedang besinya.
"Kak Feng!" Lin Xue menjerit histeris. Ia tidak berlari, melainkan mendekap erat Lin Chen yang masih berusia empat tahun ke dalam pelukannya, menggunakan tubuh kecilnya sendiri sebagai tameng hidup untuk melindungi adik bungsunya.
Pemimpin pembunuh bayaran itu tertawa sinis. Ia tidak membuang waktu dengan kata-kata. Dengan satu hentakkan kaki, ia menerjang ke arah Lin Feng. Benturan logam bergema keras. Lin Feng, meski telah berlatih siang dan malam, hanyalah seorang pangeran yang berhadapan dengan anjing pemburu pembunuh sungguhan.
Hanya dalam tiga jurus, pedang di tangan Lin Feng terlempar ke udara. Sebuah tendangan keras menghantam dada pangeran pertama itu, membuatnya terpelanting ke tanah dan memuntahkan darah segar.
"Mati kau, Pangeran Kecil," desis sang pembunuh, mengangkat pedangnya tinggi-tinggi untuk menebas leher Lin Feng.
Dari dalam pelukan Lin Xue yang gemetar hebat, mata keemasan Lin Chen menyipit tajam.
Domain Keheningan nya mungkin tertidur, dan Dantian-nya mungkin kosong tanpa setetes pun Qi, namun insting membunuh dari seorang tiran yang pernah menentang dewa tidak akan pernah mati. Jari-jari mungil Lin Chen tanpa suara merayap ke tanah, mencengkeram sebuah kerikil taman sebesar ujung jarinya.
Otot-otot di balik lengan kecilnya yang merupakan peleburan dari Esensi Phoenix dan Darah Naga Primordial menegang seketika. Jika ia menjentikkan kerikil ini, tenaga murninya akan melesat melampaui kecepatan suara, melubangi tengkorak ketiga pembunuh itu sebelum pedang mereka sempat turun satu inci pun.
Lin Chen bersiap untuk melepaskan kerikil kematian itu. Ia sudah muak melihat darah orang-orang yang merawatnya.
Namun, tepat saat kerikil itu akan melesat...
BLAAAAAAAAAARRR!!!
Pintu kayu oak raksasa yang menghubungkan taman dengan aula depan hancur berkeping-keping. Sebuah tombak perak raksasa melesat membelah udara dengan kekuatan mengerikan, menembus dada sang pemimpin pembunuh hingga terpaku ke tembok batu taman.
"TIDAK ADA YANG BOLEH MENYENTUH ANAK-ANAKKU!"
Sebuah raungan yang dipenuhi amarah seorang raja fana menggelegar bagaikan guntur. Raja Chen, pria bertubuh kekar dengan zirah emas yang dipenuhi noda darah musuh, menerjang masuk bersama puluhan jenderal elit kerajaan.
Hanya dalam hitungan detik, sisa pembunuh bayaran itu dicincang habis oleh pasukan jenderal yang marah melihat pangeran mereka terluka.
Lin Chen perlahan melonggarkan genggamannya. Kerikil di tangannya jatuh ke atas rumput tanpa suara.
Mata keemasannya menatap Raja Chen yang langsung menjatuhkan tombaknya, berlari dengan panik ke arah mereka. Ia melihat Lin Xue yang menangis tersedu-sedu, dan Lin Feng yang memegangi dadanya sambil mencoba tersenyum menenangkan.
Untuk sesaat, sisa-sisa kedinginan dari kehidupan masa lalu Lin Chen bergejolak. Jika ia membunuh para penjahat itu tadi, ia akan menyelamatkan kakaknya lebih cepat. Namun, jika ia melakukannya... ia akan mengekspos dirinya. Ia tidak akan lagi menjadi 'Chen'er' yang lugu. Ia akan kembali menjadi monster, sebuah anomali yang ditakuti dan dihindari.
Dan untuk pertama kalinya selama ribuan siklus kelahirannya, Lin Chen menyadari bahwa ia tidak menginginkan ketakutan itu. Ia menginginkan pelukan ini. Ia menginginkan aroma manis kue teratai dari kakaknya dan usapan kasar di kepala dari kakak laki-lakinya.
Mengubur dalam-dalam arogansi sang Penguasa Keheningan, Lin Chen membiarkan tubuh mungilnya bergetar. Ia menyembunyikan wajahnya ke leher Lin Xue, kedua tangannya yang kuat memeluk leher kakaknya dengan erat. Ia tidak perlu berakting terlalu keras; kehangatan keluarga ini murni mencairkan es di hatinya.
"Ayahanda!" Lin Xue menangis lega.
Raja Chen berlutut di tanah, merangkum ketiga anaknya dalam satu pelukan raksasa yang gemetar. Pria perkasa yang tak pernah mundur di medan perang itu kini menitikkan air mata melihat anak-anaknya selamat. Permaisuri Lin Yue menyusul dari belakang, langsung memeluk mereka semua dengan isak tangis.
"Kalian aman... Ayah di sini. Kalian aman," bisik Raja Chen, mengecup puncak kepala Lin Chen, lalu menepuk punggung Lin Feng. "Kau pria yang hebat, Feng'er. Kau melindungi adik-adikmu dengan sangat berani."
Dalam pelukan hangat ayah dan ibunya, Lin Chen memejamkan mata. Tidak ada Qi, tidak ada hukum alam semesta yang menekan mereka. Hanya keluarga yang tulus. Dan Lin Chen bersumpah pada langit ini, ia akan menjaga kehangatan ini, biarpun ia harus menyembunyikan cakar naganya untuk selamanya.
Sementara sebuah keluarga di dunia merayakan keselamatan mereka, jauh di atas lapisan langit, menembus miliaran galaksi yang memisahkan dunia fana dan dunia dewa, roda takdir lainnya baru saja berputar di Alam Abadi.
Ini adalah sebuah Negara Kultivasi Tingkat Tiga, sebuah peradaban di mana bahkan penjaga gerbang kota berada di ranah Nascent Soul. Di puncak Gunung Awan Ungu yang diselimuti oleh kabut spiritual setebal lautan, berdiri Sekte Awan Ungu sebuah sekte raksasa Kelas 7 yang memiliki pengaruh luar biasa di wilayah tersebut.
Malam itu, puncak utama Sekte Awan Ungu dipenuhi ketegangan. Langit dipenuhi kilatan petir warna-warni, tanda bahwa seorang ahli tingkat tinggi sedang berjuang melahirkan pewaris baru.
Di luar aula utama, ribuan murid dan para tetua tingkat Ascendant berlutut, mendoakan keselamatan istri dari Master Sekte mereka.
Namun, tidak ada satu pun dari para monster tua itu yang menyadari kehadiran sesosok pria berambut perak yang berdiri bersandar pada pilar batu di halaman aula. Tian Yu telah menekan fluktuasi Nirvana-nya hingga titik nol, menggunakan Teknik Tabu Perpindahan Bayangan untuk menyusup ke jantung sekte raksasa ini tanpa menyentuh satu pun formasi pelindung.
Dari dalam aula, terdengar tangisan nyaring seorang bayi perempuan yang baru saja lahir.
Mata kelabu Tian Yu menyipit. Ia mengeluarkan botol giok biru es dari lengan bajunya. Di dalamnya, jiwa Su Qingyue berpendar hangat, seolah mengetahui bahwa perjalanan panjangnya di kegelapan telah berakhir.
"Sebuah sekte Kelas 7 yang dilimpahi sumber daya tak terbatas, dan seorang ibu yang memiliki Hawa Murni paling lembut yang pernah kurasakan di Alam Abadi ini," gumam Tian Yu pelan, tersenyum tipis. "Lin Chen, aku telah menemukan rumah yang paling sempurna untuk gadis es bodoh ini."
Tanpa mengeluarkan fluktuasi Qi, Tian Yu membuka tutup botol tersebut. Ia meniup pelan cahaya biru es itu.
Serpihan jiwa Su Qingyue melayang menembus dinding aula layaknya ilusi, menyusup masuk ke dalam ruangan persalinan, dan dengan lembut menyatu ke dalam dahi bayi perempuan yang berada di pelukan sang ibu.
Bayi itu seketika berhenti menangis. Sebuah tanda lahir kecil berbentuk bunga teratai es muncul sekejap di keningnya, sebelum perlahan memudar ke bawah kulit.
Melihat tugas terakhir muridnya telah tertunaikan, Tian Yu menghela napas panjang. Beban di pundaknya akhirnya terangkat. Ia membalikkan badannya, melangkah menembus kabut malam dan menghilang dari Gunung Awan Ungu tanpa meninggalkan jejak sedikit pun di Alam Abadi.
Tumbuhlah dengan bahagia, Gadis Es, batin Tian Yu di kejauhan. Tunggu hingga api phoenix itu merobek langit kembali, dan dia akan datang menjemputmu di dunia para dewa ini.
Waktu berlalu dengan damai di Kerajaan Chen setelah pemberontakan itu ditumpas ke akar-akarnya.
Malam hari, tiga hari setelah insiden di taman, bulan bersinar terang di atas Paviliun Dalam. Permaisuri Lin Yue baru saja membacakan dongeng kepahlawanan untuk Lin Chen, menyelimuti putra bungsunya itu dengan selimut sutra tebal, dan mengecup keningnya sebelum mematikan lilin dan keluar dari kamar.
Suasana sangat hening.
Sepuluh menit setelah ibunya pergi, mata Lin Chen terbuka di dalam gelap.
Anak berusia empat tahun itu mendengus pelan, menyingkirkan selimutnya, dan merangkak turun dari ranjang. Perut kecilnya berbunyi nyaring. Pertumbuhan fisik yang merupakan perpaduan Darah Naga Primordial dan Esensi Phoenix ternyata memiliki satu efek samping fatal di dunia tanpa Qi: ia luar biasa rakus.
Lin Chen menyelinap keluar kamar, berjalan mengendap-endap tanpa alas kaki melewati para penjaga yang sedang mengantuk. Dengan insting silumannya, ia menyusup mulus ke dalam Dapur Utama Istana.
Matanya langsung tertuju pada sebuah lemari besi raksasa yang biasa digunakan koki istana untuk menyimpan daging asap dan roti kukus. Lemari itu dikunci gembok besi tebal karena koki tahu beberapa pelayan suka mencuri makanan di malam hari.
"Hanya gembok biasa," bisik Lin Chen dengan suara anak kecilnya.
Ia menjulurkan tangan mungilnya, berniat mematahkan gembok itu sedikit saja agar pintunya bisa terbuka. Namun, karena ia belum terbiasa mengatur keluaran tenaga fisiknya di tubuh balita, cengkeramannya sedikit terlalu kuat.
KRAAAAK! BAAM!!!
Bukan hanya gemboknya yang hancur, Lin Chen secara tidak sengaja merobek seluruh pintu lemari besi padat setinggi dua meter itu dari engselnya hingga terlepas total! Pintu besi seberat tiga ratus pon itu kini berada di genggaman tangan mungil anak berusia empat tahun yang mengangkatnya layaknya memegang selembar kertas.
Mata Lin Chen sedikit melebar. Ah... sial. Aku lupa mengendalikan tenaga ini, batin Lin Chen merutuki dirinya sendiri, memegang pintu besi raksasa itu di udara dengan satu tangan mungilnya.
Tepat pada detik itu juga, pintu dapur terbuka berderit.
Putri Lin Xue, yang mengenakan jubah tidur dan membawa sebuah lilin kecil, berdiri mematung di ambang pintu dapur. Niatnya juga ingin mencari camilan tengah malam.
Cahaya lilin menerangi pemandangan tidak masuk akal di depannya. Adik kecilnya yang baru berusia empat tahun, Pangeran Ketiga yang pendiam dan imut, sedang berdiri dengan santai mengangkat pintu besi raksasa setinggi dua meter menggunakan satu tangan kosong.
Keduanya saling bertatapan dalam keheningan yang luar biasa canggung. Mulut Lin Xue perlahan terbuka lebar, sementara Lin Chen hanya bisa mengedipkan mata keemasannya, berpikir keras alasan apa yang masuk akal bagi seorang balita untuk memegang pintu besi.
Su Qingyue ikut Lin Chen dan Tua hitam ke alam Abadi.
Kenapa ana Qingyue lagi di alam Fana 🤣🤣