Jika kau jatuh cinta padaku selama dua tahun ini, kau tidak akan mendapatkan satu sen pun saat bercerai nanti."
Demi membiayai operasi sumsum tulang belakang adiknya, Aura Dania terpaksa menandatangani perjanjian pernikahan kontrak dengan Evan Adijaya seorang CEO dingin dan kejam yang hanya memanfaatkan Aura untuk merebut takhta perusahaan keluarga.
Di atas kertas, mereka hanyalah orang asing. Tanpa cinta, tanpa sentuhan, dan tanpa pesta. Tugas Aura sederhana: berpura-pura menjadi istri yang manis di depan kakek Evan yang sedang sakit.
Namun, ketika mantan kekasih Evan kembali membawa niat jahat dan rahasia besar terungkap, pernikahan rahasia mereka berubah menjadi pusaran rasa sakit dan hasrat. Bisakah Aura bertahan tanpa menyerahkan hatinya pada sang CEO berdarah dingin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melania-1623, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2: Kediaman Keluarga Adijaya
Langit pagi Jakarta masih diselimuti warna abu-abu kebiruan ketika sebuah mobil Rolls-Royce Phantom hitam mengilap berhenti di depan gang sempit kawasan kosan Aura. Sosok pria bertubuh tegap dengan setelan jas rapi turun dari kursi kemudi.
"Selamat pagi, Nyonya Adijaya. Saya Bimo, asisten pribadi Tuan Evan," sapa pria itu seraya membungkuk hormat sembilan puluh derajat.
Aura menggigit bibir bawahnya, merasa canggung luar biasa dipanggil dengan sebutan 'Nyonya Adijaya'. Ia hanya membawa satu koper kain berukuran sedang yang berisi beberapa potong pakaian sederhana dan dokumen-dokumen penting miliknya. Seluruh kenangan dan masa lalunya di kamar kos sempit itu resmi ia tinggalkan.
"Terima kasih, Pak Bimo," sahut Aura pelan.
"Silakan masuk, Nyonya. Tuan Evan sudah menunggu di kediaman utama," ujar Bimo seraya membukakan pintu belakang mobil mewah tersebut.
Perjalanan menembus jalanan Jakarta yang mulai padat terasa seperti mimpi buruk yang panjang. Setiap roda mobil bergulir, dada Aura kian dihimpit ketakutan. Ia tahu betul, melangkah masuk ke dalam keluarga Adijaya sama saja dengan melangkah ke dalam sarang serigala.
Setengah jam kemudian, kendaraan mewah itu melewati gerbang besi tempa menjulang tinggi yang diukir penuh kemewahan. Mobil melaju perlahan menelusuri jalan setapak beraspal mulus yang diapit air mancur dan halaman rumput hijau membentang luas. Di ujung jalan itu, berdiri kokoh sebuah kediaman bergaya klasik Eropa dengan pilar-pilar putih raksasa. Kediaman Utama Adijaya.
Pintu mobil dibukakan. Saat Aura melangkah turun, dinginnya udara pagi langsung menyapu kulit wajahnya. Namun, rasa dingin itu kalah menusuk dibandingkan tatapan pria yang sudah berdiri di atas undakan tangga marmer depan pintu utama.
Evan Adijaya tampak luar biasa tampan pagi ini. Ia mengenakan setelan jas kemeja putih bersetrika rapi tanpa dasi, dengan mantel panjang charcoal yang tersampir anggun di bahunya. Pria itu berdiri tegak dengan kedua tangan masuk ke dalam saku celana, menatap Aura yang berjalan mendekat dengan tatapan menilai yang tajam.
"Kau terlambat tiga menit," tegur Evan dingin saat Aura sampai di hadapannya.
"Maaf, Tuan Evan. Tadi ada sedikit kemacetan di jalan utama," jawab Aura menunduk, tak berani menatap langsung mata cokelat gelap itu.
Evan menghembuskan napas pendek, lalu meraih pergelangan tangan Aura tanpa peringatan. Sentuhan jemari Evan yang kokoh dan hangat membuat Aura terkesiap. Namun, sebelum Aura sempat menarik tangannya, Evan sudah menggenggam jemari Aura rapat-rapat, menguncinya erat dalam sebuah tautan tangan.
"Dengar baik-baik, Aura," bisik Evan seraya mencondongkan tubuhnya ke telinga Aura. Suaranya yang rendah membuat bulu kuduk wanita itu berdiri. "Begitu kita melewati pintu ini, kita adalah pasangan suami istri yang saling mencintai. Hapus wajah ketakutanmu itu. Kakekku bukan orang bodoh yang bisa dibohongi dengan akting murahan."
Aura menelan ludah, mencoba menetralkan detak jantungnya yang berdebar liar. "Saya mengerti."
"Satu hal lagi," tambah Evan, matanya menatap tajam bibir Aura yang tampak alami tanpa polesan riasan tebal. "Mulai detik ini, panggil aku Evan. Jika kau sampai kelepasan memanggilku 'Tuan' di depan Kakek, aku pastikan pembayaran tahap kedua untuk adikmu itu dibatalkan."
Ancaman itu bekerja instan. Aura mengangguk tegas. "Baik... Evan."
Pintu kayu jati berukir tinggi itu terbuka lebar oleh dua orang pelayan berseragam rapi. Evan melangkah masuk membawa Aura yang berjalan sedikit tertatih di sampingnya, berusaha menyesuaikan langkah kaki panjang sang CEO.
Bagian dalam rumah itu tak ubahnya sebuah museum seni kerajaan. Lampu gantung kristal berukuran raksasa menggantung di langit-langit tinggi, dipadukan dengan lukisan-lukisan klasik mahal dan perabotan kayu antik. Di tengah ruang keluarga yang megah, tampak seorang pria tua duduk di atas kursi roda berkulit cokelat.
Meski rambutnya sudah memutih seluruhnya dan selang oksigen terpasang halus di hidungnya, aura wibawa sang Kakek (Surya Adijaya) masih terasa sangat kuat dan mendominasi. Di samping kakek tua itu, berdiri seorang wanita paruh baya berpenampilan sangat elegan dengan perhiasan berlian yang berkilau di lehernya. Dialah Siska Adijaya, ibu tiri Evan yang selama ini berambisi mendudukkan putra kandungnya di kursi tertinggi perusahaan.
"Kakek," panggil Evan dengan nada suara yang jauh lebih lembut dari biasanya.
Pria tua di kursi roda itu menoleh. Matanya yang sayu seketika berbinar terang saat melihat Evan tidak datang sendirian. Tatapan Kakek Surya langsung tertuju pada genggaman tangan Evan dan Aura yang saling bertautan.
"Evan... kau..." suara Kakek Surya terdengar berat dan terputus-putus karena usianya yang sudah lanjut.
"Sesuai janjiku pada Kakek," ucap Evan mantap, menarik tubuh Aura sedikit lebih rapat ke sisinya. "Aku membawa wanita yang sudah resmi menjadi istriku. Ini Aura Dania Adijaya."
Ibu tiri Evan, Siska, langsung mendengus sinis. Matanya memperhatikan pakaian Aura yang sederhana dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Evan! Apa-apaan ini?!" potong Siska dengan nada tinggi bersalut penghinaan. "Kau membawa wanita entah dari mana ini ke kediaman Adijaya dan mengklaimnya sebagai istrimu? Di mana tata kramamu?! Siapa orang tuanya? Dari klan mana dia berasal?!"
Aura merasakan cengkraman tangan Evan pada jemarinya sedikit mengetat. Pria itu menoleh ke arah ibu tirinya dengan tatapan membunuh yang sangat dingin.
"Tjokro Siska," suara Evan menggelegar tenang namun penuh tekanan berbahaya. "Jaga bicaramu. Aura adalah istri sah pilihan saya. Saya tidak membutuhkan persetujuan dari seorang wanita yang statusnya hanya pendamping masa tua Ayah saya."
"Kau!!" wajah Siska memerah padam karena murka. Ia hendak membalas, namun kibasan tangan Kakek Surya di udara langsung menghentikan perdeban itu seketika.
"Cukup, Siska!" tegur Kakek Surya tegas.
Pria tua itu menggerakkan roda kursinya mendekat ke arah Evan dan Aura. Matanya yang berpengalaman menatap lurus ke dalam iris mata Aura. Aura yang merasa dinilai, tidak berani menghindar. Ia menundukkan kepalanya sedikit sebagai tanda hormat, lalu tersenyum lembut meski dadanya bergemuruh hebat.
"Kemarilah, Nak," panggil Kakek Surya pelan, mengulurkan tangannya yang keriput dan gemetar.
Aura melirik Evan sejenak. Setelah mendapat anggukan tipis dari pria itu, Aura melangkah maju dan berlutut pelan di samping kursi roda Kakek Surya. Dengan tulus, Aura menyambut tangan keriput sang Kakek dan mengusapnya lembut.
"Selamat pagi, Kakek," ucap Aura manis. "Maafkan kami jika pernikahan ini terasa sangat mendadak dan tidak meriah."
Kakek Surya menatap telapak tangan Aura yang halus namun memiliki sedikit bekas kapalan tanda bahwa wanita ini adalah pekerja keras yang tidak terbiasa bermanja-manja. Pria tua itu kemudian menatap matanya yang jernih dan jujur, tanpa ada kilatan keserakahan seperti wanita-wanita kaya yang biasa dijodohkan dengan cucunya.
Senyuman hangat perlahan terukir di bibir Kakek Surya.
"Mata yang jujur," gumam Kakek Surya pelan. Ia mengelus lembut rambut hitam panjang Aura. "Evan selalu dikelilingi oleh orang-orang bertopeng yang menginginkan hartanya. Tapi kau... matamu sangat bersih, Nak."
Dada Aura berdesir perih mendengar pujian tulus itu. Ada rasa bersalah yang teramat sangat menusuk relung hatinya. Kakek tua yang sedang sakit ini menaruh harapan penuh padanya, tanpa tahu bahwa pernikahan ini hanyalah kebohongan besar yang dibeli dengan uang dua miliar rupiah.
"Terima kasih, Kakek," cicit Aura pelan, berusaha menahan genangan air mata yang mulai berkaca-kaca di sudut matanya.
"Bagus... bagus sekali," Kakek Surya tertawa kecil, lalu menoleh menatap Evan yang berdiri tegap di belakang Aura. "Evan, kau tidak berbohong pada Kakek. Pilihanmu sangat tepat. Hari ini juga, Kakek akan meminta pengacara pribadi keluarga untuk menyiapkan dokumen pengalihan 30% saham utama Adijaya Group atas namamu!"
Wajah ibu tiri Evan seketika pucat pasi. "Ayah! Anda tidak bisa mengambil keputusan sepihak seperti ini! Bagaimana dengan Raka?! Raka juga cucu Anda!"
"Raka hanya tahu menghamburkan uang di kelab malam!" bentak Kakek Surya tanpa ragu. "Evan sudah membuktikan tanggung jawabnya sebagai pria dewasa!"
Evan berdiri tegak dengan dagu terangkat. Kemenangan pertamanya sudah di tangan. Tatapannya melirik dingin ke arah Siska yang mengepalkan tangan penuh dendam.
Namun, ketika Evan menunduk dan menatap Aura yang masih terduduk di lantai sambil mengusap tangan kakeknya dengan penuh kelembutan, ada sesuatu yang aneh berdesir di dalam dada sang CEO berdarah dingin itu. Sebuah perasaan asing yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
"Aura," panggil Evan pelan.
Aura mendongak. Di bawah pendar cahaya lampu kristal yang mewah, mata mereka saling bertatapan dalam diam. Permainan kebohongan ini baru saja dimulai, dan terperangkap di dalam rumah megah ini bersama Evan Adijaya akan menjadi ujian terbesar dalam hidupnya.
__________
Terima kasih sudah membaca. Berikan Like & Komen ya...