Judul lama : Diagnosis: Falling For You
dr. Narendra Adiwijaya, Sp.B adalah putra tunggal dari keluarga konglomerat, Narendra dipersiapkan sejak kecil untuk menjadi penerus Adiwijaya Healthcare Group. Tuntutan tinggi tersebut membentuk Narendra menjadi pria kaku, dominan, dingin.
dr. Nayla Kartikasari, Sp.A adalah anak pertama dari pasangan Arga Dewantara dan Citra Kirana, memiliki seorang adik bernama Bintang. Nayla memiliki sifat yang hangat, ekspresif, namun bermental baja menjadikannya dokter yang disukai oleh anak anak
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naila fitri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia di Bawah Meja
Ketika jam dinding menunjukkan pukul lima pagi, lampu merah di atas pintu ruang operasi akhirnya padam. Operasi dinyatakan sukses besar. Pendarahan berhasil dihentikan, dan kondisi pasien anak tersebut berhasil distabilkan sebelum dipindahkan ke ruang PICU (Pediatric Intensive Care Unit).
Nayla berjalan keluar dari ruang ganti dengan tubuh yang terasa remuk. Shift malamnya telah berakhir, dan yang ia inginkan hanyalah pulang dan tidur. Sambil memijat lehernya yang kaku, ia berjalan menyusuri lorong lobi utama rumah sakit yang masih sepi dan temaram oleh sisa fajar.
Namun, langkah kaki Nayla melambat saat melihat sosok Narendra berjalan beberapa meter di depannya. Pria itu sudah berganti pakaian dengan kemeja hitam pekat berbahan satin-sutra yang pas di badannya, dipadukan dengan celana kain berpotongan mahal. Di pergelangan tangan kirinya, sebuah jam tangan mewah berdesain klasik dengan dial hitam mengintip dari balik kemejanya—jam tangan yang harganya mungkin setara dengan rumah tipe klaster di pinggir kota. Narendra berjalan dengan tenang, memancarkan kemewahan yang senyap namun mutlak, tipe orang yang tidak perlu berteriak untuk memberi tahu dunia bahwa dia berkuasa.
Di depan pintu kaca lobi, langkah Narendra berhenti karena hujan rintik-rintik masih membasahi aspal. Namun, ia tidak perlu menunggu lama.
Sebuah mobil sedan mewah Mercedes-Benz Maybach berwarna hitam mengilap berukuran panjang merapat tepat di depan lobi—sebuah area yang sangat dilarang untuk parkir kendaraan umum, namun aturan itu jelas tidak berlaku untuknya. Seorang pria paruh baya berjas hitam rapi bergegas turun dari kursi kemudi, memayungi Narendra dengan payung hitam besar, lalu membungkuk dengan hormat yang sangat dalam.
"Selamat pagi, Den Narendra. Tuan Besar menyampaikan pesan agar Anda langsung kembali ke rumah utama di Menteng setelah ini. Ada pertemuan keluarga yang harus Anda hadiri," ucap sopir pribadi itu dengan nada yang sangat santun.
Narendra hanya mengangguk samar, menerima payung tersebut dari tangan sopirnya. Sebelum ia melangkah masuk ke dalam kabin mobil yang super mewah itu, Narendra tiba-tiba menghentikan gerakannya. Ia memutar tubuhnya sedikit, menembus jarak beberapa meter untuk menatap langsung ke arah Nayla yang masih berdiri mematung di dekat meja resepsionis.
Narendra menaikkan sudut bibirnya tipis—sangat tipis hingga hampir tidak terlihat seperti senyuman, melainkan sebuah seringai kepuasan yang dominan.
"Kerja yang bagus untuk manajemen resusitasi awalnya di IGD tadi, Dokter Nayla," ucap Narendra, suaranya yang berat menggema di lobi yang sepi. Tatapannya turun ke arah mata panda Nayla. "Sekarang pulanglah. Anda terlihat seperti zombi yang butuh asupan kafein dosis tinggi. Saya tidak mau melihat dokter anak saya pingsan di bangsal nanti malam."
Tanpa menunggu jawaban atau pembelaan dari Nayla, Narendra masuk ke dalam mobil. Pintu mobil tertutup dengan suara redam yang mewah, dan kendaraan mahal itu pun melesat membelah jalanan kota yang masih basah, meninggalkan Nayla yang hanya bisa melongo menahan kekesalan sekaligus kekaguman yang aneh di dalam dadanya.
**
Sebelum Narendra menapakkan kakinya di hotel, malamnya di kediaman besar keluarga Adiwijaya di kawasan Menteng dimulai dengan ketenangan yang dingin. Di dalam kamar pribadinya yang luas dan bernuansa minimalis modern, Narendra sedang berdiri di depan cermin besar. Jemarinya yang panjang dan kokoh bergerak dengan sangat presisi saat mengancingkan kemeja katun abu-abu gelapnya. Dari luar jendela kamar, suara gerimis sisa hujan sore tadi masih terdengar, namun tidak ada yang bisa mengusik ketenangan pria itu.
Bagi Narendra, makan malam yang dirancang ibunya malam ini hanyalah satu dari sekian banyak agenda formalitas bisnis yang harus ia penuhi. Ia tidak pernah peduli siapa yang akan ditemuinya, karena di kepalanya saat ini hanyalah jadwal operasi toraks untuk esok hari. Tepat ketika ia menyemprotkan parfum beraroma woody-leather mahal di pergelangan tangan, pintu kamarnya diketuk. Gibran, sepupunya yang sudah rapi dengan kemeja biru dongker, menyembul dari balik pintu sambil menyeringai jahil. "Ayo, Tuan Muda Adiwijaya. Sopir paman sudah memanaskan mesin Maybach di bawah. Jangan sampai kolega bisnis ibumu menunggu lama." Narendra hanya merespons dengan lirikan datar, memakai jam tangan safirnya, lalu melangkah keluar kamar dengan aura dominan yang mutlak.
Di sisi lain kota Jakarta, kesibukan yang berbeda terjadi di salah satu rumah mewah berdesain modern tropis di kawasan Jakarta Selatan. Di kamar tidurnya, Nayla sedang mematut diri di depan cermin. Gaun batik pastel pilihan ibunya baru saja selesai ia kenakan, dan ia masih sibuk membetulkan beberapa helai rambutnya yang sedikit berantakan.
"Kak Nayla! Ayo cepat, mobilnya sudah siap di depan. Papa sama Mama sudah masuk ke kabin!" seru Bintang, adiknya, dari balik pintu kamar sambil mengetuk gemas.
"Iya, sebentar, Bintang! Kakak lagi pasang anting!" sahut Nayla setengah berteriak. Jantungnya berdegup agak kencang, bukan karena tidak sabar, melainkan karena ia malas harus menghadiri makan malam rekan bisnis ibunya. Sebagai dokter anak yang mandiri, ia paling tidak suka jika sudah ada kode-kode perjodohan yang terselubung dari orang tuanya.
Setelah memastikan penampilannya sempurna, Nayla meraih tas kecilnya dan berjalan cepat menuruni tangga, menyusul keluarganya yang sudah menunggu di dalam mobil Toyota Alphard hitam milik mereka. Sepanjang perjalanan menembus kemacetan Jakarta yang basah, Mama Citra dan Papa Arga tidak berhenti bercerita dengan antusias tentang betapa baik dan terhormatnya keluarga Adiwijaya. Nayla hanya bisa menghela napas panjang sambil menatap ke luar jendela, sama sekali tidak menyangka badai seperti apa yang sedang menunggunya di tempat tujuan.
Hingga akhirnya, mobil pribadi keluarga Nayla dan mobil mewah Narendra tiba di waktu yang hampir bersamaan di pelataran lobby.
Restoran privat di lantai teratas Hotel The Grand Adiwijaya malam itu menyuguhkan pemandangan lampu kota Jakarta yang berkilauan menembus dinding kaca setinggi langit-langit. Alunan musik piano klasik berdentang lembut, mengiringi atmosfer makan malam yang luar biasa mewah. Di tengah ruangan, Narendra duduk dengan postur tegak yang dominan. Kemeja abu-abu gelap berbahan katun mesir yang ia kenakan tampak sangat serasi dengan jam tangan mewah berpiringan safir yang melingkar di pergelangan tangannya.
Narendra hanya sesekali menyesap air mineralnya, mendengarkan obrolan hangat antara kedua orang tuanya, Arsenio dan Widya Adiwijaya. Di sebelah Narendra, sepupunya yang gemar memprovokasi, dr. Gibran, Sp.An, sibuk menahan senyum sambil terus menyenggol siku Narendra.
"Katanya anak perempuan mereka juga dokter spesialis baru di rumah sakit kita, Ren. Kebetulan sekali, kan?" bisik Gibran pelan, hampir tak terdengar.
Narendra tidak menyahut. Baginya, makan malam keluarga malam ini tak lebih dari sekadar formalitas bisnis untuk merayakan kontrak eksklusif jangka panjang antara Adiwijaya Group dengan perusahaan katering digital milik keluarga Dewantara.
Pintu geser kayu ruang privat itu terbuka. Arsenio Adiwijaya langsung berdiri dari kursinya dengan senyum lebar yang jarang ia perlihatkan. "Ah, ini dia yang kita tunggu-tunggu. Selamat malam, Pak Arga, Ibu Citra."
Narendra ikut berdiri demi sopan santun. Pandangannya lurus ke arah pintu, dan dalam hitungan detik, tubuh tegap Dokter Bedah itu mendadak kaku.
Di sana, melangkah masuk di antara Papa Arga dan Mama Citra, adalah dr. Nayla Kartikasari, Sp.A. Perempuan itu mengenakan gaun batik modern berwarna pastel yang membuatnya tampak sangat anggun, rambutnya disanggul modern menyisakan beberapa helai yang membingkai wajah cantiknya. Di belakang Nayla, adiknya, Bintang, berjalan sambil sibuk membetulkan kerah kemejanya dengan kikuk.
Mata Nayla dan Narendra bertemu di udara.
Nayla seketika menghentikan langkahnya, matanya membelalak sempurna seolah baru saja melihat hantu di siang bolong. Monster Kamar 302? jerit Nayla dalam hati, tangannya mendadak dingin seketika. Panas langsung menjalar ke pipinya saat memori ia mengomeli pria itu kembali berputar di otaknya.
Sementara itu, Narendra berhasil menguasai ekspresi wajahnya dengan cepat, kembali memasang topeng sedingin es, meski sudut bibirnya sempat berkedut samar.
"Wah, Nayla, perkenalkan ini Narendra, Spesialis Bedah utama di Medika Adiwijaya. Dan ini sepupunya, Gibran," ujar Mama Citra penuh semangat, menuntun Nayla untuk duduk tepat di hadapan Narendra.
Nayla tersenyum sangat terpaksa, mengangguk kaku. "Malam, Dokter Narendra... Dokter Gibran."
"Malam, Dokter Nayla," sahut Narendra, suaranya berat dan bariton, terdengar sangat formal seolah mereka baru pertama kali bertukar sapa.
Gibran yang tahu persis insiden ’Monster Kamar 302’ dari laporan perawat bangsal, langsung batuk yang dibuat-buat. "Uhuk! Iya, malam Dokter Nayla. Dunia sempit ya, Ren?" Narendra membalasnya dengan injakan maut di atas sepatu mewah Gibran di bawah meja, membuat dokter anestesi itu meringis tertahan.
Makan malam pun dimulai. Hidangan pembuka disajikan, namun bagi Nayla, makanan mewah itu terasa seperti pasir karena tatapan elang Narendra yang duduk tepat di depannya terus mengunci pergerakannya. Atmosfer makin memanas ketika Widya Adiwijaya mulai membuka kartu.
"Bu Citra, karena Narendra dan Nayla ini sama-sama sibuk di rumah sakit, sepertinya bagus kalau kita sering-sering menjadwalkan makan malam berdua untuk mereka. Siapa tahu... mereka bisa saling mengisi?" pancing Widya sambil tersenyum penuh arti. Papa Arga dan Mama Citra langsung mengangguk kompak menyetujui.
Nayla hampir tersedak sup jamurnya. Di bawah meja yang tertutup taplak kain tebal panjang, kaki Nayla tanpa sengaja bergerak panik dan menendang sesuatu yang keras.
Duk!
Nayla tersentak. Ia mendongak dan mendapati Narendra sedang menatapnya lekat-lekat dengan satu alis terangkat. Nayla baru saja menendang tulang kering Dokter Bedah itu. Dengan panik, Nayla menggerakkan kakinya berniat menarik diri, namun gerakan kakinya justru ditahan oleh sepatu mahal Narendra. Pria itu sengaja mengunci kaki Nayla di bawah meja, tidak membiarkannya kabur.
Nayla menatap Narendra dengan tatapan protes yang tajam, seolah berkata, Lepaskan kaki saya!
Namun Narendra justru menyesap minumannya dengan tenang, membalas tatapan Nayla dengan kilatan mata yang dominan dan penuh kepuasan. Pria itu mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan meja, membuat aroma parfum woody mahalnya kembali mengintimidasi indra penciuman Nayla.
"Saya rasa ide Ibu sangat bagus," ucap Narendra tenang, suaranya yang berat memotong obrolan orang tua mereka. Matanya tidak lepas dari wajah Nayla yang kini sudah memerah. "Sebagai senior di rumah sakit, saya dengan senang hati akan... membimbing Dokter Nayla. Baik di dalam, maupun di luar jam kerja."
Bintang yang duduk di sebelah Nayla berbisik pelan, "Kak, muka lo udah kayak udang rebus, aman nggak?"
Nayla hanya bisa mengepalkan tangannya di atas pangkuan, sementara di bawah meja, Narendra masih mengunci pergerakannya dengan dominasi mutlak yang membuat jantung Dokter Anak itu berdegup dua kali lebih cepat.