NovelToon NovelToon
Pengasuh Hebat Kesayangan CEO Dingin

Pengasuh Hebat Kesayangan CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / Reinkarnasi / Pengasuh / Penyesalan Keluarga
Popularitas:7.1k
Nilai: 5
Nama Author: Stellune

Naura diberi kesempatan hidup kedua setelah mati karena kerja dan keluarga yang terus memerasnya. Kali ini, ia menolak jadi ATM untuk orang tua dan adik laki-lakinya. Ia meninggalkan karier bergengsi di dunia keuangan Jakarta, lalu memilih bekerja sebagai pengelola rumah tangga profesional untuk keluarga elite.
Siapa sangka, keputusannya justru membawanya bertemu Arkan Pradipta, CEO dingin yang ditakuti banyak orang, tetapi kacau dalam urusan hidup sehari-hari.
Di antara kontrak kerja, rahasia masa lalu, keluarga toksik, dan perasaan yang makin sulit ditolak, Naura harus memilih: terus bersembunyi, atau merebut hidup yang sejak awal memang miliknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stellune, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 2

Bab 2

Pagi itu, Naura datang ke kantor dengan wajah segar.

Itu saja sudah cukup membuat beberapa orang menoleh.

Biasanya ia datang paling pagi dengan mata merah, rambut rapi tapi aura seperti orang baru keluar dari perang. Kopi hitam di tangan kanan, ponsel di tangan kiri, laptop sudah menyala bahkan sebelum ia duduk.

Hari ini ia datang pukul delapan lewat lima belas.

Masih lebih pagi dari sebagian besar orang.

Tapi bagi Mahardika Capital, itu sudah termasuk santai.

"Mbak Naura." Dimas yang sedang mengambil air minum hampir tersedak. "Mbak tidur?"

Naura berhenti di dekat pantry.

"Pertanyaanmu aneh."

"Maksud saya..." Dimas terlihat panik. "Mbak kelihatan sehat."

Seorang analis lain tertawa kecil. "Dimas, hati-hati. Itu bisa terdengar seperti selama ini Mbak Naura kelihatan sakit."

Naura mengambil gelas. "Memang selama ini aku kelihatan sakit."

Tawa kecil itu langsung berhenti.

Naura menuang air hangat, lalu berjalan ke ruangannya.

Begitu duduk, ia membuka laptop dan mulai menyusun daftar pekerjaan yang harus diserahterimakan. Ia tidak ingin pergi dengan meninggalkan kekacauan. Bukan demi Mahardika, melainkan demi tim kecil yang selama ini bekerja bersamanya.

Pukul sembilan kurang sepuluh, pesan dari HR masuk.

`Mbak Naura, Pak Bima minta meeting di ruang kecil lantai 18.`

Naura membalas singkat.

`Baik.`

Di ruang kecil itu sudah ada Bima, seorang manajer HR bernama Lestari, dan Pak Surya, salah satu direktur senior.

Tiga orang.

Naura hanya satu.

Dulu komposisi seperti ini sudah cukup membuatnya merasa bersalah bahkan sebelum bicara. Sekarang ia menarik kursi dan duduk dengan tenang.

Pak Surya membuka pembicaraan dengan senyum ayah-ayah bijak.

"Naura, Bima cerita kamu sedang ingin cuti mendadak."

"Saya mengajukan cuti sesuai hak karyawan."

"Betul. Tidak salah. Tapi waktunya kurang pas."

Naura menatapnya. "Kapan waktu cuti yang pas untuk orang di tim kita, Pak?"

Pak Surya terdiam sebentar.

Bima menyela, "Kamu jangan defensif. Kita di sini bukan mau menyerang."

Naura hampir ingin bertepuk tangan.

Kalimat itu selalu keluar sebelum seseorang menyerang.

Lestari dari HR tersenyum kaku. "Mbak Naura, kami cuma ingin memahami. Apakah ada masalah keluarga lagi?"

Lagi.

Kata itu halus, tetapi ujungnya tajam.

Naura meletakkan map di meja. "Masalah keluarga saya tidak relevan dengan hak cuti."

Bima mencondongkan badan. "Relevan kalau mengganggu performamu."

"Performa saya turun?"

Tidak ada yang langsung menjawab.

Naura membuka halaman pertama map itu. Ia sudah mencetak beberapa data sebelum meeting.

"Ini daftar proyek dua tahun terakhir. Nilai transaksi, jam kerja, kontribusi tim, dan evaluasi klien. Kalau performa saya turun, tolong tunjukkan di bagian mana."

Lestari menatap kertas itu dengan gugup.

Pak Surya mengambil satu lembar. Matanya bergerak cepat.

Bima tidak menyentuhnya.

"Naura, kamu tahu maksudku bukan itu," katanya.

"Saya tidak tahu, Pak. Karena selama ini saya selalu diminta bekerja berdasarkan data."

Ruang itu mendadak sunyi.

Di luar kaca, orang-orang lalu lalang. Di dalam, udara terasa lebih dingin.

Pak Surya berdeham. "Kamu memang salah satu talenta terbaik kita. Justru karena itu kami ingin kamu berpikir jernih. Cuti bisa kita atur. Tapi soal pengunduran diri yang kamu sebut semalam, itu sebaiknya tidak dibicarakan saat emosi."

"Saya tidak sedang emosi."

Bima tertawa pendek. "Semua orang yang emosi selalu bilang begitu."

Naura menoleh kepadanya.

"Pak Bima, apakah Bapak masih menyimpan pesan dari Pak Wira Sagara?"

Wajah Bima berubah.

Sedikit saja.

Tapi Naura melihatnya.

Pak Surya mengerutkan dahi. "Pesan apa?"

Bima langsung berkata, "Tidak ada apa-apa. Naura, jangan membelokkan pembicaraan."

"Saya tidak membelokkan. Sagara Medika adalah alasan cuti saya dianggap masalah, kan? Kalau saya harus memikul proyek itu sendirian, saya perlu memastikan semua data bersih."

Bima menatapnya tajam.

Naura membuka ponsel dan meletakkannya di meja. Tidak ia buka. Tidak ia putar rekaman. Ia hanya membiarkan benda itu terlihat.

"Kemarin malam Pak Bima meminta saya membuat catatan awal. Padahal ada struktur kepemilikan yang belum jelas. Pak Bima juga pernah meminta saya menunda catatan risiko pada proyek lain sampai klien menandatangani mandate letter. Kalau semua pembicaraan ini perlu dijelaskan ke compliance, saya bersedia."

Wajah Lestari pucat.

Pak Surya menatap Bima.

Bima menahan rahang. "Kamu mengancam saya?"

"Saya melindungi diri."

"Naura."

Suara Pak Surya menjadi lebih berat.

Naura menatapnya. "Pak, saya sudah bekerja di sini tiga tahun. Saya tidak pernah menolak lembur. Saya tidak pernah melempar pekerjaan. Saya tidak pernah mempermalukan perusahaan meskipun perusahaan membiarkan saya dipermalukan."

Lestari menunduk.

Semua orang tahu soal keluarganya datang ke kantor.

Semua orang tahu, tapi tidak ada yang benar-benar berdiri di sisinya.

"Waktu keluarga saya membuat keributan di lobi, yang pertama Bapak katakan adalah saya harus menjaga reputasi kantor. Tidak ada yang bertanya apakah saya aman."

Pak Surya membuka mulut, lalu menutupnya lagi.

"Saya tidak minta dibela. Saya sudah terbiasa berdiri sendiri. Tapi jangan minta saya terus bekerja seperti mesin lalu menyebut saya tidak profesional ketika saya mengambil hak saya."

Bima berkata dengan suara rendah, "Kamu akan menyesal."

Naura tersenyum.

"Mungkin. Tapi saya lebih menyesal kalau mati di meja kerja."

Tidak ada yang tertawa.

Naura mengeluarkan satu amplop dari tas.

Ia meletakkannya di tengah meja.

"Surat pengunduran diri saya. Efektif sesuai aturan perusahaan. Saya bersedia serah terima pekerjaan dengan rapi."

Lestari terlihat seperti ingin pingsan.

Pak Surya mengambil amplop itu perlahan. "Naura, jangan gegabah. Di luar sana tidak mudah. Dengan reputasimu setelah kejadian keluarga itu..."

Ia berhenti sendiri.

Karena kalimatnya sudah terlanjur telanjang.

Naura menatapnya tanpa berkedip.

"Dengan reputasi saya setelah keluarga saya mempermalukan saya, perusahaan merasa saya tidak punya pilihan selain bertahan?"

Pak Surya tidak menjawab.

Naura berdiri.

"Justru karena itu saya pergi."

Bima ikut berdiri. "Kamu pikir perusahaan lain akan menerima orang dengan masalah keluarga seperti itu?"

Naura menoleh.

"Saya tidak bilang akan pindah ke perusahaan lain."

"Lalu mau apa? Buka usaha? Jadi konsultan? Kamu pikir gampang?"

Nada Bima mulai kehilangan lapisan sopan.

Di kehidupan sebelumnya, Naura pasti merasa kecil.

Sekarang tidak.

"Saya bisa bekerja apa saja."

Bima mendengus. "Jangan idealis. Kamu lulusan top, kariermu bagus. Jangan buang diri ke pekerjaan rendahan hanya karena ingin membuktikan sesuatu."

Naura memegang tasnya.

"Pekerjaan rendahan itu yang membuat saya bisa kuliah, Pak."

Bima terdiam.

"Saya pernah cuci piring di warung makan. Saya pernah bersihkan apartemen orang. Saya pernah mengajar anak SD sampai SMA. Saya pernah jadi barista paruh waktu. Saya pernah bantu katering subuh-subuh sebelum kelas. Semua pekerjaan itu halal."

Ia menatap satu per satu orang di ruangan itu.

"Yang rendahan bukan pekerjaannya. Yang rendahan adalah orang yang menganggap martabat manusia ditentukan oleh kartu nama."

Naura berjalan ke pintu.

Tangannya baru menyentuh gagang ketika Pak Surya memanggil.

"Naura."

Ia berhenti.

"Serah terima berapa lama yang kamu butuhkan?"

Suara itu sudah berubah.

Lebih hati-hati.

Naura menoleh. "Dua minggu cukup. Kalau perusahaan ingin saya selesai lebih cepat, saya bisa buat daftar prioritas."

Pak Surya mengangguk pelan. "Kompensasi akan dihitung sesuai aturan."

Bima langsung menatapnya. "Pak Surya."

Pak Surya mengangkat tangan, menyuruhnya diam.

"Tambahkan satu bulan sebagai apresiasi kontribusi," katanya kepada Lestari. "Dan pastikan bonus proyek yang sudah vested tetap dibayarkan."

Lestari cepat-cepat mencatat.

Naura tahu alasan Pak Surya berubah bukan karena iba.

Mereka takut.

Takut ia membawa cerita keluar. Takut compliance membuka laci yang selama ini ditutup rapat. Takut satu perempuan yang mereka anggap bisa ditekan ternyata sudah tidak takut lagi.

Tidak apa-apa.

Di dunia kerja, rasa takut kadang lebih berguna daripada simpati.

Naura keluar dari ruang meeting.

Di koridor, Dimas berdiri tidak jauh dari mesin fotokopi. Pura-pura mengecek kertas, tetapi wajahnya tegang.

"Mbak..."

"Kumpulkan tim jam sebelas. Aku serah terima pekerjaan."

Wajah Dimas jatuh. "Mbak benar-benar pergi?"

Naura mengangguk.

"Tapi kenapa?"

Ia menatap anak muda itu. Di kehidupan lalu, Dimas pernah berkata kepadanya, "Mbak, aku kagum sama Mbak, tapi aku tidak mau hidup seperti Mbak."

Waktu itu Naura tertawa.

Sekarang ia mengerti.

"Karena hidupku lebih penting daripada jabatan."

Dimas tidak menjawab.

Naura berjalan menuju ruangannya. Di sepanjang koridor, beberapa orang mulai berbisik. Ada yang penasaran. Ada yang puas. Ada yang takut.

Ia tidak peduli.

Ponselnya kembali bergetar.

Ibu mengirim pesan panjang di grup keluarga.

`Kalau kamu merasa sudah hebat sampai berani melawan orang tua, ingat, doa Ibu bisa jadi kutukan. Jangan sampai nanti hidupmu susah baru ingat keluarga.`

Naura membaca sampai selesai.

Lalu ia mengetik.

`Mulai bulan ini aku hanya kirim untuk kebutuhan Bapak dan Ibu. Bagas harus kerja. Kalau ada yang datang ke kantor atau membuat keributan lagi, aku lapor polisi.`

Ia mengirim pesan itu.

Grup langsung sunyi.

Untuk pertama kalinya, tidak ada yang membalas.

Naura meletakkan ponsel dan mulai menyusun dokumen serah terima.

Di layar laptop, kalender dua minggu ke depan terbuka.

Ia menatap tanggal-tanggal itu.

Hidup barunya baru saja dimulai.

1
Rahman Hayati
mantul lanjut terus
jgn setengah 2 ya
Lili Inggrid
ceritanya bagus
Yusar bin ajo
cerita yg sangat bagus sekali
Yusar bin ajo
semangat ya author ceritanya sangat bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!