NovelToon NovelToon
Takdir Baru di Malam Lamaran

Takdir Baru di Malam Lamaran

Status: tamat
Genre:Reinkarnasi / Cinta setelah menikah / Wanita perkasa / Pengantin Pengganti / Pengantin Pengganti Konglomerat / Kelahiran kembali menjadi kuat / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Chicklit / Tamat
Popularitas:67.8k
Nilai: 5
Nama Author: Chandria

Nadia terbangun kembali di malam lamarannya, tepat saat Bella, adik tirinya, ketahuan bersama Arman, calon suaminya. Semua orang memintanya mengalah demi nama baik keluarga. Namun kali ini Nadia tidak mau menjadi korban lagi.
Ia tahu masa depan Arman: pengkhianatan, kekerasan, dan rahasia kelam yang akan menghancurkan siapa pun yang menikah dengannya. Maka saat Bella merebut Arman, Nadia justru tersenyum dan memilih Raka, paman Arman yang sakit-sakitan tapi berhati teguh.
Bella mengira ia mencuri takdir terbaik. Ia tidak tahu, yang ia rebut adalah awal dari neraka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 2

Bab 02 - Cinta yang Membuat Mual

Ruang tengah rumah Pak Darto mendadak sesak.

Padahal pintu depan terbuka lebar. Angin malam masuk dari halaman, menggoyang tirai tipis yang sudah kusam. Tapi napas orang-orang seperti tertahan di satu tempat, di antara Nadia yang berdiri tegak dan Bella yang masih memeluk lengan Bu Ratna sambil menangis.

Doa Nadia terdengar manis.

Terlalu manis sampai membuat kulit Bella meremang.

Semoga kalian berdua hidup bersama sampai tua.

Orang lain mungkin mengira itu ucapan pasrah. Bella tahu bukan. Ada sesuatu di mata Nadia. Sesuatu yang dingin, tajam, dan seperti sudah tahu akhir dari semua ini.

Bella menelan ludah.

Tidak mungkin.

Nadia tidak mungkin tahu.

Yang kembali dari kematian hanya dirinya. Bella yakin itu. Ia masih ingat jelas kehidupan lalu: Nadia menikah dengan Arman, tinggal di kompleks dinas, dipanggil Bu Arman oleh tetangga, datang ke kampung dengan mobil bagus dan gelang emas di tangan. Semua orang memuji keberuntungan Nadia.

Sementara Bella?

Ia menikah dengan lelaki miskin bernama Yusuf, lulusan kampus yang katanya pintar tapi akhirnya hanya jadi buruh serabutan setelah tersandung kasus pencurian di tempat kerja. Hidupnya sempit. Makan sering kurang. Ia berkali-kali mendatangi Nadia untuk meminjam uang, tapi Nadia semakin lama semakin dingin.

Bella mati-matian berpikir, kalau saja dulu ia yang menikah dengan Arman.

Lalu ia benar-benar kembali.

Maka ia mengambil Arman.

Ia tidak peduli malam itu lamaran Nadia. Ia tidak peduli orang-orang melihatnya keluar dari kamar. Lebih baik menanggung malu sebentar daripada kembali hidup miskin seumur hidup.

Tapi kenapa Nadia tersenyum seperti itu?

"Kak Nadia," ucap Bella lirih. "Aku tahu kamu marah. Tapi doamu tadi... kenapa terdengar seperti kutukan?"

Nadia menoleh perlahan.

"Kutukan? Aku mendoakan kalian langgeng, Bella. Bukankah itu yang kamu mau?"

Bella kehilangan kata.

Arman yang lebih dulu bicara. Ia berdiri, merapikan kemejanya yang basah oleh teh.

"Cukup, Nadia. Jangan membuat semuanya makin panjang."

Nadia menatap noda teh di kemejanya.

"Kamu baru basah sedikit sudah merasa tidak nyaman?"

"Apa maksudmu?"

"Tidak ada. Aku hanya sedang belajar. Rupanya orang yang hobi bermain di belakang orang lain juga bisa tersinggung kalau kena teh."

Beberapa orang menahan tawa. Satu ibu tetangga menutup mulut dengan ujung kerudung. Arman melihat ke sekeliling, rahangnya mengeras.

"Jaga mulutmu."

"Seharusnya kamu jaga celanamu dulu."

"Nadia!" Pak Darto berseru, wajahnya merah padam.

Nadia menoleh. "Kenapa, Pak? Kata-kataku lebih memalukan daripada perbuatan mereka?"

Pak Darto membuka mulut, lalu menutupnya lagi.

Bu Ratna langsung mengambil alih. Wajahnya penuh air mata, tapi suaranya tetap terukur.

"Nak, Ibu tahu kamu terluka. Tapi kalau kamu terus bicara kasar, orang-orang akan menilai kamu tidak punya adab."

Nadia tersenyum.

Bu Ratna selalu pandai memilih kata.

Adab.

Perempuan seperti Bu Ratna bisa menyembunyikan pisau di balik kata adab, sabar, keluarga, dan kasihan. Ia tidak perlu berteriak. Cukup membuat korban merasa bersalah karena berani berdarah.

"Bu Ratna," kata Nadia, "adab itu dimulai dari tidak tidur dengan calon suami orang."

Bu Ratna tersedak.

Sari hampir tertawa, tapi ia menahannya.

Eyang Marni memukul lantai lagi.

"Sudah! Jangan melawan ibu tirimu. Bagaimanapun dia yang mengurus rumah ini sejak kamu pulang dari panti."

Nadia memandang neneknya.

"Mengurus rumah atau mengurus rencana agar Bella bisa mengambil semuanya?"

Wajah Bu Ratna berubah tipis.

Hanya sedetik, tapi Nadia melihatnya.

"Nadia," kata Bu Ratna pelan, "jangan asal menuduh. Ibu tidak pernah membedakan kamu dan Bella."

"Benarkah?"

"Tentu."

"Kalau begitu, kenapa waktu aku kecil, aku yang dikirim ke panti? Kenapa Bella yang dibawa pulang?"

Ruangan seketika diam.

Beberapa saudara yang lebih muda saling pandang. Mereka pernah mendengar cerita itu, tapi tidak pernah ada yang berani membicarakannya di depan banyak orang.

Bu Ratna menunduk, air matanya jatuh.

"Itu keputusan orang tua dulu. Ada banyak hal yang tidak kamu mengerti."

"Aku memang tidak mengerti," jawab Nadia. "Aku tidak mengerti kenapa anak kandung Bapak harus dibuang karena dibilang membawa sial, sementara anak bawaan Ibu diperlakukan seperti pembawa rezeki."

"Nadia!" Pak Darto bangkit. "Jaga ucapanmu."

Nadia menatap bapaknya lama.

Dulu, tatapan seperti itu membuatnya takut. Ia akan langsung diam, meminta maaf, dan merasa berdosa karena membuat bapaknya malu.

Sekarang tidak.

"Pak, malam ini aku yang dikhianati. Kalau Bapak masih ingin memarahiku, setidaknya tunggu sampai orang yang masuk kamar dengan calon suamiku selesai dimarahi dulu."

Pak Darto duduk kembali seperti kehabisan tenaga.

Keluarga Wiratmaja yang sejak tadi diam mulai tidak nyaman. Pak Hendra, ayah Arman, berdeham. Ia laki-laki besar dengan kumis tipis, kemeja batik rapi, dan wajah orang yang terbiasa dihormati.

"Nadia," katanya, "kami dari pihak Arman tentu meminta maaf. Ini kesalahan besar. Tapi kita perlu mencari penyelesaian yang tidak merusak dua keluarga."

Nadia menoleh.

"Dua keluarga? Yang rusak duluan itu nama saya, Pak."

Ibu Arman, Bu Lilis, langsung menghela napas.

"Anak muda memang mudah emosi. Kami tidak lepas tangan. Kalau Arman harus menikahi Bella, kami akan bertanggung jawab."

"Bagus."

Bu Lilis tampak lega.

Nadia melanjutkan, "Tanggung jawab kepada Bella tidak menghapus tanggung jawab kepada saya."

Lega itu hilang.

Arman mengerutkan kening.

"Maksudmu apa?"

Nadia berjalan ke meja tamu. Di sana masih ada kotak seserahan yang dibawa keluarga Wiratmaja: kain, kue, buah, seperangkat alat salat, dan amplop mahar simbolis untuk acara lamaran.

Ia menyentuh salah satu kotak.

"Malam ini kalian datang melamar saya. Tetangga melihat. Saudara melihat. Setelah makan di rumah ini, kamu ketahuan dengan Bella. Kalau besok orang kampung bicara, mereka tidak akan hanya menyebut nama Bella. Mereka akan menyebut namaku juga."

Bella cepat berkata, "Aku tidak akan membiarkan orang menyalahkanmu, Kak."

Nadia tertawa kecil.

"Kamu bahkan tidak bisa menjaga pintu kamar tertutup rapat. Jangan berjanji menjaga namaku."

Bella pucat.

Bu Ratna memelototi Nadia. "Cukup menyindir adikmu."

"Dia bukan adik yang sedang jatuh dari sepeda. Dia perempuan dewasa yang masuk kamar dengan calon suamiku."

Sari maju setengah langkah.

"Nadia benar. Kalau keluarga Wiratmaja mau menikahkan Arman dan Bella, silakan. Tapi nama Nadia harus dibersihkan."

Pak Hendra menatap Sari, lalu Nadia.

"Apa yang kamu minta?"

Eyang Marni langsung menyela, "Tidak perlu macam-macam. Nadia nanti dijodohkan dengan Yusuf. Anak itu lulusan universitas. Keluarganya memang sederhana, tapi—"

"Aku tidak mau Yusuf," potong Nadia.

Eyang Marni terkejut. "Kamu belum dengar selesai."

"Aku sudah dengar di kehidupan..." Nadia berhenti sejenak, lalu mengganti kalimatnya. "Aku sudah cukup mendengar selama dua puluh tahun."

Bu Ratna menegang.

Nadia hampir keceplosan. Ia tidak boleh membiarkan mereka tahu dirinya juga kembali.

"Yusuf itu calon Bella," lanjut Nadia. "Kalau Bella mengambil Arman, bukan berarti aku harus mengambil sisa pilihan Bella."

Arman tertawa sinis.

"Jadi kamu masih mau menikah denganku?"

Nadia menatapnya seperti melihat sampah basah.

"Denganmu? Tidak."

Wajah Arman langsung gelap.

"Lalu apa maumu?"

Nadia melihat Pak Hendra.

"Lamaran keluarga Wiratmaja kepada keluarga Pak Darto tetap harus dipertanggungjawabkan. Kalau Arman memilih Bella, maka keluarga Wiratmaja tetap harus menyelesaikan urusan denganku secara terhormat."

Bu Lilis mulai gusar.

"Kami akan memberi uang ganti malu."

"Berapa?"

Bu Lilis tersentak. Ia mungkin tidak menyangka Nadia akan bertanya setegas itu.

"Nadia," kata Bu Ratna cepat, "jangan membuat dirimu terlihat seperti menjual harga diri."

Nadia berbalik.

"Harga diriku sudah kalian injak. Sekarang aku hanya meminta kalian membayar sandal yang kalian pakai."

Sari tidak tahan lagi. Ia tertawa pendek.

Beberapa tetangga ikut menunduk, bahu mereka bergetar.

Bu Ratna malu setengah mati.

Eyang Marni marah. "Dasar anak tidak tahu diri! Perempuan kok bicara uang di depan tamu!"

"Perempuan boleh dijadikan korban di depan tamu, tapi tidak boleh bicara uang?"

"Kamu..."

"Eyang," Nadia memotong, suaranya rendah, "kalau malam ini Eyang masih memaksa aku diam, besok aku sendiri yang akan pergi ke rumah Pak RT, ke kantor kelurahan, lalu ke Polsek. Aku akan bilang keluarga ini memaksaku menerima laki-laki lain setelah calon suamiku tidur dengan adik tiriku."

Ruangan membeku.

Pak Darto panik. "Nadia, jangan bawa-bawa polisi."

"Kenapa? Takut malu?"

Tidak ada jawaban.

Nadia menatap Bella.

"Kamu mau Arman, kan?"

Bella mengangguk pelan.

"Ambil."

Lalu Nadia menatap Arman.

"Kamu mau Bella?"

Arman, demi harga dirinya, menjawab, "Ya."

Nadia tersenyum.

"Bagus. Kalau begitu, mulai malam ini jangan pernah lagi memakai namaku sebagai alasan. Kalian bukan korban cinta. Kalian cuma dua orang tidak tahu malu yang ketahuan terlalu cepat."

Arman melangkah maju, tapi Pak Hendra menahan bahunya.

Nadia menunduk mengambil amplop di atas meja, lalu mengangkatnya di depan semua orang.

"Sekarang kita bicara urusan saya."

Bella mendadak merasa jantungnya jatuh.

Karena untuk pertama kalinya, ia sadar satu hal.

Nadia tidak menangis karena kehilangan Arman.

Nadia terlihat seperti orang yang baru saja bebas.

1
Murni Sumiarti
Bingung
🤣🤣🤣
Endang Sulistia
di bab atas anak sari namanya Rani...trus mereka buka warung ..🤔🤔kok makin bingung ya thor🤦🤦
Endang Sulistia
bingung mbak Lilis apa Bu Lilis 🤦🤦
Endang Sulistia
Arman cucu pak Hendra,trus ortunya siapa ya..🤔🤔
Endang Sulistia
🤭🤣🤣🤣 biar hemat ya
Endang Sulistia
setajam silet ya nad
Endang Sulistia
oke Tante..🤪🤪🤪
Endang Sulistia
🤪🤪🤪🤪
ria sopingi
gw bingung cerita ini, raka adik Hendra tp manggil lilis ibu sementara si Arman manggil ibu katanya keponakan raka hadohhhh
Yan Wui
Kok anaknya sari mana ya kak
chataleya
sakit jiwa nih Arman 🤭
Ari Peny
d sini rada bingung kok sari panggil kak k nadia dan aq penasaran raka kerjanya apa kok uangnya d pakai buat arman
chataleya
dasar Bella.... andalannya cuma tangisan...
chataleya
semestinya keluarga adalah tempat yang teraman bukan membuat rasa terancam. gimana sih pak Darto??!!!
chataleya
sebenarnya Nadia kehilangan. tapi kehilangan kesempatan masuk neraka rumah tangga bersamamu Arman. 🤣 dan kesempatan itu diambil Bella 🤭
chataleya
untung ada mbak sari....👍
chataleya
bagaimana Arman, apa kamu seperti merasa kehilangan sesuatu??? 🤭
chataleya
duar..duar..duar... Shok kan kaliannnn... 🤣🤣🤣 jantung aman kan Arman... Bella... 🙈
chataleya
detik-detik kemerdekaan Nadia 😍
chataleya
aku bacanya seperti sedang menonton film India 🤭 jadi agak greget gitu dengan kelakuan keluarga Nadia 🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!