semoga suka ya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon anak org, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bagian 2
Hari ini adalah hari yang sangat berharga bagi Aluna, yaitu hari pernikahannya dengan seseorang yang baru kemarin dia kenal.
pernikahan ini jauh dari kata megah, tidak ada gaun pengantin yang berkilau atau tamu yang bersorak bahagia. hanya ada dua pihak keluarga yang saling duduk berhadapan dalam satu ruangan.
karena pernikahan ini dilaksanakan secara privat.
meski begitu, Aluna tidak bisa menyembunyikan rasa harunya. di dalam hati dia berkata aku harap pernikahan ini akan terus berujung pada kebahagiaan dan cinta. aku berharap tidak akan ada kesedihan atau air mata kecuali air mata kebahagiaan ujar Aluna dalam hati dengan penuh syukur.
tanpa dia sadari, ada beberapa orang yang tidak menyukai pernikahan ini. di sudut ruangan, seorang wanita paruh baya menatap tajam ke arah Aluna dengan tangan yang terkepal erat.
setelah ucapan janji suci pernikahan selesai diucapkan, kini mereka berada di dalam mobil milik Wijaya.
suasananya sungguh sangat canggung karena di dalam mobil hanya ada mereka berdua dan seorang sopir.
Aluna sesekali melirik ke arah Aryan yang sejak tadi terus fokus pada ponselnya.
lalu di mana darman dan Lea? mereka berada di dalam mobil yang berbeda, awalnya darman ingin ikut mengantar putranya dan menantunya.
Namun, tiba-tiba ada panggilan masuk mendesak dari kantornya yang memintanya untuk datang. mau tidak mau, dia harus pergi ditemani istrinya.
Aluna hanya mampu menundukkan kepalanya dan menggenggam tangannya di atas pangkuannya.
"Berhenti" ujar Aryan dingin
mendengar perintah dari tuannya, sopir itu pun menghentikan mobilnya di jalanan yang amat sepi kendaraan. bahkan orang-orang sangat jarang sekali lewat di sana.
"Turun" lanjut Aryan tanpa menoleh sekalipun dari ponselnya
Aluna langsung menoleh ke arah Aryan dengan kening berkerut bingung.
melihat Aluna yang tidak bergerak sedikitpun membuat Aryan menoleh ke arahnya dengan pandangan tajam dan berucap dingin namun sarat akan penolakan.
"Turun!"
Aluna menatap Aryan tanpa berkedip, tubuhnya kaku, tangannya mendadak dingin, dan dadanya terasa sempit.
mengapa Aryan menyuruhnya turun? bahkan di tempat yang sangat sunyi dan sepi?
dia ingin bertanya, tetapi menatap mata tajam Aryan membuatnya mengurungkan pertanyaan yang muncul secara tiba-tiba ini.
"apa kau tuli? sudah kukatakan turun!!" bentak Aryan menatap Aluna segit
jantung Aluna berdetak tak karuan, napasnya tertahan di tenggorokan. dia ingin menangis tetapi entah kenapa rasanya sangat susah.
Namun, Aluna tetap tidak bergerak. dia menundukkan kepalanya sambil meremas kedua tangannya dengan gelisah.
Amarah Aryan langsung memuncak. kesal, dengan gerakan cepat dia mencengkeram lengan Aluna kuat, membuat Aluna sampai tersentak. dengan gerakan kasar Aryan menarik tangan Aluna kuat-kuat dan menyeretnya keluar dari mobil.
lalu dengan entengnya, Aryan menghempaskan tubuh Aluna ke sisi jalan raya.
"Akhhh!" pekik Aluna saat tubuhnya menghantam aspal dengan keras.
setelah itu, Aryan langsung masuk ke dalam mobil dan menutup pintu dengan keras. meninggalkan suara yang sangat menusuk di dalam hatinya.
"ayo jalan" ujarnya ke sopirnya
"tapi, tuan nyonya ba-"
"aku bilang jalan! apa kau juga tuli, hah? kau mau aku pecat?!!" teriak Aryan sambil menatap nyalang ke sopirnya.
"A-ah, baik tuan" jawab sopir itu gugup karena tak ingin tuannya semakin marah dan memecatnya sopir itu pun melajukan mobilnya dan berlalu dari sana meninggalkan Aluna yang terisak sendirian di tengah jalan yang sepi.
"hiks... hiks... hiks..." akhirnya tangisan Aluna pun tumpah seketika, setelah menahan dengan susah payah untuk tidak keluar. nyatanya Aluna tidak bisa menahannya begitu lama.
Aluna menangis sesenggukan di tengah jalan, memeluk lututnya erat dan menyelusupkan wajahnya di tumpuan lututnya.
Di sisi lain.
Aryan tidak langsung pulang ke rumah, melainkan dia pergi ke kantornya setelah sekretarisnya menelpon karena mitra bisnisnya itu memutuskan untuk dirinya yang harus cepat hadir.
karena rapat kali ini sangatlah besar dan menguntungkan, akan sangat disayangkan kalau sampai rapatnya dibatalkan.
ceklek.
melihat pak Aryan yang sudah datang, seluruh karyawan yang ada di ruangan itu langsung berdiri dan memberi hormat kepadanya.
kecuali satu orang pria yang duduk di sisi kursinya dengan angkuhnya, satu kaki dinaikkan di atas pahanya dan pandangannya menatap lurus ke arah tembok bercak putih.
sudah dia akui pasti kalau dia adalah mitra bisnisnya, lalu Aryan mendekat ke arah pria itu dengan langkah tenang, namun tegas.
"kau terlambat satu menit, tuan Aryan" ujar pria itu dingin
"maafkan saya tuan, saya tadi ada sedikit masalah kecil yang harus saya kerjakan terlebih dahulu sebelum ke sini" jawab Aryan juga tak kalah dinginnya
"dan untuk itu, mari kita langsungkan saja rapatnya" lanjut Aryan lagi
dan rapat pun dimulai dengan tenang tanpa ada kendala sedikit pun.
.
sedangkan di sisi lain, Aluna berjalan tertatih-tatih di trotoar jalanan sambil memeluk kedua lengannya.
matanya sembap, sorot matanya meredup oleh tangisan. Aluna melangkah tanpa tujuan, diiringi senja yang kelabu. langit mendung menggantung berat, seperti menahan hujan yang ingin tumpah.
Aluna terus berjalan tanpa arah, dia tidak tahu harus pergi ke mana lagi. dia ingin pulang ke rumah ayahnya, tetapi ayahnya pasti akan sangat marah dan ibunya akan mengusirnya karena keluarganya dan dirinya tidak pernah akur.
ingin pergi ke rumah suaminya pun dia tidak tahu dia mana tempat tinggal suaminya.
Dia ingin menangis, tetapi berusaha menahan isak tangisannya. dia harus kuat. dia harus bisa melewati ini semua, kalau dia menyerah. siapa yang akan membantunya kecuali dirinya sendiri.
tiba-tiba, sebutir air hujan jatuh tepat di wajahnya, Aluna. mendongakkan kepalanya menatap Langit yang sudah mulai menggelap, diiringi suara petir yang menggelegar.
melihat itu, Aluna langsung berlari mencari tempat untuk berteduh.
hujan turun dengan deras, membasahi kota yang mulai gelap dan hanya menyisakan lampu jalan yang bersinar redup.
Aluna terus berlari, tanpa sadar ada sebuah batu besar menghalangi jalannya, kakinya tersandung dan dia terjatuh keras ke jalanan penuh kerikil.
"Akhhh!" pekik Aluna kesakitan sambil memejamkan mata, menahan rasa sakitnya.
akhirnya dia melihat sebuah pohon besar di tepi jalan. dengan kedua tangan yang tergores, dia berusaha berdiri dan berjalan ke arah pohon itu sambil memegang lututnya yang berdarah.
di bawah pohon besar itu, Aluna meringkuk kedinginan sambil mengusap kedua lengannya mencari kehangatan. walau dia tahu tidak akan berhasil, setidaknya dia tidak akan mati kedinginan di bawah pohon ini.
badannya sudah basah kuyup, wajahnya pucat, bibirnya bergetar kedinginan, matanya sayu. sesekali Aluna meringis kesakitan saat luka di lututnya terkena air hujan.
Aluna memejamkan matanya, mendongak ke arah langit dengan perasaan hancur. dia memikirkan nasibnya nanti. kalau sudah tinggal bersama suaminya, apakah dia akan diperlakukan lebih buruk dari ini?.
Aluna bersandar di batang pohon. rasa kantuk mulai menyerang kesadarannya. kelelahan akan semua kejadian ini membuatnya ingin sekejap melupakan semuanya. dan akhirnya, Aluna tertidur dalam keadaan basah kuyup.