NovelToon NovelToon
Forget Hate, Remember Love

Forget Hate, Remember Love

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah / Gadis Amnesia / Orang Disabilitas
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Joy Jasmine

"Kakak, aku haus. Ambilin minum, dong!"

"Aku enggak sedih lagi, karena punya suami sebaik Kakak."

"Kakak udah maafin aku. Tapi Kakak enggak peluk aku."

Juan tak pernah mengira hidupnya akan berubah seperti ini.

Istri yang dulu bersikap dingin, tidak peduli, bahkan pernah meremehkannya karena kelumpuhannya, kini justru terus menempel di sisinya.

Sebuah kecelakaan telah merenggut sebagian ingatan Ailin.

Wanita itu melupakan tahun-tahun penuh kebencian di antara mereka. Melupakan luka yang pernah tercipta. Melupakan alasan mengapa ia begitu membenci suaminya.

Yang tersisa hanyalah Ailin dengan kepribadian ceria, banyak bicara, penuh perhatian, dan tanpa sadar terus membuat jantung Juan berdebar.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Juan kembali memiliki harapan.

Namun harapan itu datang bersama ketakutan.

Karena cepat atau lambat, ingatan Ailin akan kembali.

Dan saat hari itu tiba...

Akankah wanita itu tetap memilihnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Joy Jasmine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2 ~ Kehidupan yang Tak Kuingat

Cukup lama ia ditinggal. Ailin yang kebosanan memutar pandangan ke segala arah. Bibirnya mengerucut, kesal karena merasa kesepian.

Setiap mendengar suara, ia akan menoleh ke arah pintu. Namun semuanya hanya perawat atau dokter yang sekedar lewat. Juan sama sekali tidak kembali, apalagi keluarganya yang bahkan batang hidungnya pun Ailin belum lihat sejak bangun.

Tanpa sadar kedua matanya mulai memanas, dalam ingatannya ia adalah putri bungsu yang begitu disayangi dan dimanjakan. Tergores sedikit saja, sang kakak akan panik dan membawanya ke rumah sakit. Tapi sekarang ia yang terluka parah hingga hilang ingatan ini, hanya ditinggal seorang diri seolah tidak ada yang peduli.

Ceklek.

Ailin yang mengira Juan kembali, menoleh dengan senyuman lebar. Namun yang datang ternyata dua orang perawat. Ia cepat-cepat menutup mata, malu sekali kalau ia ketahuan tengah menangis oleh orang lain.

"Pasien sedang tidur," bisik seorang perawat sembari mengganti air infus yang hampir habis.

Perawat satunya mengangguk, ia memeriksa kondisi luar Ailin. "Kasihan sekali dia, sejak sadar kemarin, tidak ada yang benar-benar menemaninya."

Juan yang hendak masuk bersama seorang pria lain meminta sang asisten untuk berhenti mendorong. Ia berdiam di depan pintu, berniat menunggu hingga pemeriksaan selesai.

Namun percakapan dua perawat itu selanjutnya justru membuatnya semakin tidak ingin masuk sekarang. Pria itu tidak ingin mempermalukan sang istri. Terlebih sebelumnya Ailin memang merasa ia memalukan.

"Aku malah kasihan sama tuan Juan." Perawat yang tengah mengatur air infus itu, membalas dengan asal.

"Kenapa?" tanya temannya penasaran.

Setelah selesai mengganti infus, ia berjalan menghampiri sang rekan dengan semangat. Mata melirik Ailin yang tampak tertidur, lalu dengan suara kecil ia mulai bergosip.

"Selama nyonya koma, hampir tiap hari dia datang."

"Serius?"

"Iya. Bahkan saat hujan deras kemarin dia tetap datang."

"Tuan sangat menyayangi istrinya, ya."

Perawat itu terdiam sejenak, lalu tersenyum kecil. "Tapi yang aku dengar, mereka sepertinya mau bercerai."

"Benarkah? Hm, mungkin saja mereka ada alasannya. Kita kan nggak tahu," balas temannya sambil melirik wajah Ailin.

"Sstt, yang aku dengar lagi. Nyonya Ailin ini punya orang lain di luar."

"Hah, serius?" Temannya menutup mulut dengan kaget. Ia kembali melirik Ailin, lalu memandang temannya. "Jangan keras-keras! Nanti nyonya dengar."

"Dia lagi tidur."

"Iya sih. Tapi takut aja, kan?"

"Aku juga nggak asal ngomong, kakak sepupuku kenal dekat sama dia. Jadi aku sering dengar ceritanya."

"Kalau cuma dengar cerita, jangan sembarangan! Gimana kalau nggak benar?"

"Aku juga nggak tahu sih. Tapi kalau aku yang ada di posisi dia, aku juga sepertinya nggak sanggup... kita sama-sama tahu bagaimana kondisi tuan Juan."

Temannya terdiam sebentar, lalu mengangguk pelan. Merasa setuju dengan pernyataan sang rekan.

Sementara di dalam diamnya, Ailin yang sejak tadi mendengar akhirnya tidak bisa menahan lagi. Ia membuka mata perlahan, dadanya terasa sesak.

Ia sendiri bahkan belum mengenal baik Juan sebagai suami. Tapi orang asing ini bahkan sepertinya lebih tahu kehidupan rumah tangga mereka.

"Sudah selesai gosipnya?" Kedua perawat itu menoleh dengan kaget. Di sana Ailin tengah memandang dengan kedua mata merah.

"Nyo-nyonya, bukankah Anda sedang tidur?"

"Aku enggak tahu kalau pekerjaan perawat sesenggang ini. Aku bisa membuat keluhan untuk kalian, loh. Kira-kira sanksinya apa, ya?Kalau dikeluarkan, kalian pasti semakin punya banyak waktu untuk bergunjing." Ailin menopang tubuhnya, bergeser dan berusaha duduk dengan nyaman.

"Biar saya bantu!"

"Nggak perlu!" Ailin menepis tangan perawat yang lebih banyak bicara itu. Matanya menatap lencana yang terpasang di atas dada mereka.

"Siran Kong... Ziya Guan. Oke, aku sudah ingat nama kalian. Silakan keluar!" Ailin berbicara dengan acuh tak acuh. Wanita itu menatap dengan wajah sombongnya.

Sementara kedua perawat itu jelas ketakutan. Namun Siran masih ingin membela diri, seingatnya Ailin selalu membenci sang suami. "Tapi apa yang saya katakan benar. Bukankah Anda malu karena memiliki suami lumpuh? Anda bahkan tidak mau mengakui dia sebagai suami."

Ailin mendelik, ia tidak mengakui Juan? Apa benar? Bahkan diingatan yang tersisa, selalu ada kekaguman pada pria itu. Namun teringat foto pernikahan itu, ia juga jadi ragu.

"Anda bahkan punya pacar di luar."

"Kamu mengenalku?"

"Kakak sepupuku yang bilang. Kalian teman baik."

"Jadi kamu bahkan nggak tahu sendiri?"

"Sa-saya...."

"Kalian keluar!... Sebelum aku benar-benar melaporkan kalian."

"Tapi ...."

"Baik, kami keluar." Ziya menarik tangan Siran. Jika benar akhirnya harus keluar dari rumah sakit ini. Itu lebih baik daripada tidak mendapat pekerjaan selamanya. Ia sudah bersusah payah mendapatkan gelar perawat ini.

"Udah, jangan buat dia marah lagi!" bisiknya sembari menarik Siran untuk pergi.

Juan yang melihat kedua perawat itu akan keluar, segera memberi kode pada sang asisten untuk mendorong. Namun suara sang istri membuatnya kembali urung.

"Tunggu!" panggil Ailin membuat Siran dan Ziya menoleh dan tersenyum senang. Mungkin saja Ailin berubah pikiran sekarang.

Wanita itu menatap lurus. "Tentang aku dan suamiku, itu bukan urusan kalian."

"Aku nggak peduli seperti apa hubungan kami sebelumnya. Tapi memangnya kenapa kalau dia duduk di kursi roda?"

"Asal kalian tahu, dia jauh lebih baik daripada orang-orang yang sibuk mengurusi kehidupan orang lain."

"Dan kalian bahkan nggak mengenalnya. Dia juga nggak pernah ganggu hidup kalian. Jadi siapa kalian sampai merasa berhak menilainya?" Ailin menatap dengan tajam. Membuat kedua perawat itu sedikit bergidik ngeri.

"Keluarlah!"

"Ah, iya. Baik." Keduanya berbalik dan berjalan dengan cepat. Kali ini berebutan keluar dan Juan tidak sempat kabur lagi. Saat membuka pintu, mereka melihat dua pria di sana yang berekspresi canggung.

"Tuan," sapa keduanya dan langsung beranjak pergi. Sementara Juan langsung berdehem pelan. Emosinya cukup terganggu dengan pembelaan sang istri.

Karena untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia mendengar Ailin membelanya di depan orang lain.

Anehnya, hal itu justru membuat dadanya terasa sesak. Rasa takut tiba-tiba muncul dari lubuk hati terdalamnya. Ini semua, mungkin hanya bersifat sementara.

"Tuan, kita jadi masuk?" tanya sang asisten setelah cukup lama sang tuan terdiam.

"Kau pergi bereskan mereka!" titah Juan akhirnya dan langsung menekan tuas kursinya, masuk seorang diri.

.

.

.

1
falea sezi
🤣🤣 ngakak
Manda
🤣🤣🤣
falea sezi
g lanjut kah
Joey: Lanjut dong😁
Bentar lagi update kok ✨
total 1 replies
falea sezi
baru nyimak klo bagus q ksih hadiah🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!