Alya Mahendra, gadis kota yang harus menjalani KKN di Desa Sukamaju, sebuah desa pelosok yang jauh dari kehidupan nyamannya. Karena tingkahnya yang sering mengeluh dan tak terbiasa hidup sederhana, teman-temannya mulai menjulukinya “Nona Kota.”
Di tengah hari-hari KKN yang penuh tantangan, ada Arga Pratama, cowok dingin dan kaku yang diam-diam sering membantu Alya meski wajahnya selalu terlihat tak peduli. Namun saat konflik mulai muncul di posko, mampukah Alya bertahan sampai akhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anshuu_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Persiapan Berlebihan Sebelum KKN..
Begitu keluar dari butik, Alya menarik napas panjang. Udara sejuk dari pendingin ruangan mall langsung menyentuh wajahnya yang sedikit berkeringat setelah hampir dua jam berkeliling dari satu toko ke toko lain.
Kedua tangannya dipenuhi berbagai kantong belanja dari brand ternama mulai dari pakaian kasual, perlengkapan outdoor, sampai beberapa outfit yang rasanya terlalu mewah untuk dipakai di desa.
Alya berhenti sejenak, menatap semua barang bawaannya, lalu menghela napas kecil.
“Kayaknya… aku butuh satu koper lagi,” gumamnya sambil memiringkan kepala.
Tanpa pikir panjang, ia segera berbelok menuju toko perlengkapan perjalanan yang berada tak jauh dari sana. Tatapannya langsung tertuju pada deretan koper berbagai ukuran yang dipajang rapi di bagian depan toko.
Dan seperti biasa, seleranya bekerja lebih cepat daripada logikanya.
Sebuah koper jumbo berwarna rose gold berkilau langsung mencuri perhatian. Elegan, mewah, dan tentu saja terlihat cantik.
Cocok dengan casing ponselnya.
Alya langsung melangkah menuju bagian travel gear di lantai dua mall, sama sekali tak memedulikan orang-orang di sekitarnya.
Fokusnya kini hanya satu mencari koper yang cukup besar untuk menampung seluruh perlengkapan KKN-nya, yang jumlahnya sudah lebih menyerupai persiapan ekspedisi daripada kegiatan pengabdian masyarakat.
Setelah mengamatinya beberapa detik, Alya menoleh pada pramuniaga yang berdiri di dekat rak.
“Mbak, saya ambil yang ini, ya. Sekalian dibungkus.”
Tanpa ragu, ia mengeluarkan kartu ATM hitam dari dompet kecilnya lalu menyerahkannya begitu saja. Itu memang bukan black card, hanya kartu solitaire dari salah satu bank, tapi tampilannya cukup membuat siapa pun berpikir dua kali sebelum menebak isi rekening pemiliknya.
“Baik, Kak. Saya proses pembayarannya dulu, ya,” ujar sang pramuniaga dengan senyum profesional.
Alya mengangguk santai.
Beberapa menit kemudian, pramuniaga itu kembali sambil menyerahkan kartu miliknya.
“Karena total pembelian Kakak hari ini di atas lima juta rupiah, untuk transaksi berikutnya Kakak mendapatkan diskon tiga puluh lima persen. Ini kartu member-nya, Kak.”
Alya menerima kartu itu dan menatapnya beberapa detik.
Entah akan dipakai atau tidak.
Sejujurnya, ia hampir tidak pernah menggunakan diskon saat berbelanja. Tapi tidak masalah. Mungkin suatu hari nanti berguna.
Tanpa berpikir lebih jauh, kartu itu langsung ia selipkan ke dalam dompetnya, bergabung dengan beberapa kartu diskon lain yang selama ini juga ia simpan dengan pemikiran serupa. Siapa tahu nanti dipakai.
Saat hendak berbalik, langkah Alya tiba-tiba terhenti.
Tak jauh dari sana berdiri seorang laki-laki tinggi di depan rak koper berwarna hitam. Kaos polos gelap yang dikenakannya membuat tubuh atletisnya terlihat semakin tegas.
Wajahnya tampak serius, alis sedikit bertaut, sementara matanya fokus menatap label harga seperti sedang menghitung sesuatu di kepala.
Alya mengernyit pelan, mencoba memastikan penglihatannya, sampai akhirnya Ia mengenali siapa sosok laki-laki itu.
“Arga?” panggilnya spontan.
Ia menoleh pelan, menampilkan raut wajah yang nyaris tanpa emosi, membuat siapa pun sulit menebaK apa yang sedang dipikirkannya.
“Iya.” jawabnya singkat.
Alya sempat terdiam beberapa detik, menunggu setidaknya sedikit respons darinya. Mungkin sebuah senyum kecil, sapaan balik, atau sekadar ekspresi ramah yang menunjukkan Bahwa ia mengenali keberadaannya.
Namun harapan itu pupus begitu saja.
Arga justru kembali mengalihkan pandangannya pada koper di hadapannya, seolah pertemuan singkat itu tak cukup penting untuk menarik perhatiannya lebih lama. Bagi Alya, keberadaannya barusan terasa tak lebih dari suara singkat yang datang lalu menghilang.
Sama seperti biasanya. Dingin. Sulit ditebak.
Meski begitu, Alya tak bisa menahan rasa heran kecil dalam dirinya. Setidaknya kali ini Arga merespons sapaan yang ia berikan, sesuatu yang bisa dibilang cukup langka.
Sudut bibirnya terangkat samar. Dengan suasana yang masih sedikit canggung, Alya memberanikan diri kembali melanjutkan percakapan.
“Nyari koper juga?” tanyanya, berusaha mencairkan suasana di antara mereka.
Arga hanya mengeluarkan gumaman pendek.
“Hm.”
Seperti biasa, Arga hanya memberikan jawaban singkat tanpa ekspresi berarti.
Alya yang berdiri di sampingnya sedikit mendekat, ikut melirik koper hitam yang sejak tadi diperhatikan laki-laki itu.
“Kamu suka yang itu?” tanyanya ringan.
Arga mengangguk pelan.
“Iya.” jawabnya singkat.
Namun beberapa detik kemudian, matanya kembali jatuh pada label harga yang tergantung di sisi koper. Keningnya sedikit berkerut.
“Nggak jadi.” gumamnya pelan.
Alya menangkap perubahan kecil pada ekspresi Arga. Tanpa bertanya lebih jauh, ia segera membuka dompet kecil yang sedari tadi berada di genggamannya, lalu mulai menelusuri deretan kartu yang tersusun rapi di dalamnya.
Jemarinya bergerak lincah, memilah satu per satu Kartu member dari berbagai toko sambil berusaha menemukan sesuatu yang sedang ia cari.
Ia ingat pernah mendapat kartu diskon dari toko koper ini. Bahkan seingatnya… lebih dari satu.
Beberapa detik kemudian wajahnya langsung berbinar.
“Nah, ketemu.” gumamnya puas.
Rupanya ada beberapa Kartu diskon dari toko yang sama terselip di antara tumpukan kartu lainnya.
Tanpa ragu, Alya mengambil salah satunya, lalu menoleh ke arah Arga sambil mengangkat kartu itu di depan wajahnya.
“Aku punya voucher diskon. Mau?” tanyanya santai.
Arga mengalihkan pandangannya pada beberapa kartu diskon yang kini berada di tangan Alya. Untuk sesaat ia terdiam, sorot matanya menunjukkan bahwa ia sedang mempertimbangkan sesuatu.
Sebenarnya ia memang membutuhkan koper baru. Di rumahnya tak ada koper yang cukup layak dipakai, sementara beberapa hari lagi mereka akan berangkat KKN. Mau tidak mau, ia harus membeli satu.
“Nggak kamu pakai?” tanyanya, sekadar berbasa-basi.
Padahal Arga sudah tahu seperti apa jawaban Alya.
Sebagai putri bungsu dari keluarga pemilik salah satu perusahaan terbesar di kota itu, diskon jelas bukan sesuatu yang berarti baginya. Bahkan rasanya, sekalipun Alya membeli sesuatu bernilai fantastis, ia tetap tidak akan terlalu memedulikan potongan harga.
Alya justru mengangkat bahu santai.
“Nggak. Aku cuma hobi ngumpulin kartu diskonan.” jawabnya ringan.
Untuk pertama kalinya sejak tadi, Arga menatap Alya sedikit lebih lama.
“Thanks.” katanya pendek.
Alya tersenyum kecil lalu menyerahkan kartu itu ke tangannya.
Meski sering kesal karena Arga selalu bersikap dingin dan seolah menjaga jarak darinya, bukan berarti Alya tega membiarkannya kesulitan saat dirinya tahu ia bisa membantu.
Alya tahu persis kalau harga koper di toko itu jelas tidak murah. Setidaknya, voucher diskon yang ia berikan bisa membantu mengurangi pengeluaran
Arga, meski mungkin tidak terlalu banyak.
Ya… paling tidak, itulah yang ada di pikirannya.
Sementara itu, Arga masih menatap kartu diskon yang kini berada di tangannya.
Berusaha mencerna fakta bahwa seseorang seperti Alya baru saja memberinya bantuan tanpa banyak alasan.
Namun seperti biasa, Alya terlalu cepat mengalihkan suasana.
“Oh iya…” katanya tiba-tiba antusias.
“Aku udah beli baju berkebun, baju anti serangga, baju tidur, baju rumahan…”
Ia berhenti sejenak, lalu menatap Arga penuh rasa ingin tahu.
“Menurut kamu, apa lagi yang kurang?”
Arga menoleh perlahan. Ekspresi di wajahnya kembali tenang, Nyaris tanpa menunjukkan emosi apa pun seperti biasanya.
“Akal sehat lo.” jawabnya dingin.
Suasana langsung hening dua detik.
Alya menatapnya tak percaya.
Pria ini… sudah dibantu malah masih sempat-sempatnya menghina dirinya.
Alya langsung mengerucutkan bibirnya, rasa kesal terpancar jelas dari wajahnya.
“Aku pergi dulu, ya.” katanya cepat, jelas malas berlama-lama di sana.
“Lama-lama ngobrol sama kamu, aku bisa ikut beku.”
Arga hanya memberi respons seadanya.
“Hm.”
Alya melotot tajam sebelum akhirnya berbalik dan melangkah pergi sambil membawa belanjaannya.
Tatapan Arga mengikuti langkah Alya yang semakin menjauh, sementara pikirannya kembali mengingat semua barang aneh yang tadi gadis itu beli tanpa ragu.
“…Sebenarnya dia mau KKN… atau pindah buat bertahan hidup di tengah hutan?” gumamnya pelan, lebih pada dirinya sendiri.
Entah kenapa, memikirkan tingkah Alya barusan justru membuat sudut bibirnya terangkat samar. Senyum tipis yang nyaris tak terlihat, sesuatu yang jarang sekali muncul dari pria sepertinya.