NovelToon NovelToon
SAHABATKU MENJADI PENGANTI MAMAKU

SAHABATKU MENJADI PENGANTI MAMAKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Daesy.Rf

Selama ini Mamaku nampak sehat-sehat saja, namun hari ke hari tubuh mama nampak kurus dan sakit-sakitan. Entah karena menahan sakit atau karena isu perselingkuhan Papa yang membuat Mama sakit.Tapi Mama tidak tahu siapa selingkuh Papa, yang sebenarnya ada di depan batang hidungku sendiri, ibarat musang berbulu domba itulah yang dihadapi keluargaku, dan aku baru tahu siapa selingkuh Papa setelah Mama tiada.

cerita ini sangat menarik penuh intrik dan pengkhianatan yang tak terduga datang dari orang terdekatnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daesy.Rf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2. SAKITNYA MAMA

Kebahagiaan yang dirasakan oleh keluargaku, berlahan pudar dalam satu bulan terakhir, Mama yang semula sehat dan baik-baik saja, hari kehari menunjukan fisik yang mulai lemah dan badannya drastis agak kurusan. Namun Mama tetap semangat dalam melayani kami dibantu Bik Ani, karena Mama mudah lelah sekarang.

Tapi anehnya dengan kondisi Mama yang seperti ini, Papa malah sibuk dengan kerjaannya bahkan sampai lembur, dan mulai ada pergi keluar kota, yang sebelumnya Papa pasti pulang walaupun kemana saja paling lama dua hari, tapi sekarang bisa satu Minggu lebih.

Bahkan Mama sering bertanya Papa malah menjawab sinis, Mama yang ngambek malah sekarang tidak dihiraukan oleh Papa.

"Jangan kayak anak-anaklah Ma udah kepala Empat"

Kamipun jarang bepergian keluar rumah sekarang, setiap Papa libur, karena hampir satu bulan ini rasanya libur Papa juga terpakai untuk kerja. Firasat-firasat aneh mulai terasa dihati Mama sebagai seorang istri.Tapi Mama berusaha tenang didepan kami.

Hari ini aku pulang dari kampus sedikit siang, aku masuk kerumah yang tidak dikunci, aku tidak melihat Mama diruangan tamu, ataupun ruangan keluarga, aku mencari Mama ke dapur pun tidak ada.

"Ma....Ma...." Aku memanggil Mama tapi tak ada jawaban.

Akhirnya setelah lelah mencari aku berpikir Mama pasti dalam kamar, aku lihat pintu kamar Mama terbuka sedikit dan aku mengintip Mama yang memang sedang berada dalam kamar duduk dimeja riasnya. Mama Sedang menelpon, tapi Mama nampak menangis.

"Papa sudah berubah, tidak sayang Mama lagi"

"Bukan gitu Ma, Mama harusnya ngerti posisi Papa sekarang kesibukan Papa semakin besar sejak jadi kepala cabang disini.

"Iya hari ini Ulang tahun Pernikahan kita yang ketujuh belas Pa, biasanya kita ajak anak-anak keluar ini Papa malah mau keluar kota tidak pulang dulu langsung berangkat"

"Tunggu Papa kembali dulu Ya Ma, baru kita rayain"

"Ya udah, Assalamualaikum"

Mama menutup telponnya dan menangis kembali, aku serba salah antara masuk atau tidak ke dalam kamar Mama,karena besok libur panjang selama Empat hari ternyata hari ulang Tahun pernikahan Papa dan Mama ke Tujuh belas.Aku memang ingin ngajak Papa dan Mama liburan, tapi aku sudah mendengar lewat telpon Papaku sibuk ke luar kota.

Aku memutuskan mundur dan berlahan pergi kekamarku, aku kepikiran karena memang Papa sekarang benar-benar sibuk luar biasa, sejak diangkat menjadi kepala cabang. Meta pun untuk di ajak main juga sibuk katanya dia lagi dapat orderan photo keluar kota dari studio teman SMA nya dulu. Dia sibuk cari cuan, aku memang mengurangi aktivitas model ku karena aku ingin focus menyelesaikan skripsiku dulu.

"Dinar....."

Suara Mama memanggilku dari luar ruangan kamarku.

"Kamu sudah pulang Di"

"Udah Ma, barusan tadi Dinar lihat Mama lagi sibuk keknya dikamar telpon, Dinar ganti baju dulu"

"Iya, udah makan dulu sana"

Aku melihat kesedihan Dimata Mamaku, yang sedang menahan beban.

"Mama baik-baik saja kan?"

Aku putuskan menanyakan keadaan Mama, karena aku tak mau dianggap anak tak perduli.

"Mama, tidak tahu sayang, udah kamu makan dulu sana"

Aku pergi ke meja makan disana sudah tersedia hidangan makan siang. Si Dut belum pulang karena hari ini jadwal dia renang untuk mengurangi berat badannya yang ditunggui oleh Pak Sukri.

"Kamu makan yang banyak sayang biar sedikit berisi"

"Ahhh Mama ntar ngak laku dong jadi model"

"Besok kamu libur,Di?"

"iya Ma"

"Papamu sibuk sekali sejak jadi kepala bagian, tak punya waktu untuk kita sebulan ini banyak keluar kota"

"Ya mungkin karena tuntutan pekerjaan Papa,Ma"

"Tapi kenapa perasaan Mama berbeda Di"

"Maksud Mama"

"Mama mengenal Papa kamu sudah Tujuh belas tahun, tapi tidak seperti saat ini"

"Waktu dan kesibukan memang membuat seseorang kadang berubah Ma, tinggal kita bisa menerima dan memahami semua itu lagi"

"Mama berdoa saja agar semua baik-baik saja"

"Kesehatan Mama makin hari makin turun akhir-akhir ini Di"

"Makanya Mama jangan banyak pikir, kita lalui semua dengan bahagia"

"Iya sayang"

Aku mencoba menghibur Mama agar tidak kepikiran lagi tentang Papa, yang katanya dinas luar kota sekarang.

**

Malamnya Mamaku tidur cepat sekali pukul sembilan pintu kamar Mama sudah dikunci, aku dan si Dut yang masih nonton TV masih belum ngantuk.

"Jangannnn"

"Kak dengar Mama teriak di kamarnya Kak!"

"Iya Dut"

Aku dan Dut berlari menuju kamar Mama yang sedang teriak-teriak.

"Ma....Mama kenapa"

"Dut ambil kunci kamar Mama disana"

Dut berlari kearah meja Tv disana ada laci berisi kunci cadangan kamar dan kunci lemari.

Dinar membuka pintu kamar Mamanya dan melihat Mamanya masih tertidur tapi dalam kondisi Mimpi.

"Jangan.."

"Mama...Mama kenapa"

Dinar menggoyangkan tubuh Mamanya ya sedang berteriak.

"Mama....Mama"

Buk Bunga membuka matanya dan melihat kedua anak-anaknya berada dalam kamarnya.

"Ada apa Di"

"Mama mimpi, teriak-teriak"

"Oh.... Astaghfirullah, benarkah Nak?"

"Iya Ma" Dut mengatakan bagaimana suara Mamanya.

Buk bunga bangun dari tidurnya dia memeluk anak-anaknya, perasaannya merasa tidak enak akhir-akhir ini entah apa yang terjadi. Akhirnya Buk Bunga dan Anak-anaknya tidur bersama dikamarnya.

Saat pagi terdengar deringan telpon dikamarnya, Buk Bunga selesai sholat subuh dengan kedua anaknya, Dut pindah ke kamarnya untuk melanjutkan tidurnya.

"Assalamualaikum Ma"

"Waalaikum Pa"

"Udah bangun Mama"

"Udah kami habis sholat subuh bareng"

"Sama, Papa habis sholat subuh pula"

"Syukurlah, nanti kalau urusan Papa sudah selesai Papa akan balik cepat"

"Iya Pa, ngak apa-apa"

"Udah dulu ya Ma Papa mau beres-beres dulu nanti ada kunjungan"

"Iya Pa"

"Assalamualaikum Ma"

"Waalaikum salam Pa"

Buk Bunga menutup telponnya dan kemudian bersiap ke dapur untuk memasak sarapan, nampak Bik Ani sudah didapur memotong sayuran. Sekitar pukul Tujuh sarapan sudah disiapkan, Dinar yang sudah mandi bermaksud ingin makan.

"Meta hari ini belum ngantar Poci nya Dinar"

"Beberapa hari Mama lihat dia ngak kesini mampir"

"Dia lagi dapat orderan Ma photo dari studi teman SMA nya yang mau Meta jadi modelnya"

"Pantasan dia tidak mengantar pesanan Mama hari ini, kemarin lusa terakhir"

"Iya gimana lagi Ma dia tulang punggung walau ada pensiun Neneknya ada tapi masih kurang cukup"

Sebenarnya ada rahasia dibalik semua yang tidak diketahui oleh mereka tentang Meta.

"Ya sudah kita makan lagi Di, adikmu Iqbal masih tidur, biar aja ntar bangun dia makan sendiri aja"

Ibu dan anak itu menikmati sarapan pagi berdua dengan nikmatnya. Namun Buk Bunga merasa pusing sekali.

"Ma.....Mama, ada darah keluar dari hidung Mama"

Dinar sangat kaget ketika melihat darah segar keluar dari hidung Mamanya"

Dinar menghentikan makannya dan berlari mengambil tissue,

"Mama kita kerumah sakit Yuk"

Dinar sangat gemetar melihat kondisi Mamanya, yang tak pernah seperti itu.

"Ma....kita harus kontrol kesehatan Mama di rumah sakit biar kita tahu Ma"

"Iya nanti habis libur Mama akan cek up"

Dinar membawa Mamanya istirahat dikamar, dia ingin menelpon Papanya tapi takut menganggu kesibukan Papanya, dan Mama pun melarang untuk memberitahukan itu.

1
Delsi Irma
Hai singgah dinovel perdanaku ya....saling support Sabahat Novel toon semua
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!