NovelToon NovelToon
KODE MERAH: CINTA

KODE MERAH: CINTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Thriller / Sci-Fi / Romantis
Popularitas:946
Nilai: 5
Nama Author: ririma

Berciuman tidak diperbolehkan di dunia ini, apalagi berhubungan seks. Bayi dibuat oleh mesin dan cinta melanggar hukum. Tetapi sepasang kekasih saling jatuh cinta dan sang wanita hamil. Akankah mereka berhasil melarikan diri sebelum terlambat?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ririma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17. Barang Terlarang

Nezha menempelkan kartu akses kamarnya pada panel digital di pintu kamar nomor 1204. Begitu kunci terbuka, ia mendorong pintu tersebut dengan tubuh yang terasa lelah setelah seharian berpatroli ditambah membantu Bylla pindahan. Namun, begitu pintu terbuka, seulas aroma kopi yang sangat ia kenal langsung menyambut indra penciumannya.

Nezha melangkah masuk dan seketika terpaku di ambang pintu. Di dekat meja dapur kecil, Carson sedang berdiri membelakanginya, masih mengenakan celana kain formalnya namun sudah mengganti seragam laboratorium dengan kaus hitam santai. Pria itu sedang menuangkan air panas ke dalam cangkir.

"Carson?" panggil Nezha, memastikan bahwa penglihatannya tidak salah lihat

Carson menoleh, dan senyum jenaka yang selalu berhasil menghapus lelah Nezha langsung terpatri di wajahnya. "Hei. Baru pulang?"

Nezha tidak menjawab dengan kata-kata. Ia langsung meletakkan tas kerjanya di atas rak sepatu dengan asal, lalu setengah berlari menghampiri Carson. Tanpa basa-basi, Nezha mengalungkan kedua tangannya di leher Carson, memeluk pria itu dengan sangat erat, dan mendaratkan satu ciuman hangat di pipinya.

Carson tertawa pelan, membalas pelukan Nezha dengan satu tangan sementara tangan lainnya meletakkan teko air agar tidak tumpah. Ia mengecup puncak kepala Nezha dengan sayang. "Wah, ada apa ini? Tumben manja sekali?"

Nezha melepaskan pelukannya namun tetap memegang kedua pundak Carson, menatap wajah kekasihnya dengan kening berkerut heran. "Kamu sendiri, kenapa sudah ada di sini, Carson? Ini baru jam enam sore, loh. Biasanya kan kamu pulang larut malam. Malah seringnya kamu tidur di kantor."

Carson menuntun Nezha untuk duduk di kursi meja makan, lalu menyodorkan kopi yang baru ia buat. "Minum dulu, kamu kelihatan kecapekan." Setelah Nezha meminumnya sedikit, Carson ikut duduk di hadapannya. "Mulai hari ini sampai beberapa hari ke depan, jadwalku agak berubah. Aku dipindah tugaskan ke divisi lain. Jadi, untuk sementara waktu aku bisa pulang lebih awal."

Carson sengaja memilih kata "divisi lain" dan tidak menyebutkan kata Sektor Militer atau Proyek Bioteknologi Militer. Ia tidak ingin Nezha cemas, apalagi sampai tahu bahwa alasan utamanya begitu bersemangat menerima tugas berbahaya itu adalah demi mencari tahu keberadaan buah-buahan organik untuknya.

Nezha mengangguk-angguk, mengusap permukaan cangkir hangatnya. "Syukurlah kalau begitu. Setidaknya bayimu tidak perlu menunggumu sampai larut malam hanya untuk mendengar suaramu."

Carson terkekeh, tangannya terulur mengusap perut Nezha dengan lembut. "Oh ya, seingatku jadwal kerjamu selesai jam empat sore. Tapi kenapa kamu baru sampai rumah jam segini? Kamu mampir ke suatu tempat?"

"Ah, tidak," Nezha menggeleng. "Tadi di kafetaria kantor, Shanaz mengenalkan anggota baru di timnya. Namanya Bylla. Anaknya ceria sekali. Dan kebetulan, dia baru saja pindah ke apartemen ini, tepat di bawah kita, lantai sebelas kamar 1104."

"Oh ya?" Carson menaikkan sebelah alisnya tertarik.

"Iya. Karena lift apartemen mati dan dia kebingungan membawa barang-barangnya yang lumayan banyak, aku menawarkan diri untuk membantunya sekalian ikut bebersih kamarnya. Makanya aku baru naik sekarang," jelas Nezha.

Saat menceritakan hal itu, bayangan tentang kardus misterius berlapis lakban hitam tebal dan reaksi panik Bylla mendadak melintas kembali di benak Nezha. Mulutnya terbuka sedikit, hendak menceritakan kejadian tersebut kepada Carson.

Namun, Nezha langsung mengurungkan niatnya. Ia menutup mulutnya kembali lalu berpura-pura meminum kopinya. Nezha berpikir, Carson saat ini sudah cukup pusing dengan urusan pekerjaanya. Mengapa ia harus menambah beban pikiran Carson dengan kecurigaan tidak berdasar tentang hal tersebut? Lagipula, Bylla hanyalah tetangga yang baru ia kenal. Selama barang di dalam kardus itu tidak merugikan atau mengancam mereka, Nezha memilih untuk tidak acuh.

"Kenapa?" tanya Carson jeli melihat perubahan ekspresi Nezha.

Nezha tersenyum manis, menggelengkan kepala. "Tidak apa-apa. Hanya... rasanya senang aja bisa bertemu denganmu tanpa harus menunggu sampai tengah malam."

Carson balas tersenyum. Tangannya bergerak menggenggam kedua telapak tangan Nezha. "Aku juga senang bisa bertemu denganmu dan calon anak kita sedikit lebih cepat."

...***...

Sementara itu, satu lantai di bawah mereka.

Di dalam kamar 1104, Bylla berdiri diam di balik pintu apartemennya. Telinganya ia tempelkan erat-erat pada permukaan pintu, mendengarkan dengan saksama suasana koridor di luar. Setelah memastikan tidak ada lagi langkah kaki yang terdengar, dan memastikan Nezha benar-benar telah naik kembali ke lantai dua belas, Bylla mengembuskan napas panjang.

Wajah cerianya yang polos seketika berganti dengan ekspresi waspada yang matang. Ia berjalan cepat menuju sudut kamar, tempat kardus panjang berlapis lakban dan segel hitam itu berada.

Dengan hati-hati, Bylla menyeret kardus tebal itu ke sudut yang berlawanan, tepat di depan lemari. Ia merogoh saku celananya, mengeluarkan sebuah pisau lipat kecil, lalu dengan cekatan memotong lapisan lakban hitam satu per satu.

Bylla membuka lipatan kardus tersebut. Di dalam sana, dilapisi oleh kain-kain flanel tebal untuk meredam benturan, terdapat beberapa barang yang ditata teratur. Mata Bylla mendadak berkaca-kaca melihat isi kardus tersebut. Ketegangan di wajahnya mencair, digantikan oleh rasa rindu yang luar biasa dalam.

Ia berlutut, lalu perlahan mengambil salah satu barang tersebut dengan kedua tangannya seolah-olah benda itu adalah permata yang paling rapuh di dunia. Bylla membawa barang tersebut ke dadanya, memeluknya dengan erat sambil memejamkan mata, membiarkan aroma alami yang berasal dari barang tersebut meresap ke dalam inderanya. Ia kemudian mengangkat barang tersebut ke dekat wajahnya, lalu mencium permukaannya dengan lembut, seolah sedang menyapa seseorang yang sangat ia rindukan.

"Aku berhasil membawanya masuk..." bisik Bylla dengan suara bergetar pelan, hampir menyerupai tangisan yang ia tahan.

Setelah beberapa saat menenangkan emosinya, Bylla buru-buru menyeka sudut matanya yang basah. Ia tahu dia tidak punya banyak waktu sebelum seseorang mencurigai keberadaan benda ini

Dengan gerakan cepat namun sangat hati-hati, Bylla mengeluarkan seluruh isi kardus tersebut dan menatanya di dalam laci paling bawah dari lemari pakaiannya. Setelah semuanya tersusun rapi di balik tumpukan kain, ia menutup laci tersebut dengan rapat.

Klik.

Bylla memutar kunci yang tertancap pada lubang kunci laci. Setelah memastikannya benar-benar terkunci rapat, ia mencabut kunci tersebut, lalu menatap sekeliling ruangan apartemennya untuk mencari tempat persembunyian. Setelah berpikir sejenak, Bylla berjalan ke arah ranjang lipatnya, menyelipkan kunci kecil itu ke dalam sebuah celah tersembunyi di balik lapisan kain kasur bagian bawah yang sudah ia robek sedikit sebelumnya.

Bylla menepuk-nepuk kasurnya, memastikan permukaan kainnya kembali rata dan tidak mencolok. Ia melihat ke arah kardus kosong di lantai, lalu segera memotong-motongnya menjadi bagian kecil agar bisa dibuang ke saluran pembuangan limbah domestik malam ini juga tanpa menimbulkan kecurigaan.

Gadis ceria yang disukai Jena dan Shanaz di kafetaria siang tadi seolah telah menguap sepenuhnya, menyisakan seorang Bylla yang penuh rahasia, yang kini mengunci rapat-rapat dunianya di sudut lantai sebelas.

1
Rudy satria
bylla berbahaya nggk sih,ko bikin deg,deg,degan😅😅
Rudy satria
semoga bylla bukan mata² pemerintah 😅
Rudy satria
saya pikir langsung curi buahnya satu ² ternyata bijinya saja,sabar ya dedek bayi kira² 3 bulan sampai tomatnya matang😅😅
ririma: wkwk,,
total 1 replies
Rudy satria
apakah bylla salah satu tim yang nantinya kabur bersama Carlos dan Nessa
Rudy satria
lebih nggk kebayang,kalo beneran ada negara yang memiliki peraturan sekonyol itu🤣
ririma: lah iya juga ya🤣
total 1 replies
Rudy satria
Kay nggk asing,negara Konoha seperti itu jga nggk ya semoga si nggk ya😅😅
ririma: hmm, ngga ikutan ya kak🤭
total 1 replies
Rudy satria
ceritanya bagus, meskipun masih blm paham kenapa ada peraturan anomali seperti itu😄
ririma: engga usah dipahami kak, emang anomali itu peraturannya😭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!