Setitik debu mampu melahirkan dunia. Sehelai rumput dapat memutus takdir, hukum, dan karma.
Putra-putri takdir lahir satu per satu, sekte kuno membuka gerbang tersegel, dan para suci kembali mengejar keabadian.
Di sudut dunia yang tak layak dicatat sejarah, seorang pemuda membuka mata dengan ingatan dari dunia lain. Ia tidak menyembah keajaiban, melainkan membedah hukum di baliknya.
Ketika para jenius menunggu anugerah Langit, ia membongkar rahasia bumi. Ketika dunia menyebut keajaiban sebagai takdir, ia menyebutnya hukum yang belum dipahami.
Dengan pengetahuan fana dan bahan langit-bumi, ia menciptakan sesuatu yang mustahil di jalan kultivasi: jari emas buatan manusia.
Sejak ciptaan itu menyatu dengannya, takdir kehilangan jejak. Masa lalunya lenyap. Masa depannya tak terbaca. Bahkan Langit tak mampu melihat jalan yang akan ia tempuh.
Hingga ia mengangkat pandangannya ke Langit dan bertanya: apakah kultivasi anugerah Langit—atau rancangan keberadaan yang lebih tinggi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naevys Presspire, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 2.1: Tingkatan Spirit Root
Su Dingxuan melewati salah satu hutan kecil di pulau terbang itu.
Sepanjang jalan, pandangannya sesekali terangkat pada pepohonan tinggi yang menjulang rapat, lalu turun pada rerumputan lembap yang bergetar pelan setiap kali ada binatang kecil melintas. Beberapa makhluk unik bergerak di antara akar dan semak, masing-masing memancarkan ciri khasnya sendiri. Di tempat yang lebih redup, cahaya kunang-kunang berkelip pelan, menghiasi hutan seperti percikan cahaya yang tertinggal di udara.
Tidak ada binatang buas agresif di sini. Yang hidup di hutan kecil ini hanya binatang buas netral. Selama tidak diprovokasi, mereka tidak akan menyerang. Semua itu sengaja ditempatkan di setiap pulau terbang untuk menjaga kelestarian alamnya.
Jika seseorang ingin menghadapi Yao Beast yang sebenarnya, maka daratan di bawah pulau adalah habitat mereka.
Su Dingxuan terus berjalan. Beberapa binatang kecil mengikutinya dari belakang, tampak penasaran, tetapi tidak berani terlalu dekat. Ia hanya melirik mereka sebentar sebelum kembali menatap ke depan.
Tidak lama kemudian, sebuah permukiman mulai terlihat di balik pepohonan.
Bisa dikatakan itu adalah sebuah kota. Inilah satu-satunya permukiman kota di pulau ini, tempat para keturunan Clan Su tinggal. Ada manusia yang belum mencapai usia dewasa, ada pula beberapa kultivator yang bertugas menjaga dan mengelola pulau.
Suara keramaian terdengar dari berbagai arah. Orang-orang berlalu-lalang, anak-anak berlarian, dan percakapan bercampur dengan tawa di sepanjang jalan. Suasananya tampak harmonis. Bagaimanapun, mereka semua berasal dari satu garis keturunan. Meski perselisihan internal tetap ada, hal itu tidak sampai berubah menjadi permusuhan abadi.
Setelah berjalan beberapa kilometer lagi, Su Dingxuan akhirnya tiba di sebuah paviliun dengan halaman yang cukup luas.
Dilihat dari ukuran dan tata letaknya, pemilik tempat ini jelas memiliki status menengah di Clan Su. Namun, tempat itu tidak ramai. Tidak banyak pelayan, tidak banyak orang keluar-masuk. Di paviliun ini hanya tinggal satu keluarga kecil dengan tiga anggota.
“Aku pulang!”
Su Dingxuan berteriak begitu melewati gerbang, lalu bergegas menuju bangunan utama.
Namun, sebelum ia sempat masuk, sebuah suara terdengar dari arah lain.
“Ke halaman belakang.”
Langkah Su Dingxuan langsung berbelok.
Halaman belakang paviliun itu menghadap sebuah danau kecil. Di atas permukaan danau terdapat bangunan sederhana, tempat yang biasa digunakan untuk makan atau sekadar duduk menikmati angin. Seorang wanita muda yang tampak berusia dua puluhan sedang merapikan makanan di atas meja, sementara seorang pria dengan usia yang tidak jauh berbeda berdiri di tepi danau sambil memberi makan ikan.
Su Dingxuan segera menarik kursi dan duduk. Matanya menatap hidangan di atas meja yang jauh lebih mewah dari biasanya. Setelah mengamati sebentar, ia menoleh pada wanita itu.
“Apakah ada perayaan hari ini? Kenapa makanannya begitu mewah?”
“Sebentar lagi kamu memasuki usia remaja. Bukankah itu patut dirayakan?” jawab Lin Qinqing tanpa menoleh. Tangannya masih sibuk mengatur makanan dan peralatan makan.
Su Baiyun mendekat, lalu menggeser kursi dan duduk di sisi lain. Wajahnya tampak ramah seperti biasa.
“Sebulan lagi ujian Spirit Root (Akar Spiritual). Apa kamu gugup?”
Su Dingxuan menerima makanan yang diambilkan ibunya, lalu berkata pelan, “Sedikit gugup.”
“Jangan terlalu cemas,” kata Su Baiyun. “Peluangmu memiliki Spirit Root lebih tinggi daripada keturunan lain.”
Su Dingxuan mengangguk.
Dengan begitu, ketiganya mulai menikmati makanan mereka dalam suasana hangat. Su Dingxuan tahu, ayahnya, Su Baiyun, adalah tetua Tingkat 2 di pulau ini. Status itu hanya dapat dicapai oleh seseorang yang sudah berada di Realm Foundation Establishment.
Sedangkan ibunya, Lin Qinqing, bekerja sebagai Alchemist tingkat rendah di Toko Ramuan Pulau. Ia berada di Qi Refining Realm Akhir Tingkat 9. Karena masalah rusaknya fondasi, Lin Qinqing tidak lagi memiliki harapan untuk mencapai Foundation Establishment.
Setelah beberapa saat makan dalam diam, Su Dingxuan tiba-tiba bertanya, “Ayah, kenapa keluarga Su memiliki enam pulau dan satu Pulau Utama? Kenapa tidak digabung saja?”
Pertanyaan itu sudah lama ada di kepalanya. Pengetahuan semacam ini tidak tersedia di perpustakaan umum. Jika ingin mengetahuinya, ia hanya bisa bertanya kepada orang tuanya, atau menunggu sampai ia benar-benar memulai jalur kultivasi dan mendapat akses yang lebih luas.
Namun, rasa penasarannya terlalu kuat untuk ditahan lebih lama.
“Enam pulau melambangkan cabang Clan Su,” jawab Su Baiyun setelah meletakkan sumpitnya. “Itu berkaitan dengan enam Leluhur. Setiap keturunan dari enam Leluhur tinggal di pulau masing-masing. Jadi, aku dan kamu adalah keturunan Leluhur Keempat.”
Su Dingxuan baru saja ingin bertanya lagi, tetapi Su Baiyun sudah lebih dulu membuka suara.
“Aku tahu anak seumuranmu penuh rasa ingin tahu. Tapi simpan sisanya untuk nanti. Mengetahui terlalu banyak saat ini tidak baik untuk pertumbuhanmu.”
Su Dingxuan menutup mulutnya kembali.
Su Baiyun tahu anaknya lebih dewasa dan lebih tenang dibandingkan anak-anak lain di usia yang sama. Karena itu, ia memperlakukannya sedikit berbeda. Ia jarang memakai kebohongan kecil untuk mengelabui anak-anak, dan lebih sering berbicara langsung ke intinya.
Bukan berarti Su Baiyun dan Lin Qinqing tidak menyayanginya. Sebaliknya, mereka sangat menyayangi Su Dingxuan. Bagaimanapun, ia adalah satu-satunya anak mereka.
Lin Qinqing yang sedang membereskan peralatan makan melirik ke arah ayah dan anak itu. Keduanya duduk sejajar di depan kolam, sama-sama termenung dengan cara yang anehnya mirip. Jika bukan karena yang satu masih anak-anak dan yang satu lagi pria dewasa, mungkin mereka akan tampak seperti dua teman sejawat yang sedang berbincang santai.
Lin Qinqing menggeleng pelan, lalu tidak memikirkannya lagi.
Setelah makan, Su Dingxuan terus mengobrol dengan ayahnya. Topiknya hanya hal-hal biasa. Su Baiyun secara tidak langsung selalu menghindari pembicaraan yang terlalu dalam mengenai kultivasi. Namun pada akhirnya, pembicaraan itu tetap tidak bisa sepenuhnya dihindari.
Tiba-tiba Su Dingxuan bertanya, “Apa Ibu merusak fondasinya karena aku, Ayah?”
Su Baiyun menoleh padanya.
Detik berikutnya, sebuah jentikan mendarat di kening Su Dingxuan.
“Aduh!”
Su Dingxuan segera mengusap keningnya sambil meringis, sementara Su Baiyun terkekeh kecil.
“Kalau memang karena kamu, lalu kenapa?” tanya Su Baiyun. “Apa kamu ingin menyalahkan dirimu sendiri?”
“Bukan…” Su Dingxuan sedikit menunduk. “Tidak sepenuhnya begitu, hanya saja…”
Sebelum ia sempat menyelesaikan kalimatnya, jentikan lain kembali mengenai keningnya.
“Aduh! Ayah, aku bisa jadi bodoh kalau kamu terus menjentik keningku!”
Su Baiyun menatapnya dengan tenang. Senyum di wajahnya perlahan memudar.
“Daripada merasa bersalah, lebih baik kamu berbakti pada ibumu. Hiduplah dengan baik, karena kehidupanmu diberikan melalui pengorbanan masa depannya.”
Su Dingxuan terdiam.
Rasa sakit di keningnya seolah menghilang begitu saja setelah mendengar kata-kata itu. Ia menatap ayahnya beberapa saat, lalu perlahan menunduk.
“Baik,” gumamnya.
Sebenarnya Su Dingxuan sudah menebak sebagian kebenaran tentang kelahirannya. Dari beberapa sumber yang ia temukan, potongan-potongan kecil itu perlahan membentuk gambaran yang sulit ia abaikan.
Ketika Lin Qinqing mengandungnya, ia sudah berada di Realm Qi Refining Puncak Tingkat 10. Dengan landasan fondasi yang baik, ia sebenarnya memiliki kemungkinan untuk menembus Foundation Establishment. Namun, dalam situasi yang tidak terduga, janin di dalam rahimnya tiba-tiba kehilangan vitalitas dengan cepat.
Jika tidak diatasi, janin itu akan meninggal sebelum lahir.
Karena itu, Lin Qinqing mengorbankan fondasi kultivasinya untuk menyuplai vitalitas pada janin tersebut. Dengan cara itulah Su Dingxuan akhirnya terlahir, meski dalam keadaan prematur.
Melihat anaknya termenung, Su Baiyun mengulurkan tangan dan mengusap kepalanya. Pada akhirnya, ia tetap membahas sedikit tentang kultivasi. Bagaimanapun, ia juga mengkhawatirkan anaknya.
“Apa kamu sudah tahu tingkatan Spirit Root (Akar Spiritual)?”
Su Dingxuan tersadar dari pikirannya, lalu mengangguk.
“Low Grade (Rendah), Middle Grade (Menengah), High Grade (Tinggi), Earth Grade (Bumi), dan Heaven Grade (Surgawi).”
Su Baiyun mengangguk puas. “Bagus. Untuk sekarang, cukup ketahui itu saja. Jika nanti kamu benar-benar memiliki Spirit Root, baru pelajari pengetahuan lainnya. Jika tidak, semua itu hanya akan menjadi beban bagimu.”
Su Dingxuan mengangguk lagi.
Ia mengerti maksud ayahnya. Jika ia mengetahui terlalu jauh, sementara dirinya tidak bisa mencapainya, maka penyesalan yang ia rasakan kelak hanya akan menjadi lebih berat.
End Chapter 2.1
Chapter 7 sampai 11 itu merupakan harga tiket mc untuk masuk kedunia yang lebih besar.
Jdi reset penelitian ini hanya terjadi di chapter awal 7 sampai 11, setelah itu dunia kultivasi akan terbuka.
Dia bukan orang yang di beri jalan oleh langit, jdi dia membuka jalanya sendiri, satu satunya yang bisa dia andalkan hanya lah ingatanya sebagai seorang saintis. Karena memang tidak ada yang bisa dia andalkan selain itu.
Mohon bersabar hingga chapter 11 lewat, karena kemampuan mc tidak jatuh dari langit, atau tibatiba mendapatkan warisan.
Cuman saran aj🙏👍
Itu semua karena gaya penulisan Author, Jdi dari 2013 author selalu baca novel terjemahan, bahkan sampai jalur mechine transate yang bikin kepala pusing (Biasanya di kenal sebagai penyimbangan kultivasi)😅
Apa yang sering dibaca mempengaruhi gaya tulisan. Jadi mohon maaf jika ada yang tidak tebiasa, 🙏
dan terimakasih sudah support novel ini.
Salam dari Naevys Presspire
Ku lihat kingkatan kultivasinya menggunakan standar Xianxia yah, kyk ISSTH, Renegade Immortal RMJI dan kwn².
Bagi yang belum tau, dari bab sejauh ini bab 11 yah, tingkatan Kultivasinya Qi Refining => Foundations Establishment => Core Formatin (Biasanya novel terjemahan menggunakan nama Inti Emas/Golden Core) => Nascent Soul.
Untuk di atasnya, belum terungkap, wkwkw