Melampaui Takdir Langit (The Dao Beyond Heaven’S Sight)
Di sebuah ruangan bawah tanah yang tenang dan sunyi, cahaya lampu roh menyebar lembut, cukup terang untuk memperlihatkan setiap sudut tanpa membuat ruangan itu terasa hidup.
Sekilas, tempat itu tidak tampak seperti ruangan milik seorang kultivator. Namun, menyebutnya sebagai laboratorium dari dunia modern pun tidak sepenuhnya tepat.
Ruangan ini lebih menyerupai titik temu dari dua dunia.
Dunia modern yang berdiri di atas logika, perhitungan, eksperimen, dan ilmu pengetahuan.
Dan dunia kultivasi yang dibangun dari Qi Spiritual, Rune, Artefak, dan Dao.
Di tengah ruangan, Su Dingxuan berdiri diam di depan sebuah meja. Usianya tampak sekitar dua puluh dua tahun. Wajahnya tenang, tetapi rasa lelah di matanya tidak bisa disembunyikan. Di balik kelelahan itu, ada sesuatu yang lebih kuat—harapan yang telah ia jaga terlalu lama untuk disebut sekadar keinginan.
Di atas meja, sebuah benda kecil diletakkan rapi di atas kain putih.
Ukurannya hanya sebesar kuku jari.
Namun, untuk menciptakannya, Su Dingxuan telah menghabiskan sembilan tahun penuh.
Benda kecil itu tersusun dari banyak komponen yang ia rancang, bentuk, uji, gagalkan, bongkar, lalu rakit kembali dengan tangannya sendiri. Setelah proses yang panjang dan melelahkan, akhirnya benda itu menjadi sesuatu yang ia sebut sebagai chip Artificial Intelligence (AI).
Jika teman-teman ilmuwannya dari dunia modern melihatnya, mereka mungkin tidak akan menganggap benda ini sebagai chip biasa. Bagaimanapun, material penyusunnya bahkan mustahil ditemukan di dunia modern.
Setiap bagiannya lahir dari teori dunia modern, lalu dipaksa menyesuaikan diri dengan hukum dunia kultivasi. Ia mengambil konsep chip buatan manusia, membongkarnya, lalu membangunnya kembali hingga benda itu dapat berinteraksi dengan Qi Spiritual.
Terdengar mustahil.
Bahkan lebih mirip khayalan daripada kenyataan.
Menyatukan dua hukum dari dua dunia yang berbeda bukan hanya sulit. Pada dasarnya, itu hampir seperti memaksa dua bahasa yang tidak memiliki akar sama sekali untuk saling memahami.
Namun, Su Dingxuan tetap berhasil menyelesaikannya.
Ia menatap benda kecil itu cukup lama. Setelah itu, napas ringan keluar dari bibirnya.
“Sudah sejauh ini,” gumamnya pelan, “tidak ada alasan untuk mundur.”
Ia mengangkat tangan dan menyentuh bagian belakang lehernya.
Di sanalah letak Niwan Palace, titik penting yang terhubung langsung dengan pusat kesadaran manusia.
Jika ia melakukan kesalahan, nyawanya bisa hilang seketika. Atau, jika ia cukup beruntung untuk tetap hidup, kerusakan saraf yang tidak dapat diperbaiki mungkin akan menjadi hasil paling ringan.
Tentu saja, Su Dingxuan sudah mempertimbangkan semua kemungkinan itu.
Ia bukan orang yang bertindak hanya karena dorongan sesaat. Sebagai seorang ilmuwan dari kehidupan sebelumnya, ia memahami pentingnya pengujian, perhitungan risiko, dan persiapan. Semua alat di ruangan ini dibuat untuk satu tujuan: memastikan proses implantasi chip berjalan seaman mungkin.
Namun, tidak ada hal yang benar-benar aman di dunia ini.
Terlebih lagi, ia hanyalah manusia fana.
Su Dingxuan meraih pisau bedah kecil. Ia menenangkan napasnya, memastikan tangannya tidak gemetar, lalu mulai melakukan pembedahan pada titik yang telah ia tentukan.
Rasa sakit segera menjalar.
Keringat dingin muncul di dahinya. Napasnya sempat goyah, tetapi tangan yang memegang alat tetap bergerak pelan, stabil, dan hati-hati.
Waktu berlalu tanpa suara.
Darah dibersihkan berkali-kali. Luka dibuka sedikit demi sedikit hingga mencapai ukuran yang dibutuhkan. Setelah memastikan tidak ada kesalahan pada titik pembedahan, Su Dingxuan menggunakan penjepit magnet untuk mengangkat chip kecil itu.
Gerakannya sangat lambat.
Lalu, perlahan, ia memasukkan chip tersebut ke tempat yang telah ia siapkan.
Begitu chip memasuki tubuhnya, rasa nyeri yang berbeda langsung menyebar ke seluruh kepalanya.
Su Dingxuan menggertakkan gigi.
Komponen penting pada chip mulai bereaksi.
Jika proses ini berhasil, chip tersebut akan menjadi jembatan antara otak biologisnya dan sistem buatan yang ia ciptakan.
Jika gagal, semua usahanya selama sembilan tahun akan berakhir di ruangan bawah tanah ini.
Namun, ketika pikiran itu melintas, Su Dingxuan justru tersenyum tipis.
“Bahkan jika gagal,” bisiknya, “setidaknya aku sudah mencoba.”
Bagi sebagian orang, kata-kata itu mungkin terdengar seperti keputusasaan.
Namun, bagi Su Dingxuan, itu adalah keyakinan yang ia bawa dari kehidupan sebelumnya.
Pada awalnya di dunia modern, manusia tidak mampu terbang melintasi jarak jauh dalam waktu singkat. Manusia juga belum mampu menjejakkan kaki di bulan, apalagi melihat dunia mikroskopis yang tersembunyi dari mata telanjang.
Namun, manusia tetap bertanya.
Mencoba.
Gagal.
Lalu mencoba lagi.
Karena itu, Su Dingxuan tidak pernah percaya bahwa sesuatu benar-benar mustahil hanya karena belum pernah dilakukan.
Ia hanya percaya bahwa jawabannya belum ditemukan.
Setelah proses pembedahan selesai, Su Dingxuan menutup luka dan membersihkan sisa darah. Tubuhnya terasa sangat lemah. Bahkan hanya untuk tetap berdiri, pandangannya sempat berputar tipis.
Namun, matanya tetap tenang.
Ia menatap lurus ke depan, lalu berkedip tiga kali sebagai kode aktivasi sebelum bergumam.
“Mulai aktivasi.”
Beberapa saat berlalu tanpa perubahan apa pun.
Ruangan masih sunyi seperti sebelumnya.
Tepat ketika ia mulai menghitung kemungkinan kegagalan, sebuah layar hologram transparan tiba-tiba muncul di depan pandangannya.
[SYSTEM]: Menginisialisasi Project NEURON v1.0...
[SYSTEM]: Power Source [Detected].
[SYSTEM]: Stabilitas Voltase: 0.9998 micro-aura [Stable].
[SYSTEM]: Seluruh komponen hardware terverifikasi.
Tubuh Su Dingxuan bergetar.
Ia berhasil.
Benar-benar berhasil.
Untuk beberapa saat, ia hanya berdiri di sana tanpa mampu berkata apa-apa. Lalu, tawa pelan keluar dari mulutnya. Suara itu terdengar rendah di ruangan bawah tanah yang sunyi, tetapi cukup untuk mengungkapkan kegembiraan yang selama ini ia tahan.
“Sembilan tahun…”
Ia mengangkat tangan dan menutup wajahnya.
“Setelah sembilan tahun, akhirnya aku sampai di sini.”
Semuanya, termasuk benda yang ada di hadapannya sekarang, berawal dari satu kalimat yang diucapkan seorang tetua pengujian.
“Tidak ada akar spiritual. Selanjutnya.”
…
Sembilan tahun sebelumnya.
Hembusan angin yang kuat, tetapi membawa kelembutan, menggerakkan rerumputan di sekitar. Udara terasa begitu nyaman. Hanya dengan menarik napas, seseorang bisa tanpa sadar memejamkan mata untuk menikmatinya.
Seorang pemuda duduk bersila sambil memandang pemandangan di hadapannya. Pakaiannya berkibar ringan setiap kali angin kembali lewat.
Jika sudut pandang ditarik lebih jauh, hamparan itu ternyata berada di sebuah bukit yang luasnya mencapai ribuan kilometer. Yang lebih luar biasa, pulau tempat bukit itu berada mengambang di udara, seolah-olah gravitasi tidak berlaku baginya.
Dan pulau itu bukan satu-satunya.
Ada sekitar enam pulau lain yang juga mengambang dengan jarak ratusan kilometer satu sama lain.
Dibandingkan pemandangan di sekitarnya, pemuda itu terlihat sekecil debu. Usianya tampak sekitar tiga belas atau empat belas tahun. Kulitnya putih dan bersih, sementara rambut panjangnya disanggul dengan aksesori yang diukir halus.
Ia menggigit sehelai rumput ilalang, termenung cukup lama sebelum akhirnya bergumam.
“Sudah tiga belas tahun, tapi aku masih kagum dengan pemandangan ini. Bahkan gambar-gambar fantasi yang bertebaran di internet tidak ada apa-apanya dibandingkan melihatnya langsung.”
Ia berhenti sebentar. Matanya menyapu hamparan luas di kejauhan.
“Rasanya seperti imajinasi manusia memang tidak cukup untuk membayangkan tempat seperti ini…”
Angin kembali lewat, membuat ujung pakaiannya bergerak perlahan.
“Dunia modern punya ciri khas gedung-gedung pencakar langit. Tapi dunia ini jauh lebih indah dengan kekayaan alamnya.”
Grooowww.
Suara binatang buas terdengar dari atas.
Namun, pemuda itu tidak menunjukkan rasa takut sama sekali. Ia hanya menoleh dan melihat seekor binatang buas besar terbang melintas di langit menuju kejauhan. Kepakan sayapnya membuat embusan angin di sekitar menjadi lebih kuat.
Di atas binatang buas itu, seseorang berdiri.
Pemuda itu tidak dapat memastikan apakah orang itu pria atau wanita. Karena kecepatan terbang binatang itu hampir menyamai kecepatan suara. Namun, dari sekilas pandang, ia tahu ada seseorang yang menungganginya.
Dan itu hanya yang paling dekat.
Dari tempatnya duduk, pemuda itu juga dapat melihat berbagai macam orang bergerak di udara. Ada yang menggunakan Artefak, ada yang berdiri di atas Pedang Terbang, dan ada pula yang menunggangi binatang terbang.
Sudut mulutnya terangkat tipis. Matanya terlihat bersemangat saat mengamati semua itu.
“Manusia di dunia modern menggunakan teknologi untuk mencapai kemampuan di luar batas manusia,” gumamnya. “Tapi dunia ini… tidak membutuhkan itu sama sekali. Karena di sini, manusia dapat berkembang dan melampaui batas manusia itu sendiri.”
Ia menatap langit yang luas.
“Kultivasi, langkah yang ditempuh untuk mencari keabadian.”
Setelah mengatakan itu, ia menggeleng pelan.
“Bahkan hukum-hukum yang dulu aku pelajari di kehidupan sebelumnya, sebagian tidak berlaku lagi di dunia ini.”
Ini adalah kehidupan keduanya.
Di kehidupan sebelumnya, ia telah mencapai prestasi luar biasa di bidang sains. Ia juga telah sampai pada batas kehidupan manusia. Tidak ada penyesalan yang tertinggal. Sebaliknya, ia justru merasa lega, karena pencapaian berikutnya bisa diserahkan kepada generasi setelahnya.
Namun, hal yang tidak pernah ia sangka adalah dirinya terlahir kembali ke dunia ini dengan membawa ingatan kehidupan sebelumnya.
Ingatan itu bahkan terbangun tepat setelah ia keluar dari kandungan ibunya.
Ia menatap pemandangan indah di depannya dengan mata tenang yang tidak sesuai dengan usianya.
Tempat ini adalah tempat favoritnya untuk menikmati dunia dan menghabiskan waktu. Selain merenung di sini, ia lebih sering menghabiskan hari-harinya di perpustakaan.
Tiba-tiba, dari kantong pakaiannya, selembar kertas melayang ke hadapan Su Dingxuan.
Setelah bersinar lembut, kertas itu mengeluarkan suara seorang wanita.
“Apa kamu menghabiskan waktu untuk merenung lagi? Apa yang direnungkan anak seusiamu? Seolah-olah kamu sudah mengalami banyak kesulitan saja…”
Suara wanita itu terdengar mengomel, tetapi tidak benar-benar keras.
“Cepat pulang. Ayahmu sudah kembali. Sebentar lagi kamu akan mengikuti ujian Spirit Root (Akar Spiritual), jadi ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan.”
Setelah suara itu berakhir, cahaya pada kertas tersebut segera meredup.
Su Dingxuan sedikit tersenyum sambil berdiri perlahan. Ia membersihkan pakaiannya dari rumput dan debu kecil, lalu bergumam pelan.
“Ujian Akar Spiritual, ya…”
Matanya bergerak ke arah pulau-pulau yang melayang jauh di langit.
“Memikirkannya saja sudah membuatku bersemangat dan gugup. Sebagus apa nanti akar spiritualku?”
Setelah itu, ia berbalik pergi, meninggalkan pemandangan indah tersebut di belakangnya.
End Chapter 1.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 33 Episodes
Comments
Little Miao
Thor padahal lebih enak kalau nyebutnya Akar Spiritual aj.
Cuman saran aj🙏👍
2026-05-24
1
Nameless Monarch
goks
2026-05-24
1
Wawan
Hadir mengenal Sudingxian 😄
2026-05-14
1