Selena selalu tahu bahwa dia berbeda. Sejak kecil, ia bisa merasakan sesuatu yang mengalir dalam darahnya, sesuatu yang lebih dari sekadar kekuatan seorang werewolf biasa. Namun, hidupnya berubah drastis ketika sebuah serangan brutal menghancurkan kawanan tempatnya dibesarkan.
Ditemani oleh Joan, seorang Alpha misterius yang menyimpan rahasia kelam, serta Riven, seorang pejuang yang setia tetapi penuh teka-teki, Selena harus menghadapi kenyataan pahit bahwa ada seorang pengkhianat di antara mereka. Seseorang yang menginginkannya untuk tujuan yang jauh lebih berbahaya.
Saat rahasia asal-usulnya mulai terkuak, Selena mendapati dirinya terjebak di antara dua pilihan, menerima kegelapan yang mengintainya atau bertarung demi cahaya yang hampir padam. Dengan dunia yang berada di ambang kehancuran dan hatinya yang terombang-ambing di antara kepercayaan dan pengkhianatan, Selena harus memilih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miarosa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Joan menutup matanya sejenak, lalu membuka kelopak matanya dengan ekspresi lelah.
"Aku tahu kamu memiliki banyak pertanyaan, Selena, tapi sebelum itu, kamu harus tahu bahwa semakin banyak kamu terlibat, semakin besar bahaya yang akan menghampirimu."
Selena menegang. Kata-kata itu bukan peringatan kosong, ia bisa merasakannya dalam nada suara Joan. Namun, rasa ingin tahunya lebih besar daripada ketakutannya.
"Sudah terlambat. Aku sudah melihat semuanya. Jadi jelaskan padaku apa yang sebenarnya terjadi," kata Selena tegas.
Joan menatapnya lama, lalu menghela napas.
"Baiklah. Aku akan memberitahumu apa yang bisa kuberitahukan."
Joan meremas pelipisnya, lalu mulai berbicara.
"Aku adalah bagian dari pack Lunar Crest. Kami sudah ada sejak berabad-abad lalu, menjaga keseimbangan antara dunia manusia dan dunia supernatural. Kami tidak memburu manusia, tidak seperti beberapa kelompok lain di luar sana yang percaya bahwa manusia hanyalah makhluk lemah yang pantas diperintah."
Selena mendengarkan dengan seksama merasa seakan-akan sedang mendengar dongeng lama yang tiba-tiba menjadi nyata.
"Aku dilahirkan sebagai pewaris garis keturunan alpha, tapi posisiku tidak diterima oleh semua orang. Ada yang menganggap aku tidak cukup kuat untuk memimpin dan ada yang menginginkan posisi itu untuk diri mereka sendiri," lanjut Joan.
Selena bisa menebak ke mana arah cerita ini. "Jadi mereka mencoba membunuhmu?"
Joan tersenyum miring. "Tepat sekali. Aku dijebak dan diserang oleh sekelompok pembunuh bayaran yang disewa oleh salah satu anggota kawanan sendiri. Mereka ingin aku mati agar seseorang yang lebih 'layak' bisa menggantikanku."
Selena merasakan bulu kuduknya meremang. Ini bukan hanya tentang perseteruan antar werewolf, ini adalah perebutan kekuasaan yang bisa berujung pada pembunuhan.
"Kamu berhasil melarikan diri?" tanyanya.
"Aku beruntung, tapi mereka tidak akan berhenti sampai aku benar-benar mati. Itulah sebabnya aku harus tetap tersembunyi dan itulah sebabnya kau sekarang berada dalam bahaya," jawab Joan.
Selena mengernyit. "Kenapa aku?"
"Karena kamu menolongku dan mereka tidak akan membiarkan ada saksi yang tahu keberadaanku."
Jantung Selena berdetak lebih cepat. "Jadi mereka mungkin akan mencariku juga?"
Joan mengangguk dan ekspresinya serius. "Aku tidak ingin menakutimu, Selena, tapi kamu harus bersiap jika sesuatu terjadi."
Selena menggeleng dan mencoba memahami situasinya. Baru tadi malam hidupnya masih normal dan sekarang ia tiba-tiba menjadi bagian dari konflik antara kelompok makhluk supernatural yang bahkan tidak pernah ia percaya sebelumnya. Namun di balik rasa takutnya, ada sesuatu yang aneh. Sebuah perasaan yang tidak bisa ia jelaskan. Seolah-olah entah bagaimana, ia memang ditakdirkan untuk bertemu Joan.
Selena menghembuskan napas dan mencoba mengendalikan pikirannya yang kacau. Ia menatap Joan yang masih terlihat lemah, meskipun tubuhnya perlahan mulai pulih.
"Aku bisa tinggal di sini malam ini?" tanya Joan tiba-tiba.
Selena terkejut, tetapi kemudian menyadari bahwa pria itu tidak punya tempat lain untuk pergi.
"Baiklah, tapi aku tidak punya kamar tamu. Kamu harus tidur di sofa."
Joan tersenyum kecil. "Sofa ini jauh lebih baik daripada tidur di tanah dengan luka yang masih berdarah."
Selena tertawa kecil, meskipun masih ada ketegangan dalam dirinya. Saat ia berdiri untuk membereskan peralatan medisnya, ia bisa merasakan tatapan Joan mengikutinya bukan tatapan mengancam, tetapi lebih seperti seseorang yang sedang menilai sesuatu dengan seksama.
Saat ia menoleh, Joan masih menatapnya.
"Ada apa?" tanyanya sedikit gugup.
Joan menggeleng pelan. "Aku hanya merasa aneh."
"Merasa aneh?"
Joan menatapnya dalam-dalam seolah sedang mencari sesuatu dalam dirinya.
"Aku tidak tahu kenapa, tapi aku merasa seperti sudah mengenalmu lebih lama daripada seharusnya."
Selena terdiam. Kata-kata itu anehnya menggema di dalam dirinya. Ia juga merasakan hal yang sama. Seolah-olah ada sesuatu yang menghubungkan merekasesuatu yang lebih besar daripada sekadar kebetulan, tetapi sebelum ia sempat bertanya lebih jauh, ketukan keras di pintu depan membuat mereka berdua terlonjak.
Joan langsung tegang. Matanya berubah tajam dan tubuhnya segera siaga.
"Siapa itu?" bisik Selena.
Joan menggeleng. "Aku tidak tahu."
Namun saat ketukan itu berubah menjadi dentuman keras, Selena tahu satu hal pasti, bahaya telah menemukan mereka lebih cepat dari yang mereka kira. Selena menelan ludahnnya dan jantungnya berdetak liar. Siapa pun yang ada di luar sana, mereka jelas tidak hanya sekadar mengetuk pintu. Dentuman keras kembali terdengar dan kali ini lebih kasar.
Joan berdiri perlahan dari sofa, meskipun tubuhnya masih lemah. Tatapannya berubah dingin dan tajam.
"Pergi ke belakang," bisiknya pelan, nyaris tanpa suara.
Selena menggeleng. "Aku tidak akan meninggalkanmu."
"Aku tidak bisa bertarung dalam keadaan seperti ini, jika itu mereka, kita harus bersiap," ujar Joan dengan rahang mengeras.
Sebelum Selena bisa bereaksi, gagang pintu bergetar. Seseorang sedang mencoba membukanya dari luar.
Pintu terhempas terbuka dengan keras dan menghantam dinding. Di ambang pintu, berdiri sosok pria bertubuh tinggi dengan mata merah menyala dan seringai penuh kebencian. Tubuhnya dipenuhi luka, tetapi aura ancamannya begitu kuat hingga membuat udara di ruangan terasa lebih dingin.
Joan menegang. "Sial!"
Selena mundur selangkah dan jantungnya serasa ingin meledak. Pria itu melangkah masuk dengan perlahan dan suaranya dalam dan serak.
"Akhirnya kutemukan kamu, Alpha yang melarikan diri."
Ruangan yang tadinya sunyi sekarang dipenuhi oleh ketegangan. Selena berdiri kaku di dekat sofa dan matanya terpaku pada pria bertubuh kekar yang baru saja menerobos masuk. Matanya merah menyala dalam gelap dan pancaran auranya begitu mengancam hingga udara di sekitar terasa lebih berat.
Joan berdiri di depannya dan tubuhnya masih lemah, tetapi sorot matanya penuh kewaspadaan. Pria itu melangkah maju dan gerakannya lambat namun penuh ketegangan.
“Aku pikir kamu sudah mati, Alpha, tapi ternyata kamu hanya bersembunyi seperti pengecut," katanya dengan nada mengejek.
Joan menyipitkan mata. “Apa yang kamu lakukan di sini, Marcus?”
Marcus. Nama itu bergema di kepala Selena. Jadi ini salah satu dari mereka yang mengejar Joan? Pikir Selena.
Marcus menyeringai dan menampakkan gigi-giginya yang tajam.
“Aku hanya mengikuti aroma darahmu. Kamu tahu, seluruh kawanan mengira kamu sudah mati dan akan sangat mengecewakan jika aku tidak memastikan sendiri.”
Selena menelan ludahnya. Cara Marcus berbicara seolah-olah membunuh Joan adalah suatu kehormatan baginya.
Joan mengangkat dagunya, meskipun ia jelas sedang menahan sakit.
“Kalau begitu, kenapa kamu tidak langsung menyerang?”
Marcus tertawa kecil, tetapi tawanya tidak membawa kehangatan hanya kebrutalan. “Aku ingin menikmati ini, Alpha.”
Lalu tanpa peringatan, ia bergerak. Marcus melompat ke depan, tetapi Joan sudah bersiap, meskipun terluka, ia masih cukup cepat untuk menghindari serangan pertama. Namun, Marcus tidak berhenti di situ. Ia menyerang lagi dan kali ini dengan cakar yang muncul dari ujung jarinya.
Selena hanya bisa terpaku dan jantungnya berdebar kencang saat menyaksikan Joan menangkis serangan itu dengan lengan bawahnya. Luka lama di tubuhnya kembali berdarah, tetapi ia tidak menunjukkan tanda-tanda menyerah.