NovelToon NovelToon
ARTHUR

ARTHUR

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: By Magus

Arthur hanyalah bocah tujuh tahun yang ingin hidup tenang di Sektor Tujuh. Namun, dunia tidak mengizinkannya. Di balik tubuh mungil itu, bersemayam jiwa The Sovereign, entitas purba yang mampu menghapus konsep keberadaan hanya dengan satu sentilan.
Arthur tidak butuh ketenaran. Ia hanya ingin memastikan tidak ada yang mengganggu waktu santainya, meski itu berarti dia harus menghancurkan dewa dari bayangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Beban Berat di Balik Seragam Sekolah

Sektor Tujuh tidak pernah benar-benar pulih hanya dalam satu malam. Meskipun puing-puing raksasa dari monster kelabang kemarin telah dibersihkan oleh robot-robot sanitasi GDC, aroma hangus dan debu halus masih menggantung di udara pagi. Langit yang biasanya dihiasi oleh ribuan jalur mobil terbang, kini tampak sedikit lebih sepi. Masyarakat masih dibayangi ketakutan akan munculnya celah dimensi berikutnya.

Di sebuah sudut kota yang lebih tenang, Arthur berjalan menyusuri trotoar logam dengan langkah kaki yang teratur. Ia mengenakan seragam sekolahnya kemeja putih bersih dan celana pendek biru tua yang sedikit kebesaran. Tas ransel bergambar dinosaurus di punggungnya bergoyang seiring langkahnya. Jika orang melihatnya, mereka hanya akan melihat anak SD biasa yang mungkin sedang memikirkan menu makan siang di kantin.

Namun, di dalam kepala Arthur, terjadi simulasi yang jauh lebih rumit. Ia sedang menghitung fluktuasi energi di atmosfer. Ia bisa merasakan bahwa dimensi ini masih luka akibat sentilannya kemarin. Ruang dan waktu di Sektor Tujuh sedikit melengkung, dan ia harus memastikan tidak ada kebocoran energi kosmik yang bisa memicu bencana baru.

"Arthur! Tunggu!"

Sebuah suara nyaring menghentikan lamunannya. Arthur menoleh perlahan dan melihat Mia berlari ke arahnya. Mia adalah teman sekelasnya yang paling cerewet, tipe anak yang selalu punya energi berlebih bahkan di pagi buta. Gadis kecil itu terengah-engah dengan wajah memerah, sambil memegang tali tasnya erat-erat.

"Kau jalan cepat sekali," protes Mia setelah berhasil mensejajari langkah Arthur. "Apa kau melihat berita pagi ini? Paman Valerius masuk TV lagi! Katanya dia akan mendapatkan medali keberanian tertinggi dari Presiden Global."

Arthur hanya memberikan respons berupa gumaman pendek. "Bagus untuknya."

"Hanya bagus untuknya?" Mia membelalakkan mata. "Dia itu pahlawan paling keren di dunia! Aku ingin tahu seperti apa rasanya punya kekuatan sebesar itu. Bisa terbang, punya pedang cahaya, dan mengalahkan monster sebesar gedung. Pasti hidupnya sangat menyenangkan, ya?"

Arthur menatap langit sesaat. Menyenangkan? pikirnya. Valerius saat ini pasti sedang gemetar di balik jubah emasnya, ketakutan karena harus menanggung reputasi yang bukan miliknya. Menjadi pahlawan bukanlah tentang kesenangan, itu tentang menjadi sasaran utama dari setiap entitas jahat di alam semesta.

Sekolah Dasar Sektor Tujuh adalah bangunan futuristik dengan dinding kaca anti peluru dan sistem keamanan biometrik di setiap pintunya. Begitu masuk ke dalam kelas, suasana riuh langsung menyambut. Anak-anak lain berkumpul di sekitar meja, berdiskusi dengan penuh semangat tentang pertempuran kemarin sore.

Arthur duduk di kursinya yang berada di barisan paling belakang, dekat jendela. Ia lebih suka posisi ini karena ia bisa menatap awan sambil memikirkan bagaimana cara agar ia tidak perlu mengikuti pelajaran olahraga nanti siang.

Namun, kedamaian itu terusik ketika Bu Hera masuk ke kelas. Beliau adalah guru matematika yang terkenal sangat disiplin. Langkah kakinya yang menggunakan sepatu hak tinggi berbunyi tuk...tuk...tuk... di atas lantai polimer, menciptakan suasana tegang yang seketika membungkam kelas.

"Selamat pagi, semuanya. Sebelum kita memulai pelajaran, saya ingin mengingatkan bahwa ujian tengah semester tinggal dua minggu lagi," ujar Bu Hera sambil menyalakan layar proyektor holografik di depan kelas.

Layar itu menampilkan serangkaian angka dan rumus aritmatika dasar. Bagi Arthur, melihat rumus-rumus ini adalah sebuah siksaan mental. Bukan karena sulit, tapi karena ia harus memaksa otaknya yang terbiasa menghitung mekanika kuantum untuk berpura-pura bingung pada pembagian angka puluhan.

"Arthur, silakan maju ke depan dan kerjakan soal nomor tiga," suara Bu Hera memecah lamunan Arthur.

Seluruh mata di kelas tertuju padanya. Arthur berdiri dengan malas, berjalan menuju depan kelas sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Di papan tulis digital, tertera soal: 125 ÷ 5 × 2.

Arthur menatap soal itu selama sepuluh detik. Ia sebenarnya sudah tahu jawabannya dalam milidetik pertama. Namun, ia harus berakting. Ia memegang pena digital dengan tangan yang sedikit ragu, mengetuk ngetuk dagunya, dan berpura pura menghitung dengan jari jarinya.

"Um... jawabannya... lima puluh?" gumam Arthur dengan nada tidak yakin.

"Tepat sekali, Arthur. Meskipun kau lambat, setidaknya kau teliti. Silakan duduk kembali," ujar Bu Hera.

Arthur menghela napas lega saat kembali ke bangkunya. Penampilan yang sempurna, batinnya. Menjadi rata-rata adalah kunci utama untuk tetap tidak terlihat di dunia yang penuh dengan pencari bakat pahlawan.

Sementara Arthur berjuang dengan matematika, di tempat lain, di sebuah ruangan gelap yang dikenal sebagai The Black Chamber, Valerius sedang menghadapi ujian yang jauh lebih berbahaya.

Ruangan itu berada di kedalaman tiga ratus meter di bawah markas GDC. Hanya ada satu meja bundar panjang dan tujuh kursi yang diisi oleh siluet pria dan wanita yang wajahnya tidak terlihat jelas. Mereka adalah Dewan Direksi Global, orang-orang yang mengendalikan dana, teknologi, dan hukum bagi pahlawan di seluruh planet.

"Valerius," suara seorang wanita dari ujung meja memecah keheningan. "Kami telah menganalisis sisa-sisa molekul dari Kelabang Bencana kemarin. Ada sesuatu yang sangat mengganggu."

Valerius tetap diam, meskipun jantungnya berdegup kencang hingga terasa ke tenggorokan.

"Molekul itu tidak hancur oleh energi panas atau cahaya dari pedangmu," lanjut suara itu. "Molekul itu hancur karena tekanan gravitasi yang begitu padat di satu titik kecil. Seolah olah ada seseorang yang meninju realitas itu sendiri hingga hancur."

Valerius mengepalkan tangannya di bawah meja. Ia teringat kembali pada Arthur. Sosok mungil yang berdiri di antara puing-puing, menghisap susu kotak dengan ekspresi paling membosankan yang pernah ia lihat.

"Aku... aku menggunakan teknik baru," Valerius akhirnya bicara. Suaranya terdengar serak, namun ia mencoba menjaga wibawanya. "Teknik Gravitational Burst. Aku belum menguasainya sepenuhnya, itulah sebabnya aku terluka parah."

Salah satu anggota dewan mencondongkan tubuh ke depan. Cahaya remang-remang memperlihatkan senyum tipis di wajahnya yang keriput.

"Teknik yang hebat, Valerius. Sangat hebat sampai-sampai satelit kami menangkap tanda energi yang muncul beberapa detik sebelum kau mengayunkan pedangmu. Dan energi itu berasal dari bawah, dari permukaan jalan."

Keringat dingin membasahi pelipis Valerius. Ia merasa seperti tikus yang terpojok di dalam lubang. Jika dewan tahu bahwa pahlawan nomor satu mereka hanyalah seorang penipu yang mencuri kemenangan anak kecil, bukan hanya reputasinya yang hancur, tapi seluruh sistem kepercayaan masyarakat akan runtuh.

"Kami akan terus menyelidiki anomali tersebut," ujar dewan itu lagi. "Untuk sementara, nikmatilah medali emasmu besok. Tapi ingat, jika ada 'tuhan' lain yang berjalan di kota ini, kami ingin dia berada di bawah kendali GDC, bukan berkeliaran bebas."

Pertemuan berakhir. Valerius berjalan keluar dari ruangan itu dengan kaki yang terasa lemas. Ia melonggarkan kerah bajunya yang terasa mencekik. Ia harus menemukan anak itu. Ia harus memastikan siapa anak itu sebenarnya sebelum orang-orang GDC menemukannya.

Jam istirahat sekolah tiba. Arthur sedang duduk di bawah pohon sintetis di halaman sekolah, berusaha menikmati sereal batangan yang ia bawa dari rumah. Namun, kedamaiannya kembali terganggu.

"Hei, Arthur! Lihat apa yang kubawa!"

Seorang anak bertubuh besar bernama Leo datang menghampirinya. Leo adalah anak seorang pahlawan peringkat C, dan ia selalu merasa dirinya lebih superior dari anak-anak lain. Di tangannya, ia memegang sebuah bola energi latihan sebuah perangkat ilegal bagi anak-anak di bawah umur.

"Ayahku memberikannya padaku untuk latihan. Kau mau lihat cara kerjanya?" Leo menyeringai nakal.

Arthur hanya menatap bola itu. Ia tahu perangkat itu tidak stabil. "Simpan itu, Leo. Itu berbahaya jika meledak."

"Hah? Kau takut ya, bocah susu?" Leo justru menyalakan perangkat itu. Bola itu mulai mengeluarkan suara dengungan yang tinggi dan cahaya biru yang tidak stabil.

Tanpa diduga, bola itu terlepas dari tangan Leo karena energinya terlalu kuat. Bola itu melesat cepat ke arah kerumunan anak-anak kelas satu yang sedang bermain di dekat sana.

"A...apa yang terjadi?!" teriak Leo panik.

Arthur menyadari bahwa jika bola itu meledak, setidaknya lima anak akan terluka parah. Ia menghela napas, merasa sangat terganggu. Ia bangkit dari duduknya dengan gerakan yang sangat lambat bagi mata manusia, namun sebenarnya ia bergerak di antara celah waktu.

Dalam sekejap, Arthur sudah berada di jalur lintasan bola tersebut. Dengan gerakan jari yang seolah-olah hanya sedang menepis lalat, ia menyentuh bola energi itu.

Zap.

Arthur tidak menghancurkannya. Ia melakukan sesuatu yang jauh lebih sulit, ia menyerap seluruh energi bola itu ke dalam pori-pori kulitnya, membuatnya menjadi massa kosong yang kemudian jatuh ke tanah sebagai plastik biasa yang tidak berbahaya.

Semua itu terjadi dalam waktu kurang dari satu detik. Bagi Leo dan anak-anak lainnya, mereka hanya melihat bola itu terbang, lalu tiba-tiba mati dan jatuh begitu saja di depan kaki Arthur.

"Eh? Kok mati?" Leo menghampiri bolanya dengan bingung. "Mungkin baterainya habis. Dasar barang sampah!"

Mia, yang melihat kejadian itu dari jauh, mengernyitkan dahi. Ia merasa ada yang aneh dengan cara bola itu terjatuh, namun ia tidak bisa menjelaskannya. "Arthur, kau... kau tadi bergerak?"

"Aku hanya mau mengambil bungkus makananku yang terbang," bohong Arthur sambil kembali duduk dengan santai.

Namun, keberuntungan Arthur untuk tetap tidak terlihat tampaknya telah habis untuk hari ini.

Sebuah helikopter dengan lambang emas GDC mendarat di lapangan sekolah, menimbulkan badai angin yang menerbangkan debu ke mana-mana. Pintu helikopter terbuka, dan Valerius turun dengan jubahnya yang megah, dikelilingi oleh para pengawal bersenjata.

Kepala sekolah dan para guru berlarian keluar, membungkuk hormat seolah olah ada raja yang berkunjung. Namun, mata tajam Valerius hanya tertuju pada satu titik, bangku di bawah pohon sintetis.

Valerius berjalan melewati kerumunan siswa yang berteriak histeris memanggil namanya. Ia berhenti tepat di depan Arthur yang masih asyik mengunyah sereal batangannya.

"Kita perlu bicara," ujar Valerius. Suaranya berat dan penuh wibawa, namun Arthur bisa mendengar ada nada ketakutan di sana.

Arthur menelan sereal nya perlahan. Ia menatap Valerius, lalu menatap kerumunan orang yang kini mulai mengarahkan kamera ponsel mereka ke arah mereka berdua.

"Paman, kau merusak jam istirahatku," ujar Arthur datar.

"Ikut aku sekarang, atau aku akan membawa seluruh pasukan GDC ke sekolah ini," bisik Valerius agar tidak terdengar orang lain.

Arthur menutup matanya sejenak. Ini akan menjadi babak yang panjang, pikirnya. Ia bangkit, membersihkan remah-remah sereal dari celananya, dan berjalan mendahului Valerius menuju helikopter.

Di belakang mereka, seluruh sekolah terdiam. Mia berdiri mematung dengan mulut terbuka. Mulai hari ini, sebutan "Arthur si anak rata-rata" telah resmi berakhir.

1
Zem Pioneer
Izin nabung kak
M Agus Salim: siap💪
total 1 replies
Nur Hidayati
cerita keren tapi belum banyak yang tau
Evlogìmenes Psychès: dfZ0d zzssvFS67~
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!