NovelToon NovelToon
Ruang Ajaib: Dunia Yang Tersembunyi

Ruang Ajaib: Dunia Yang Tersembunyi

Status: sedang berlangsung
Genre:Ruang Ajaib / Dunia Lain / Penyelamat
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: septian123

Aureliana Virestha terbiasa hidup dalam bayang-bayang, diremehkan dan disalahkan oleh dunia yang tidak pernah memberinya tempat.

Namun di ambang kematian, ia menemukan sesuatu yang mengubah segalanya sebuah ruang misterius yang hanya bisa ia akses sendiri. Awalnya hanyalah tempat penyimpanan sederhana, tetapi perlahan ruang itu menunjukkan keajaiban yang melampaui logika.

Saat dunia di luar mulai kacau dan manusia saling mengkhianati, Aureliana menyadari bahwa kekuatan ini bisa menjadi kunci untuk bertahan dan bangkit. Di tengah ancaman, rahasia, dan pilihan yang berat, ia harus menentukan apakah akan terus menjadi orang yang diinjak, atau menciptakan dunianya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2 Terjadi Konflik

Pagi berikutnya datang tanpa membawa perasaan baru, seolah malam sebelumnya tidak pernah benar-benar selesai. Aureliana Virestha terbangun lebih cepat dari biasanya, bukan karena tubuhnya sudah cukup beristirahat, tetapi karena pikirannya terus berjalan tanpa jeda. Ia duduk di tepi tempat tidur dengan punggung sedikit membungkuk, menatap lantai yang sama setiap hari sambil mencoba mengumpulkan sisa tenaga yang terasa semakin tipis.

Beberapa detik berlalu tanpa perubahan, dan keheningan di dalam kamar justru terasa semakin menekan. Ia mengusap wajahnya pelan, berharap rasa berat itu bisa sedikit berkurang, tetapi yang ia rasakan tetap sama. Tidur tidak lagi benar-benar mengembalikan energinya, hanya memberi jeda singkat sebelum semuanya kembali lagi.

Ponselnya bergetar pelan di atas meja, suara kecil itu cukup untuk menarik perhatiannya. Ia menoleh, menatap layar yang menyala, lalu meraihnya tanpa terburu-buru. Nama pengirimnya sudah tidak asing lagi, bahkan tanpa perlu dibaca pun ia tahu apa isi pesannya.

“Pembayaran bulan ini sudah jatuh tempo. Mohon segera dilunasi. Jika tidak, akan ada tindakan lanjutan.”

Aureliana membaca kalimat itu perlahan, seolah berharap ada kata yang berubah jika ia mengulangnya. Namun tidak ada yang berbeda, semuanya tetap sama seperti pesan-pesan sebelumnya yang semakin sering datang dalam beberapa minggu terakhir. Ia menghela napas panjang, tetapi udara yang masuk terasa berat, seperti tidak cukup untuk meredakan tekanan di dadanya.

Utang yang dulu masih terasa bisa dikendalikan kini mulai bergerak di luar batas yang ia pahami. Setiap pesan yang masuk bukan hanya pengingat, tetapi juga tekanan yang terus bertambah tanpa memberi ruang untuk bernapas. Ia menutup layar ponselnya, lalu menunduk sejenak sebelum akhirnya berdiri.

Tidak ada waktu untuk berhenti terlalu lama, karena hari tetap berjalan tanpa peduli bagaimana keadaannya. Ia melangkah keluar kamar dengan langkah yang sedikit lebih pelan, mencoba menyesuaikan diri dengan suasana rumah yang terasa lebih sepi dari biasanya. Ibunya sudah berangkat lebih pagi untuk bekerja, meninggalkan rumah dalam keadaan sunyi yang tidak sepenuhnya menenangkan.

Di atas meja, hanya ada secarik kertas kecil dengan tulisan tangan yang sederhana. Aureliana mengambilnya, membaca kalimat singkat itu dengan diam.

“Aurel, Ibu berangkat duluan. Jaga kesehatan ya.”

Tulisan itu tidak panjang, tetapi cukup untuk membuat dadanya kembali terasa sesak. Ia menggenggam kertas itu beberapa detik, merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan, sebelum akhirnya meletakkannya kembali dengan hati-hati. Ada terlalu banyak hal yang harus ia pikirkan, dan semuanya datang bersamaan tanpa memberi kesempatan untuk diurai satu per satu.

Perjalanan ke kantor terasa berbeda, bukan karena perubahan di luar, tetapi karena pikirannya yang tidak bisa lepas dari satu pertanyaan yang terus muncul. Jalanan tetap ramai seperti biasa, kendaraan bergerak dengan ritme yang sama, dan orang-orang berjalan dengan tujuan masing-masing. Namun di tengah semua itu, Aureliana merasa seperti berjalan di jalur yang berbeda, seolah semua orang memiliki arah yang jelas sementara dirinya hanya mengikuti alur yang tidak pasti.

Bagaimana kalau semuanya benar-benar runtuh.

Pertanyaan itu muncul tanpa ia undang, dan semakin ia mencoba mengabaikannya, semakin kuat rasanya. Ia mempercepat langkah sedikit, seolah bisa menjauh dari pikirannya sendiri, meskipun ia tahu itu tidak akan benar-benar berhasil.

Ketika ia tiba di kantor, suasananya terasa berbeda dari hari sebelumnya. Bukan lebih ramai atau lebih sepi, tetapi ada sesuatu yang berubah dalam cara orang-orang memandangnya. Beberapa rekan kerja yang biasanya menyapa kini hanya melirik sekilas sebelum kembali sibuk, seolah ada jarak yang tiba-tiba muncul tanpa penjelasan.

Aureliana berjalan menuju mejanya tanpa berkata apa pun, mencoba bersikap seperti biasa meskipun ia bisa merasakan perubahan itu dengan jelas. Ia baru saja duduk ketika sebuah map diletakkan dengan cukup keras di depannya, suara benturannya cukup untuk menarik perhatian sesaat.

“Mulai hari ini, kamu pegang ini saja.”

Suara Darvian Prasetya terdengar datar, tetapi cukup tegas untuk menutup kemungkinan adanya bantahan. Aureliana membuka map tersebut perlahan, matanya membaca isi di dalamnya dengan cepat. Tugas-tugas kecil yang tidak pernah ia pegang sebelumnya kini diberikan padanya tanpa penjelasan lebih lanjut.

Ia mengangkat pandangan, mencoba mencari kesempatan untuk berbicara. “Pak, soal laporan kemarin, saya masih ingin menjelaskan—”

“Tidak perlu,” potong Darvian singkat.

Nada suaranya tidak meninggi, tetapi justru itu yang membuatnya terasa lebih sulit untuk dilawan. Tidak ada ruang untuk diskusi, tidak ada kesempatan untuk membela diri.

“Saya sudah membuat keputusan,” lanjutnya tanpa melihat langsung ke arah Aureliana.

Aureliana menelan kata-kata yang hampir keluar, merasakan sesuatu tertahan di tenggorokan. Ia tahu bahwa mencoba berbicara lebih jauh hanya akan membuat situasi semakin buruk.

“Dan satu lagi, evaluasi kinerja bulan ini akan dipercepat. Jadi, sebaiknya kamu bekerja lebih hati-hati.”

Ia pergi begitu saja setelah mengatakan itu, meninggalkan kalimat yang masih menggantung di udara. Aureliana menunduk, menatap map di tangannya dengan perasaan yang sulit dijelaskan.

Maknanya jelas, meskipun tidak diucapkan secara langsung.

Pekerjaannya berada di titik yang rapuh.

Jika evaluasi itu tidak berjalan baik, ia bisa kehilangan satu-satunya sumber penghasilan yang ia miliki. Dan jika itu terjadi, utang yang terus menumpuk tidak akan punya jalan keluar.

“Berat ya.”

Suara itu datang dari samping, membuat Aureliana sedikit terkejut. Ia menoleh dan melihat Renataz Arvello berdiri dengan ekspresi yang biasa ia tunjukkan, santai dan tidak terlalu terlibat.

“Lumayan,” jawabnya pelan.

Renataz duduk di kursi sebelahnya tanpa ragu, menyandarkan punggung dengan santai seperti tidak ada tekanan apa pun. “Soal kemarin, aku dengar banyak yang dibesar-besarkan.”

Aureliana menatapnya sejenak sebelum menjawab. “Aku yakin itu bukan kesalahanku.”

“Aku tahu,” katanya cepat. “Kamu bukan tipe yang ceroboh.”

Kalimat itu sederhana, tetapi cukup untuk membuat Aureliana merasa sedikit lebih tenang. Setidaknya ada seseorang yang masih melihatnya dengan cara yang berbeda.

Namun perasaan itu tidak bertahan lama.

“Cuma ya, situasinya lagi sensitif,” lanjut Renataz dengan nada yang lebih hati-hati. “Jadi mungkin kamu harus lebih menyesuaikan diri.”

Aureliana mengerutkan kening sedikit. “Maksudnya?”

Ia tersenyum tipis, tetapi tidak menjawab secara langsung. “Jangan terlalu menonjol. Ikuti saja alurnya.”

Aureliana terdiam, mencoba memahami maksud di balik kata-kata itu. Ada sesuatu yang terasa berbeda, seolah ia sedang diberi saran sekaligus peringatan.

“Dan satu lagi,” tambahnya sambil berdiri. “Aku lagi banyak kerjaan, jadi mungkin nggak bisa sering bantu kamu dulu.”

“Iya, nggak apa-apa.”

Jawaban itu keluar begitu saja, meskipun ada bagian dalam dirinya yang terasa kosong. Renataz tersenyum sebentar sebelum pergi, meninggalkan Aureliana dengan pikirannya sendiri.

Ia menatap punggung pria itu yang semakin menjauh, menyadari bahwa jarak itu bukan hanya secara fisik. Seseorang yang selama ini ia anggap bisa dipercaya mulai menarik diri, perlahan dan tanpa penjelasan yang benar-benar jelas.

Aureliana kembali menatap meja kerjanya, mencoba fokus pada tugas-tugas yang ada di depan. Namun pikirannya terus berputar, mengingat setiap hal yang terjadi sejak kemarin.

Di kantor ini, ia benar-benar sendirian.

Jam demi jam berlalu dengan lambat, dan pekerjaan yang ia lakukan terasa seperti sesuatu yang sengaja diberikan untuk merendahkannya. Ia menyalin data, mengarsipkan dokumen, dan memeriksa hal-hal yang tidak membutuhkan keahlian khusus.

Setiap kali ia mencoba fokus, pikirannya kembali pada utang, pada evaluasi, pada sikap orang-orang yang berubah. Semua itu bercampur menjadi satu, membuat konsentrasinya terus terpecah.

Di tengah semua itu, ada sesuatu yang mulai terasa aneh.

Awalnya samar, seperti gangguan kecil yang bisa diabaikan. Layar komputernya berkedip sedikit lebih lama dari biasanya, membuatnya berhenti sejenak. Ia mengira itu hanya masalah teknis biasa, tetapi beberapa detik kemudian hal yang sama terjadi lagi.

Ia mengerutkan kening, mencoba mengabaikannya, tetapi perasaan itu tidak hilang begitu saja. Suara di ruangan kadang terdengar lebih jauh, seolah ada jarak yang tiba-tiba muncul antara dirinya dan dunia di sekitarnya.

Percakapan orang-orang terdengar teredam, langkah kaki terasa lebih lambat dari seharusnya. Aureliana menggeleng pelan, mencoba meyakinkan dirinya bahwa itu hanya efek kelelahan.

Namun semakin ia mencoba mengabaikan, semakin jelas perasaan itu muncul.

Saat sore hari, ia pergi ke pantry untuk mengambil air, mencoba memberi jeda pada pikirannya yang semakin penuh. Di depan cermin besar, ia berhenti sejenak tanpa benar-benar berniat.

Bayangannya terlihat sama seperti biasa, tidak ada yang berubah secara kasat mata. Namun dalam satu detik yang sangat singkat, ia merasa bayangan itu sedikit terlambat mengikuti gerakannya.

Tubuhnya langsung menegang.

Ia mengangkat tangan perlahan, dan bayangan itu mengikuti dengan tepat. Tidak ada yang aneh jika dilihat secara langsung, tetapi perasaan itu tidak hilang begitu saja.

Aureliana menurunkan tangannya, mencoba mengatur napasnya kembali. Ini hanya perasaan, sesuatu yang muncul karena ia terlalu lelah.

Namun saat ia berbalik, lampu di atasnya berkedip lagi.

Satu kali.

Lalu dua kali.

Kemudian kembali normal seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

“Aurel?”

Ia menoleh cepat, sedikit terkejut karena suara itu memecah pikirannya. Seorang rekan kerja berdiri di pintu pantry, menatapnya dengan ekspresi khawatir.

“Kamu nggak apa-apa?”

“Iya, cuma sedikit pusing.”

“Kalau capek, istirahat dulu aja.”

“Iya.”

Aureliana kembali ke meja dengan langkah yang sedikit lebih cepat, mencoba mengabaikan semua yang baru saja ia rasakan. Namun semakin ia mencoba menenangkan diri, semakin kuat perasaan itu muncul.

Seperti ada sesuatu yang memperhatikan.

Bukan dari tempat yang jelas, tetapi cukup dekat untuk membuatnya tidak nyaman.

Ketika jam kerja berakhir, ia tidak langsung pulang. Ia duduk beberapa menit lebih lama, menatap layar komputer yang sudah dimatikan, seolah berharap menemukan jawaban di sana.

Ruangan perlahan menjadi kosong, satu per satu orang meninggalkan tempat itu. Suasana yang tadinya ramai kini berubah menjadi sunyi, hanya menyisakan suara kecil dari pendingin ruangan.

Aureliana akhirnya berdiri, meraih tasnya, lalu berjalan keluar tanpa menoleh ke belakang.

Di luar, langit terlihat lebih gelap dari biasanya, dan angin malam terasa lebih dingin menyentuh kulitnya. Lampu jalan menyala redup, menciptakan bayangan panjang di sepanjang trotoar yang ia lewati.

Perjalanan pulang terasa berbeda.

Bukan karena jalannya berubah, tetapi karena setiap langkah terasa seperti diikuti oleh sesuatu yang tidak terlihat.

Aureliana berhenti sejenak, menoleh ke belakang dengan perlahan.

Tidak ada siapa-siapa.

Hanya jalan kosong dengan beberapa kendaraan yang lewat sesekali.

Ia menghela napas pelan, mencoba menenangkan diri, lalu melanjutkan langkahnya. Namun perasaan itu tidak hilang, justru semakin terasa seiring ia berjalan lebih jauh.

Ketika ia melewati gang sempit yang biasa ia lewati, langkahnya kembali terhenti. Ada suara samar yang terdengar seperti bisikan, terlalu pelan untuk dipahami, tetapi cukup jelas untuk disadari.

Aureliana menahan napas, mencoba mendengarkan lebih jelas.

Namun saat ia fokus, suara itu menghilang begitu saja.

Digantikan oleh keheningan yang terasa lebih berat dari sebelumnya.

Ia menelan ludah, lalu mempercepat langkahnya tanpa berpikir panjang. Jantungnya berdetak lebih cepat, bukan karena takut yang jelas, tetapi karena firasat yang tidak bisa ia abaikan.

Sesuatu tidak beres.

Sesuatu sedang mendekat.

Dan ia tidak tahu apa itu.

Ketika akhirnya ia sampai di depan rumah, langkahnya melambat dengan sendirinya. Lampu di teras menyala redup, pintu tertutup seperti biasa, dan tidak ada hal mencurigakan yang terlihat.

Semua tampak normal.

Namun perasaan aneh itu tidak ikut hilang.

Ia berdiri di depan pintu, tangannya terangkat untuk membuka, tetapi berhenti sebelum menyentuh gagang. Ada dorongan kecil dalam dirinya yang menyuruhnya berhati-hati, meskipun ia tidak tahu alasan pastinya.

Aureliana menarik napas dalam, mencoba menguatkan diri, lalu akhirnya membuka pintu.

Dan pada saat itu, sesuatu yang selama ini hanya terasa samar mulai menunjukkan keberadaannya.

1
SENJA
hapalin cara masuk dan keluar ruang dimensi nya 🤭
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
mampir kak
Andira Rahmawati
kok bisa keluar masuk dgn bebas pdhl ststusnya msh pasien..
Andira Rahmawati
hadir thorr...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!