Kisah anak sulung Casey (Transmigrasi Belvia) yang jiwa nya mengalami perpindahan ke tubuh orang lain… bagaimana Ganethaa akan menghadapi kehidupan barunya setelah dia tahu kalau sekarang dia berada di tubuh orang lain…
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erika Ponpon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2
Keesokan paginya, suasana ruang makan kembali dipenuhi aroma roti panggang dan kopi hangat.
Langit, Bintang, dan Senjanu sudah duduk di tempat masing-masing. Elara seperti biasa tampil anggun dengan seragam kebesaran sekolah mereka—rok panjang yang mengembang dan blazer rapi yang memberi kesan lembut dan manis.
Langkah kaki terdengar dari arah tangga.
Semua kepala menoleh bersamaan.
Mereka terdiam.
Nebula turun dengan langkah tenang. Ia tidak mengenakan seragam kebesaran seperti biasanya. Seragamnya tetap sesuai aturan, tetapi lebih pas di badan—press body yang membentuk siluetnya dengan elegan tanpa terlihat berlebihan. Rambutnya yang panjang dibiarkan tergerai dengan curly lembut di bagian bawah. Riasannya tipis dan natural, justru membuat fitur wajahnya semakin tegas dan bersinar.
Ia terlihat… berbeda.
Bukan lagi gadis pucat yang tampak rapuh.
Langit sampai menurunkan cangkirnya pelan.
“Lo… mau fashion show?” celetuknya refleks.
Nebula hanya menatap sekilas. “Sekolah.”
Jawaban singkat.
Bintang mengamati lebih lama. “Seragamnya memang begitu dari dulu… cuma lo yang biasanya kelihatan kayak pakai karung.”
Ganethaa duduk tanpa menanggapi.
Senjanu menyipitkan mata. “Lo berubah.”
“Hmm,” hanya itu balasnya sambil menuang air minum.
Di sisi lain meja, senyum Elara sedikit menegang.
Matanya menelusuri penampilan Nebula dari atas sampai bawah.
Kulitnya tampak lebih hidup. Posturnya tegap. Auranya tenang namun kuat. Bahkan tanpa aksesori mencolok, Nebula terlihat jauh lebih menonjol pagi itu.
Jemari Elara mengepal di bawah meja.
Kenapa… dia jadi lebih cantik?
Dulu Nebula memang cantik, tapi selalu redup—seakan sengaja menyembunyikan diri. Sekarang justru bersinar tanpa usaha berlebihan.
Elara memaksakan senyum manisnya.
“Kak Nebula kelihatan beda hari ini… cantik sekali.”
Nebula menoleh perlahan.
“Memang.”
Jawaban datar. Bukan sombong—hanya pernyataan fakta.
Suasana meja kembali sunyi.
Untuk pertama kalinya, bukan Elara yang menjadi pusat perhatian.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Lo kayak gini pasti lagi mau caper ke Galaksi, kan, La?” julid Bintang sambil menyandarkan tubuhnya ke kursi.
Nama itu membuat beberapa orang otomatis menoleh ke arah Nebula.
Galaksi—pacarnya Elara sekarang.
Sekaligus mantan crush Nebula yang dulu direbut dengan manis dan penuh drama.
Namun reaksi yang muncul tidak seperti yang mereka bayangkan.
“Galaksi?” Nebula mengangkat alis tipis. “Siapa dia?”
Hening.
Sendok Langit hampir jatuh. “Halah, lo main amne— apa sih itu lagi, pura-pura lupa gitu?”
“Amnesia, Langit,” decak Bintang kesal membetulkan.
“Ah, itu lah pokoknya,” balas Langit sebal. “Jangan drama lagi, La. Capek gue.”
Nebula hanya menatap mereka satu per satu dengan ekspresi datar.
“Gue nanya serius. Siapa dia?”
Tidak ada nada tersinggung. Tidak ada luka lama yang terpancing. Hanya pertanyaan dingin tanpa beban.
Perubahan itu justru membuat suasana terasa aneh.
Elara yang sedari tadi memperhatikan, akhirnya angkat bicara dengan suara lembutnya.
“Udah, Bang… jangan berburuk sangka dulu sama Kak Nebula. Siapa tahu Kak Nebula memang ingin mengubah penampilannya.”
Senyumnya manis. Sempurna.
Namun di bawah meja, jemarinya kembali mengepal.
Kenapa dia tidak terpancing?
Biasanya, hanya dengan menyebut nama Galaksi saja, Nebula sudah terlihat rapuh. Sekarang… tidak ada reaksi sama sekali.
Nebula berdiri setelah menghabiskan sarapannya.
“Kalau cuma buat caper, terlalu buang waktu,” ucapnya tenang. “Gue nggak tertarik.”
Ia mengambil tasnya dan melangkah pergi tanpa menoleh lagi.
Ketiga kakaknya terdiam.
Langit berbisik pelan, “Ini orang beneran Nebula, kan?”
Bintang menatap ke arah pintu yang sudah tertutup.
“Entah kenapa… kayaknya bukan.”
“Menurut lo Janu?”tanya Langit menoleh ke arah Senjanu adiknya.
“Entahlah.”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Aish… sial. Di sini nggak ada motor. Apa gue beli motor aja? Tapi duitnya dari mana? Apa mungkin Papanya Nebula mau beliin? Secara… Nebula aja kayak nggak dianggap,” gumamnya pelan. “Sudahlah, hari ini gue naik angkot aja daripada harus pakai sopir.”
Akhirnya Ganethaa terpaksa naik angkot ke sekolah. Ia berdiri berdesakan dengan penumpang lain. Suasana panas dan sempit membuatnya makin kesal.
Apalagi ketika seorang ibu-ibu naik sambil membawa ayam dalam keranjang.
Ganethaa memejamkan mata sejenak.
“Fokus. Ini cuma sementara,” batinnya menahan emosi.
—
Sesampainya di sekolah, napasnya sedikit terengah. Namun keberuntungannya belum membaik.
Gerbang sudah tertutup.
Satpam berdiri tak jauh dari sana.
“Sial, gue terlambat,” gumamnya pelan. “Sepertinya gue harus manjat tembok. Untung pakai celana panjang.”
Nebula berjalan memutar ke belakang sekolah. Di sana ada pohon besar yang cabangnya cukup dekat dengan tembok pembatas.
Ia memanjat dengan cekatan—. Dari pohon, ia naik ke atas tembok.
“Tinggi juga tembok sekolah ini,” gumamnya lirih sambil melihat ke bawah.
Ia melompat.
Bruk!
Namun alih-alih mendarat di tanah keras, ia justru merasa sesuatu yang… empuk.
“Kamvret! Badan gue bukan kursi! Lo minggir nggak?!” protes seorang siswa laki-laki yang ternyata jadi “alas” pendaratannya.
Nebula melirik ke bawah dan langsung terkejut.
Ternyata ia duduk tepat di atas tubuh seorang siswa yang kebetulan lewat di bawah tembok.
Pantas saja tidak terasa keras seperti tanah.
Nebula buru-buru berdiri. “Sorry, gue nggak sengaja.”
Siswa itu bangkit sambil memegangi punggungnya yang terasa nyeri. Tubuhnya memang cukup berisi, membuat benturan tadi sedikit teredam—untung bagi Nebula, sial bagi dia.
“Enak ya duduk di tubuh gue? Empuk, hm?” sindirnya kesal.
Nebula menatapnya datar.
“Lumayan. Tapi next time gue pilih kasur.”
Siswa itu melongo beberapa detik.
Ia jelas tidak menyangka jawaban seperti itu keluar dari Nebula—gadis yang biasanya dikenal pendiam dan mudah tersudut.
“Apa-apaan lo…” gumamnya.
Nebula menepuk ringan debu di seragamnya. “Sekali lagi, maaf. Tapi lo juga jangan jalan persis di bawah tembok. Itu area rawan jatuh. Dan ada enaknya lemak lo banyak.”
Lalu ia melangkah santai meninggalkannya, seolah insiden barusan hanyalah hal kecil.
Sementara siswa itu masih berdiri bengong.
“Sejak kapan Nebula jadi begini…?” gumamnya pelan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Woi, Jayen! Lo abis dikroyok? Seragam lo kotor, ada noda tanahnya!” teriak seorang siswa sambil berjalan menghampiri temannya.
“Ck, udah dibilang jangan panggil gue Jayen, kamvret!” decaknya kesal. “Nama gue Elang, bukan Jayen!”
Temannya malah terkekeh. “Lagian badan lo kayak ‘jayen’, banyak lemak di mana-mana. Jadi, lo abis dikroyok?”
Elang mendengus, masih memegangi punggungnya. “Bukan. Gue abis kejatuhan Nebula.”
“Hah? Nebula?” Temannya langsung melongo. “Kok bisa?”
Elang menunjuk ke arah tembok belakang sekolah. “Itu. Dia manjat tembok, terus loncat. Nggak lihat ada gue di bawah. Tiba-tiba aja duduk di atas gue.”
“Apa? Nebula manjat tembok?” Nada suaranya makin tak percaya. “Nebula yang itu? Yang biasanya jalannya aja nunduk?”
“Ya itu!” kesal Elang. “Dan dia ngomongnya juga beda. Dingin banget. Bukannya panik, malah jawab santai.”
Temannya menyipitkan mata, penasaran. “Sejak kapan Nebula berubah begitu?”
Elang mendengus lagi. “Nggak tahu. Tapi satu hal yang pasti…”
“Apa?”
“Dia nggak kelihatan lemah lagi.”
Sementara itu, di sisi lain koridor, Nebula berjalan dengan langkah tenang. Tatapannya lurus ke depan, auranya berbeda dari biasanya.
Beberapa siswa yang melihatnya ikut berbisik pelan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
author jgn lama2 lah uploadnya soalnya nggak sabar sama kelanjutannya niii
ditunggu ya kelanjutannya author
makini seru nii
ditunggu ya kelanjutannya author
ditunggu ya kelanjutannya author
ditunggu ya kelanjutannya author
enak banget yaa pindah jiwa orang yaa, dasar pengkhianat
ditunggu ya kelanjutannya author
wah nebula keren bantai mereka yang suka cari masalah
ditunggu ya kelanjutannya author
ditunggu ya kelanjutannya author 🥰