Karena tak kunjung hamil, Sekar Arunika- wanita muda berusia 25 tahun, harus mendapati kenyataan pahit suaminya menikah lagi. karena tidak ingin di madu, Sekar memilih mundur dan merantau.
namun sepertinya Tuhan masih belum ingin membuatnya tenang. karena saat sudah bahagia, Sekar justru di pertemukan kembali dengan orang-orang yang menyakitinya.
bagaimana langkah selanjutnya yang akan di ambil Sekar? memaafkan atau memilih menyimpan dendam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhevy Yuliana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Pagi harinya..
Seperti biasa setelah salat subuh, Sekar kembali berkutat di dapur untuk membuat dan sarapan.
Setelah beberapa saat dua piring nasi goreng lengkap dengan sosis dan nugget sudah tersaji di atas meja makan.
Sekar segera menuju ke kamar untuk membangunkan suaminya.
Karena memang kebiasaan laki-laki itu akan susah dibangunkan jika tidur kembali setelah salat subuh.
"Mas, bangun! Kamu nggak kerja? " tanya Sekar Seraya menggoyangkan pelan tangan suaminya.
Perlahan Rangga mulai membuka mata dan langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Sementara Sekar segera bergerak untuk membersihkan tempat tidur dan mempersiapkan segala keperluan suaminya.
Setelah 15 menit, Rangga keluar dari kamar mandi dalam kondisi segar. Laki-laki itu segera menghampiri meja kecil yang di atasnya sudah tersusun rapi kemeja berwarna putih dan segala printilannya.
" Nanti sore mau dimasukin apa? " tanya Sekar sembari mengikatkan dasi di kerah kemeja Rangga.
" terserah kamu aja, " Jawab Rangga seadanya.
Rangga segera berlalu pergi keluar dari kamar menuju ruang makan diikuti oleh Sekar yang tampak tersenyum getir dengan tatapan Sendu.
Sekar tahu mungkin suaminya sedikit kecewa karena apa yang dia inginkan masih belum bisa diberikan.
Tapi mau bagaimana lagi, memang mereka belum diberi kepercayaan jadi yang dilakukan harus sedikit bersabar.
Setelah selesai sarapan Rangga segera berpamitan berangkat kerja sementara Sekar memilih untuk membereskan rumah sembari menunggu kedatangan tukang sayur langganannya.
Setelah beberapa saat menunggu, Sekar bergegas keluar saat mendengar suara tukang sayur.
" saya beli ayamnya 1 kilo ya mang, " kata Sekar sembari menunjuk bahan yang dia inginkan.
" udah itu aja Neng? " tanya si tukang sayur menatap sekilas ke arah Sekar.
Sekar sempat terdiam beberapa saat sebelum akhirnya, perempuan berusia dua puluh lima tahun itu menunjuk beberapa bahan makanan yang ingin dia beli.
Setelah selesai, Sekar segera membayar dan pergi untuk kembali masuk ke dalam rumah.
***
Sementara itu di lain tempat Rangga baru saja duduk di kursinya setelah sampai di kantor.
" Kenapa wajah lo Kusut banget?" Tanya salah satu temannya yang melihat wajah Rangga tampak Tidak seperti biasanya.
" biasalah sedikit ada masalah sama istri gue, " sahut Rangga tanpa semangat.
" masalah momongan lagi? " tebak Romi yang seakan paham dengan masalah Rangga.
"Yah, begitulah. " Sahut Rangga dengan raut wajah lesu.
Tak lama obrolan mereka terhenti saat pekerjaan sudah mulai menumpuk.
Setelah jam makan siang berbunyi Rangga dan Romi menuju Cafe langganan mereka.
Walaupun di perusahaan itu semua karyawan mendapatkan jatah makan, tapi Romi dan Rangga memilih untuk menuju Cafe langganan mereka.
Karena selain bosan dengan menu makanan yang disediakan di kantin perusahaan, Rangga dan Romi juga tidak menyukai minuman di kantin perusahaan itu yang menurut mereka kurang pas di lidah masing-masing.
Keduanya lebih cocok Makan di Cafe seberang kantor yang menurut mereka lebih enak untuk lidah mereka.
" gimana perasaan lo punya anak, Rom?" Tidak ada angin tidak ada hujan tiba-tiba saja Rangga bertanya seperti itu membuat Romi sedikit tersentak.
" kenapa tiba-tiba nanya gitu? " Romi Justru malah balik bertanya.
Rangga mengangkat kedua bahunya rendah, " Ya nggak papa Gue cuman pengen tau aja Gimana suasana rumah tangga kalau kita punya anak kecil. "
"Hmm, rasanya nano nano, ada rasa senang tapi juga ada rasa jengkel. " kata Romi.
" rasa jengkel? " Rangga mengulang perkataan Romi dengan alis berkerut.
"Hmm, " Romi bergumam sembari mengangguk, " punya anak tuh nggak semudah apa yang dibayangin, di satu sisi kita senang di satu sisi kita capek, pokoknya lo bakalan ngerti kalau udah ngalamin sendiri. " sambungnya dengan tatapan serius.
Drrrtt..drrrtt..
"ya, Bu? "