NovelToon NovelToon
DUKA BARU LUKA LAMA

DUKA BARU LUKA LAMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Konflik etika / Tamat
Popularitas:822
Nilai: 5
Nama Author: KEONG_BALAP

mengisahkan
Arsya Wiraguna,seorang arsitek sukses dengan masa lalu kelam ,
dan Klara asmara dengan seorang desainer periang yang membawa luka masa kecil

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KEONG_BALAP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26: Dua Bayi, Satu Rumah

Jakarta memasuki Desember dengan curah hujan yang tinggi. Tapi di rumah Menteng, suasana tetap hangat meskipun air mengguyur deras di luar. Tiga bulan telah berlalu sejak kelahiran Kirana—atau Kiki, panggilan sayangnya—dan rumah ini semakin ramai dengan kehadiran dua bayi sekaligus.

Asmara, yang kini berusia satu tahun tujuh bulan, sudah sangat aktif. Ia berlari ke sana kemari, memindahkan mainan dari satu ruangan ke ruangan lain, dan yang paling membuat semua orang waspada: ia suka memanjat. Kursi, meja, bahkan tangga—semua menarik baginya.

Kiki, di sisi lain, masih bayi merah yang lebih banyak tidur daripada bangun. Tapi ketika bangun, ia rewel minta digendong atau disusui. Nadia, yang masih dalam masa cuti melahirkan, hampir tidak punya waktu untuk dirinya sendiri.

Pagi itu, hujan deras mengguyur sejak subuh. Rara dan Melati bersiap ke sekolah dengan jas hujan dan payung. Raka mengantar mereka sebelum berangkat ke kafe.

"Ma, Rara berangkat!" teriak Rara dari pintu.

"Hati-hati, Nak!" balas Kalara dari ruang keluarga, sambil menggendong Asmara yang meronta ingin turun.

Melati melambaikan tangan pada adik-adiknya. "Daa... daa... Asmara, Kiki! Melati sekolah dulu!"

Asmara melambaikan tangan balik, meskipun tidak mengerti artinya. Kiki tidur di ayunan, tidak terganggu oleh keramaian.

Setelah anak-anak besar pergi, suasana rumah sedikit lebih tenang. Tapi hanya sedikit. Asmara mulai merengek minta keluar, melihat hujan di jendela.

"Hu... hu..." tunjuknya ke luar.

"Itu hujan, Nak. Nggak bisa main di luar. Nanti masuk angin."

Asmara cemberut. Ia menepuk-nepuk jendela, berharap hujan berhenti.

Arsya turun dari kamar dengan rambut acak-acakan. Ia begadang semalam menyelesaikan desain, tapi begitu melihat Asmara, ia langsung tersenyum.

"Asmara, main sama Om yuk?"

Asmara menoleh, langsung berlari ke arah Arsya. Om adalah teman main favoritnya. Arsya menggendongnya, mengajaknya ke ruang tengah yang sudah disulap jadi arena bermain dengan matras dan banyak mainan.

Di dapur, Lastri sibuk memasak bubur untuk Kiki dan makanan ringan untuk Asmara. Eyang Kusuma duduk di kursi dekat jendela dapur, menikmati secangkir teh hangat sambil memandangi hujan.

"Hujan deras sekali, Tante," kata Lastri.

"Iya. Tapi di dalam sini hangat." Eyang tersenyum. "Dulu, waktu kecil, Asmara—kakeknya Asmara kecil—suka main hujan-hujanan. Basah kuyup, tapi senang."

Lastri tertawa. "Sepertinya Asmara kecil mewarisi itu. Lihat, dia nggak berhenti lihat hujan."

Di ruang tengah, Asmara memang masih menatap jendela, sesekali menunjuk hujan dan berteriak, "Hu! Hu!"

Arsya mencoba mengalihkan perhatiannya dengan balok susun. Tapi Asmara lebih tertarik merobohkan daripada menyusun.

"Siapa yang jago merobohkan?" goda Arsya setiap kali balok-balok itu jatuh.

Asmara tertawa riang, lalu merobohkan lagi.

Siang harinya, Nadia terbangun dari tidur siangnya. Kiki baru saja selesai menyusu dan tertidur di dadanya. Dengan hati-hati, ia meletakkan bayi itu di ayunan, lalu meregangkan badan.

"Lega rasanya bisa tidur satu jam," gumamnya.

Ia turun ke bawah, menemukan Arsya sedang berjuang mengurus Asmara yang mulai rewel karena mengantuk.

"Mau gantian?" tawar Nadia.

"Silakan." Arsya menyerahkan Asmara. "Dia udah mau tidur, tapi nggak mau diem."

Nadia menggendong Asmara, membawanya ke kamar. Sambil berjalan pelan, ia menyanyikan lagu pengantar tidur. Asmara meronta sebentar, lalu matanya mulai berat. Dalam sepuluh menit, ia tertidur.

Nadia keluar dengan lega. "Done."

"Kamu hebat," puji Arsya. "Aku tadi setengah jam nggak berhasil."

"Karena aku ibunya."

Mereka tersenyum. Lastri menyodorkan makan siang yang sudah dihangatkan. "Makan dulu, kalian."

Di meja makan, Nadia makan dengan lahap. Ini pertama kalinya ia bisa makan dengan tenang sejak pagi.

"Gimana rasanya punya dua bayi?" tanya Kalara yang ikut nimbrung.

"Mewek... ah, maksudnya, campur aduk." Nadia tertawa. "Senang, capek, haru, stres, semua jadi satu."

"Tapi pasti bahagia?"

"Bahagia banget. Melihat mereka tumbuh, lihat Asmara sayang sama Kiki, itu nggak tergantikan."

Kalara mengangguk. "Gue ngerasain itu waktu punya Rara dan Melati. Dulu jaraknya dekat, capeknya minta ampun. Tapi sekarang lihat mereka akrab, rasanya lelah terbayar."

Nadia meraih tangan Kalara. "Makasih, Kara. Lo selalu support."

"Lo keluarga. Harus."

Sore harinya, Rara dan Melati pulang sekolah. Begitu masuk, mereka langsung mencari adik-adiknya.

"Asmara!" panggil Rara.

"Asmara tidur, Kak," jawab Nadia. "Nanti aja."

"Kiki?"

"Kiki juga tidur."

Rara dan Melati cemberut. Mereka ingin main dengan adik-adiknya. Tapi Rara, dengan kebijaksanaannya yang melebihi usia, berkata, "Ya udah, nanti aja. Kita kerjain PR dulu."

Melati menurut meskipun malas. Mereka duduk di meja makan, mengeluarkan buku dan pensil. Lastri menemani sambil menyiapkan camilan sore.

Satu jam kemudian, Asmara bangun. Begitu mendengar suara kakak-kakaknya, ia langsung berlari ke ruang keluarga dengan mata masih setengah tertutup.

"Kak! Kak!" teriaknya.

Rara dan Melati langsung meninggalkan PR. Mereka memeluk Asmara bergantian.

"Asmara, mimpi apa?" tanya Melati.

Asmara menggeleng. Ia belum bisa menjawab pertanyaan rumit.

"Ayo main!" ajak Rara.

Mereka bertiga bermain di ruang tengah. Rara dan Melati bergiliran mengayun Asmara, membuatnya tertawa terbahak-bahak. Kiki terbangun karena suara riuh, tapi tidak menangis. Ia hanya menatap ke arah suara dengan matanya yang bulat.

Nadia menggendong Kiki, mendekatkan pada kakak-kakaknya. "Kiki, lihat kakak-kakakmu."

Kiki menatap mereka, lalu tersenyum. Senyum pertama yang terlihat jelas—meskipun mungkin hanya gas, tapi semua orang menyambutnya dengan heboh.

"Dia senyum! Kiki senyum!" teriak Rara.

"Wah, lucu banget!" Melati berjingkrak.

Asmara ikut-ikutan berjingkrak meskipun tidak mengerti. Kiki terus tersenyum, seolah menikmati perhatian.

Eyang Kusuma yang keluar dari kamar ikut melihat. "Wah, cicit Eyang udah bisa senyum. Besar nanti, cantik."

Malam itu, mereka makan malam bersama. Meja makan penuh, tidak cukup untuk sepuluh orang, jadi mereka menambah meja kecil untuk anak-anak. Rara dan Melati duduk di meja kecil bersama Asmara (di kursi tingginya) dan Kiki (di ayunan di samping). Orang dewasa di meja besar.

"Ini baru namanya keluarga besar," kata Raka. "Makan aja rame."

"Iya," sahut Arsya. "Tapi seru."

Di sela makan, Asmara melakukan sesuatu yang mengejutkan. Ia mengambil sendoknya, lalu berusaha menyuapi Kiki yang ada di sampingnya.

"Kiki... makan," katanya.

Semua tertawa. Kalara cepat-cepat mencegah. "Asmara, Kiki belum bisa makan. Masih minum ASI."

Asmara mengerutkan kening. "ASI?"

"Iya, air susu ibu. Dari Tante Nad."

Asmara menatap Nadia, lalu ke Kiki, lalu ke sendoknya. Ia bingung, tapi akhirnya menyuapi dirinya sendiri.

Rara memuji, "Pinter, Asmara. Udah bisa makan sendiri."

Asmara tersenyum bangga.

Malam semakin larut. Anak-anak mulai mengantuk satu per satu. Rara dan Melati ke kamar setelah menggosok gigi dan berganti baju. Asmara sudah tidur sejak jam delapan, kelelahan bermain. Kiki menyusu untuk terakhir kalinya sebelum tidur.

Di ruang keluarga, hanya orang dewasa yang tersisa: Arsya, Nadia, Kalara, Raka, Lastri, dan Eyang Kusuma. Mereka duduk dengan teh hangat, menikmati keheningan setelah keramaian.

"Hari ini luar biasa," kata Kalara. "Rame banget."

"Iya," sahut Nadia. "Tapi aku senang. Anak-anak sehat semua."

Eyang mengangguk. "Eyang senang lihat mereka. Dulu, waktu Asmara—kakeknya—masih kecil, Eyang juga begitu. Sibuk, capek, tapi bahagia."

Lastri menambahkan, "Dulu waktu Rarasati kecil, Ibu saya juga begitu. Mengurus anak itu melelahkan, tapi anugerah."

Arsya meraih tangan Nadia. "Kita beruntung punya mereka."

"Iya."

Malam itu, obrolan mengalir hangat. Mereka bercerita tentang masa lalu, tentang perjuangan, tentang harapan. Eyang Kusuma bercerita tentang bagaimana ia membesarkan Asmara sendirian setelah suaminya meninggal. Lastri bercerita tentang bagaimana ia merantau ke Kalimantan dan memulai hidup baru. Arsya dan Kalara bercerita tentang pertemuan mereka yang tidak disengaja, yang mengubah segalanya.

"Tuhan memang punya rencana," kata Eyang. "Semua yang terjadi, ada hikmahnya."

Mereka mengangguk setuju.

Pukul sebelas malam, mereka bubar ke kamar masing-masing. Arsya dan Nadia masuk ke kamar, mendapati Asmara sudah berguling ke pinggir tempat tidur (ia tidur di kasur terpisah di kamar mereka). Nadia membetulkan posisinya, mencium keningnya.

Kiki tidur di ayunan di samping tempat tidur Nadia. Napasnya pelan, sesekali menggerakkan tangan.

Arsya memeluk Nadia dari belakang. "Capek?"

"Capek. Tapi bahagia."

"Makasih, Nad."

"Untuk apa?"

"Untuk semuanya. Untuk Kiki, untuk Asmara, untuk keluarga ini."

Nadia tersenyum dalam gelap. "Makasih juga, Ars. Kamu suami dan ayah terbaik."

Mereka berciuman, lalu terlelap.

Seminggu kemudian, kejutan datang. Pak Willem, yang sudah lama sakit-sakitan, tiba-tiba membaik. Ia bahkan bisa berjalan tanpa tongkat. Ia datang ke rumah Menteng dengan setelan rapi, membawa mainan untuk semua anak.

"Pak Willem!" sambut Rara riang. "Rara kangen!"

"Wah, Rara sudah besar. Cantik sekali."

Pak Willem juga memeluk Melati, menggendong Asmara, dan menatap Kiki dengan haru.

"Ini generasi baru," katanya. "Saya bersyukur masih bisa lihat mereka."

Arsya memeluknya. "Pak, makasih sudah datang."

"Saya harus lihat keluarga saya. Ini keluarga saya sekarang."

Pak Willem bergabung dalam makan siang. Ia duduk di samping Eyang Kusuma, dan mereka mengobrol akrab. Dua orang tua yang sama-sama menyayangi keluarga ini.

Sore harinya, sebelum pulang, Pak Willem memanggil Arsya dan Nadia ke ruang kerja.

"Saya mau kasih sesuatu."

Ia mengeluarkan sebuah amplop cokelat. "Ini untuk kalian. Untuk pendidikan anak-anak. Saya sudah tidak punya keluarga, jadi kalian keluarga saya."

Arsya terkejut. "Pak, ini terlalu..."

"Jangan tolak, Nak. Ini dari hati. Saya ingin kalian tahu, saya bangga punya kalian."

Nadia menangis. Arsya memeluk Pak Willem.

"Makasih, Pak. Makasih banyak."

Pak Willem tersenyum. "Saya yang berterima kasih. Kalian memberi saya arti keluarga."

Malam harinya, setelah Pak Willem pulang, mereka membuka amplop itu. Isinya cukup besar—cukup untuk biaya sekolah Rara, Melati, Asmara, dan Kiki sampai kuliah.

"Pak Willem..." bisik Nadia.

"Dia malaikat," kata Kalara.

"Iya. Malaikat tanpa sayap."

Desember berlalu. Tahun baru tiba dengan suka cita. Mereka merayakan di rumah Menteng, seperti biasa. Halaman belakang dihias lampu-lampu, kembang api kecil untuk anak-anak, dan tentu saja, makanan berlimpah.

Tahun ini spesial: pertama kalinya Asmara ikut merayakan dengan sadar. Ia takjub melihat lampu-lampu warna-warni, bertepuk tangan setiap kali kembang api meledak.

"Wa... wa..." serunya.

"Iya, bagus, Nak," kata Arsya.

Kiki tidur di pangkuan Nadia, tidak terganggu suara kembang api. Bayi itu sudah terbiasa dengan keramaian.

Rara dan Melati berlarian dengan bunga api, ditemani Raka yang mengawasi. Eyang Kusuma duduk di kursi malasnya, ditemani Lastri. Mama Kalara dan Ayah Arsya juga hadir, bersama Pak Willem yang datang lebih awal.

"Ini tahun baru terbaik," kata Eyang.

"Kenapa, Eyang?" tanya Kalara.

"Karena Eyang dikelilingi orang-orang yang Eyang sayang."

Pukul 00.00, kembang api dinyalakan bersama. Riang gembira memenuhi halaman belakang. Asmara berjingkrak, Rara dan Melati berteriak, Kiki terbangun tapi tersenyum melihat cahaya-cahaya di langit.

Arsya memeluk Nadia. "Selamat tahun baru, Sayang."

"Selamat tahun baru, Ars. Semoga tahun ini lebih baik."

"Sudah baik. Dan akan lebih baik."

Mereka berciuman. Asmara melihat, lalu menutup mata dengan tangannya—sambil mengintip dari sela jari.

Semua tertawa.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!