🍂🍂🍂🍂🍂
Napas gadis itu hangat menyentuh lehernya. Bulu mata Yura tampak basah, alisnya berkerut seolah tengah menahan sesuatu bahkan dalam keadaan tidak sadar.
"Tolong…" suara Yura terdengar lirih, matanya tetap terpejam. "Siapa pun… tolong aku…"
Langkah Alexa terhenti.
"Aku sudah membuat masalah besar… aku malu… seharusnya aku tidak melakukan itu…" gumam Yura terputus-putus. "Sampai Pak Bos mengira dia menyukaiku… padahal itu akibat ajimat… aku salah meletakkannya."
Tubuh Alexa menegang.
🍃🍃🍃🍃🍃
Next.... 👉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gledekzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Awal mula perselisihan
...🍂🍂🍂🍂🍂🍂...
...(Flashback)...
Tiga bulan yang lalu, suasana kantor berubah. Lebih rapi, lebih sunyi, dan terasa jauh lebih formal dibanding hari-hari biasa.
Semua perubahan itu terjadi karena bos mereka datang juga hari ini.
"Yur," bisik Rani dengan mata berbinar. "Aku dengar katanya bos baru kita sangat tampan."
Yura masih menatap layar komputernya. "Bos baru saja."
"Bukan sekedar bos baru," potong Bimo. "CEO dari pusat. Usianya saja masih tiga puluhan. Rekam jejaknya bersih."
"Lalu?" Yura akhirnya menoleh.
"Dan katanya dingin, rapi, dan wibawanya kuat sekali," lanjut Bimo.
Rani mengangguk cepat. "Aku sempat melihat fotonya di grup internal. Sungguh, auranya berbeda."
Yura mengangkat alis. "Memangnya dia lampu?"
Rani belum sempat membalas ketika pintu lift terbuka. Langkah sepatu terdengar, pelan, mantap, dan terukur.
Beberapa kepala langsung mendongak, dan refleks duduk lebih tegak.
Pria itu keluar dari lift.
Jas hitamnya rapi, bahunya tegak. Wajahnya tenang dengan garis-garis tegas. Tatapannya lurus, tidak mencari perhatian dan justru karena itu, seluruh perhatian tertarik kepadanya.
"Ya ampun…" bisik seseorang.
"Serius dia CEO?"
"Masih muda sekali ya kelihatannya."
Rani mencengkeram lengan Yura. "Yura…"
Yura menoleh sekilas.
"Oh," katanya datar. "Biasa saja."
Rani menatapnya tak percaya. "Biasa saja?"
"Ya. Manusia rapi yang terlihat jarang tersenyum," jawab Yura pelan.
Pria itu berhenti di tengah ruangan.
"Saya Alexa Ren Deveriux," ucapnya tenang. "Mulai hari ini, saya akan memimpin divisi ini."
Beberapa karyawan wanita saling pandang. Ada yang tersenyum tanpa sadar, ada pula yang menelan ludah.
"Bahkan suaranya juga…" bisik Rani lirih.
Yura menyandarkan punggung. "Memangnya kenapa?"
Alexa melanjutkan, suaranya stabil.
"Saya menghargai profesionalisme. Ketepatan waktu. Dan kinerja yang rapi." nada bicaranya tidak tinggi, tidak keras, namun seluruh ruangan mendengarkan.
Yura melirik jam tangannya. "Terlalu perfeksionis," katanya cukup jelas.
Alexa berhenti berbicara. Tatapannya langsung menyapu ruangan, lalu berhenti di satu titik. "Siapa yang barusan berbicara?"
Sunyi.
Beberapa orang refleks menegakkan punggung. Rani menunduk. Bimo berhenti membolak-balik kertas.
Yura menghela napas pelan, lalu berdiri. "Saya, Pak."
Tatapan Alexa berpindah kepadanya.
Bukan tajam. Lebih seperti seseorang yang sedang menilai kebiasaan lama yang belum dibereskan.
"Nama."
"Yura Elowen."
"Kamu terdengar paling santai."
Beberapa karyawan langsung menegang.
Yura menelan ludah. "Maaf, Pak."
"Saya tidak mempermasalahkan kepribadian," lanjut Alexa. "Saya mempermasalahkan ritme. Cara berbicara, dan cara bekerja." ia melirik seluruh ruangan. "Tempat ini terasa terlalu bising."
Tidak ada satupun yang bergerak.
Alexa kembali menatap Yura. "Kamu yang paling mudah terdengar di ruangan ini."
Yura mengangkat wajahnya. "Maaf, Pak."
"Saya tidak menegur," kata Alexa datar. "Saya mencatat." ia melirik meja-meja lain. "Ruangan kerja yang terbuka tidak membutuhkan suara yang berlebihan."
Yura mengangguk. "Baik, Pak."
"Jika kamu bisa menyesuaikan ritme," lanjut Alexa, "Saya tidak akan mengubah caramu bekerja." ia berhenti sejenak. "Jika tidak, saya yang akan mengubahnya."
Alexa melangkah mundur satu langkah.
"Itu saja." ia berbalik menuju ruangannya.
Langkah sepatunya terdengar teratur, tenang, tanpa tergesa. Begitu pintu kaca tertutup, ruangan seakan baru diizinkan bernapas kembali.
Beberapa kursi berderit. Ada yang menarik napas panjang, ada pula yang langsung duduk lemas.
Bisik-bisik pun muncul, pelan namun cepat menyebar.
"Wibawanya kuat sekali…"
"Baru masuk saja sudah seperti ruang sidang."
"Tapi jujur, dia sangat menarik."
Rani mencondongkan tubuh ke arah Yura. "Dia tipe pria yang aku suka, tapi terlalu dingin."
Bimo mengangguk sambil melirik pintu kaca. "Sudah jelas. Dingin, tegas, dan kelihatannya mahal."
Dari meja sebelah, dua staf wanita saling berbisik, "Bos kita kali ini sangat tampan, ya."
"Iya… tipe yang bikin sulit melupakan."
"Menakutkan, tapi justru itu—"
Yura mendengar semuanya. Jelas. Namun ia tidak ikut tersenyum. Tidak terbawa suasana.
Tatapannya tertahan pada sosok pria di balik kaca ruang direktur, yang kini membelakangi dunia luar.
"Dia bukan dingin," gumam Yura pelan.
Rani menoleh. "Lalu?"
"Dia hanya terbiasa menguasai ruangan," jawab Yura datar. "Dan orang seperti itu paling tidak suka jika ada sesuatu di luar kendalinya."
Bimo menyeringai kecil. "Dan kau bisa saja menjadi gangguan itu. Kau sendiri dari dulu memang tidak terlalu menyayangi kariermu."
Yura duduk kembali, menarik kursinya lebih dekat ke meja. Tangannya meraih keyboard, namun jarinya berhenti sejenak.
Matanya menatap layar kosong. "Memang," gumamnya lirih. "Aku bekerja sesuai aturan… dan suasana hati. Terutama saat kondisiku tidak stabil."
Rani menoleh cepat. "Aneh, tapi itu nyata."
"Kau benar sekali," sahut Yura ringan, meski nadanya tidak sepenuhnya bercanda.
"Kalau suatu hari aku berhenti kerja secara mendadak, penyebabnya pasti jelas."
Bimo mendecak. "Pak Alexa?"
Yura melirik pintu kaca sekali lagi. "Siapa lagi kalau bukan dia."
Ruangan kembali dipenuhi bunyi-bunyian kecil yang sempat tertahan.
"Dia langsung menandai Yura," bisik seorang staf dari divisi lain.
"Iya, padahal baru hari pertama bos kerja."
"Tapi Yura memang dari dulu begitu, kan? Terlalu santai."
"Aku kira dia bakal langsung ditegur keras."
"Beruntung sekali masih bisa duduk manis."
Rani menarik napas pelan, lalu mencondongkan tubuh ke arah layar komputernya. "Kau ini, ya. Selalu saja masuk radar."
Yura tidak langsung menjawab. Ia menekan tombol enter, membuka dokumen kerja, lalu membaca kembali baris pertama tanpa benar-benar memproses isinya.
"Radar itu cepat atau lambat pasti nyala," katanya akhirnya. "Tinggal tunggu waktu saja."
"Jangan bicara seolah-olah kau sudah pasrah," sahut Rani lirih.
"Bukan pasrah," Yura menggeleng pelan. "Realistis."
Bimo menggeser kursinya sedikit mendekat. "Kau sadar tidak, hampir semua orang di ruangan ini barusan menahan napas?"
Yura melirik sekeliling. Wajah-wajah itu kini kembali menunduk, pura-pura sibuk, tetapi tegangnya belum sepenuhnya pergi.
"Aku melihatnya," jawab Yura singkat.
"Dan kau tadi masih bisa berkata terlalu perfeksionis dengan nada setenang itu?" Bimo menghela napas. "Aku tidak tahu harus kagum atau khawatir."
"Dua-duanya boleh," sahut Yura datar.
Di balik kaca ruang direktur, sosok Alexa terlihat berdiri di dekat jendela. Punggungnya lurus, bahunya tegap. Ia membuka map tipis, lalu mulai membaca sesuatu, wajahnya tetap tak menunjukkan perubahan berarti.
Namun bagi Yura, keheningan itu justru terasa lebih bising. Ia tahu tipe orang seperti itu.
Tipe yang tidak perlu meninggikan suara untuk membuat ruangan tunduk. Tipe yang mencatat, bukan meluapkan. Dan yang paling berbahaya tipe yang tidak pernah melupakan detail kecil.
Yura menarik napas panjang, lalu mulai mengetik.
Lima menit berlalu.
Sepuluh menit.
Ritme kantor perlahan kembali seperti semula, meski nuansanya jelas berbeda. Tidak ada lagi tawa kecil yang terlalu bebas. Tidak ada kursi yang digeser sembarangan. Bahkan nada suara orang-orang saat berbicara lewat telepon terdengar lebih rendah.
"Efek kehadiran," gumam Bimo sambil menatap layar.
"Baru satu orang," balas Yura pelan. "Bayangkan kalau nanti dia benar-benar mulai mengatur semuanya."
Rani mengangguk. "Aku tidak heran kalau dalam sebulan ke depan, separuh aturan kantor berubah."
"Dan separuh orang mulai stres," tambah Bimo.
Yura tidak ikut menimpali. Tangannya berhenti lagi di atas keyboard. Ia teringat tatapan Alexa tadi.
Bukan tatapan marah. Bukan pula tatapan mengancam. Lebih seperti seseorang yang sedang mengukur jarak seberapa jauh sebuah kebiasaan bisa ditoleransi sebelum harus dipotong.
Dan entah mengapa, ia yakin, jarak itu tidak terlalu panjang.
ak g sabar rose kebuka topengy d dipermalukan alexsa....dan....rendra ahhhh....mgkn akn lbh dr menyesal mgkn..
untung dr awal alexsa sdh pernah melihat rose dg rendra
tega ya kamu Rose kamu dukung kamu kasih support Yuna dgn ide" gilamu se-olah" kamu sahabat yg terbaik yg mendukung Yuna dan tidak tahunya kamu lah musuh dalam selimut merendahkan diri Yuna dgn macam" cara dgn kedok kasihan dan tidak tega 😤😏 Rose kamu tu manusia paling munafik untuk apa berbohong demi apa Rose kalau kamu sendiri sering main kuda"an dgn Rendra 🤮😩 kamu jahat orang seperti mu tidak pantas disebut sahabat di depan so mendukung tapi di belakang menusuk hati sampai ke tulang" kejam 👊🥺