"Orang bilang cinta itu membebaskan. Tapi bagi kami, cinta adalah rantai. Dan aku tidak akan pernah melepaskannya."
Elara Vance telah kehilangan segalanya—keluarga, masa depan, dan harga diri. Dibuang oleh kerabatnya yang kaya raya, dia bertahan hidup di selokan kota, menolak untuk mati dalam diam. Hingga satu malam yang berdarah, takdir menyeretnya kembali ke hadapan Ciarán Vane.
Ciarán bukan pangeran penyelamat. Dia adalah raja bisnis yang dingin, kalkulatif, dan tak punya hati. Dia tidak menawarkan cinta; dia menawarkan kepemilikan. Dia membawa Elara masuk ke dalam sangkar emasnya, memberinya makan, dan membalut lukanya dengan sutra mahal.
Namun, Ciarán melakukan satu kesalahan perhitungan: dia mengira dia memelihara seekor domba yang lemah.
Ini bukan kisah tentang penyembuhan. Ini adalah kisah tentang dua jiwa rusak yang memutuskan bahwa neraka terasa lebih nyaman jika dinikmati berdua.
Mereka busuk. Mereka hancur. Dan mereka sempurna.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leel K, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Junk Treasure
Tes. Tes. Tes.
Suara itu adalah alarmku. Bukan kicauan burung, bukan dering ponsel pintar, melainkan suara air keruh yang jatuh dari plafon bocor, menghantam lantai kayu yang sudah lapuk. Iramanya lambat, konstan, dan menyiksa—seperti detak jantung bangunan yang sedang sekarat.
Aku membuka mata.
Hal pertama yang menyambutku bukanlah cahaya matahari pagi yang hangat, melainkan pola abstrak berwarna hijau kehitaman di langit-langit tepat di atas wajahku. Jamur. Koloni itu menyebar seperti kanker, memakan lapisan cat putih yang sudah mengelupas puluhan tahun lalu, membentuk peta keputusasaan yang kuhapal di luar kepala.
Aku tidak langsung bergerak. Ada jeda beberapa detik—momen transisi yang berbahaya antara alam mimpi dan realitas—di mana aku berharap aku tidak perlu bangun sama sekali. Aku berharap paru-paruku lupa cara menarik napas, atau jantungku memutuskan untuk mogok kerja. Kematian terasa jauh lebih mewah daripada harus menghadapi hari Senin di tempat ini.
Tapi tubuhku, sialnya, masih ingin hidup.
Aku menarik napas panjang, dan langsung menyesalinya. Udara di ruangan ini tebal dan berat. Baunya adalah campuran dari kayu basah yang membusuk, debu tua, dan aroma apek yang tidak pernah hilang meski jendela dibuka lebar-lebar. Itu adalah bau kemiskinan. Bau yang menempel di kulitmu, di rambutmu, dan tidak akan hilang meski kau menggosok tubuhmu dengan sabun batangan paling keras sekalipun.
Perlahan, aku mencoba duduk. Tulang punggungku berbunyi protes. Kasur busa tipis yang kutiduri—selembar foam murah setebal tiga senti yang kutemukan di gudang belakang—tidak melakukan apa pun untuk melindungiku dari dinginnya lantai semen di bawahnya. Dingin itu merembes masuk ke dalam tulang, membuat persendianku kaku seperti wanita tua berusia delapan puluh tahun, padahal usiaku baru dua puluh empat.
Selimut wol kasar yang membalut tubuhku terasa gatal di kulit. Serat-seratnya yang tajam menusuk-nusuk, tapi aku tidak punya pilihan lain. Hanya kain dekil inilah satu-satunya penghalang antara aku dan hipotermia di malam hari.
Aku menyingkap selimut itu dengan gerakan kasar, merasa jijik pada kehangatan semu yang ditawarkannya.
Mataku menyapu sekeliling "kamar"-ku.
Jika kau bisa menyebutnya kamar. Ini lebih mirip sel penjara pasca-bencana alam. Dinding-dindingnya retak, memperlihatkan batu bata merah di beberapa bagian seperti luka yang menganga. Jendela di sisi kiri sudah pecah kacanya sejak dua tahun lalu, kini ditambal dengan kardus mie instan yang direkatkan asal-asalan dengan lakban hitam. Angin pagi masih bisa menyelinap masuk dari celah-celahnya, membawa debu jalanan dan suara bising klakson truk yang lewat di kejauhan.
Tidak ada perabot. Tidak ada lemari pakaian, tidak ada meja rias. Pakaianku—beberapa lembar kaos yang warnanya sudah pudar dan celana jeans yang mulai tipis di bagian lutut—tertumpuk di dalam kardus bekas di sudut ruangan, dijaga ketat agar tidak dikencingi tikus.
Cit. Cit.
Berbicara tentang setan. Aku mendongak ke sudut plafon yang gelap. Suara cakar-cakar kecil yang berlarian di balik triplek terdengar jelas. Tikus-tikus itu adalah penyewa tetap di sini, mungkin lebih berhak atas bangunan ini daripada aku. Kadang aku berpikir, mereka hidup lebih baik. Setidaknya mereka tidak perlu khawatir tentang harga diri.
Aku berdiri, merasakan lantai yang lengket dan dingin di telapak kakiku yang telanjang. Kepalaku sedikit pening—efek kurang makan semalam, atau mungkin efek menghirup spora jamur sepanjang malam.
Bangunan bekas Panti Asuhan St. Jude ini bukan lagi rumah. Ini adalah bangkai. Tulang-belulangnya sudah patah, dagingnya sudah membusuk, dan aku adalah belatung yang masih bertahan hidup di dalamnya karena tidak punya tempat lain untuk pergi.
Dua belas tahun yang lalu, aku bersumpah di depan gerbang emas Keluarga Vane bahwa aku akan kembali dan merebut harga diriku. Tapi lihat aku sekarang. Dua belas tahun berlalu, dan satu-satunya hal yang kurebut adalah sepotong roti kadaluarsa dan tempat tidur di atas lantai yang basah.
Aku berjalan menuju pecahan cermin yang kusandarkan di dinding, menghindari genangan air bocor di tengah ruangan.
"Selamat pagi, Elara," bisikku pada pantulan wanita kurus kering, berantakan, dan bermata cekung di cermin itu. Suaraku serak, terdengar asing di telingaku sendiri. "Selamat datang kembali di neraka."
Perutku menjawab salam itu dengan raungan panjang yang menyakitkan. Suara lapar itu menggema di ruangan kosong, menuntut jatah yang tidak kumiliki.
Aku menyeret kakiku ke sudut ruangan yang kusebut "dapur"—sebuah istilah yang terlalu megah untuk tumpukan kardus lembap di samping tong sampah plastik. Di sanalah aku menyembunyikan harta karunku. Bukan emas, bukan perhiasan, melainkan sebuah kantong plastik hitam lusuh yang kuselipkan di antara celah dinding dan lantai agar tidak dijarah tikus.
Tanganku gemetar saat membuka ikatan plastik itu.
Aroma ragi yang mulai masam langsung menyapa hidungku. Di dalamnya, tergeletak tiga bungkus roti tawar sisa minimarket tempatku bekerja, dan dua kotak susu UHT rasa cokelat yang kemasannya sudah penyok parah.
Label harga oranye mencolok mata: DISKON 50%. Tapi di bawahnya, ada stiker putih kecil yang menunjukkan tanggal kadaluarsa. Dua hari yang lalu.
Aku teringat wajah Pak Hendra, manajer toko yang perutnya buncit dan napasnya selalu bau rokok. Kemarin sore, dia menendang keranjang berisi roti-roti ini ke arahku.
"Buang ini ke tempat sampah belakang, Elara. Jangan sampai ada pelanggan yang lihat kita jual barang busuk. Citra toko bisa rusak."
Aku mengangguk patuh saat itu. "Baik, Pak."
Tapi begitu dia berbalik masuk ke kantornya untuk menghitung uang, aku tidak membuangnya. Aku, Elara Vance, yang dulu diajari Ayah untuk tidak pernah menunduk pada siapa pun, diam-diam memungut roti-roti yang hendak dibuang itu. Aku menyembunyikannya di balik jaketku, membawanya pulang seperti pencuri rendahan.
Aku mencuri sampah.
Rasa panas menjalar di leherku saat mengingatnya. Betapa hinanya. Betapa menjijikkannya. Aku adalah wanita muda yang sehat, punya dua tangan dan dua kaki, tapi aku bertahan hidup dengan mengais sisa-sisa yang dianggap tidak layak bahkan oleh seekor anjing.
Tapi rasa panas di leherku kalah telak oleh rasa sakit melilit di lambungku.
Aku mengambil selembar roti. Teksturnya sudah berubah; pinggirannya keras seperti batu, sementara bagian tengahnya mulai terasa lembap yang salah. Tidak ada jamur yang terlihat—belum—tapi baunya sudah memberitahuku bahwa jamur itu ada di sana, menunggu waktu.
Aku menggigitnya.
Keras. Kering. Seret.
Aku harus mengunyahnya dengan paksa, membiarkan air liurku yang sedikit melunakkan adonan gandum yang sudah mati itu. Rasanya hambar dengan sedikit jejak asam di ujung lidah. Tenggorokanku menolak, otot-otot kerongkonganku mengejang seolah ingin memuntahkannya kembali.
Telan, Elara, perintahku dalam hati. Telan atau kau mati.
Aku memaksanya turun. Roti itu meluncur kasar melewati tenggorokanku, rasanya seperti menelan gumpalan kertas amplas.
Tanganku beralih ke kotak susu penyok. Aku menusuk sedotannya. Saat cairan cokelat itu menyentuh lidahku, rasanya aneh. Tidak basi sepenuhnya, tapi ada jejak fermentasi tipis yang membuat bulu kudukku merinding. Susu itu sudah mulai rusak.
Tapi aku tetap meminumnya. Satu teguk. Dua teguk. Hingga kotak itu kosong dan mengeluarkan bunyi slurp yang menyedihkan.
Aku duduk bersandar pada dinding yang dingin, memeluk lututku. Sisa roti di tanganku masih ada separuh.
Di kepalaku, aku membayangkan diriku melempar roti busuk ini ke wajah Pak Hendra. Aku membayangkan diriku duduk di restoran mewah, memesan steak daging sapi yang masih mendesis, dengan segelas anggur merah di tangan.
Tapi realitas menarikku kembali dengan kejam. Perutku yang tadi melilit kini terasa penuh, tapi penuh dengan rasa mual dan rasa bersalah.
"Enak?" tanyaku sinis pada diriku sendiri di ruangan sunyi itu.
Tidak ada yang menjawab. Hanya suara tikus di plafon yang kembali berlari, seolah menertawakan makan pagiku yang menyedihkan.