NovelToon NovelToon
My Little Actress

My Little Actress

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / CEO / Selingkuh / Cinta setelah menikah / Aliansi Pernikahan / Nikah Kontrak
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Tiara Pratiwi

Kemungkinan ada narasi adegan nyerempet 21th+
Pembaca mohon lebih bijak dalam memilih bacaan yang sesuai usia! Cerita cuma fiksi jgn terlalu baper

Setelah mengetahui perselingkuhan tunangannya dengan saudara tirinya, Beatrice justru dipertemukan dengan Alexander, seorang CEO ganteng, kaya, dingin yang sangat menyayangi dan memanjakannya. Awalnya Alex hanya penasaran terhadap Beatrice, pasalnya penyakit alerginya terhadap wanita sama sekali tidak kambuh saat bersentuhan dengan Beatrice. Sahabat sekaligus dokter pribadinya, Harris menyuruhnya terus bersentuhan dengan Beatrice sebagai upaya terapi untuk kesembuhan alergi yang diderita Alex. Namun lama-lama sikap posesif dan cemburuan Alex terhadap Beatrice semakin menjadi, membuatnya sadar bahwa dia telah jatuh hati pada Beatrice. Alex ingin pernikahan kontrak mereka menjadi pernikahan sungguhan. Akankah hati Beatrice terbuka untuk Alex?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiara Pratiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2 Pertemuan Pertama

Zane bergegas berbalik dan berjalan mendahului Rosela, ingin segera kembali ke ballroom dan menormalkan keadaan. Ia berusaha keras menjaga jarak dari Rosela.

Tapi Rosela tidak akan membiarkannya semudah itu, apalagi Beatrice sedang menonton mereka. Tepat di belakang Zane, Rosela langsung mengaduh, suaranya terdengar kesakitan. “Aduh! Kakiku, Zane... sepertinya terkilir.”

Meskipun dalam hati Zane mendesah kesal, ia terpaksa berhenti. Ia harus bertindak sebagai pria yang sopan. Dengan enggan, ia meletakkan satu tangan di pinggang Rosela untuk menopangnya. Ia tidak mau menggendongnya, itu akan terlalu intim dan mencolok. Zane tahu hampir semua orang di pesta itu mengenalnya, dan mereka semua tahu Beatrice adalah tunangannya.

Rosela menyandarkan tubuhnya pada Zane, dan saat itu, matanya yang berkilat tajam menyapu area di sekitar mereka, lurus ke arah pilar tempat Beatrice bersembunyi.

Rosela tahu Beatrice ada di sana.

Rosela sudah menyadari sejak keluar dari toilet tadi bahwa Beatrice tengah menguping pembicaraan mereka.

Ia sengaja melanjutkan pembicaraannya dengan Zane, alih-alih menutupinya, Rosela ingin Beatrice merasa hancur.

Sejak Rosela menjadi bagian dari keluarga Brooks, Rosela selalu merasa ada kepuasan luar biasa setiap kali ia berhasil merebut sesuatu dari Beatrice, entah itu perhatian Ayah mereka, barang-barang kesayangannya, dan sekarang tunangan Beatrice.

Rosela selalu merasa kesal dengan Beatrice, semua orang selalu membandingkan mereka karena Beatrice lebih cantik dan pintar daripada Rosela.

Beatrice seharusnya sudah bisa menyelesaikan kuliahnya jika bukan karena harus cuti untuk bekerja part time demi biaya pengobatan Colton. Sementara Rosela yang sama sekali tidak tertarik tentang pendidikan, tidak mau melanjutkan kuliah selepas SMA.

Rosela sudah tiga tahun berusaha merayu Zane dan akhirnya berhasil tidur dengan Zane setelah membuatnya mabuk di hari ulang tahunnya yang ke 18 tahun.

Paginya, Zane sangat panik saat melihat Rosela tidur di sebelahnya. Zane khawatir Rosela akan memberitahukan hal ini pada Beatrice dan akhirnya supaya Rosela tutup mulut, Zane berjanji akan membuat Rosela menjadi artis terkenal.

Zane tahu betapa banyak kebusukan di dunia hiburan karena itu dia selalu menghalangi Beatrice untuk menjadi artis. Zane ingin Beatrice tetap murni dan polos.

Bukannya menjauh, sejak hari itu, Zane dan Rosela malah menjadi semakin dekat dan intim. Akhirnya mereka memulai perselingkuhan di belakang Beatrice. Hal ini sudah terjadi selama dua tahun terakhir.

Zane pikir dia bisa menutupi hal ini selamanya dari Beatrice, tapi dengan Rosela hamil, keadaan menjadi rumit. Kalau sampai kedua orang tuanya tahu, sudah jelas Zane akan diminta bertanggung jawab, sementara dia tidak ingin menikah dengan Rosela.

Apalagi jika Daisy sampai tahu, wanita tidak berpendidikan itu pasti akan berbuat keributan supaya Zane mau menikahi Rosela.

"Aku harus membuat Rosela menggugurkan bayi itu sebelum ada orang lain tahu soal ini. Aku tidak mau pernikahanku dan Beatrice terhalang karena kehamilan Rosela", batin Zane.

Rosela tersenyum tipis di balik bahu Zane, senyum yang hanya ditujukan untuk Beatrice. Senyum kemenangan seorang pemangsa yang berhasil menjerat mangsanya.

Rosela tahu, Zane mungkin hanya main-main dengannya, tapi Rosela sudah memiliki kartu As. Dan sekarang, kartu As itu sudah terbuka di depan mata Beatrice.

Saat Zane dan Rosela perlahan berjalan kembali ke arah ballroom, Beatrice tetap membeku di balik pilar.

Ia tidak menangis. Ia hanya menatap punggung tunangan dan saudara tirinya, membiarkan kenyataan pahit itu mengikis habis hati dan jiwanya.

Beatrice menunggu di balik pilar hingga siluet Zane dan Rosela benar-benar menghilang di balik pintu kayu mahoni menuju ballroom.

Ia mengeluarkan ponselnya. Jari-jarinya yang dingin mengetik pesan singkat pada Zane.

"Zane, maaf, aku kurang enak badan tiba-tiba. Aku pulang duluan ya. Kamu nikmati pestanya"

Pesan terkirim. Dalam hitungan detik, balasan masuk dari Zane.

"Apa? Kamu sakit? Biar aku mengantarmu. Tunggu di lobby"

Beatrice membiarkan ponselnya bergetar di telapak tangannya. Ia tidak membalas. Ia tidak akan menunggu.

Jika ia kembali ke ballroom sekarang, ia akan meledak, dan yang ia butuhkan saat ini hanyalah ketenangan.

Beatrice membalikkan tubuhnya, menjauh dari lorong menuju lift. Ia naik ke lantai paling atas dimana bar eksklusif berada.

Dari atas sana, Beatrice bisa melihat pemandangan kota yang menakjubkan.

Bar itu temaram, dihiasi lampu-lampu neon biru yang elegan. Lagu-lagu jazz meliuk pelan, dan sebagian besar bangku di sana kosong, hanya beberapa pasangan yang terlihat tenggelam dalam kebersamaan mereka.

Beatrice duduk sendirian di bangku bar tinggi. Gaun emerald green-nya terasa berat, menahan beban seluruh dunia di atasnya.

“Satu gelas wiski, yang paling kuat,” pintanya pada bartender.

Ia meneguk habis gelas pertama dengan cepat, merasakan cairan pahit itu membakar tenggorokannya dan mematikan saraf-saraf sakit di hatinya. Lalu, ia memesan gelas kedua.

Daya tahan tubuh Beatrice terhadap alkohol memang selalu rendah. Bahkan champagne ringan pun bisa membuatnya pusing. Ia hanya berhasil menghabiskan dua gelas wiski, tetapi efeknya datang begitu cepat dan kuat. Kepalanya terasa berat, pandangannya kabur, dan rasa pusing menghantamnya seperti ombak.

"Sepertinya sudah cukup. Aku tidak perlu merusak tubuhku untuk bajingan dan pelacur kecil itu", pikirnya.

Ia harus pulang. Ia harus tidur. Ia harus bangun dan menghadapi kekacauan ini dengan kepala jernih.

Beatrice berjuang untuk turun dari bangku bar.

Kakinya terasa seperti jeli. Ia berjalan sempoyongan menuju lift di ujung koridor lantai itu. Ia menekan tombol down, dan menunggu pintu baja itu terbuka.

Tiba-tiba, saat pintu terbuka, ia merasakan bayangan gelap, sekelompok pria bertubuh tinggi besar dengan setelah jas hitam memblokir jalannya. Beatrice langsung ditarik masuk ke dalam lift dengan cepat tanpa sempat Beatrice berteriak. Mereka membawanya menuju sebuah kamar suite mewah.

Tiba-tiba, salah satu pria itu berhenti. Ia mengeluarkan ponsel dan berbicara dengan nada pelan dan formal.

“Sudah, Tuan. Kami sudah menemukannya. Ya, Nona bergaun hijau. Kami akan segera membawanya ke kamar suite, sesuai instruksi.”

Beatrice tidak mengerti.

"Siapa yang mengirim mereka? Kenapa mereka membawanya ke kamar suite? Apakah ini ulah Zane? Tetapi Zane tidak pernah melakukan hal sekasar ini", batin Beatrice.

Beatrice berusaha memberontak tapi tubuhnya terasa sangat lemah dan berat, kepalanya pusing, tenggorokannya juga sakit karena sempat tersedak wiski tadi.

Langkahnya baru terhenti di depan sebuah pintu kayu besar. Pria itu membuka pintu, mendorong Beatrice masuk, dan menutupnya dengan bunyi ‘klik’.

Ia ditinggalkan sendirian di sebuah kamar yang gelap dan kosong. Tempat itu adalah kamar suite yang sangat mewah.

Beatrice melihat ada cahaya dari arah kamar mandi.

Rasa mual dan pusing mendominasi kesadarannya.

Beatrice berjalan limbung, memegangi dinding untuk menjaga keseimbangan.

Beatrice ingin mencuci mukanya dengan air dingin. Itu satu-satunya solusi yang terlintas di benaknya untuk mengusir rasa mabuk ini.

Ia mencapai pintu di ujung kamar dan membukanya. Itu adalah kamar mandi mewah dengan marmer putih.

Beatrice melangkahkan kaki gontai ke dalam.

Matanya yang setengah terpejam karena kantuk tiba-tiba terbuka lebar, terpaku pada pemandangan di depannya.

Di dalam bathtub besar yang dipenuhi busa tipis, ada seorang pria. Pria itu telanjang, sebagian tubuhnya tenggelam dalam air, kepalanya bersandar di tepi bathtub, tampak tertidur pulas.

Beatrice mengerjap, mencoba fokus.

"Halusinasi?", pikirnya.

Rasa mabuknya membuatnya benar-benar tidak bisa membedakan mana yang nyata dan mana yang ilusi.

Ia seharusnya berjalan ke wastafel. Tetapi kakinya, bergerak di luar kendali akal sehatnya yang telah lumpuh oleh alkohol, malah membawanya mendekati bathtub.

Ia duduk di tepi marmer dingin bathtub, mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap pria asing itu.

Rambutnya hitam legam, wajahnya yang terpahat sempurna terlihat damai dalam tidurnya. Sosoknya tampak asing, namun entah mengapa, memancarkan aura bahaya yang kuat.

Beatrice, dalam keadaan mabuk, tidak yakin apakah pria ini nyata atau hanya fantasi yang ditimbulkan oleh wiski. Dorongan untuk membuktikan kenyataan itu lebih kuat daripada rasa malu atau takut.

Tangannya terangkat, gemetar, perlahan mengarah ke wajah pria itu. Ia ingin menyentuh rahang kokoh itu, untuk memastikan bahwa ia tidak hanya melihat bayangan.

Saat ujung jarinya hanya berjarak sejengkal dari kulit pria itu, sebelum ia sempat menyentuhnya, tiba-tiba gerakan cepat dan kuat menghentikannya.

Tangan pria itu mencengkeram pergelangan tangannya dengan kecepatan kilat, cengkeraman baja yang dingin dan menyakitkan.

Dalam sekejap, pria itu menarik Beatrice, membalikkan posisi mereka, dan dalam gerakan yang brutal, Beatrice terjatuh ke dalam bathtub yang penuh air dan busa hingga tumpah ke lantai marmer.

Pria itu berada di atasnya, kedua lututnya menahan pinggul Beatrice.

Saat menyadari orang yang baru saja ia seret adalah seorang perempuan, pria itu, Alex segera berdiri. Ia keluar dari bathtub basah itu dalam gerakan cepat, tidak peduli pada air yang menetes dari tubuhnya yang telanjang.

Alex menatap marah pada Beatrice yang kini terduduk basah kuyup di dalam bathtub. Gaun emerald green yang cantik itu kini basah dan melekat di tubuhnya. Beatrice menundukkan wajahnya karena kepalanya semakin pusing.

Suara Alex sangat dalam dan menggelegar, penuh ancaman.

“Siapa kau? Siapa yang mengirimmu?”

1
Danella Juanitha
maaf yah sebelumnya karena ini ada miripnya di aplikasi sebelah dan itu sepertinya aku baca sekitar 2 atau 3 tahun lalu, aku bukan mau bilang otornya gimana, aku cuma mengatakan bahwa cerita ini hampir mirip seperti yg pernah aku baca di aplikasi sebelah, maaf yah otor jgn tersinggung 🙏🙏🙏
Danella Juanitha: iya otor ceritanya kurang lebih sama walaupun ada bedanya walaupun beberapa tapi lebih banyak samanya sih menurutku sejauh ini, maaf yah otor bukan mau meruntuhkan mental atau bagaimana, aku gak maksud apa tapi siapa tau selanjutnya akan lain atau otor memang pernah nulis cerita di aplikasi sebelah f***o, soalnya aku tuh tim suka baca tapi jarang tau penulis nya🤭🤭🤣
total 2 replies
Tiara Pratiwi
lupa ngasih keterangan foto terakhir ya, yg rambut agak keriting Colton, yg rambut klimis Alex
jgn lupa subscribe, like, komen, kasih rating dan gift, gift yg free jg gpp nonton iklan aja bentar 🤣
Tiara Pratiwi
Jangan lupa subscribe, like, komen, dan share ya 😍🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!