Dunia mereka berbeda, tapi takdir mempertemukan hati yang kesepian.”
Sinopsis;Raina hanya ingin hidup tenang, bekerja keras untuk adik-adiknya. Tapi sebuah pertemuan di jalan sepi pinggiran Bogor mengubah semuanya. Julian Jae Hartmann, CEO muda yang dingin dan penuh rahasia, kini tergantung pada kebaikan gadis sederhana ini.
Di balik ketegasan Julian, tersimpan rahasia kelam, intrik keluarga, dan dendam masa lalu yang mengintai dari bayang-bayang. Dua hati yang berbeda dunia, terjebak oleh takdir, harus belajar mempercayai dan menyembuhkan luka masing-masing.
Akankah cinta mampu menembus dinding dingin dan rahasia yang mengelilingi mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Richacymuts, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2.malam yang terlalu sunyi
Angin lembap Bandung menyambut pria itu begitu langkahnya keluar dari pintu kedatangan internasional. Meski lelah, sosoknya tetap mencolok—setelan hitam rapi yang tidak kusut sedikit pun, postur tinggi, rahang tegas, dan tatapan dingin yang seolah mampu membuat siapa saja menjaga jarak. Aura “bos muda” itu begitu nyata, seperti seseorang yang biasa memberi perintah, bukan menerima.
Begitu keluar bandara, ia langsung menuju mobil hotel yang sudah menunggu. Tidak ada waktu untuk turis-turisan; ia datang ke Bandung bukan untuk liburan.
Di hotel, ia hanya mandi cepat, mengecek beberapa dokumen penting, lalu merebahkan diri. Besok pagi, ia punya jadwal pertemuan besar untuk membuka jalur ekspansi perusahaannya di Indonesia.
Keesokan paginya, seusai sarapan singkat, ia langsung bertemu Klain—mitra lokal yang akan membantu proses kerja sama. Pembicaraan mereka serius namun efisien. Ruang privat sebuah restoran mewah menjadi saksi diskusi mereka; dinding kayu eksklusif, pencahayaan hangat, tapi sikap pria itu tetap dingin dan fokus seperti tidak terpengaruh suasana.
Beberapa kali ponselnya bergetar. Di sela jeda pembahasan, namun tak dia angkat.
Saat meeting sudah selesai mereka melanjutkan dengan makan siang bersama.
Sesaat setelah keluar dari tempat pertemuan , Ponselnya bergetar. Nama yang begitu familier muncul di layar.
Ia mengangkatnya. “Ya?”
Suara ceria menyambutnya.
“Hai, sayang. Akhirnya kamu angkat. Pasti aku tadi mengganggu meeting kamu kan?"
Itu suara Tunangannya. Seorang model internasional yang sering menghiasi sampul majalah dunia.
"Ya baru selesai,kamu sama sekali tidak menggangu,maaf tidak ku angkat. Ada apa ?"Tanya laki laki itu sambil memperhatikan jalanan sekitar.
" Aku baru selesai show di Milan,sumpah capek banget aku”
Nada manjanya terdengar alami. Mereka sudah lama bersama untuk merasa nyaman satu sama lain.
“Hm.” Ia berjalan ke arah mobil. “Bagaimana hasilnya?”
“Bagus banget. Orang-orang suka. Ada tawaran photoshoot Tapi aku tidak ambil .” perempuan itu terkekeh ringan. “Besok aku free. Aku mau nyusul kamu ke Bandung”
Ia menatap jalan. “Kau yakin? Jadwalmu sering berubah.”
“Kali ini enggak. Aku kangen. Dan… aku mau kita punya waktu berdua. Tunggu aku satu hari saja, ya? Aku ambil penerbangan yang tiba besok malam.”
“Baik.”
“Serius, kamu jemput aku, ya? Aku ingin begitu keluar dari pintu kedatangan kamu yang pertama ku lihat.”
“Ok”
Perempuan berdecih. “Ck..berekspresi sedikit saja apa tidak bisa sayang?kita sudah pacaran 3 th dan tunangan 2 th loh,masak denganku masih juga minim ekspresi "Keluh sang tunangan.
" Kamu Taukan seperti apa aku?"
" Hais...baiklah , baik aku menyerah,sangat di sayangkan wanita cantik sepertiku harus cinta mati sama kamu"Canda wanita itu.
" Baiklah aku tutup telfonnya see you honey love you"
"Hm.. kabari aku kalau akan leading,See you "
Telpon di matikan sepihak.
Anggap saja perbincangan mereka pakai bahasa inggris ya😁
Ia menatap layar sebentar, tapi wajahnya tetap datar. Tak ada senyum, tak ada perubahan ekspresi. Bukan karena ia tidak peduli—begitulah dirinya sejak dulu. Datar. Dingin. Sulit dibaca.
Saat menjelang malam laki laki yang di ketahui bernama Julian jae Hartmann itu keluar dari loby hotel,
Tujuannya adalah mencari makan malam sambil menikmati suasana malam Bandung.
Sudah sangat lama ia tak menginjakkan kakinya di Indonesia, pertama dan terakhir kalinya dia ke Indonesia beberapa bulan sebelum kedua orang tua mengalami kecelakaan dan meninggal.
Waktu itu umur masih 15th, kehilangan kedua orang tua memberikan pukulan terberat untuk Julian.
Di umur yang masih sangat kecil dia sudah harus mengemban tugas berat yaitu menjadi sang pewaris.
Setelah kedua orang tua Julian meninggal pengasuhan beralih ke sang kakek,willhelm Hartmann adalah sosok pendiri perusahaan Hartmann Group.
Kepribadian yang disiplin dan sangat keras membuat Julian tumbuh menjadi sosok yang tak tersentuh. Dingin,datar terbiasa hidup dengan standar tinggi membuatnya sulit percaya pada orang lain.
Willhelm Hartmann juga memiliki seorang anak angkat bernama Markus Hartmann, tepatnya kakak angkat dari ayah Julian.
Markus Hartmann juga sudah memiliki keluarga sendiri, seorang istri sosialita yang cantik dan sepasang anak laki laki dan perempuan yang bernama Jonas Hartmann dan Isabella Hartmann.
Hubungannya dengan keluarga pamannya itu cukup baik namun tidak terbilang akrab.
Julian berjalan santai menyusuri keramaian kota Bandung. Dalam hati, ia bersyukur bisa kembali menginjakkan kaki di kota yang selalu membuatnya jatuh cinta. Keindahan alam, budaya yang kaya, hingga toleransi masyarakatnya—semuanya membuat Julian merasa Bandung dan Indonesia selalu punya tempat khusus di hidupnya.
Keesokan paginya Julian kembali bertemu dengan klien yang sama untuk penandatanganan kontrak kerja sama yang telah mereka sepakati di sebuah restoran dekat pantai.
"Bagaimana pekerjaan di sana?" Tanya Julian pada sang asisten begitu telfon di angkat
"Semua berjalan dengan baik, tapi beberapa pekerjaan yang tiba-tiba di undur membuatku tak bisa istirahat dengan baik. Jadi jangan mengundur pekerjaan penting dengan tiba tiba lagi " keluh sang asisten.
Jangan di tanya mengapa sang asisten begitu berani berbicara seperti itu dengan Julian, karena kenyataan mereka adalah teman sejak masa kuliah dulu.
"Lalu apa kau ingin ku tambah lagi Daniel?"Tanya Julian usil namun dengan suara yang masih datar.
"Ooo tentu tidak, cukup terimakasih tuan" jawab Daniel dengan muka kecut,
" Bagaimana kesepakatan di sana?apa berjalan lancar?"tanya Daniel.
" Semua berjalan dengan lancar,aku sedang menunggu dia untuk penandatanganan kontrak dan setelah itu akan langsung survey lokasi lahan yang akan di bangun."jelas Julian.
" Baiklah,hati hati kau di sana, terutama saat bersama tunanganmu itu"
" Hm..."