Selina Saraswati, dokter muda baru lulus, tiba-tiba dijodohkan dengan Raden Adipati Wijaya — pria tampan yang terkenal sebagai pengangguran abadi dan kerap ditolak banyak perempuan.
Semua orang bertanya-tanya mengapa Selina harus dijodohkan dengannya. Namun kejutan terbesar terjadi saat akad: Raden Adipati menyerahkan mahar lima miliar rupiah.
Dari mana pria pengangguran itu mendapatkan uang sebanyak itu?
Siapa sebenarnya Raden Adipati Wijaya — lelaki misterius yang tampak biasa, tapi menyimpan rahasia besar di balik senyum santainya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Prettyies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lamaran di tolak
Pagi itu Selina terbangun dengan mata bengkak. Ia mengusap wajahnya cepat-cepat saat mendengar ketukan di pintu.
“Selina! Bangun, Nak!” suara Sri dari luar.
Selina terlonjak. “Astaga… aku kesiangan. Gara-gara nangis semalam, nih…” gumamnya.
Ia turun dari ranjang dan membuka pintu. Sri berdiri dengan tangan terlipat.
“Kamu baru bangun?”
“Iya, Bu. Maaf…”
Sri tersenyum kecil. “Sudah sana mandi. Calon suami kamu sudah datang.”
Selina terhenti. “Calon suami…? Siapa, Bu? Kalau boleh tahu?”
Sri hanya tersenyum misterius. “Nanti kamu juga tahu. Turunlah cepat.”
Lalu ia menuruni tangga.
Selina menutup pintu, panik setengah mati. “Calon suami? Yang mau melamar? Berarti pasti orang pilihan Bapak… pasti bukan orang sembarangan.”
Ia mandi dengan tergesa, lalu memilih dress cantik berwarna pastel. Ia berdandan tipis, mematut diri di cermin.
“Apa aku harus pakai gamis sama jilbab biar kelihatan soleha? Secara aku anak haji…”
Lalu ia menggeleng. “Nggak usah lah.”
Setelah merasa cukup rapi, Selina keluar kamar dan melangkah ke ruang tamu—namun mendadak matanya melebar.
Seorang pria asing duduk di sofa, mengenakan kaos oblong lusuh dan celana pendek, masih mengucek mata seperti baru bangun.
Selina langsung membeku.
Ini apaan.
Bejo memanggilnya. “Sini, Sel. Duduk dulu.”
Selina mendekat dengan wajah tak percaya. “Wait… bentar, Pak. Ini calon suami aku? Yang Bapak bilang kemarin?”
Bejo mengangguk mantap. “Iya. Ini Adipati. Calon suami kamu.”
Selina memandangi pria itu dari ujung kepala sampai ujung kaki. “Pak… Bapak nggak salah kan? Aku ini Sarjana Kedokteran. Masa dijodohkan sama…” ia menunjuk Adipati, “pengangguran lulusan SMA? Aku pikir…”
Adipati menatapnya tanpa tersinggung. “Kalau kamu mau menolak lamaran saya… nggak apa-apa.”
Bejo langsung memotong cepat. “Selina mau kok, Mas Adipati!”
Selina memutar badan ke arah ayahnya. “Nggak, Pak! Aku menolak lamaran dia. Dia aja nganggur. Gimana mau ngidupin aku nanti? Aku belum kerja. Kita mau makan apa? Cinta? Kita ini perjodohan, Pak, bukan sinetron!”
Bejo menghentakkan meja ringan. “Selina! Bisa nggak kamu jangan lihat orang dari luarnya saja?”
Adipati mengangguk pelan. “Benar kata Pak Bejo. Puluhan lamaran saya ditolak wanita hanya karena alasan ini.”
“Sudah. Kamu bisa bantu Bapak kelola perkebunan. Tenang aja, Mas Adipati, Selina bisa hidup denganmu,” ujar Bejo.
“Tapi Pak—”
“Kamu diam. Bapak nggak mungkin salah pilih.” Bejo bersuara tegas.
“Besok kalian menikah. Sesuai wasiat Bapaknya Adipati.”
Selina terperanjat. “Besok?!”
“Iya. Besok, sebelum kamu berangkat koas.”
Selina menggeleng cepat. “Pak, nggak mungkin lah—”
Adipati berdiri sopan. “Besok saya akan datang lagi membawa mahar. Selina mau mahar apa?”
Selina menyilangkan tangan, sinis. “Sepuluh ribu aja. Tapi jangan ngutang ya. Itu harus dari uang pribadi kamu.”
Adipati mengangguk tanpa tersinggung. “Baik. Saya pamit. Assalamu’alaikum, Pak Bejo… Mbak Selina.”
Ia keluar rumah sambil mengayuh sepeda tuanya yang berdecit.
Sri memandang anaknya tak percaya. “Sel, kenapa kamu ngomong gitu sih?”
Selina mendesis, “Jadi Bapak rencanakan perjodohan ini cuma karena… hutang budi? Apa karena dulu Bapaknya Adipati supir yang berjasa pada keluarga –”
Bejo menunduk. “Bukan kamu salah paham ,Sel.”
Selina tercekat. “Sudah lah Pak aku menolak pun bapak tetap akan menikahkan kami. ” Ia berdiri dan menuju kamarnya.
Bejo memejamkan mata, berbicara pada dirinya sendiri.
“Bukan cuma hutang budi… Dia anak sahabat Bapak. Orang yang modal in usaha Bapak sampai gede. Andai Selina tau… kalau Adipati sebenarnya bukan orang biasa… tapi orang kaya…”
Selina masuk ke kamar dan langsung mengunci pintu. Napasnya masih naik turun. Ia melempar tas ke kasur lalu membuka laptopnya, mencoba mengalihkan pikiran.
Ia membuka Instagram. Begitu layar menampilkan feed, hatinya seketika mencelos.
Foto Evan dan Silvi terpampang jelas—berpelukan mesra di rooftop kampus, caption-nya penuh emoji hati.
Selina menatap layar tanpa berkedip.
“Oh… jadi gini. Mereka ternyata sudah ada hubungan di belakangku…” bisiknya lirih.
Tangannya bergetar saat menscroll ke bawah, menemukan foto lain: Evan mencium kening Silvi, lengkap dengan komentar teman-temannya yang menggoda.
“Pantas aja dia dengan enteng minta putus. Dia udah siap cadangan. Bahkan lebih dari siap…”
Ia menutup mulutnya sendiri, menahan rasa perih yang menghantam dada.
Air mata kembali mengalir, tapi kali ini bukan karena sedih—lebih karena kecewa dan marah pada dirinya sendiri.
“Nasib, nasib…” Selina berbaring telentang sambil menatap langit-langit.
“Bukan cuma ditinggal selingkuh… sekarang aku malah dijodohkan sama pengangguran.”
Ia menutup wajah dengan kedua tangan.
“Bisa-bisa aku dibully mereka… ‘Selina yang diputuskan sarjana tapi malah nikah sama pengangguran’. Hahaha… lucu banget hidupku.”
Suara tawanya pecah sendiri—pahit, getir, dan menyakitkan.
Hidupnya yang ia bayangkan akan indah setelah lulus… justru berubah menjadi kekacauan total.