Natalie terpaksa bekerja pada Ares demi memenuhi kebutuhan ekonominya, termasuk bekerja di club malam dan kemudian menjadi asisten pribadinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Aroma Cedarwood dan Kesepakatan Dingin
Setelah Insiden: Pukul 02:00 Dini Hari
Natalie berdiri di ruang ganti karyawan, tangannya gemetar saat ia mencoba melepaskan gaun seragam hitam yang terasa seperti rantai. Rasa jijik dan adrenaline masih membanjiri dirinya, tetapi yang paling kuat adalah kebingungan.
Tuan Adrian adalah masalah yang umum. Pria-pria di Eclipse selalu berpikir bahwa uang memberi mereka izin untuk melakukan apa saja. Tetapi Ares—itu adalah variabel yang sama sekali baru.
Manajer shift-nya, seorang wanita paruh baya bernama Liana, masuk, wajahnya tegang.
"Natalie, kau sudah melihat berita?" Liana tidak memberinya kesempatan menjawab. "Tuan Adrian baru saja dilarang permanen dari klub. Permanen! Dia adalah investor! Ini tidak pernah terjadi!"
Natalie berpaling dari cermin. "Dia mencoba menyerang saya, Liana."
Liana mendesah, kelegaan bercampur ketakutan. "Aku tahu. Tapi biasanya, kita disuruh diam, Tuan Adrian akan diberi peringatan, dan kita dibayar kompensasi. Ini... ini adalah perintah langsung dari Tuan Ares. Dia bos sejati, Natalie. Bukan bos boneka yang kita lihat setiap hari."
Liana mendekat, menurunkan suaranya hingga berbisik. "Tuan Ares tidak peduli dengan uang Adrian. Dia peduli pada ketertiban. Klub ini adalah wilayahnya, dan ia benci siapa pun yang membuat kekacauan. Terutama kekacauan yang melibatkan staf di area VIP."
"Dia menyuruhku pulang," kata Natalie. "Dan memindahkan saya ke bagian lain."
"Itu benar. Mulai besok, kau tidak akan lagi di Aether. Kau akan bekerja di ruang penyimpanan anggur, mencatat stok. Gaji tetap sama. Itu adalah perlindungan, Natalie. Terima itu." Liana menepuk bahu Natalie. "Kau beruntung. Sekarang, pergilah. Dan lupakan malam ini."
Natalie mengangguk. Ia mengganti pakaiannya dengan jins dan jaket kulit, menarik rambutnya yang panjang ke belakang. Ia melirik tumpukan uang yang masih ada di lokernya—uang dari Adrian.
Aku tidak akan menyentuh uang kotor itu.
Ia meninggalkan loker dan klub, keluar ke udara malam yang dingin dan lebih sepi.
Hari Berikutnya: Pukul 14:00
Natalie terbangun dengan rasa lelah yang luar biasa. Ia menghabiskan paginya mencari pekerjaan baru di kafe atau toko buku. Meskipun 'perlindungan' Ares terdengar meyakinkan, nalurinya menyuruhnya untuk keluar.
Namun, ia memutuskan untuk pergi ke Eclipse sesuai jadwal shift barunya. Ia harus berhati-hati dan mencari tahu lebih banyak tentang Ares.
Saat ia berjalan melewati gerbang belakang yang biasa ia lewati, ia melihat sebuah mobil sedan hitam panjang, limusin Maybach yang tampak tidak pada tempatnya di lorong sampah dan kotak-kotak kotor.
Seorang pria bersetelan jas mahal dengan earpiece berdiri di samping pintu belakang mobil. Dia bukan pengawal klub. Dia adalah keamanan pribadi.
Pria itu melihat Natalie dan mengangguk, isyarat kecil namun tegas. "Nona Natalie. Tuan Ares menunggu Anda."
Jantung Natalie mencelos. Tuan Ares? Menunggu saya? Di limusin?
"Dia... dia di dalam?" tanya Natalie, tidak percaya.
"Ya. Tolong cepat, Nona. Waktu Tuan Ares berharga."
Natalie tidak punya pilihan. Ares telah menyelamatkannya dari Adrian. Mungkin ini adalah bayarannya. Mungkin dia adalah Hiu yang lebih besar dan sekarang Natalie adalah makan siangnya.
Ia mendekati mobil. Pria bersetelan jas itu membuka pintu.
Di dalam, aroma cedarwood dan kulit baru menyeruak, memabukkan dan kaya. Interiornya gelap dan sunyi, terlindung sempurna dari kebisingan kota.
Ares duduk di kursi belakang, sebuah tablet tipis di pangkuannya. Ia mengenakan kemeja linen gelap dan celana suit, penampilannya lebih santai namun aura kekuasaannya tidak berkurang sedikit pun. Mata gelapnya menatap Natalie begitu ia masuk.
"Selamat siang, Natalie," sapa Ares. Suaranya di tempat yang tenang ini terasa lebih tajam dan mendominasi.
Natalie duduk di hadapannya, lututnya nyaris menyentuh meja kecil di antara mereka. Ia berusaha keras untuk tidak menunjukkan rasa gentarnya.
"Selamat siang, Tuan Ares," balas Natalie. "Saya kira Anda ingin membahas shift baru saya."
Ares meletakkan tablet itu. Ia mencondongkan tubuh sedikit ke depan. "Shift baru Anda hanyalah formalitas, Natalie. Untuk menenangkan Nyonya Liana."
"Maksud Anda?"
Ares membuka laci kecil di sampingnya dan mengeluarkan sebuah amplop tebal. Ia mendorongnya di atas meja ke arah Natalie.
"Di dalamnya ada enam bulan gaji Anda di Eclipse," katanya. "Anggap saja sebagai ganti rugi atas pengalaman yang tidak menyenangkan tadi malam, dan juga... sebagai biaya kebebasanmu."
Natalie menatap amplop itu, terkejut. "Anda memecat saya?"
"Tidak. Saya menawarkan Anda pilihan. Ambil uang itu, tinggalkan Eclipse, dan jangan pernah melihat ke belakang. Adrian akan melupakan Anda dalam seminggu."
"Kenapa?" Natalie mengambil amplop itu. Beratnya mengejutkan. "Kenapa Anda melakukan ini? Saya baru satu bulan di sini. Anda bahkan tidak mengenal saya."
Ares bersandar, menyilangkan tangannya di dada. Wajahnya tidak menunjukkan apa-apa.
"Saya memiliki visi untuk Eclipse. Visi yang sangat ketat. Dan visinya adalah kelas. Ketika tamu VIP diizinkan untuk mengintimidasi dan melecehkan staf secara terbuka, itu merusak branding saya. Itu membuat saya terlihat lemah, seolah-olah klub ini tidak punya aturan. Dan saya tidak suka terlihat lemah."
Ia berhenti sejenak, tatapannya menyelimuti Natalie.
"Kau adalah titik fokus dari kekacauan itu. Cara tercepat untuk memulihkan ketertiban adalah dengan menghilangkan titik fokusnya. Jadi, Adrian pergi. Dan kau—seharusnya—juga pergi."
Natalie menggigit bibir. Penjelasan itu masuk akal, tetapi terasa dingin dan menghina. Ia hanyalah 'titik fokus' yang perlu dihapus.
"Lalu, mengapa Anda repot-repot bertemu dengan saya di sini, Tuan Ares?" Natalie meletakkan amplop itu kembali di meja. "Jika saya hanya gangguan yang perlu dihapus, kirimkan saja uang ini melalui manajer. Kenapa Anda repot-repot memastikan saya mengambilnya?"
Sudut bibir Ares sedikit terangkat—sebuah sentuhan senyum kecil yang nyaris tidak terlihat.
"Karena saya melihat bagaimana kau berdiri di depan Adrian. Itu bukan ketakutan. Itu kemarahan yang terkendali. Kau berbeda, Natalie. Kau punya api yang langka di tempat seperti Eclipse."
Ia mengambil kembali amplop itu dan mendorongnya setengah jalan ke arah Natalie lagi.
"Ada pilihan kedua," kata Ares. "Ini tidak ada hubungannya dengan Eclipse. Ini adalah tawaran pribadi dariku."
Ares kini mencondongkan tubuh lebih dekat, dan Natalie merasakan aroma cigar mahal yang samar.
"Aku butuh seseorang yang cerdas, waspada, dan tahu cara menahan diri di lingkungan yang buruk. Aku butuh asisten pribadi, seseorang yang mengurus pekerjaan yang tidak ada di buku, seseorang yang aku bisa percaya. Pekerjaanku ada di mana-mana—properti, investasi, dan ya, hiburan."
"Gajimu?"
"Gajimu akan sepuluh kali lipat dari apa yang kau dapat di Eclipse. Dan kau tidak akan pernah lagi harus melayani sampah seperti Adrian."
Natalie menatap Ares, matanya menyipit. Ini terasa seperti jebakan emas.
"Apa yang Anda inginkan sebagai gantinya, Tuan Ares? Apa bayaran untuk gaji setinggi itu?"
"Kepercayaan mutlak dan kerahasiaan total," jawab Ares, nadanya tegas dan tanpa kompromi. "Kau akan melihat hal-hal yang tidak boleh kau lihat, dan kau akan mendengar hal-hal yang tidak boleh kau ulangi. Kau akan menjadi bayanganku. Dan jika kau melanggar kepercayaan itu, Natalie... ingatlah bahwa aku bisa melenyapkan seorang investor besar dari kota ini hanya karena dia menyentuh stafku. Bayangkan apa yang bisa aku lakukan pada seorang asisten yang berkhianat."
Ia menunggu, kesabaran seorang pemburu yang tahu mangsanya tidak akan lari.
"Aku beri kau waktu. Pikirkan baik-baik. Ambil amplop ini dan kabur, atau ambil amplop ini dan bekerja untukku."
Ares tidak perlu menekan. Dia hanya perlu menunggu. Natalie memandang amplop di antara mereka. Ini adalah titik balik. Kesempatan untuk keluar dari lumpur atau terjun lebih dalam ke dalam bahaya yang jauh lebih kaya.
Setelah keheningan yang panjang, Natalie meraih amplop itu dan menariknya ke pangkuannya.
"Saya ambil amplopnya, Tuan Ares," kata Natalie, sorot matanya kini sekeras matanya sendiri. "Dan saya tidak lari. Katakan padaku apa tugas pertama saya."
Ares tersenyum. Senyum kecil dan gelap yang tidak mencapai matanya, namun cukup untuk membuat Natalie merinding.
"Pilihan yang cerdas, Natalie," kata Ares. Ia menekan tombol di tabletnya, dan pintu mobil terbuka ke lorong yang sama. "Tugas pertamamu: Cari tahu semua yang bisa kau ketahui tentang seorang pria bernama Kaleb Sanjaya."
"Siapa dia?"
"Dia adalah pengacau," jawab Ares, nadanya berubah dingin lagi. "Dan dia baru saja memasuki wilayah yang tidak seharusnya dia masuki."