Demi uang, Keysa setuju berpura-pura menjadi kekasih pria kaya raya. Namun, jebakan ini seharusnya untuk sahabatnya. Kini, ia terperangkap di bawah kendali pria itu. Keysa harus memainkan peran yang bukan miliknya, sebelum rahasia pertukaran identitas ini menghancurkan mereka semua..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon marwa18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2 PENGAKUAN
Keysa melihat layar ponselnya lagi di keheningan kamarnya. Pukul sebelas malam, dia baru aja selesai menyelesaikan beberapa tugas kecil sambil ditemani Elzard yang sudah terlelap di kasurnya. Dila udah pulang sejak dua jam yang lalu, setelah Ayah dan ibunya menelpon untuk menyuruhnya pulang
perasaan aneh itu tetap ada. Di tengah kehangatan rumahnya yang damai, Keysa merasa seolah ada orang asing yang mengintip melalui jendela kamarnya
Pesan misterius itu masih ada terpampang di layar hp nya, pesannya dingin dan sedikit mengganggu:
“Aku mengamati kamu, Keysa. Dan aku tahu persis apa yang kamu butuhkan.”
Keysa menghela napas. Rasanya terlalu formal untuk sekedar cuma iseng biasa, tapi juga terlalu aneh untuk dianggap ancaman. Jari Keysa akhirnya mengetik balasan:
“Maaf, ini siapa?”
Balasan pesan itu datang hampir instan.
“Seorang teman lama. Teman yang selalu berada di belakang kamu, menyaksikan semua usaha kamu.”
Keysa memejamkan mata.
" Kenapa sih orang ini gak menyebutkan namanya aja? Semangat baik Keysa seringkali membuatnya terlalu banyak berinteraksi, tapi dia merasa yakin gak pernah memberikan nomornya pada orang lain yang aneh.
Tiba-tiba, ponselnya berdering. Nama "Dion"muncul di layar.
"Dion" adalah sahabat laki-laki Keysa saat mereka duduk di bangku SMP. Sama seperti Dila
Dion udah menjadi bagian gak terpisahkan dari hidup Keysa. Mereka sering bertukar catatan kuliah, berbagi cerita tentang keluarga, dan bahkan bertengkar hebat pada saat memilih film di bioskop. tapi, selama ini, Keysa cuma menganggapnya sebagai Dion yang konyol. sahabat yang selalu bisa diandalkan,gak lebih.
Keysa menjawab panggilan itu
“Halo, Dion? Tumben malam-malam gini nelpon.gak tidur?”
Suara Dion terdengar sedikit serak dan berat di sana. “Belum,Ada yang harus aku urus. Keysa, kamu udah lihat pesan dari nomor baru?”
Jantung Keysa berdebar gak karuan.
“Pesan apa? Tunggu, jangan bilang itu kamu?”
Dion tertawa kecil, tawa yang kali ini terdengar lebih dari biasanya.
“Ternyata kamu gak menyimpannya. iya, itu aku. Maaf, aku baru ganti kartu dan sengaja gak ngasih tahu kamu. Aku cuma tahu reaksi kamu aja”
Kelegaan bercampur sedikit kekesalan Keysa. “Ya ampun, Dion! aku pikir siapa. Itu sedikit menyeramkan, tahu gak? Aku mengamati kamu itu terdengar kaya stalker!”
“Mungkin emang kaya gitu,” kata Dion, suaranya sekarang terdengar serius, membuat Keysa terdiam.
“Maksud kamu?”
“Maksud aku,aku emang selalu mengamati kamu, Keysa. Bahkan saat kamu asyik tertawa sama Dila di kantin, atau saat kamu mengerutkan dahi karena skripsi. Aku tahu detail kecil tentang kamu.”
Keysa merasa gak nyaman. Ini bukan Dion yang dia kenal. Dion selalu blak-blakan dan cenderung konyol.
“Dion, kamu kenapa sih? Jangan aneh-aneh ya. Aku anggap kamu cuma bercanda.” Keysa berusaha mengembalikan suasana menjadi biasa.
Dion terdiam lumayan lama. Keysa bisa mendengar napas berat Dion di sana.
“Aku gak bercanda, Keysa. Dan ini mungkin kedengarannya gak sopan karena aku ngatain nya lewat telpon. tapi ,aku suka sama kamu. Aku udah lama suka sama kamu”
Seluruh kehangatan yang tadi dia rasain dari kamar tidurnya mendadak hilang digantikan hawa dingin. Keysa merasa dirinya kaya disambar petir di tengah malam. Semua obrolan mereka, semua kebaikan, semua dukungan yang diberikan Dion, sekarang terasa memiliki makna aneh yang gak pernah dia sangka.
“Dion.aku gak tahu ya harus bilang apa"
Keysa gugup. dia sangat gak bisa menduga.
“Jangan bilang apa-apa dulu” potong Dion cepat.
“Aku tahu kamu terkejut. Kamu selalu menganggap aku sebagai sahabat kamu. Saudara mungkin, sama seperti Dila.”
Keysa menutup matanya, menelan ludah.
"iya, itu benar. Aku menganggap kamu seperti itu, Dion. Kamu itu Dion sahabat aku. gak lebih" Keysa mengucapkan kata-kata itu dengan hati-hati, berusaha agar gak menyakiti perasaan Dion, tapi juga memastikan batas itu jelas.
“Aku tahu” suara Dion terdengar pasrah
“Tapi Keysa, aku gak tahan lagi cuma menjadi bayangan. Aku mau jadi seseorang yang bisa memberi kamu lebih.aku akan mendapatkan apapun yang kamu butuhkan, Keysa .Cukup kasi aku kesempatan. Aku tahu kamu lagi kesulitan cari pekerjaan paruh waktu buat membantu biaya kuliah, kan?”
“Bagaimana kamu tahu?”ujar Keysa.
“Aku udah bilang, aku mengamati kamu"
jawab Dion, kali ini dengan nada yang Keysa ga sukai nada penuh percaya diri, seolah dia lagi memegang kunci rahasia
“Ayah aku baru aja mendirikan sebuah perusahaan start-up teknologi. Gaji yang mereka tawarkan fantastis. Kamu bisa fokus kuliah sambil bekerja di sana.
Aku bisa membantu kamu Keysa
Keysa sedikit mundur dari kursinya. Ini bukan lagi tentang perasaan cinta, ini tentang kekuatan dan kontrol. Dion adalah anak dari keluarga berada, jauh lebih kaya daripada Keysa, meskipun gak sekaya yang dibayangkan. Keysa gak pernah mau memanfaatkan koneksi siapapun, apalagi Dion.
“Dion, aku menghargai tawaran kamu dan juga perasaan kamu. Tapi aku gak bisa. Aku akan mencari pekerjaan dengan usaha aku sendiri. Dan mengenai perasaan kamu,aku harap kita bisa tetap berteman. Itu aja” Keysa mencoba menyelesaikan pembicaraan ini sejelas mungkin.
Hening sebentar. Keheningan yang rasanya lebih berbahaya..
“Keysa, kamu menolak aku. Sesudah semua yang udah kita lalui?” tanya Dion, suaranya berubah menjadi dingin dan sedikit mendesak
“Aku gak menolak persahabatan kita, Dion. Aku cuma menolak tawaran kamu dan perasaan yang bukan untuk wku. Itu aja,” Keysa menekan kata persahabatan.
“Baiklah. Pikirin lagi, Keysa. Jangan terlalu cepat ngambil keputusan”
kata Dion, sebelum tiba-tiba mengakhiri panggilan.
Keysa menaruh ponselnya di meja, tubuhnya sedikit gemetar. dia gak nyangka percakapan tengah malam ini akan jadi pengakuan yang mengubah segalanya.
Dion, sahabatnya yang selalu dia anggap polos, ternyata nyimpan tujuan yang membuat Keysa merasa terjebak.
dia menyukai Dion sebagai teman, tapi omongan bahwa Dion menggunakan kekayaan dan koneksi keluarganya buat dapatkan Keysa,itu sangat melukai prinsip Keysa. Kebaikan Keysa gak boleh dibeli dan persahabatannya gak boleh dijadikan alat tawar.
Keysa berjalan pelan menuju jendela, menatap keheningan di luar. dia meluk dirinya sendiri. Di satu sisi, dia merasa bersalah udah melukai perasaan Dion. Di sisi lain, dia merasa terancam.
"Aku akan mendapatkan apapun yang kamu butuhkan” Kalimat itu terus teringat, seolah janji dari seseorang yang enggak akan menerima penolakan.
Keysa tahu, dia harus langsung membicarakan ini dengan satu-satunya orang yang akan mengerti tanpa menghakimi: "Dila" Persahabatan mereka yang murni dan tulus adalah benteng pertahanan Keysa.