Nayra, siswi SMA yang cerewet, polos, dan sedikit konyol, tak pernah menyangka kalau hidupnya akan jadi seribet ini. Semua gara-gara ia jatuh hati pada kakak dari sahabatnya sendiri, Sersan Arga. Seorang Tentara muda yang dingin, cuek, dan hampir tak pernah tersenyum. Hari-hari selalu membayangkan betapa tampannya seorang Arga Arfian.
Nayra selalu mencari cara agar bisa bertemu dan menyapa sang Sersan. Banyak rintangan yang ia lalu, namun itu tak menyurutkan semangat nya untuk memiliki Sersan Arga.
___
"Hallo, Mas Sersan"
Akan menjadi teman bacamu lebih menyenangkan... Yuk Baca selengkapnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naylest, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2. Belajar dan Pertemuan.
Seperti yang sudah mereka katakan, kalau sore ini Nayra dan Dinda akan belajar bersama. Dan sekarang sudah pukul tiga sore, Nayra pun berpamitan kepada Mama nya untuk segera berangkat.
"Hati-hati, belajar yang bener." Ucap Mama Indy kepada putrinya.
"Siap, Bos." Jawab Nayra sambil memberi hormat kepada Mamanya.
Dan ia pun segera memacu kendaraan roda dua nya menuju rumah Dinda. Entah kenapa ia merasa begitu semangat untuk belajar kali ini, biasanya ia tak pernah suka ataupun senang yang namanya belajar, apalagi pelajaran Matematika. Tapi sangat berbeda untuk kali ini.
Tor monitor nananana
Tor monitor nananana
Langit sore yang sendu itu membuat Nayra begitu menikmati perjalanannya menuju rumah Dinda. Lagu yang entah sampai kapan selesainya itu pun tak kunjung berhenti dari bibir manisnya. Hingga tiba di rumah Dinda pun lagunya tetap sama.
Ting nong.
Klek.
"Kirain gak dateng." Kata Dinda saat membuka pintu dan terpampang wajah temannya itu.
"Dateng dong." Jawabnya santai, lalu masuk ke dalam.
Dinda menutup pintu kembali. Karena hanya ada mereka berdua di rumah, ia takut ada orang jahat yang datang menemui mereka.
"Mau langsung belajar, atau makan soto dulu? Tadi aku beli di mamang gerobak." Kata Dinda.
"Makan dulu deh." Jawab Nayra yang langsung bangkit dari duduknya.
"Kalo denger makanan, pasti gercep." Sindir Dinda, lalu berjalan menuju dapur dan di ikuti oleh Nayra.
"Lah, kan situ juga yang nanya. Ya tentu aku pilih makan dulu dong, kebetulan perut juga laper." Jawab Nayra.
Dinda tak menyahuti, ia mengambil dua mangkuk untuk menyajikan soto yang sudah ia beli. Nayra menatap sekeliling dapur Dinda, dapur luas, bersih dan juga wangi. Tidak seperti di rumahnya yang sangat sederhana.
"Din, kamu sendirian di rumah?"
"Iya, Papa sama Mama ada acara. Kakakku dinas di luar Kota, dan mbak lagi belanja." Jawab Dinda tanpa menoleh, karena ia sedang menyiapkan soto ke dalam mangkuk.
"Rumah sebesar ini pasti sepi banget ya kalo sendiri?"
"Jangankan rumah besar, Nay. Rumah kecil juga bakal sepi kalo sendiri." Jawab Dinda, membuat Nayra tertawa kecil.
"Iya juga, ya. Heee."
Dinda menyerahkan semangkok soto kepada Nayra dan keduanya pun langsung menikmati soto ayam tersebut.
"Alhamdulillah, kenyang!" Nayra mengusap perutnya setelah menghabiskan satu mangkok soto.
"Waktunya belajar!" Ucap Dinda dan membawa kedua mangkuk itu ke wastafel.
Nayra mencebik kesal. "Baru juga selesai makan, Din." Ucapnya dengan nada protes.
"Perut kenyang hati pun senang, belajar pun tenang." Jawab Dinda, lalu menarik tangan Nayra menuju ruang tamu.
Setelah keduanya berada di ruang tamu, Dinda pun membuka buku Matematika. Karena pelajaran yang di anggap Nayra sulit adalah Matematika.
"Semangat ya, jangan ngantuk. Pokoknya harus fokus."
"Iya-iya, gampang." Jawab Nayra.
Dinda memulai satu persatu, dari rumus, pengerjaan dan soal-soal. Nayra yang memperhatikan dengan baik pun merasa soal-soal itu begitu mudah. Namun siapa sangka, saat Dinda memberinya soal lain, ia justru kelimpungan tak bisa mengerjakan sama sekali.
"Nay, kan udah aku ajarin."
"Kok beda, Din? Tadi gak gini deh." Jawab Nayra.
Dinda menggaruk lehernya. "Ini nih yg bikin kamu selalu dapat nilai jelek setiap ulangan. Di sini udah banyak rumus yang aku tulis Nay, kamu tinggal gunain salah satu, yang mana yang cocok sama soal yang aku kasih. Setiap soal itu punya rumus masing-masing, Nay. Astagaa." Terdengar helaan nafas panjang dan kesal dari bibir Dinda.
"Hehe, aku kan gak tau, Din."
Dinda terdiam sebentar, lalu bergumam dalam hati, kalau ia harus sabar mengajari Nayra. Karena Nayra adalah temannya dan juga ia sudah berjanji akan membantu Nayra agar bisa mendapatkan nilai tinggi saat ulangan matematika nanti.
"Dengerin aku baik-baik dan perhatikan baik-baik soal yang aku kerjakan ini."
"Ok." Jawab Nayra.
Dan untuk kali ini, Nayra benar-benar memperhatikan Bagaimana cara Dinda menyelesaikan soal-soal yang ada di buku miliknya. Terlihat mudah tapi juga sulit baginya. Dan sekarang sudah 1 jam mereka belajar, Nayra hanya mampu menyelesaikan 5 soal, itupun dengan bantuan Dinda.
"Udah jam lima nih. Kita lanjut besok lagi ya." Kata Dinda, sambil mengemasi buku-buku dan ada tulisnya di atas meja.
"Iya. Makasih ya Din, kamu udah mau ngajarin aku. Walaupun aku gak faham-faham banget, tapi kamu sabar ngajarin aku." Ujar Nayra.
"Sama-sama. Inti nya, Kalo belajar fokus gak akan sulit kok. Aku lihat sebenarnya kamu juga mudah memahami, hanya saja kurang fokus. Aku udah janji juga sama diriku sendiri, kalau aku mau bantu kamu buat belajar. Jadi, kamu jangan main-main ya, inget pengorbanan aku juga," ujar Dinda tersenyum.
"Siap, Bos. Aku janji, bakal belajar dengan baik. Heee."
Dinda mengangguk dan tersenyum.
Ting tong.
"Din, siapa tuh?" Tanya Nayra dengan wajah panik. "Papa sama Mama kamu ya?"
"Aku buka pintu dulu." Dinda pun bersiap untuk pergi ke depan, namun di cegah olah Nayra.
"Jangan, Din. Kalo orang jahat gimana?"
"Emang ada ya orang jahat pencet bel dulu?"
"Heh, Din. Nama nya orang punya niat jahat, kegala cara dilakukan, sekalipun harus memperlihatkan wajahnya sama kita."
"Rumahku punya kaca, Nay. Jadi kita intip dulu siapa yang datang."
"Ck. Kenapa gak ngomong gitu sih dari tadi? Malah pake tanya "emang ada ya orang jahat pencet bel" ucap Nayra dengan menuruti ucapan Dinda tadi.
"Hahahaha. Kenapa sih? Sensitif banget di gituin." Ujar Dinda tertawa.
"Bodo amat." Kesal Nayra.
Dinda tersenyum. "Ayo, temenin aku ke depan. Setidaknya jika itu orang jahat, kamu bisa teriak atau minta bantuan sama orang-orang." Dinda pun Menarik tangan Nayra menuju pintu.
Sedangkan bel terus berbunyi, karena terlalu lama menunggu di bukakan pintu oleh sang pemilik rumah. Saat tiba, Dinda pun membuka gorden jendela dengan perlahan, ia melihat keluar sana, siapa yang datang ke rumah mereka sore-sore begini. Sedangkan kedua orangtuanya mengatakan akan pulang malam.
"Siapa, Din?"
"Yeyyyy."
Brukkk.
Nayra terjatuh ke lantai, saat Dinda memekik senang dan tak sengaja mendorongnya.
"Dindaaaaaa."
Namun Dinda tak mempedulikan, ia dengan cepat membuka pintu rumah.
"Kak Arga." Teriaknya, lalu menghambur memeluk sang kakak.
Arga pun membalas pelukan adiknya. Namun, senyumnya tidak terlihat sama sekali, membuat Dinda kesal.
"Kakak pulang kok gak bilang-bilang sih?" Tanya Dinda dengan wajah cemberut, namun ia senang bisa bertemu Arga, setelah sekian lama Arga bertugas di luar Kota.
"Sengaja." Jawabnya seadanya.
Dinda semakin cemberut saat Arga hanya menjawab seadanya.
"Ayo masuk. Temen Dinda ada di dalam." Ajak Dinda, lalu menarik koper sang kakak ke dalam.
Saat masuk, Dinda melihat Nayra dengan wajah datarnya.
"Nay, itu kakakku." Tunjuk nya keluar pintu.
Nayra yang sedari tadi tak melihat ke arah mereka pun akhirnya melihat keluar.
Deg.
*************