Aqilla Pramesti begitu putus asa dan merasa hidupnya sudah benar-benar hancur. Dikhianati dan diceraikan oleh suami yang ia temani dari nol, saat sang suami baru saja diangkat menjadi pegawai tetap di sebuah perusahaan besar. Ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Namun, takdir berkehendak lain, siapa sangka nyawanya diselamatkan oleh seorang pria yang sedang berjuang melawan penyakitnya dan ingin hidup lebih lama.
"Apa kamu tau seberapa besar perjuangan saya untuk tetap hidup, hah? Kalau kamu mau mati, nanti setelah kamu membalas dendam kepada mereka yang telah membuat hidup kamu menderita. Saya akan membantu kamu balas dendam. Saya punya harta yang melimpah, kamu bisa menggunakan harta saya untuk menghancurkan mereka, tapi sebagai imbalannya, berikan hidup kamu buat saya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reni t, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Aqilla seketika memutar badan, menatap wajah pria yang belum ia ketahui namanya itu dengan kening dikerutkan. "Maaf, aku gak paham apa maksud Anda. Aku berterima kasih karena Anda sudah menyelamatkan hidupku, jika tak ada Anda, mungkin aku benar-benar udah mati," jawabnya dengan dingin.
"Kamu yakin gak mau balas dendam sama orang yang udah membuat kamu seperti ini?" tanya pria itu seraya berdiri tegak.
Aqilla terdiam seraya memalingkan wajah ke arah samping. Rasanya benar-benar menyesakan dada. Kembali mengingat perlakukan suaminya, kembali mengingat perjuangannya dalam membantu perekonomian keluarga dan kembali mengingat hari-hari yang ia lewati sebagai seorang istri yang mencoba bertahan di tengah kondisi ekonomi yang sulit. Dirinya bahkan rela berjualan di depan rumahnya hanya demi membantu perekonomian keluarga. Namun, semua itu sama sekali tidak ada artinya.
Pengorbanannya dipandang sebelah mata oleh dia, laki-laki yang bergelar suami. Di saat suaminya itu mendapatkan kehidupan yang layak, perkejaan tetap dengan gaji yang lumayan, ia dicampakkan begitu saja. Dibuang seperti sampah yang sudah tidak berguna. Rasanya benar-benar sakit luar biasa. Harapannya untuk menjalani rumah tangga yang bahagia dengan perekonomian stabil harus kandas karena sang suami lebih memilih wanita lain.
"Kenapa kamu diam saja? Eu ... maaf, saya harus memanggil kamu apa? Kita belum kenalan," tanya pria itu, melangkah lalu berdiri tepat di depan Aqilla.
"Namaku Aqilla," jawabnya dengan datar.
"Hmm ... Aqilla, nama yang bagus," ujar pria itu, lalu mengulurkan telapak tangan untuk bersalaman. "Nama saya Raditya, panggil saja Radit."
Aqilla menatap telapak tangan lebar yang telah menyelamatkan hidupnya semalam. Terdiam sejenak sebelum akhirnya menerima uluran tangan kemudian berjabatan tangan tanpa mengatakan sepatah katapun. Perasaanya terlalu kalut, jiwanya terlalu rapuh dan hatinya terlalu hancur.
"Kalau kamu bersedia menerima tawaran saya, saya janji akan membantu kamu balas dendam kepada mereka yang udah menghancurkan hidup kamu, Aqilla," ucap Radit, seraya melepaskan jabatan tangannya.
"Apa yang harus aku lakukan, Pak Radit? Suamiku menceraikan aku, istri yang udah setia menemani dia dari nol. Aku bahkan rela membantu mencari nafkah demi membantu perekonomian keluarga kami, tapi setelah dia mendapatkan pekerjaan yang lebih layak dengan gaji yang lumayan besar, dia tega ninggalin aku dan lebih memilih wanita lain," tutur Aqilla, buliran bening seketika memenuhi kelopak mata. "Oke, aku akui, aku mungkin sudah tak menarik lagi. Aku sudah tak cantik lagi dan tak bisa mengurus diriku sendiri, tapi--" Aqilla menahan ucapannya, dadanya terasa sesak, air matanya seketika luruh membasahi kedua sisi wajahnya. "Wa-wanita mana yang tak mau cantik? Wanita mana yang tak ingin memakai pakaian bagus di depan suami, tapi semua itu faktor ekonomi juga, Pak Radit. Kalau aku beli bedak, beli baju bagus, bagaimana dengan kebutuhan kami sehari-hari?"
Radit terdiam, memandang wajah Aqilla dengan lekat. Setelah ia tahu permasalahan wanita bernama Aqilla itu, ia akhirnya menyimpulkan bahwa fakto utamanya adalah ekonomi, alias uang. Andai Aqilla memiliki uang untuk merawat diri, andai wanita itu memiliki uang untuk membeli pakaian yang layak dan tidak perlu membantu mencari nafkah untuk keluarga, mungkin suaminya tidak akan berpaling kepada wanita lain. Namun, suaminya tetaplah orang yang patut untuk disalahkan karena kewajiban seorang suami adalah memenuhi sandang, papan dan pangan seorang istri dan itu adalah harga mati.
Salahnya lagi, bukannya memperbaiki diri dan intropeksi, suami dari wanita itu malah menceraikan istrinya yang sudah menemaninya dari nol dan lebih memilih wanita lain. Jadi, wajar saja jika Aqilla merasa hancur dan sempat berfikir untuk mengakhiri hidupnya.
"Ya Tuhan, ko ada laki-laki gak tau diri seperti suami kamu itu, Aqilla," decak Radit merasa tidak habis pikir.
Aqilla menarik napas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan, menyeka buliran bening yang membasahi kedua sisi wajahnya. "Oke, aku terima tawaran Anda, Pak Radit. Bantu aku balas dendam dan aku akan menyerahkan hidupku untuk Anda, tapi dengan satu syarat."
"Oke, katakan apa syaratnya?"
"Tolong jaga kedua anakku kelak. Angkat mereka menjadi anak angkat Anda."
Radit mengulurkan telapak tangan, seraya tersenyum ringan. "Deal?"
Aqilla menerima uluran tangan pria itu seraya berucap. "Deal!"
Keduanya pun sepakat.
"Saya menderita gagal ginjal stadium empat dan saya membutuhkan donor ginjal. Setelah kamu berhasil balas dendam kepada mantan suami kamu, berikan ginjal kamu buat saya."
"Jangankan ginjal, jantung pun akan aku berikan buat Anda asalkan aku bisa melihat mantan suamiku dan selingkuhannya menderita, Pak Radit."
"Oke, kita sepakat, ya."
Aqilla menganggukkan kepala lalu tertunduk. Air matanya kembali mengalir deras, tanpa suara isakan dan tanpa rintihan, menandakan bahwa sakit yang ia rasakan tidak main-main. Wanita itu kembali menatap wajah Raditya seraya menyeka kedua sisi wajahnya.
"Aku mau minta tolong sama Anda, Pak," ucapnya dengan lemah.
"Apa kamu mau menjemput anak-anak kamu?"
Aqilla kembali menganggukkan kepala dengan raut wajah sedih. Sementara Radit memandang wanita itu dari ujung kaki hingga ujung rambut, piyama yang Aqilla kenakan, rambutnya yang sedikit berantakan serta wajahnya yang pucat membuatnya Radit seketika menghela napas dalam-dalam seraya menggelengkan kepalanya.
"Kamu yakin mau menjemput anak-anak kamu dalam keadaan seperti ini?" tanya Radit seraya menunjuk tubuh Aqilla menggunakan jari telunjuknya sendiri.
Aqilla sontak menundukkan kepala, menatap tubuhnya dari ujung kaki. Ia baru menyadari bahwa dirinya sudah tidak memakai pakaian miliknya lagi. Keningnya seketika mengerut, menatap wajah Radit dengan perasaan bingung.
"Ini bukan pakaianku, Pak Radit. Bukan Anda yang ganti pakaianku, 'kan?" tanyanya.
"Hah? Ya bukanlah, masa saya ganti pakaian kamu. Pembantu saya yang gantiin."
Aqilla menggaruk kepalanya sendiri yang sebenarnya tidak terasa gatal, seketika gugup dan salah tingkah. "Oh, begitu. Eu ... aku benar-benar berterima kasih sama Anda karena udah nyelametin hidupku semalam. Sekali lagi terima kasih, Pak Radit," ucapnya, seraya membungkukkan tubuh dalam-dalam sebagai ucapan terima kasih.
Radit tersenyum ringan seraya mengangguk-anggukkan kepala. "Mungkin ini adalah takdir dari Tuhan. Di saat saya sedang berjuang untuk tetap hidup, mencari pendonor ginjal, saat itulah saya bertemu sama kamu yang putus asa dan berniat mengakhiri hidup kamu. Bertukar nyawa, saya ingin hidup, sementara kamu ingin mengakhiri hidup kamu. Bukankah ini bukan sesuatu yang kebetulan?"
Bersambung ....