NovelToon NovelToon
Promise: Menafsir Kamu

Promise: Menafsir Kamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Kisah cinta masa kecil / Cinta Terlarang / Cinta pada Pandangan Pertama / Cintapertama / Cinta Murni
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: Iyikadin

Rayna tak pernah benar-benar memilih. Di antara dua hati yang mencintainya, hanya satu yang selalu diam-diam ia doakan.
Ketika waktu dan takdir mengguncang segalanya, sebuah tragedi membawa Rayna pada luka yang tak pernah ia bayangkan: kehilangan, penyesalan, dan janji-janji yang tak sempat diucapkan.
Lewat kenangan yang tertinggal dan sepucuk catatan terakhir, Rayna mencoba memahami-apa arti mencintai seseorang tanpa pernah tahu apakah ia akan kembali.
"Katanya, kalau cinta itu tulus... waktu takkan memisahkan. Hanya menguji."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iyikadin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2 - Rahasia dari Ruang Tamu

"Semua orang bilang pindah itu awal baru, tapi hatiku masih di tempat lama."

Pagi itu, langit Jakarta berwarna abu muda. Sinar matahari menembus tirai kamar, memantul di cermin meja rias tempat Rayna berdiri. Ia menarik napas panjang sambil menatap pantulan dirinya.

Seragam putih abu-abu yang baru disetrika menggantung rapi di tubuhnya, pita kecil di kerahnya sedikit miring, tapi ia tidak terlalu peduli.

Ini hari pertama. Sekolah baru. Kota baru. Hidup baru.

Ia memandangi ID card sekolah yang tergantung di lehernya. Tulisan “SMA Pelita Jakarta” tercetak jelas di atas foto yang diunggah saat pendaftaran online waktu itu.

“Pelita Jakarta,” gumamnya pelan. “Nama sekolahnya aja udah berat, semoga anak-anaknya nggak.”

“Raynaaa!” terdengar suara Mama dari lantai bawah. “Ayo turun, nanti terlambat!”

“Iyaaa, Ma!”

Ia menenteng tas hitamnya dan menuruni tangga. Aroma roti panggang menyambut dari dapur. Mama sudah menunggu di meja makan bersama Pak Herman, sopir keluarga mereka yang setia sejak masih tinggal di luar negeri.

“Kamu udah siap banget nih,” kata Mama sambil tersenyum. “Deg-degan?”

“Sedikit,” jawab Rayna jujur. “Takut nggak bisa nyatu sama anak-anak sini.”

Mama menepuk bahunya. “Kamu anak baik, Sayang. Pasti bisa. Mereka bakal suka sama kamu.”

Rayna hanya tersenyum tipis, lalu meneguk segelas susu.

Mobil hitam keluarga mereka melaju pelan di antara padatnya lalu lintas Jakarta. Dari jendela belakang, Rayna melihat deretan pedagang, ojek, dan anak sekolah yang berjalan tergesa. Ia bersandar di kursi, memperhatikan papan-papan reklame besar di sepanjang jalan.

“Sekolah kamu besar, Non,” kata Pak Herman dari depan. “Banyak anak-anak pejabat juga di situ. Tapi jangan khawatir, guru-gurunya baik-baik kok.”

Rayna mengangguk. “Semoga aja begitu, Pak.”

Begitu mobil berhenti di depan gerbang besar bertuliskan SMA Pelita Jakarta, Rayna tertegun. Bangunannya megah, dengan tembok putih tinggi dan taman yang rapi. Suara riuh siswa bercampur dengan bunyi lonceng sekolah.

Ia turun dari mobil dan menatap sekitar. “Kayak kampus,” bisiknya.

Pak Herman tersenyum. “Nanti jam dua saya jemput lagi, ya.”

“Iya, Pak. Makasih.”

Rayna berjalan masuk melewati halaman luas. Setiap langkahnya terasa asing, namun di sisi lain, ada semacam dorongan ingin tahu. Ia melihat kelompok siswa bercanda di tangga, beberapa siswi selfie di taman depan, dan petugas keamanan yang berdiri di pojok gerbang.

Setelah menanyakan ke petugas TU, Rayna menemukan ruang kelasnya. Pintu bertuliskan Bahasa 12 berdiri di ujung koridor. Ia berdiri sebentar, menarik napas, lalu membuka pintu.

Suara riuh mendadak hening seketika. Puluhan pasang mata menatapnya.

Rayna berdiri tegak. Ia mencoba tersenyum, meski pipinya terasa kaku. “Hai semua, nama aku Rayna Kalie Nathan. Kalian bisa panggil aku Rayna,” ucapnya dengan nada ramah.

Beberapa anak mengangguk, beberapa hanya melirik lalu kembali sibuk.

Guru wali kelas tersenyum. “Baik, Rayna. Selamat datang di kelas Bahasa ini ya. Kamu duduk di bangku kosong itu ya.” Katanya sambil menunjuk sebuah bangku kosong di deretan ketiga bagian belakang.

“Iya, Bu.”

Rayna melangkah ke bangku yang ditunjuk, menaruh tasnya, dan duduk. Ia mencoba fokus pada pelajaran pertama, tapi dari sudut matanya, ia merasa ada seseorang yang terus memperhatikannya.

Ia berpura-pura mencatat, tapi rasa itu semakin kuat.

Akhirnya, ia menoleh ke kanan. Seorang cowok berambut sedikit berantakan duduk di sebelahnya, menatap ke arahnya dengan pandangan datar.

Rayna menaikkan alis. “Ada apa, ya? Dari tadi kayaknya kamu terus ngeliatin ke sini?”

Cowok itu mengangkat bahu santai. “Enggak kok. Gausah ge-er deh lo.”

Nada bicaranya tenang tapi tajam. Ia menoleh ke papan tulis seolah tak terjadi apa-apa.

Rayna mendengus pelan, menggulirkan matanya. “Oke, sorry,” gumamnya pelan. Ia berusaha kembali fokus, tapi sedikit kesal. Hari pertama, sudah disambut dingin. Bagus sekali ya.

Selama jam pelajaran berikutnya, mereka hampir tidak berbicara. Cowok itu tetap cuek, sibuk menggambar sesuatu di buku catatannya. Sementara Rayna, diam-diam melirik penasaran. Gambarnya bagus. Gaya goresannya mirip seseorang yang dulu sering menggambar bersamanya.

Vando.

Pikiran itu tiba-tiba muncul. Ia buru-buru menepisnya, tapi rasa rindu itu datang lagi tanpa izin.

Bel pulang akhirnya berbunyi. Suara riuh langsung memenuhi udara. Siswa-siswa berhamburan keluar kelas. Rayna menarik napas lega, memasukkan buku ke tasnya.

“Capek banget,” gumamnya.

Cowok yang tadi bicara dengan Rayna menutup bukunya dan berkata, “Baru hari pertama udah capek?”

Rayna menatapnya sekilas. “Lo pikir pindah sekolah gampang?”

Cowok itu menatapnya balik, kali ini tanpa senyum. “Nggak gampang. Tapi lo kelihatannya kuat deh.”

Rayna sempat terdiam. Nada suaranya datar, tapi ucapannya jujur. Ia hanya mengangguk kecil lalu berdiri. “Makasih. Sampai besok.”

Cowok itu mengangguk pelan.

Di luar kelas, udara sore terasa hangat. Sinar matahari menembus pepohonan di halaman sekolah. Rayna berjalan menuju gerbang. Beberapa siswa lain melambaikan tangan ke arah orang tua mereka.

Pak Herman sudah menunggu di depan mobil. Ia membukakan pintu. “Gimana sekolahnya, Non?”

“Lumayan, Pak. Cuma... belum kenal siapa-siapa aja.”

“Nanti juga kenal, Non. Namanya juga baru.”

Rayna tersenyum kecil. “Iya, Pak.”

Mobil melaju pelan meninggalkan halaman sekolah. Dari jendela, Rayna melihat lagi tulisan besar di gerbang: Pelita Jakarta. Entah kenapa, nama itu terasa seperti awal sesuatu yang besar.

Sesampainya di rumah, suasana tenang. Mama sedang di ruang tamu sambil berbicara lewat telepon. Dari arah tangga, Rayna sempat mendengar sepotong kalimat.

“Iya, Bu. Saya pastikan anak kita kenal dekat dan tetap bersama sampai tua nanti...”

Langkah Rayna terhenti. Ia menatap ke arah ruang tamu. Kata-kata itu terdengar aneh.

Anak kita? Bersama sampai tua?

Ia berdiri diam beberapa detik sebelum akhirnya melangkah pelan mendekat.

“Maaa?” panggilnya lirih.

Mama tersentak kecil, lalu buru-buru menutup telepon. “Eh, anak mama udah pulang? Udah makan?” katanya dengan nada ceria yang agak dipaksakan.

“Belum. Tadi mama ngomong sama siapa, ya?”

Mama tersenyum, tapi matanya sedikit gugup. “Oh itu, cuma ngobrol sama teman lama aja. Nggak penting kok. Yuk, makan dulu. Kamu pasti lapar.”

Ia menarik tangan Rayna menuju ruang makan.

Rayna menatap wajah mamanya, mencoba membaca ekspresi di balik senyum itu. Ada sesuatu yang disembunyikan, ia bisa merasakannya. Tapi ia tidak mau memaksa.

Malam itu, setelah makan dan mandi, Rayna duduk di meja belajar sambil menatap jendela. Lampu kota berkedip di kejauhan. Di meja, ponselnya tergeletak diam.

Ia membuka TeleChat. Tak ada pesan baru. Hanya percakapan terakhir dengan Vando yang masih terbuka.

Kalimat terakhir dari Vando masih terpampang di layar:

“Kita bakal ketemu lagi, Rayi. Aku janji.”

Ia tersenyum kecil, lalu menatap langit malam.

Tiba-tiba, pikirannya kembali ke percakapan Mama tadi siang. “Anak kita kenal dekat dan tetap bersama sampai tua nanti...”

Hatinya berdebar. Kata-kata itu seperti potongan puzzle yang belum lengkap.

Ia memejamkan mata, mencoba mengingat sesuatu. Dulu, di Eropa, Mama dan Ibu Vando sering bertemu. Mereka bersahabat. Bahkan pernah bercanda, katanya Rayna dan Vando cocok kalau besar nanti.

Tapi... itu dulu. Masa iya Mama masih memikirkan hal itu?

Rayna tertawa kecil, menertawakan pikirannya sendiri. “Ah, nggak mungkin.” Tapi tawa itu cepat menghilang. Entah kenapa, bagian dalam dirinya justru berkata sebaliknya.

Ia mengambil buku catatan, membuka halaman kosong, lalu mulai menggambar.

Tangannya bergerak pelan, mengikuti ingatan.

Beberapa menit kemudian, wajah seorang anak laki-laki muncul di atas kertas.

Rambut sedikit acak, mata hangat, dan senyum yang selalu ia rindukan.

“Vando...” bisiknya.

Air matanya menetes di pojok halaman. Ia menyeka cepat, tapi garis air itu sudah sempat mengaburkan tinta.

Ia menatap gambar itu lama. “Kamu beneran bakal ke sini?”

Di luar jendela, Jakarta masih berisik seperti biasa. Tapi di hati Rayna, mulai tumbuh rasa yang baru. Campuran rindu, harapan, dan... firasat.

Bahwa semua yang terjadi hari ini, sekolah baru, teman baru, ucapan Mama, bukan kebetulan.

Mungkin, semuanya sedang membawanya kembali... ke janji yang dulu pernah diucapkan di bawah langit Eropa.

Bersambung...

1
Nuri_cha
kamu sakit gara2 mikirin si vando. tapi Bennyg bikin tersenyum... ya udah sih ya Ama Ben aja
Nuri_cha
aiishhh... mimpi! kirain beneran!
Nuri_cha
iih .. kamu yg ke mana. kok malah marah sama Rayna? Bukannya kalian pernah berhubungan saat pertama kali Rayna pindah ke jakarta
Nuri_cha
Ya ampuuuun, Vandooo kamu ke manaaaaa ajaaa?
kim elly
horang kaya dia
kim elly
terus kalo jadian kenapa masalah buat lo
TokoFebri
nggak apa pak. manusia bisa luput dari kesalahan.
TokoFebri
haduh .. buruan ke rumah sakit...😢
TokoFebri
rayna kamu aquarius?
⛧⃝ 𓂃Luo Yi⧗⃟
Dengan terbukanya ben ke Ray hubungan mereka akan lebih baik. Dan Ray walaupun masih kepikiran masa lalu mungkin lama-kelamaan akan ada hati ke Ben
⛧⃝ 𓂃Luo Yi⧗⃟
Pasti sakit sih jadi ben.. secara selalu di banding-bandingkan
mama Al
ah elo mah mumet Mulu ben
mama Al
tinggal bilang kalau kalian di jodohkan.
nanti kalau ada yang dekati kamu ga kaget
🦋RosseRoo🦋
mulai salting kan kau, di panggil cintaku/Slight/
🦋RosseRoo🦋
nglunjak si Ben😌
🦋RosseRoo🦋
oh ya, mau ujian ya. kalo gt fokus sekolah aja deh Ben. Takut jadi gak bsa belajar karena kecapean.
kim elly
kalo gitu lupain vando 🙄
kim elly
🤣cuci muka gosok gigi dah gitu aja
🦋RosseRoo🦋
Ben udah nyaman curhat ke Rayna.
🦋RosseRoo🦋
boleh, buat hilangin ovt dr rumah. kerja capek dapet duit, drpd maen.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!