NovelToon NovelToon
Lahir Kembali Di Medan Perang

Lahir Kembali Di Medan Perang

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas Dendam / Time Travel / Mengubah Takdir / Identitas Tersembunyi / Penyelamat
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: zhar

Seorang pria modern yang gugur dalam kecelakaan misterius terbangun kembali di tubuh seorang prajurit muda pada zaman perang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

Terdengar letusan keras—dor!—dan serdadu Belanda itu terjatuh, darah mengucur dari tubuhnya.

Bima terkejut. Ia sama sekali tak menyangka tembakannya benar-benar mengenai sasaran. Niatnya hanya memancing kawan-kawannya menembak, bukan membunuh.

Namun, ketika tatapan beringas serdadu yang tumbang itu seolah tertuju padanya sebelum nyawanya lepas, rasa dingin menjalar di tulang belakangnya.

“Ya Ampun… aku baru saja membunuh orang…” pikir Bima.

Konyol memang, membunuh di medan perang adalah hal yang dianggap wajar, bahkan perlu. Tapi tetap saja, penyesalan dan rasa bersalah itu menyesap dalam hatinya.

Namun tujuannya tercapai.

Letusan senjata itu jadi tanda tak resmi. Para pejuang di sekitarnya langsung membalas tembakan. Deru peluru pun memenuhi udara. Tak lama, senapan mesin ikut bergemuruh, dan peluru-peluru berdesing bak hujan badai, merobohkan belasan serdadu Belanda di garis depan.

Pertempuran pun meledak sengit.

Seperti yang sudah diduganya, mortir Belanda segera ikut berbicara. Pelurunya menghantam satu per satu titik pertahanan para pejuang. Setiap ledakan mematikan titik tembak penting. Gila saja.

Di tengah kekacauan itu, sang komandan malah berteriak, “Siapa yang melepaskan tembakan pertama?! Siapa yang mulai?!”

Bima tak sempat memedulikan. Tangannya sibuk mengokang dan menembak, lagi dan lagi.

Satu peluru mengenai kaki serdadu Belanda padahal ia membidik dada. Mungkin lumpur yang berterbangan membuat lintasannya melenceng. Serdadu itu menjerit seperti babi disembelih, tapi sebelum sempat diselamatkan, peluru lain dari arah berbeda merenggut nyawanya.

Dor! Lagi, tembakan tergesa-gesa dari Bima menjatuhkan serdadu lain yang tinggal lima puluh meter dari parit. Musuh itu sempat menarik pin granat dan bersiap melempar ke posisi Bima. Sedetik saja terlambat, granat itu sudah pasti membuatnya berkeping-keping.

Tak ada waktu untuk bernapas. Bima tahu, di medan perang, setiap kelengahan berarti kematian.

Klik. Senjata macet.

Ia mengokang lagi tetap tak meledak. Baru ia sadar, pelurunya habis. Tergesa-gesa ia bersembunyi di parit, mencoba mengisi ulang. Tapi tangannya gemetar hebat. Peluru yang dipegang malah jatuh berserakan di tanah becek.

Untungnya, serangan musuh mereda. Rupanya ini hanya serangan percobaan untuk mengukur kekuatan dan posisi para pejuang. Walau begitu, serangan semacam itu bisa berubah menjadi serangan penuh kapan saja.

Tembakan makin jarang terdengar. Bima terkulai di parit seperti kain lap basah.

Sorak kemenangan bergema. Para pejuang bersorak karena berhasil menahan serangan dan mempertahankan posisi.

Namun, teriakan lantang memecah euforia itu.

“Siapa yang melepaskan tembakan pertama?! Siapa?!” suara sang komandan meledak marah.

Tak ada yang menjawab. Tapi beberapa pejuang melirik ke arah Bima. Ya, semua tahu letusan pertama berasal dari tempatnya.

Tak bisa menghindar, Bima mengangkat suara, “Saya, Pak Komandan!”

“Persetan!” Komandan itu melangkah cepat, mencengkeram kerah baju Bima, tatapannya penuh penghinaan. “Kau lagi, Surya pengecut!”

Pengecut?

“Oh iya,” gumam Bima dalam hati, “di sini mereka memanggilku… Surya.”

Komandan itu menatap tajam ke arah Surya sambil memaki, “Kau tahu apa yang baru saja kau lakukan? Kalau bukan gara-gara kau, kita bisa menewaskan lebih banyak serdadu Belanda bahkan mungkin menghabisi mereka semua!”

“Tidak, Pak Komandan!” jawab Surya cepat. “Saya rasa itu tidak benar.”

“Diam, brengsek!” bentak komandan itu. “Siapa yang menyuruhmu berpikir sendiri?!”

Di masa itu, dalam barisan para pejuang, terutama di bawah tekanan pertempuran besar, perintah harus dijalankan tanpa banyak tanya. Prajurit tidak diberi ruang untuk “punya ide sendiri” yang ada hanyalah patuh dan bertindak sesuai aba-aba.

Tentu saja, Surya yang baru terseret ke masa ini, sama sekali tak tahu aturan itu.

“Turunkan dia dari sini!” perintah sang komandan. “Biar si pengecut ini bawa amunisi saja, atau kerjaan lain. Aku tak mau lihat dia bikin masalah lagi!”

“Tunggu, Joko!”

Seorang perwira membungkuk rendah, berlari dari sisi lain parit. Tubuhnya tinggi, wajahnya tegas, dan di dahinya tampak bekas luka samar tanda ia adalah veteran tempur.

Kehadirannya membuat Surya sedikit lega. Hanya orang yang pernah merasakan baku tembak langsung yang mungkin mengerti logikanya. Mungkin itulah sebabnya perwira ini, seorang mayor, menghentikan amarah komandan tadi.

Mayor itu duduk di gundukan tanah di sebelah Surya. “Kau tadi bilang itu tidak benar. Apa maksudmu?”

“Pak Mayor!” komandan itu cepat-cepat menyela. “Dia cuma cari alasan menutupi rasa malunya. Saya lihat dia meringkuk di parit, senapannya di samping!”

Mayor itu mengabaikan tudingan tersebut. Ia hanya memberi anggukan singkat pada Surya, memberi kesempatan bicara.

“Pak Mayor!” kata Surya. “Sederhana saja menurut saya, dalam situasi ini kita tak seharusnya menunggu Belanda mendekat.”

Beberapa pejuang di sekitar langsung terkekeh, sebagian memandang Surya seperti orang konyol. Pria berjanggut di sampingnya bahkan menggeleng pelan, memberi isyarat agar Surya tak melanjutkan.

Di masa ini, semangat juang dan keberanian adalah segalanya. Di bawah pandangan seperti itu, pertempuran jarak dekat dianggap paling gagah berani. Itulah mengapa Belanda berani mendekat hingga jarak tembak dekat, dan bagi banyak pejuang, itu justru momen yang ditunggu.

Namun mayor itu tidak tertawa. Ia malah bertanya serius, “Kenapa? Menurutmu kemampuan menembak kita lebih baik dari mereka? Atau kita unggul dalam daya tembak?”

“Tidak, Pak Mayor!” jawab Surya mantap. “Akurasi kita kalah jauh, daya tembak juga tidak lebih baik…”

“Dan kau masih bilang jangan bertempur jarak dekat?”

“Ya!” Surya mengangguk. “Karena Belanda justru lebih diuntungkan di jarak itu! Mereka punya mortir jarak menengah dan banyak senapan mesin ringan buatan Eropa, sementara kita hanya punya sedikit senapan mesin berat dan beberapa senjata hasil rampasan. Dalam jarak 300 meter, posisi kita sangat tidak menguntungkan!”

“Kau lupa kita juga punya mortir?” sindir komandan itu. Ia lalu meraih sebuah mortir ringan yang disandarkan di parit, mengangkatnya agar semua bisa melihat.

“Jarak maksimalnya cuma 250 meter, Pak Komandan,” jawab Surya tenang. “Dan saya yakin Belanda tahu itu. Karena itulah mereka berani menyerang dari jarak 200–300 meter di situlah kita kalah tembakan.”

1
RUD
terima kasih kak sudah membaca, Jiwanya Bima raganya surya...
Bagaskara Manjer Kawuryan
jadi bingung karena kadang bima kadang surya
Nani Kurniasih
ngopi dulu Thor biar crazy up.
Nani Kurniasih
mudah mudahan crazy up ya
Nani Kurniasih
ya iya atuh, Surya adalah bima dari masa depan gitu loh
Nani Kurniasih
bacanya sampe deg degan
ITADORI YUJI
oii thor up nya jgm.cumam.1 doang ya thor 3 bab kekkk biar bacamya tmbah seru gt thor ok gasssss
RUD: terima kasih kak sudah membaca....kontrak belum turun /Sob/
total 1 replies
Cha Sumuk
bagus ceritanya...
ADYER 07
uppppp thorr 🔥☕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!