5 perempuan dengan keturunan setengah Dewa Dewi yang sangat kuat dan darah mereka yang mengalir dengan kekuatan yang melumpuhkan dan petualangan yang akan mereka hadapi di negeri ajaib Euthopia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bsf10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1. Kebenaran
Di dalam sebuah kamar, lima sahabat karib sedang asyik bersenda gurau. Gelak tawa pecah menyelimuti ruangan itu.
"Aduh! Sakit, tahu!" keluh salah satu dari mereka saat terkena candaan temannya.
"Hahaha!" Tawa yang lain meledak, tidak memedulikan protes kecil itu.
Namun, suasana ceria itu terhenti ketika sebuah suara berat terdengar dari balik pintu. "Nak, ada hal penting yang ingin Ayah bicarakan denganmu dan teman-temanmu. Segeralah turun ke bawah," ucap sang kepala keluarga dengan nada serius.
"Baik, Ayah," jawab putrinya patuh.
Vera, gadis berambut coklat, menatap yang lain dengan bingung. "Kira-kira apa yang ingin Paman bicarakan dengan kita?"
"Entahlah. Ayo turun saja, aku juga penasaran," celetuk Luna, gadis berambut panjang dengan warna perak atau abu abu muda.
Mereka berlima segera bergegas turun ke lantai bawah. Di sana, sepasang suami istri, Daniel dan Caryn Adams, telah menunggu dengan rapi.
"Apa yang ingin Paman dan Bibi sampaikan kepada kami?" tanya Olivia, yang tertua di antara mereka berlima.
Daniel menarik napas pelan. "Baiklah, karena kalian sudah berkumpul, kami ingin membicarakan perihal pendidikan kalian."
"Benar," sambung Caryn. "Kami dan seluruh orang tua kalian telah sepakat bahwa kalian akan dipindahkan ke sekolah baru."
Azzura Adams, putri dari pasangan tersebut, mengerutkan kening. "Kenapa mendadak sekali, Ayah, Ibu?"
Rachel, gadis berambut hitam panjang, turut menimpali, "Iya, Bibi, Paman. Mengapa tiba-tiba? Sepertinya ayah dan ibuku juga tidak memberi kabar sebelumnya."
Caryn tersenyum lembut berusaha menenangkan mereka. "Sudah, simpan dulu pertanyaan kalian untuk besok. Sekarang, kalian beristirahatlah dan menginaplah di sini bersama Azzura. Kita harus berangkat pagi-pagi sekali agar tidak terlambat."
"Yaaah..." Kelima sahabat itu mendesah serentak karena tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan. Namun, di sisi lain, mereka senang karena bisa tidur bersama lagi malam ini.
"Baiklah, Ibu. Baik, Paman," jawab mereka pasrah.
Azzura mengajak teman-temannya kembali ke atas. "Kalau begitu, kami ke atas dulu ya, Ayah, Ibu."
Di kamar, rasa penasaran mereka sempat teralihkan oleh bayangan sekolah baru.
"Duh, aku tidak sabar! Semoga saja banyak laki-laki tampan di sana," ujar Vera sambil tersenyum-senyum sendiri.
"Yeee... dasar!" sahut keempat temannya serempak sambil menjitak pelan kepala Vera.
"Aduh!" keluh Vera sambil mengusap kepalanya, meski ia ikut tertawa. Tak lama kemudian, mereka pun terlelap dan memasuki alam mimpi.
Pagi yang Dingin
Keesokan paginya, suasana masih gelap gulita. Jarum jam baru menunjukkan pukul lima subuh.
"Woy! Bangun kalian semua! udah pagi, nanti kita terlambat!" teriak Olivia dengan lantang. Sebagai yang paling rajin, Olivia memang sering bangun terlalu awal—bahkan ia pernah sampai di sekolah saat gerbangnya masih terkunci rapat.
"Ish, berisik sekali sih, Ol... sepuluh menit lagi," gumam Vera malas.
"Iya, lima menit lagi," sahut Rachel sambil menarik selimut. Sementara itu, Azzura dan Luna masih terlelap tanpa respons sedikit pun.
Kesabaran Olivia habis. Tanpa ba-bi-bu, ia mengambil air dan menyiram keempat sahabatnya itu.
"Aaaah!" Mereka berempat tersentak bangun dan langsung terduduk tegak.
"Sial! Padahal aku hampir saja bertemu calon suami di mimpi tadi!" gerutu Vera kesal.
"Dingin sekali, Olivia!" keluh yang lain sambil memasang wajah cemberut.
Olivia tidak peduli; yang penting misinya berhasil. Ia segera bersiap-siap, diikuti oleh teman-temannya yang masih bersungut-sungut. Tak lama kemudian, Caryn mengetuk pintu kamar.
"Jika sudah selesai, segeralah turun untuk sarapan," ucap Caryn lembut.
"Baik, Bu. Kami segera turun," jawab Azzura.
Pertemuan Tak Terduga
Saat mereka menuruni tangga, langkah mereka terhenti karena terkejut. Ruang makan tidak hanya diisi oleh Daniel dan Caryn, tetapi seluruh orang tua mereka telah berkumpul di sana.
Ada Variz dan Jesi Brown (orang tua Rachel), Fadhy dan Zahira Wood (orang tua Luna), Jonathan dan Elia Dixion (orang tua Vera), serta Mark dan Joy Xendrick (orang tua Olivia).
"Ayah! Ibu!" Rachel berlari kecil dan memeluk kedua orang tuanya. Luna, Vera, dan Olivia pun melakukan hal yang sama. Mereka sangat merindukan orang tua masing-masing yang selama ini sibuk bekerja.
"Kalian ada di sini?" tanya Vera seakan tak percaya.
"Tentu saja. Kami ingin mengantarkan putri-putri kami yang cantik ini ke tempat tujuan mereka," jawab Jonathan Dixion mewakili para orang tua lainnya.
Senyum bahagia merekah di wajah kelima gadis itu. Namun, Rachel segera teringat akan sesuatu. "Tapi, Ayah, Ibu... kalian masih berutang penjelasan. Mengapa kami harus pindah sekolah?"
Keempat sahabatnya mengangguk setuju. Para orang tua saling berpandangan. Mereka tahu, saatnya telah tiba untuk mengungkap rahasia besar ini.
"Baiklah," Jesi Brown memulai pembicaraan dengan nada serius. "Sebenarnya... kalian semua bukanlah manusia biasa."
"Hah?!" Kelimanya berteriak serempak dengan ekspresi tidak percaya.