Hidup tidak pernah mudah bagi Alya, dan menjadi jauh lebih berat sejak *ibunya meninggal saat Alya baru berumur 12 tahun.*
Sejak hari itu, Alya yang masih kelas 6 SD harus langsung menjadi ibu untuk adik-adiknya. Ia yang menyuapi Dinda yang masih balita, ia yang menemani Bima yang masih di dalam kandungan saat ibunya meninggal.
Karena itulah, ia tidak pernah merasakan masa remaja. Tidak ada waktu untuk manja.
Tinggal di rumah sederhana bersama ayah dan kedua adiknya, Alya adalah anak pertama yang harus menjadi tulang punggung keluarga. Ayahnya yang sejak ditinggal istrinya semakin sering sakit-sakitan membuat keadaan ekonomi mereka semakin sulit.
Jadi pernikahan kontrak itu bukan hanya untuk pengobatan ayahnya, tapi juga rasa bersalahnya karena merasa gagal menggantikan posisi ibunya untuk Dinda dan Bima.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ocha Via, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tanda Tangan seharga nyawa
Hidup Alya Mahardika berhenti di usia 12 tahun.
Tepat di hari pemakaman ibunya di TPU Menteng Pulo. Sejak hari itu, ia tidak pernah lagi menjadi anak kecil. Ia dipaksa menjadi ibu.
Ia ingat betul bagaimana ia yang masih pakai seragam SD harus menggendong Dinda yang waktu itu baru 2 tahun dan terus menangis mencari ibunya. Ia ingat bagaimana ia harus belajar memasak nasi yang gosong di kontrakan petak mereka di daerah Manggarai, mencuci seragamnya sendiri di ember, sambil menjaga Ayah yang sejak ditinggal istrinya hanya diam menatap dinding, kehilangan semangat hidup.
Sejak itu, 11 tahun berlalu. Alya kini 23 tahun. Dinda sudah kelas 2 SMA di SMAN 8 Jakarta, Bima yang dulu masih ada di dalam kandungan Ibu saat Ibu meninggal, kini sudah kelas 5 SD. Dan Alya masih menjadi tulang punggung satu-satunya.
Kontrakan petak mereka di gang sempit Tebet catnya sudah mengelupas, kalau hujan deras air masuk sampai mata kaki. Ayah yang dulu kuli proyek di Jakarta Selatan, kini paru-parunya rusak karena debu dan rokok. Batuknya tidak pernah berhenti, badannya semakin kurus.
Alya bekerja di toko kue "Manis" di Blok M dari jam 6 pagi sampai 4 sore dengan gaji 1,5 juta. Malamnya ia lanjut jadi admin olshop sampai jam 11 malam, dapat tambahan 800 ribu. Total 2,3 juta. Di Jakarta, uang itu bahkan tidak cukup untuk bayar kontrakan dan makan sebulan.
Sampai hari ini semuanya runtuh.
"Totalnya Rp 48.700.000, Mbak Alya. Itu sudah termasuk tindakan, kamar ICU 3 hari, dan obat. Kalau hari ini tidak dilunasi, besok Ayah harus keluar dari RSCM. Aturannya begitu," kata suster dengan wajah tidak enak.
Kertas tagihan di tangan Alya terasa seperti batu. Tabungannya sisa Rp 1,2 juta. Motor satu-satunya sudah dijual bulan lalu. Gelang emas satu-satunya peninggalan Ibu juga sudah dijual di Pasar Jatinegara.
Alya jongkok di lorong RSCM yang penuh dan bau karbol, di antara orang lalu-lalang, dan menangis. Bukan tangis keras. Tangis diam yang sesak. Tangis orang Jakarta yang sudah tidak tahu harus minta tolong ke siapa lagi.
_"Tuhan, kalau memang harus begini, kasih aku jalan. Jalan apa saja..."_
Seolah menjawab doanya, handphonenya bergetar. Tante Rina, tetangganya yang kerja sebagai cleaning service di gedung perkantoran SCBD.
"Alya, kamu di RSCM kan? Tante dengar Ayah masuk ICU lagi."
"Iya, Tante..."
"Tante ada kenalan orang penting. Bos di gedung tempat Tante kerja. Dia lagi cari istri. Bukan istri beneran, cuma kontrak. Tapi bayarannya besar, Lya. Sangat besar. Bisa lunasi hutang rumah sakit Ayah kamu, bisa buat sekolah Dinda sama Bima sampai lulus. Kamu mau Tante kenalin malam ini?"
Alya mengernyit. "Istri kontrak? Maksudnya?"
"Nanti dia jelasin sendiri. Namanya Rafael Virel. Kamu datang aja jam 8 malam ke Sky Lounge Hotel Langham, SCBD. Pakai baju paling rapi. Jangan telat. Ini kesempatan sekali seumur hidup, Lya. Orang kayak dia biasanya gak pernah lihat kita-kita yang di kontrakan."
Sambungan mati. Nama itu membuat jantung Alya berhenti.
Rafael Virel. Siapa yang tidak kenal di Jakarta? Di koran bisnis, dia adalah CEO Virel Corp, perusahaan yang menguasai pelabuhan Tanjung Priok, hotel, dan properti di Sudirman. Tampan, muda, 28 tahun, miliarder nomor satu di Jakarta. Tapi di bisik-bisik supir dan OB gedung, orang menyebutnya pewaris Mafia Virel. Keluarga yang kejam, dingin, menguasai Jakarta dari balik jas mahal. Konon, satu kedipan matanya bisa membuat orang hilang di Jakarta.
Jam 8 kurang 10 menit, Alya berdiri di depan lift Hotel Langham SCBD dengan kemeja putih yang sudah menguning di leher dan rok hitam pinjaman. Sepatunya flat, haknya sudah terkikis. Semua orang berdasi dan berbaju mahal menatapnya aneh.
Di meja paling ujung dekat jendela kaca yang menghadap ke seluruh lampu Jakarta, seorang pria duduk sendiri. Punggungnya tegak sempurna. Jas hitamnya mahal, jam tangannya berkilau. Bahkan dari belakang, auranya sudah membuat Alya takut.
"Kamu Alya," katanya tanpa menoleh. Suaranya berat, rendah, dan dingin.
Alya menelan ludah. "Iya... saya Alya, Pak."
"Duduk."
Perintah singkat. Alya duduk dengan kaku. Baru sekarang pria itu menoleh.
Alya menahan napas. Rafael Virel jauh lebih tampan daripada di foto Forbes. Rahangnya tegas, hidungnya mancung, matanya abu-abu tajam seperti elang. Tapi tidak ada kehangatan sama sekali. Matanya kosong. Dingin seperti gedung-gedung di SCBD malam ini.
Dia mendorong sebuah map kulit hitam ke arah Alya.
"Baca. Saya tidak suka membuang waktu."
Dengan tangan gemetar, Alya membuka map itu. Isinya adalah surat perjanjian.
_PERJANJIAN PERNIKAHAN KONTRAK - JAKARTA_
_Pihak Pertama: Rafael Virel_
_Pihak Kedua: Alya Mahardika_
_Pasal 1: Pernikahan sah secara hukum berlangsung selama 12 bulan._
_Pasal 2: Pihak kedua wajib tinggal di kediaman pihak pertama di Pondok Indah dan berperan sebagai istri yang sempurna di depan publik, media, dan keluarga._
_Pasal 3: Tidak ada hubungan suami istri secara emosional maupun fisik tanpa persetujuan pihak pertama. Pihak kedua dilarang jatuh cinta._
_Pasal 4: Kompensasi yang akan diterima pihak kedua: Pelunasan total biaya RSCM Ayah, biaya pendidikan kedua adik sampai lulus kuliah, dan uang sebesar Rp 1.000.000.000,- setelah perceraian._
Di bawahnya sudah ada tanda tangan Rafael yang tegas.
Satu miliar. Rumah sakit lunas. Sekolah Dinda dan Bima aman. Mereka bisa pindah dari kontrakan bocor di Tebet.
"Kenapa saya?" tanya Alya, suaranya hampir tidak terdengar. "Kenapa bukan model atau artis Jakarta? Banyak yang mau sama Bapak."
Rafael menatapnya lama.
"Karena kamu putus asa. Karena kamu miskin dan tidak punya siapa-siapa di Jakarta ini. Karena kamu tidak akan macam-macam. Saya butuh istri yang penurut, yang tidak akan ikut campur bisnis saya, yang tidak akan menuntut harta saya. Dewan direksi saya yang tua itu terus mendesak saya menikah agar perusahaan terlihat stabil di mata investor. Saya butuh boneka yang cantik dan diam. Kamu sempurna untuk itu."
Setiap katanya adalah penghinaan. Tapi setiap katanya adalah kebenaran.
"Kalau saya menolak?"
Rafael menyeruput kopinya pelan. "Silakan. Keluar dari pintu itu. Naik busway balik ke Tebet. Dan besok pagi, saksikan Ayah kamu dikeluarkan dari RSCM karena kamu tidak bisa bayar. Dan minggu depan, Dinda dan Bima putus sekolah."
Alya memejamkan mata. Air matanya jatuh ke atas kertas perjanjian itu.
Wajah Ayah yang sesak napas. Wajah Ibu yang dulu berpesan, _"Jaga Ayah dan adik-adikmu ya, Kak..."_ Wajah Dinda yang ingin kuliah jadi guru. Wajah Bima yang masih polos.
Ia tidak punya pilihan di kerasnya Jakarta ini.
Dengan tangan yang bergetar hebat, Alya mengambil pena Montblanc yang disodorkan Rafael. Tinta hitam itu terasa berat.
_Alya Mahardika._
Goresan itu selesai. Jiwanya terasa ikut terjual di lantai 67 gedung SCBD itu.
Rafael mengambil map itu, melihat tanda tangannya, dan untuk pertama kalinya, bibirnya tertarik sedikit.
"Selamat datang di neraka saya, Nyonya Alya Virel," bisiknya pelan, tapi matanya menatap Alya lekat. "Mulai detik ini, hidup kamu di Jakarta ini bukan milik kamu lagi. Tapi milik saya. Mengerti?"
Alya hanya bisa mengangguk sambil terisak, melihat lampu-lampu Jakarta yang berkedip di bawahnya.