Demi uang Rp 2 miliar, Karina menceraikanku dan "meminjamkanku" untuk menikahi sahabatnya. Aku pikir hidupku hancur—ternyata pernikahan itu justru menyeretku pada wanita yang diam-diam mencintaiku selama 17 tahun.
Arya Wibowo, karyawan biasa yang baru kena PHK, tiga tahun jadi suami yang diperas habis-habisan. Ketika mantan istrinya, Karina, dengan enteng menukar pernikahan mereka demi uang, Arya memilih pergi tanpa menoleh. Yang tak ia duga, "istri kontrak"-nya, Anindya Kusuma, adalah pewaris tunggal Grup Kusuma—kerajaan asuransi bernilai puluhan triliun—dan gadis yang sudah memendam cinta padanya sejak umur sepuluh tahun.
>
Saat Karina akhirnya menyesal dan merengek minta rujuk, Arya cuma tersenyum: "Cerai kamu yang minta. Sekarang mau balik? Nggak akan pernah." Dari pria yang dulu dihina "nggak berguna", Arya bangkit dengan tangannya sendiri—sementara satu per satu kebohongan Karina terbongkar di depan umum, dan karma datang menjemput.
Vila mewah, mobil belasan miliar, cinta yang tulus, dan pembalasan yang manis. Tapi Karina belum menyerah—dua bulan lagi, katanya, ia akan membongkar semuanya ke internet…
Siapa sebenarnya yang akan menyesal seumur hidup?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rangga Aditama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 1
Bab 1: Kalau Mau Cerai, Ya Cerai Saja
"Mas, kita cerai saja."
Tangan Arya berhenti di atas dua piring nasi goreng yang baru ia letakkan di meja. Uap hangat masih mengepul, membawa aroma bawang putih dan kecap manis ke seluruh ruang tamu apartemen yang sempit itu.
Di seberang meja, Karina bahkan tidak melihat makanan buatan suaminya. Kedua matanya terpaku pada layar ponsel, sementara ujung jarinya terus menggeser foto hotel, pantai, dan butik mahal.
Arya menarik kursi perlahan.
"Apa tadi?"
"Aku bilang kita cerai." Karina akhirnya mendongak. Tidak ada air mata di wajahnya. Yang ada justru cahaya bersemangat yang membuat dada Arya terasa lebih dingin daripada ruangan berpendingin udara itu. "Tapi cuma sementara. Dua bulan saja. Setelah itu kita rujuk."
Arya menatap perempuan yang sudah tiga tahun menjadi istrinya.
Di dinding belakang Karina tergantung foto pernikahan mereka. Dalam foto itu, Karina tersenyum sambil menggenggam tangan Arya. Seusai akad, ia pernah berbisik bahwa mereka boleh miskin, boleh bertengkar, tetapi tidak boleh mengucapkan kata cerai.
Janji itu masih menempel di kepala Arya.
Rupanya hanya dia yang menyimpannya.
"Cerai sementara?" tanyanya.
Karina mengembuskan napas, seperti sedang menjelaskan hal sederhana kepada orang yang lamban. "Anindya butuh suami untuk urusan warisan. Eyangnya meninggalkan wasiat. Kalau dia nggak menikah secara sah dalam setahun, warisan itu dialihkan ke yayasan. Dia cuma perlu status menikah selama dua bulan."
Arya belum menjawab.
Karina memutar ponselnya. Sebuah percakapan terbuka di layar. Di bagian paling bawah ada angka yang begitu besar hingga Arya harus membacanya dua kali.
Rp 2 miliar.
"Dia akan bayar segini," kata Karina. "Dua miliar, Mas. Kita nggak akan dapat uang sebanyak itu walaupun kamu kerja seumur hidup dengan gajimu yang cuma beberapa juta."
Kalimat terakhir diucapkan begitu ringan.
Arya melihat kemeja kerja yang masih ia kenakan. Pagi tadi, kartu akses kantornya sudah diminta kembali. Surat pemutusan hubungan kerja terlipat di dalam tas, belum sempat ia beritahukan kepada Karina.
Ia kehilangan pekerjaan karena atasannya melempar kegagalan proyek kepadanya. Ia pulang dengan kepala penuh angka cicilan dan cara menyampaikan kabar buruk kepada istri.
Karina menyambutnya dengan harga untuk tubuh dan statusnya.
"Jadi kamu mau menjual suamimu kepada temanmu sendiri?"
Karina langsung mengernyit. "Jangan dibuat jelek begitu. Ini bukan menjual. Cuma meminjam status. Kamu tinggal menikah sama Anindya, tinggal di tempatnya sebentar, lalu bercerai. Setelah itu kita menikah lagi."
"Pernikahan bukan motor yang bisa dipinjamkan."
"Mas!" Karina menepuk meja. Sendok bergetar di samping piring. "Kenapa sih kamu selalu bikin semuanya susah? Anindya nggak suka laki-laki. Semua orang tahu dia anti-nikah. Dia nggak mungkin tertarik sama kamu."
Arya tersenyum tipis, tanpa rasa lucu.
Jadi itu jaminan Karina. Bukan cinta. Bukan kepercayaan. Hanya keyakinan bahwa tidak mungkin ada perempuan seperti Anindya Kusuma yang menginginkan laki-laki biasa seperti dirinya.
"Kalau dia tidak tertarik kepadaku, kenapa bukan kamu saja yang mencarikan pria lain?"
"Karena dia percaya sama aku. Dan aku percaya sama kamu." Karina mendekatkan kursinya. Suaranya melunak, tetapi matanya beberapa kali kembali pada angka di layar. "Dengar, kita punya utang biaya pernikahan. Aku ingin jalan-jalan. Aku juga capek tinggal di apartemen kecil begini. Dengan uang itu kita bisa ganti mobil, pindah rumah, beli barang yang selama ini cuma bisa kulihat di internet."
Kita.
Namun semua hal yang ia sebut adalah keinginannya sendiri.
Selama tiga tahun, Arya menyerahkan hampir seluruh gajinya. Sebelum berangkat kerja, ia menyiapkan sarapan. Seusai pulang, ia mencuci pakaian, membersihkan lantai, dan memijat kaki Karina ketika istrinya mengeluh lelah setelah berbelanja bersama teman-temannya.
Saat Arya ingin membeli stik gim bekas dengan uang lembur, Karina menyebutnya boros.
Saat sepatu Arya robek di bagian tumit, Karina menyuruhnya menambal karena masih bisa dipakai.
Namun satu tas bermerek yang harganya setara enam bulan belanja rumah dianggap kebutuhan.
Arya pernah mengira pengorbanan adalah cara mempertahankan keluarga. Malam ini ia baru mengerti bahwa pengorbanan tanpa batas hanya mengajari orang lain untuk terus mengambil.
"Bagaimana prosesnya?" tanya Arya.
Wajah Karina langsung cerah. "Aku sudah bicara dengan pengacara. Gugatan kita yang kemarin itu tinggal tahap akhir."
Arya mengangkat pandangannya tajam.
"Yang kemarin?"
Karina terdiam sepersekian detik. "Aku... sudah mulai mengurusnya beberapa waktu lalu. Biar cepat. Kamu tinggal tanda tangan dokumen yang kurang. Setelah putusan keluar dan akta cerai terbit, Anindya sudah menyiapkan semuanya."
Dada Arya seperti dipukul dari dalam.
Beberapa minggu terakhir Karina memang berkali-kali menyodorkan map, mengatakan itu hanya pembaruan data pajak dan dokumen kontrakan. Arya menandatanganinya karena percaya.
Kepercayaan itu rupanya dipakai untuk menyiapkan perceraian tanpa sepengetahuannya.
"Kamu sudah mengajukan gugatan sebelum bertanya kepadaku."
"Kalau kutanya dari awal, kamu pasti banyak pertimbangan." Karina memutar mata. "Lagi pula kita akan menikah lagi. Kenapa dipermasalahkan?"
Arya berdiri.
Kaki kursi bergesek dengan lantai. Bunyi kasar itu membuat Karina tersentak.
"Batalkan," kata Arya.
Senyum Karina lenyap. "Apa?"
"Kalau kamu masih menganggap aku suamimu, batalkan semuanya. Hubungi Anindya sekarang. Bilang kepadanya kamu berubah pikiran."
"Nggak mungkin!" Karina mencengkeram ponsel. "Dia sudah janji memberi uang muka enam ratus juta setelah akta cerai keluar. Kesempatan seperti ini cuma datang sekali."
"Aku juga cuma bertanya sekali." Arya menatapnya lurus. "Pilih pernikahan kita atau uang itu."
Karina bangkit. Wajahnya memerah, bukan karena sedih, melainkan marah karena keinginannya dihalangi.
"Jangan sok penting, Mas. Aku melakukan ini demi masa depan kita. Dua bulan saja kamu nggak bisa berkorban? Selama ini aku juga banyak berkorban menikah sama kamu. Aku menolak laki-laki yang lebih mapan. Aku tinggal di apartemen murahan. Aku naik mobil bekasmu."
Setiap kalimat jatuh seperti benda keras di atas meja.
Arya tidak segera menjawab. Ia memandang foto pernikahan mereka sekali lagi. Tiga tahun lalu, ia merasa menjadi pria paling beruntung di Surabaya. Ia bekerja sampai larut, berutang hampir Rp 100 juta untuk biaya pernikahan, dan menganggap semua itu pantas selama Karina bahagia.
Sekarang ia justru tahu nilai dirinya di mata Karina.
Dua bulan.
Rp 2 miliar.
Cukup untuk mencabut janji yang katanya akan bertahan seumur hidup.
"Baik," kata Arya.
Karina berkedip. "Baik apa?"
"Kita cerai."
Kelegaan langsung muncul di wajah Karina. "Nah, begitu dong. Aku tahu Mas bakal mengerti. Besok kita selesaikan sisanya, lalu—"
"Kamu salah paham."
Arya mengambil tas kerjanya dari sofa. Ia mengeluarkan surat PHK, memandangnya sebentar, lalu meletakkannya di atas meja di samping piring yang tak tersentuh.
"Cerai ya cerai, Karina. Tidak ada kata sementara. Tidak ada jaminan aku akan kembali."
Karina tertawa kecil. "Mas mau ke mana memangnya? Kamu bahkan baru kena PHK."
Pandangan Arya turun ke surat itu. Jadi Karina sudah tahu. Mungkin dari rekan kantornya. Ia tahu suaminya pulang sebagai pengangguran, tetapi yang ia pikirkan tetap uang dua miliar.
Sesuatu yang selama ini masih ia pertahankan akhirnya patah tanpa suara.
"Ke mana pun," jawab Arya. "Asal bukan kembali menjadi barang yang bisa kamu sewakan."
Karina melipat tangan di dada. "Silakan marah. Nanti setelah kamu hidup dua bulan di bawah aturan Anindya, kamu juga akan pulang sendiri. Jangan harap aku yang membujuk."
Arya berjalan menuju kamar.
"Mas, makanannya gimana?"
Ia berhenti di ambang pintu, tetapi tidak menoleh.
"Buang saja. Seperti tiga tahun yang kamu anggap tidak ada harganya."
Pintu kamar tertutup.
Di ruang tamu, Karina mendecakkan lidah. Kesunyian hanya bertahan beberapa detik sebelum ia kembali duduk dan membuka halaman pemesanan perjalanan.
Ia membayangkan pantai di Bali, hotel bintang lima, pakaian baru, dan foto-foto yang akan membuat semua temannya iri. Angka Rp 2 miliar memantul di matanya seperti cahaya.
Di balik pintu, Arya duduk di tepi ranjang dengan surat PHK di satu tangan dan cincin pernikahan di tangan lain.
Ia tidak menangis.
Ia hanya meletakkan cincin itu di atas surat pemecatan, lalu mematikan lampu.
Malam itu, Karina sibuk merencanakan perjalanan keliling dunia.
Sementara Arya mengubur pernikahan mereka sendirian.