NovelToon NovelToon
Melarikan Diri Dari Raja

Melarikan Diri Dari Raja

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi / Time Travel
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Saasaa

Esmera, gadis yatim piatu yang dibesarkan oleh pelayan istana, tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah setelah Raja Edris Ruan memilihnya.

Mereka menikah, namun pernikahan itu serasa neraka bagi Esmera. Dan puncaknya, muncul seorang gadis bernama Lyra Arabella, dia mengaku sebagai adik kandung Esmera. Dan akan menggantikan posisi kakaknya sebagai Ratu.

Saat itulah Esmera mengetahui kebenaran yang mengerikan. Pernikahannya dengan Edris bukan sekadar kisah cinta. Dia telah dipersiapkan sejak bayi untuk menjadi pengantin keturunan raja pengkhianat, demi mematahkan kutukan keluarga Raja Edris.

Esmera dibunuh oleh Lyra, adiknya sendiri. Karena Lyra berpikir, jika kakaknya masih hidup, dia akan selalu menjadi yang kedua.

Namun keajaiban itu datang. Esme kembali ke masa lalu, disaat dia belum menjadi Ratu.

Kali ini Esmera tahu apa yang akan terjadi.

Sebelum Raja Edris menemukannya, Esmera akan melarikan diri dan mengubah takdirnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saasaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Esmera

Mata sembabnya masih menatap ke luar jendela, memandangi dedaunan yang perlahan mulai berguguran. Satu per satu daun itu terlepas dari tangkainya, berputar mengikuti hembusan angin sebelum akhirnya jatuh ke tanah.

"Alangkah baiknya jika aku diciptakan menjadi daun saja. Dia tumbuh tanpa perlu memikirkan apa pun. Ketika mulai layu, ia hanya perlu gugur. Setelah itu, semuanya selesai." Gumam Esmera pelan,"Tidak ada perasaan yang harus dijaga. Tidak ada harapan yang harus dipendam. Tidak ada hati yang harus terluka. Tidak memiliki banyak masalah seperti aku."

"Yang Mulia."

Suara seorang pelayan terdengar dari belakang, membuat Esmera sedikit tersentak. Namun wanita itu tidak segera menoleh. Tatapannya masih tertuju pada halaman istana yang dipenuhi daun-daun kering.

"Yang Mulia, Raja memberikan pesan. Jika beliau tidak bisa makan malam bersama, Yang Mulia disuruh makan terlebih dahulu. Tidak perlu menunggu Raja."

Narasi yang sama setiap hari.

Esmera tetap diam, dia sudah muak.

Pelayan itu menunggu beberapa saat, berharap sang ratu memberikan jawaban. Namun ruangan itu kembali dipenuhi keheningan.

"Yang Mulia..."

"Aku mendengarnya." Akhirnya suara lembut Esmera terdengar. Suaranya begitu pelan hingga hampir terdengar seperti bisikan.

"Kau boleh pergi."

Pelayan itu menundukkan kepala."Baik, Yang Mulia."

Setelah memberikan hormat, pelayan tersebut perlahan meninggalkan ruangan dan menutup pintu di belakangnya.

Kini hanya tersisa Esmera seorang diri.

Keheningan kembali menyelimuti ruangan.

Esmera menundukkan kepalanya. Kedua tangannya yang sejak tadi berada di atas pangkuan perlahan mengepal, berusaha menahan sesuatu yang sejak tadi memenuhi dadanya.

Namun pada akhirnya, pertahanannya kembali runtuh. Air mata jatuh membasahi pipinya.

Esmera segera mengusapnya dengan punggung tangan, tetapi percuma. Semakin ia mencoba menahannya, semakin deras air mata itu mengalir."Apa salahku, sehingga aku diperlakukan seperti ini?"

Kadang-kadang ia bertanya dalam hati. Untuk apa Raja Edris menikahinya?

Bukankah seharusnya pernikahan mereka menjadi awal dari kehidupan yang bahagia?

Dulu, Esmera percaya bahwa Raja Edris Ruan mencintainya. Karena bagaimana mungkin seorang raja bersedia mengajukan lamaran kepada seorang gadis yatim piatu seperti dirinya jika tidak memiliki perasaan? Bahkan dia dijadikan Ratu, bukan selir.

Esmera tidak pernah mengenal kedua orang tuanya. Sejak kecil, ia hanya dibesarkan oleh seorang pelayan istana. Ia tumbuh tanpa keluarga bangsawan, tanpa nama keluarga besar, bahkan tanpa kedudukan yang pantas untuk berdiri di sisi seorang raja.

Karena itu, ketika lamaran dari Raja Edris datang, Esmera benar-benar terkejut. Ia bahkan sempat berpikir bahwa dirinya sedang bermimpi. Namun lamaran itu nyata.

Dan sebagai seorang gadis yang tidak memiliki alasan untuk menolak seorang raja, Esmera akhirnya menerimanya. Dia pikir, mungkin inilah takdir baik yang selama ini diberikan kepadanya.

Dia akan menikah dengan pria yang mencintainya.

Dia akan memiliki keluarga.

Dia akan memiliki tempat untuk pulang.

Sayangnya, kenyataan justru jauh berbeda.

Ketika hari pernikahan mereka tiba. Saat berdiri di hadapan seluruh bangsawan kerajaan, Esmera menatap pria yang resmi menjadi suaminya.

Raja Edris Ruan.

Pria dengan wajah rupawan khas keluarga Ruan. Rahangnya tegas, hidungnya tinggi, dan tatapannya selalu terlihat dingin. Bahkan ketika berdiri diam tanpa melakukan apa pun, auranya tetap begitu kuat hingga membuat orang-orang di sekitarnya enggan mendekat.

Esmera sendiri justru terjatuh pada pesonanya. Semakin lama memandang Edris, semakin sulit baginya mengalihkan pandangan.

Mungkin itulah awal dari kebodohannya.

Karena sejak hari itu, hanya Esmera yang benar-benar jatuh ke dalam pernikahan mereka.

Hanya Esmera yang mulai berharap.

Hanya Esmera yang menunggu.

Dan hanya Esmera yang perlahan-lahan menyadari bahwa pria yang menikahinya sama sekali tidak menunjukkan ketertarikan kepadanya.

Setelah pernikahan selesai, Edris tetap menjalankan kehidupannya seperti biasa. Dia sibuk dengan urusan kerajaan.

Rapat.

Pertemuan dengan para bangsawan.

Urusan militer.

Masalah perbatasan.

Sementara Esmera hanya menjadi seseorang yang tinggal di istana dan menyandang gelar Ratu. Awalnya Esmera mencoba memahami. Mungkin Edris memang terlalu sibuk. Mungkin ia membutuhkan waktu.

Mungkin setelah mereka lebih lama bersama, perasaan itu akan tumbuh. Namun hari berganti hari. Minggu berganti minggu. Bahkan bulan pun berlalu. Sikap Edris tidak berubah sedikit pun.

Pria itu tetap dingin. Tetap datar. Tetap mengabaikan keberadaan Esmera seolah wanita itu tidak pernah benar-benar menjadi bagian dari hidupnya.

Esmera bahkan sempat bertanya-tanya apakah Raja Edris salah orang ketika memilihnya?

Kenapa dirinya? Jika Edris tidak mencintainya, mengapa harus menikahinya? Jika Edris tidak menginginkannya, mengapa mengajukan lamaran?

Pertanyaan itu terus menghantui Esmera sampai malam paling menyesakkan itu pun tiba, malam dimana Esmera mengumpulkan seluruh keberaniannya.

Esmera duduk di tepi ranjang dengan kedua tangan saling menggenggam erat. Jantungnya berdetak begitu kencang.

Sementara Edris berdiri tidak jauh darinya. Pria itu tampak seperti biasa, dengan ekspresi wajah datarnya.

Esmera menarik napas panjang. Ia tahu mungkin dirinya tidak seharusnya bertanya. Namun jika tidak bertanya malam itu, mungkin ia tidak akan pernah mendapatkan jawabannya."Yang Mulia..."

Edris menoleh.

Esmera menatap wajah suaminya. Ada keraguan yang jelas terlihat di matanya."Kenapa Yang Mulia memilihku?"

Ruangan itu mendadak hening.

Edris tidak langsung menjawab. Pria itu hanya diam, memperhatikan wajah sayu istrinya.

Esmera menunggu.

Namun Edris masih diam. Hingga akhirnya, bibir pria itu bergerak."Yang memilihmu itu takdir."

Esmera mengerjapkan matanya.

Edris menatapnya tanpa ekspresi."Bukan aku."

Dada Esmera terasa seperti dihantam sesuatu. Ia tidak menyangka jawaban yang keluar dari mulut pria itu akan terasa jauh lebih menyakitkan daripada penolakan.

Takdir? Jadi selama ini bukan karena Edris menginginkannya? Bukan karena Edris memiliki perasaan kepadanya?

Lalu untuk apa semua ini? Esmera bahkan belum sempat mengatakan apa pun ketika Edris berbalik. Pria itu berjalan menuju pintu tanpa menoleh sedikit pun.

***

Sejak malam yang menyakitkan itu, Esmera merasa hidupnya seperti berada di dalam neraka.

Hari-hari yang seharusnya menjadi kehidupan bahagia seorang Ratu, justru terasa seperti hukuman yang tidak pernah berakhir. Istana yang megah, kamar yang luas, pakaian indah, serta mahkota yang bertengger di atas kepalanya tidak mampu membuat hatinya merasa lebih baik.

Sebab satu hal yang paling diinginkan Esmera tidak pernah dia miliki. Cinta dari suaminya.

Dia tahu dirinya tidak diinginkan oleh Edris. Pria itu bahkan nyaris tidak pernah memandangnya sebagai seorang istri. Namun, Esmera tidak bisa berbalik dan pergi begitu saja.

Dia adalah Ratu.

Ada tanggung jawab yang melekat pada gelar itu. Ada kerajaan yang harus dia jaga, ada rakyat yang harus dia layani, dan ada pernikahan yang sejak awal telah mengikat hidupnya dengan Raja Edris Ruan.

Jadi, meskipun hatinya berkali-kali meminta untuk menyerah, Esmera tetap bertahan. Hingga tanpa terasa, usia pernikahan mereka telah memasuki tahun pertama.

Namun, bukannya mendapatkan kehidupan yang lebih baik, masalah baru justru muncul. Esmera belum juga hamil.

Awalnya hanya beberapa pelayan yang berbisik-bisik di belakangnya. Kemudian para bangsawan mulai membicarakannya. Lalu kabar itu menyebar ke seluruh istana.

Ratu belum juga memberikan seorang pewaris kepada Raja. Setiap kali Esmera berjalan melewati lorong istana, dia bisa merasakan tatapan orang-orang yang diam-diam mengarah kepadanya.

Ada yang kasihan.

Ada yang mencibir.

Ada pula yang terang-terangan menyalahkannya.

"Sudah setahun, tetapi Ratu belum juga mengandung."

"Jangan-jangan tubuh Ratu memang tidak bisa memberikan keturunan."

"Kalau begitu, bagaimana dengan pewaris kerajaan?"

Bisikan-bisikan itu terdengar jelas di telinga Esmera. Namun, dia tidak pernah bisa membela dirinya. Dia hanya mampu menundukkan kepala dan terus berjalan seolah tidak mendengar apa pun.

Padahal, di dalam hatinya, Esmera ingin sekali berteriak. Ingin sekali membalas semua perkataan mereka.

Bagaimana mungkin aku bisa hamil? Bagaimana mungkin aku memberikan seorang pewaris kepada kerajaan ini jika suamiku sendiri bahkan belum pernah menyentuhku?

Tidak ada seorang pun yang tahu kenyataan itu. Dan Esmera tidak mungkin mengatakannya.

Bagaimana mungkin seorang Ratu mengumumkan kepada seluruh kerajaan bahwa pernikahannya hanya sebatas nama?

Maka Esmera memilih diam. Dia menelan semua hinaan itu sendirian.

Menangis sendirian.

Menderita sendirian.

Seperti hari ini.

Mata Esmera kembali sembab. Kelopak matanya bahkan masih terasa berat akibat menangis semalaman. Dia duduk di depan meja rias, menatap pantulan dirinya sendiri di cermin.

Wajah yang biasanya terlihat anggun kini tampak begitu pucat dan lelah. Yang tersisa hanyalah seorang wanita yang perlahan-lahan kehilangan harapan.

Tangannya terangkat, menyentuh wajahnya sendiri."Kenapa aku masih bertahan? Kenapa aku bodoh sekali?" Suara Esmera bergetar."Kapan ini semua berakhir? Andai waktu bisa diulang kembali?"

Pertanyaan itu tidak pernah mendapatkan jawaban. Kemudian pikirannya kembali pada kabar yang dia dengar kemarin.

Edris akan mengambil seorang selir.

Bukan karena cinta.

Melainkan karena Ratu yang dinikahinya selama setahun tak kunjung memberikan keturunan. Kabar itu terasa seperti pisau yang kembali ditancapkan tepat ke luka yang belum sempat sembuh.

Esmera sudah tahu bahwa Edris tidak mencintainya. Namun, mendengar pria itu akan mengambil wanita lain tetap membuat dadanya terasa sesak.

Ternyata mengetahui dirinya tidak dicintai masih belum seberapa menyakitkan dibandingkan mengetahui bahwa tempatnya sebagai seorang istri akan digantikan oleh wanita lain.

Air mata yang sejak tadi berusaha dia tahan kembali jatuh. Esmera menutup wajahnya dengan kedua tangan. Bahu kecilnya bergetar menahan tangis.

Dia ingin marah.

Ingin membenci Edris.

Ingin pergi dari istana ini.

Tetapi tidak ada satu pun yang bisa dia lakukan.

Karena di balik mahkota yang dikenakannya, Esmera tetaplah seorang wanita yang tidak memiliki kuasa atas hatinya sendiri.

Dan malam itu, untuk pertama kalinya Esmera bertanya-tanya. Jika menjadi seorang Ratu berarti harus terus hidup seperti ini, sampai kapan dia sanggup bertahan?

1
Yuliana Hakim
jangan lama2 up'nya thor..
Saasaa: siap, aku usahain ya...
total 1 replies
Natasya
👌
cleona
lanjut
cleona
lanjut please..
Saasaa: Sudah di up ya, makasih udah baca
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!