Kiamat zombie mungkin itu hanya cerita film dan dalam buku. Tapi bagaimana jadinya jika itu terjadi?
Itu yang dirasakan oleh Hayden Vihaan pria berusia dua puluh lima tahun yang terjebak dalam kiamat zombie. Dia yang dari dulu di rawat oleh kakeknya seorang ilmuan sudah memang mempersiapkan semuanya. Kendaraan yang bisa di tumpangi enam orang di sulap menjadi mobil ajaib yang memiliki sistem pertahanan yang kuat. Tidak hanya mobilnya tapi villa yang memiliki bangker dan pertahanan sama kuatnya.
Bagaimana cerita selanjutnya yuk simak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jumarlin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Cairan keemasan itu mengalir cepat ke dalam pembuluh darah Hayden. Seketika, kejang di tubuhnya mereda dan warna kehitaman di lehernya memudar perlahan, menggantikan rasa panas yang membakar dengan sensasi dingin yang menenangkan.
Namun, Dr. Helena yang memeriksa monitor medis portabel mendadak menegang saat membaca grafik analisis darah Hayden.
"Darahnya berinteraksi secara aneh..." bisik Dr. Helena, matanya menatap layar dengan cemas. "Virus Genesis-X ini tidak dirancang untuk mengubah korbannya menjadi Zombie Muatan yang membusuk, Fiora. Ini racun mutasi laten."
Fiora menyapu keringat di dahi Hayden seraya mengusap pipi suaminya yang perlahan kembali memerah. "Maksudmu apa, Helena?"
"Virus ini membiarkan inangnya tetap berakal dan berwujud manusia," jelas Dr. Helena tegang. "Tapi virus itu menancapkan kode genetik parasit di sel otaknya. Tanpa suntikan berkala dari vaksin Genesis untuk menekan mutasinya, racun itu bisa terpicu sewaktu-waktu oleh emosi ekstrem atau lonjakan adrenalin—mengubah Hayden menjadi mutan tempur tanpa kendali dalam hitungan detik."
Hayden perlahan membuka matanya. Ia menatap Fiora yang berlutut di sampingnya, lalu beralih menatap tangannya sendiri yang sempat menghitam. Ia bisa merasakan keberadaan racun asing itu—sebuah ancaman terselubung yang kini bersembunyi di dalam aliran darahnya sendiri.
Dion melangkah mendekat, menyodorkan tangannya untuk membantu Hayden bangkit berdiri. "Artinya, kita nggak cuma membawa harapan buat dunia, tapi juga membawa kunci untuk menjaga Hayden tetap menjadi manusia."
Hayden menggenggam erat koper baja berisi sisa tabung vaksin Genesis di tangan Fiora, lalu menatap seluruh rekannya satu per satu—Fiora, Dr. Helena, Dion, serta Leo dan Maya yang memperhatikan dari balik pintu gerbang.
"Selama kita punya vaksin ini, aku akan tetap bertahan," kata Hayden, suaranya kembali berat dan mantap. "Aegis mungkin berhasil menanamkan racun mereka di tubuhku, tapi kita yang memegang penawarnya."
……
Tiga tahun berlalu sejak transmisi sinyal Genesis dipancarkan dari puncak Benteng Relay. Dunia yang tadinya berada di ambang kemusnahan perlahan mulai pulih. Distribusi massal formula vaksin yang disintesis oleh laboratorium-laboratorium penyintas di seluruh planet berhasil menghentikan penyebaran infeksi, membasmi gelombang Zombie Muatan hingga ke sarang terakhirnya.
Di sebuah laboratorium riset independen yang dibangun di kawasan hijau Sektor Utara, Dr. Helena terus bekerja tanpa kenal lelah. Di bawah mikroskop elektron, sampel darah Hayden menunjukkan dinamika yang kompleks—*Virus Genesis-X* di dalam tubuhnya tidak pernah benar-benar lenyap, melainkan terus beradaptasi dan mencoba berevolusi.
"Mutasi selularnya kembali bergejolak pagi ini," ujar Dr. Helena seraya mencatat data pada layar pemantau genetik.
Hayden duduk di kursi pemeriksa, membiarkan Dr. Helena menyuntikkan dosis supresan terstabilkan dari ekstrak vaksin Genesis. Begitu cairan keemasan itu masuk, warna kehitaman yang sempat menjalar tipis di leher Hayden langsung menyusut dan menghilang.
Fiora melangkah mendekat, menggenggam jemari Hayden seraya menatap layar pemantau. Kehadiran Maya dan Leo yang kini tumbuh sehat di lingkungan yang aman menjadi pengingat bahwa perjuangan mereka tidak sia-sia.
"Bagaimana kondisinya, Helena?" tanya Fiora tenang.
"Suntikan berkala ini berhasil menahan evolusinya agar Hayden tetap sepenuhnya menjadi manusia," jawab Dr. Helena. "Tapi yang lebih penting, dari struktur mutasi terisolasi di tubuh Hayden, kita berada sangat dekat untuk menemukan penawar absolut yang akan memusnahkan racun Genesis-X ini sampai ke akar-akarnya."
Hayden mengepalkan tangannya yang kini stabil, lalu menatap Fiora dengan senyum tipis. Perang melawan Aegis dan bencana zombie memang telah usai, namun perjuangan mereka untuk saling menjaga dan menyembuhkan Hayden sepenuhnya baru saja memasuki babak akhir.
……
Dua bulan setelah pengujian sampel darah terakhir, Dr. Helena memanggil Fiora ke laboratorium ruang dalam secara tertutup. Di atas meja kerja yang bersih dari alat rekayasa virus, kini terletak sebuah pemindai medis portabel dan berkas analisis biometrik terbaru.
"Aku sudah memeriksa ulang sampel darah dan hormonalmu sampai tiga kali, Fiora," ujar Dr. Helena dengan binar mata yang tak mampu menyembunyikan rasa haru. Ia memutar layar pemindai ke arah Fiora, menampilkan grafik detak jantung halus yang berdenting stabil. "Tubuhmu... rahimmu telah pulih sepenuhnya pascatragedi Oase."
Fiora terpaku, jemarinya bergetar perlahan menutupi mulutnya saat menyadari arah pembicaraan tersebut.
"Kamu hamil, Fiora," bisik Dr. Helena lembut. "Usianya baru empat minggu. Dan yang paling mengejutkan... rekayasa genetika alami dari vaksin Genesis dalam darahmu tidak hanya melindungi janin ini dari segala ancaman mutasi, tapi juga memperkuat sistem imunnya."
Air mata Fiora menetes tanpa bisa ditahan—sebuah kebahagiaan yang membuncah di atas puing-puing duka masa lalu.
Sore itu, di bukit belakang fasilitas riset yang menghadap ke arah lembah Sektor Utara yang mulai menghijau, Hayden berdiri sendirian menatap matahari terbenam. Angin dingin berembus pelan, menenangkan gejolak racun Genesis-X yang terkunci rapat di dalam dadanya.
Fiora berjalan perlahan dari belakang, menyandarkan kepalanya di bahu tegap Hayden dan melingkarkan kedua tangannya di pinggang suaminya.
"Ada yang ingin kusampaikan, Hayden," bisik Fiora hangat di dekat telinga Hayden.
Hayden memegang jemari istrinya, menoleh pelan dengan tatapan teduh. "Ada apa?"
Fiora mengambil tangan Hayden, membimbing jemari kasar pria itu turun dan meletakkannya tepat di atas perutnya yang masih rata.
"Kehidupan baru sedang tumbuh di sini," kata Fiora dengan suara bergetar penuh rasa syukur. "Kita akan menjadi orang tua, Hayden."
Hayden membeku seketika. Matanya membelalak, menatap Fiora seolah tak percaya pada keajaiban yang baru saja ia dengar. Rasa takut akan racun mutasi dalam dirinya mendadak sirnah, digantikan oleh kehangatan luar biasa yang menjalar ke seluruh tubuhnya.
Dengan perlahan dan penuh kehati-hatian, Hayden berlutut di hadapan Fiora, menempelkan dahinya di perut istrinya seraya merengkuh pinggang Fiora rapat-rapat. Di tengah perbatasan dunia yang baru pulih, sebuah harapan paling murni resmi hadir melengkapi takdir mereka.
Pelukan Hayden memerat di pinggang Fiora. Untuk pertama kalinya sejak infeksi *Virus Genesis-X* bersarang di tubuhnya, Hayden merasakan helaan napas yang benar-benar lega. Bayangan kelam tentang kehancuran Oase dan ketakutan akan mutasi biologis mendadak memudar, tergantikan oleh harapan nyata yang berdetak di dalam rahim Fiora.
"Terima kasih... Fiora," bisik Hayden parau, menengadahkan kepala dengan mata yang berkaca-kaca. Ia bangkit berdiri, merengkuh Fiora erat ke dalam dekapan hangatnya.
Dari balik pintu kaca beranda, Leo dan Maya berlari kecil mendekati mereka. Maya yang memegang boneka kain kumal menatap kedua orang tua angkatnya dengan polos, sementara Leo menyunggingkan senyum lebar seolah sudah menebak kabar bahagia tersebut.
"Tante Fiora kenapa menangis?" tanya Maya pelan, mendongak menatap Fiora.
Fiora berlutut, mengusap lembut pipi Maya lalu menggandeng tangan Leo. "Tante menangis karena bahagia, Maya. Sebentar lagi... kalian berdua bakal punya adik bayi."
Mata Maya membelalak penuh binar, langsung memeluk leher Fiora dengan riang. Leo tertawa gembira, melompat kecil seraya menepuk pundak Hayden. "Aku bakal jadi kakak yang kuat buat jagain mereka berdua, Om!"
Malamnya, suasana di dalam pos riset terasa hangat. Dion menyajikan hidangan sederhana hasil buruan dan budidaya tanaman lokal, sementara Dr. Helena bergabung membawa berkas riset terbarunya.
"Kabar kehamilan ini bukan cuma berkah buat kalian," ujar Dr. Helena seraya meletakkan salinan grafik DNA di atas meja makan. "Interaksi antara sel darah Fiora yang membawa respon antibodi vaksin dengan janin ini menunjukkan sesuatu yang luar biasa. Janin ini memproduksi protein alami yang bisa memicu regenerasi sel murni."
Hayden menaikkan sebelah alisnya, menghentikan aktivitasnya membakar kayu di perapian. "Maksudmu?"
"Protein alami yang dihasilkan janin dalam rahim Fiora bisa kita gunakan sebagai katalisator utama," jelas Dr. Helena mantap. "Ini kepingan puzzle terakhir yang selama ini kucari. Dengan ekstrak katalis ini, aku bisa menyempurnakan penawar absolut untuk memusnahkan *Virus Genesis-X* dari tubuhmu, Hayden. Selamanya."
Hayden menatap Fiora yang tersenyum lembut di Across meja. Kehidupan baru yang hadir di antara mereka tak hanya menjadi pelipur duka masa lalu, melainkan menjadi kunci penyembuhan total bagi Hayden untuk menjalani masa depan sebagai seorang ayah seutuhnya.