NovelToon NovelToon
Mas Abi Dan Dua Anak Bandelnya

Mas Abi Dan Dua Anak Bandelnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Duda / Diam-Diam Cinta
Popularitas:14.2k
Nilai: 5
Nama Author: Hanela cantik

"Mas Akball itu mobilan Aqil balikin ngga!" teriak sebuah suara cempreng dari arah ruang tengah.

"Bukan! Ini punya Mas Akbar! Kemarin Aqil udah main yang warna merah, sekarang Mas yang biru!" balas Akbar

Sejak perceraiannya tiga tahun lalu, Abi memang mantap untuk tidak mempekerjakan ART. Ia ingin merawat dan membesarkan kedua buah hatinya dengan tangannya sendiri, meski statusnya sebagai duda beranak dua sering kali menguras energi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Drama Pagi

"Mas Akball itu mobilan Aqil balikin ngga!" teriak sebuah suara cempreng dari arah ruang tengah.

Itu suara Aqil, si bungsu berusia tiga tahun yang bicaranya masih sangat cadel.

"Bukan! Ini punya Mas Akbar! Kemarin Aqil udah main yang warna merah, sekarang Mas yang biru!" balas Akbar

Abimanyu pria keturunan Jawa berusia 29 tahun itu, sedang sibuk bergelut dengan spatula dan wajan. Bau gurih nasi goreng mentega buatan tangannya mulai memenuhi ruangan. Sejak perceraiannya tiga tahun lalu, Abi memang mantap untuk tidak mempekerjakan ART. Ia ingin merawat dan membesarkan kedua buah hatinya dengan tangannya sendiri, meski statusnya sebagai duda beranak dua sering kali menguras energi.

Padahal, secara finansial, Abi jauh dari kata kekurangan. Sebagai pemilik hektaran lahan sawah hijau yang membentang di desa, ia tak perlu memeras keringat mencangkul tiap hari. Abi adalah tipe tuan tanah modern; ia mempekerjakan belasan warga lokal dan hanya sesekali turun ke sawah untuk mengecek hasil panen. Tapi untuk urusan rumah tangga? Abi adalah buruh bagi kedua anak laki-lakinya.

"Ndak mau! Aqil mau yang bilu! Mas Akball nakal! Minta Ayah ental!" ancam Aqil seraya menghentakkan kakinya ke lantai.

"Aduh..." Abi memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut. Tangan kanannya masih memegang spatula.

Tak berselang lama, bunyi bak-bik-buk pertengkaran fisik skala kecil mulai terdengar, diselingi tangisan melengking Aqil dan omelan Akbar. Dua bocah itu ibarat minyak dan api, jarang sekali bisa akur lebih dari lima menit.

Abi menghembuskan napas panjang. Ia mematikan kompor gas, membalikkan badan, lalu berjalan mendekati batas dapur dan ruang tengah. Pria itu menyilangkan dada, menatap kedua anaknya yang kini sedang tarik-tarikan mainan truk plastik warna biru.

Uhuk! Uhuk-uhuk!

Abi sengaja membatukkan dirinya dengan sangat keras. Suaranya bergema di dalam rumah kayu yang tenang itu, cukup untuk memotong keributan di depan mata.

Seketika, gerakan tarik-menarik itu terhenti.

Akbar dan Aqil membeku. Kedua pasang mata bulat itu perlahan menoleh ke arah sumber suara. Di sana, berdiri ayah mereka dengan wajah datar, alis terangkat sebelah, dan apron gambar ayam jago yang masih terpasang di dada.

"Masih mau lanjut tanding gulatnya?" suara Abi terdengar tenang.

"Kalau masih mau berantem, sarapan nasi gorengnya Ayah kasih ke ayam di belakang."

Aqil langsung melepas mainannya hingga Akbar hampir terjengkang ke belakang. Pipi tembam si bungsu maju beberapa senti, mengembung lucu.

"Mas Akball nakal, Yah..." adu Aqil pelan, suaranya mencicit sambil menunjuk kakaknya dengan jari mungilnya.

"Aqil yang duluan, Yah! Aqil rebut punya Mas!" sangkal Akbar tidak terima, meski suaranya sudah dipelankan.

Abi menggelengkan kepala, helaan napas pasrah lolos dari bibirnya. Pusing di kepalanya belum hilang, tapi melihat dua wajah polos yang belepotan air mata dan bekas liur itu, rasa lelahnya menguap begitu saja.

"Cuci tangan dua-duanya. Sekarang," perintah Abi tegas. "Kalau ada yang teriak lagi, Ayah sita semua mainannya seminggu."

"Iya, Ayah..." sahut keduanya kompak, lalu berebut berlari menuju wastafel, dan tentu saja, kembali saling dorong secara sembunyi-sembunyi agar bisa cuci tangan duluan.

Abi hanya bisa menyunggingkan senyum tipis. Menjadi duda di usia muda dengan dua anak bawel memang tidak ada dalam rencana hidupnya, tapi setiap harinya, riuh rendah inilah yang membuat rumah besarnya terasa bernyawa.

"Yah..." panggil Aqil tiba-tiba. Mulut kecilnya masih penuh mengunyah nasi, membuat pipinya mengembung bulat.

"Ditelan dulu bicaranya, Cil. Nanti tersedak," tegur Abi lembut sembari menyodorkan gelas berisi air putih.

Aqil menelan nasinya cepat-cepat, lalu menatap ayahnya dengan mata berbinar. "Nanti Ayah mau ke sawah ya?"

"Iya," jawab Abi santai sambil mengambil sendoknya sendiri. "Nanti kalian sama Nenek aja di rumah. Nenek sebentar lagi datang."

Mendengar ucapan sang ayah, sendok plastik di tangan Akbar seketika berhenti mengudara.

"Ndak mau! Aqil mau ikut ke sawah!" potong si bungsu cepat.

"Akbar juga mau ikut, Yah!" timpal sang kakak tak mau kalah. Ia langsung menegakkan punggungnya, menatap Abi dengan pandangan menuntut. "Kemarin Ayah janji mau liat burung di sawah!"

Abi menghela napas, mengelus dadanya pelan. Pertengkaran mainan baru saja usai, dan kini kompromi baru harus dimulai.

"Sawah lagi becek, Mas, Adik. Nanti baju kalian kotor semua," kilih Abi mencoba memberi pengertian. "Di rumah aja sama Nenek, nanti Nenek buatkan kue cubit kesukaan kalian."

"Ndak mau kue! Mau ikut Ayah liat capung!" rengek Aqil mulai memajukan bibirnya.

"Iya, Yah! Akbar janji gak bakal lari-lari! Biar Akbar yang jagain Aqil!" janji Akbar mantap, padahal lima menit lalu dialah yang membuat adiknya menangis meraung-raung.

Abi memandangi kedua wajah mungil di depannya bergantian. Tatapan memohon dari empat bola mata yang mirip sekali dengan matanya itu selalu berhasil meruntuhkan pertahanan ketat seorang Abimanyu.

"Benar mau ikut?" tanya Abi, alisnya terangkat.

Kedua bocah itu mengangguk cepat bak burung pelatuk.

"Gak pakai berantem? Gak pakai nangis?"

"Janji!" seru Akbar dan Aqil serempak.

Abi menyunggingkan senyum tipis, menggeleng pasrah. "Ya sudah. Habiskan sarapannya dulu. Kalau nasinya gak habis, Ayah tinggal di rumah."

Dalam hitungan detik, kedua bocah itu langsung menyendok nasi goreng mereka.

Piring nasi goreng di meja makan kini sudah bersih tanpa sisa. Demi bisa ikut sang ayah ke sawah, Akbar dan Aqil mendadak jadi anak paling penurut se kecamatan.

Beberapa saat kemudian, kedua bocah itu sudah berdiri tegap di teras rumah kayu mereka. Akbar memakai sepatu bot karet berwarna kuning dan topi caping berukuran kecil yang menutupi setengah kepalanya. Sementara Aqil memakai topi kupluk rajut bergambar karakter kartun favoritnya, lengkap dengan tas ransel kecil kosong yang digendong miring di punggung.

Brummm... Brummm...

Suara derum mesin motor Supra legendaris milik Abi bergema di halaman. Abi sengaja memanaskan motornya terlebih dahulu. Pria itu sudah bersiap dengan kaus oblong hitam, celana kain longgar yang digulung hingga bawah lutut, serta caping lebar yang tergantung di punggungnya.

"Sini helmnya dipakai dulu," panggil Abi dari atas motor, melambaikan tangan ke arah dua jagoannya.

"Aqil mau duduk di depan, Yah!" seru Aqil sambil berlari kecil, menghentakkan kakinya yang terbungkus sandal jepit berwarna biru.

"Nggak bisa! Akbar yang di depan, Aqil kan masih kecil!" bantah Akbar, ikut berlari menyusul adiknya.

"Ssst! Katanya tadi janji nggak pakai berantem?" potong Abi.

Ia Merengkuh tubuh Aqil lalu mengangkatnya naik ke bagian depan jok motor. "Adik di depan biar nggak jatuh. Mas Akbar di belakang, pegangan baju Ayah yang kencang. Paham?"

"Paham, Yah..." jawab Akbar sedikit cemberut, tapi tetap menuruti perintah ayahnya dan memanjat naik ke jok belakang.

"Lho, lho, lho... mau pada ke mana ini cucu-cucunya Ibu? Kok sudah rapi begini?" tanya Bu Marni, ibu kandung Abi alias nenek dari kedua bocah itu.

"Nenek!" seru Akbar dan Aqil bersamaan.

"Nenek! Akball mau ikut Ayah ke sawah liat bulung!" adu Aqil bangga, jarinya menunjuk-nunjuk ke arah jalan raya.

Bu Marni terkekeh pelan, mendekati motor lalu mengelus lembut pipi tembam Aqil. Ia menatap anak laki-lakinya yang sedang memegangi stang motor.

"Bi, kok diajak ke sawah kabeh? Sawah kan lagi becek habis hujan semalam, nanti kotor semua bajunya," ujar Bu Marni khawatir. "Tadi kan rencananya mau Ibu jaga di rumah saja."

Abi mengulas senyum tipis, menggeleng pasrah ke arah ibunya. "Sudah merengek dari pas sarapan tadi, Bu. Daripada nangis meraung-raung di rumah bikin Ibu pusing, ya sudah tak bawa sekalian. Nanti tak awasi di gubuk."

Bu Marni mendesah pelan namun tersenyum maklum. Ia paham betul kelakuan kedua cucunya yang sangat menempel pada ayahnya itu sejak perceraian Abi tiga tahun lalu.

"Ya sudah kalau begitu. Ingat lho, Bi, jangan sampai main ke pinggir pematang sawah yang dalam. Jangan ditinggal-tinggal," pesan Bu Marni penuh kasih sayang. Ia lalu menatap kedua cucunya dengan nada bercanda.

"Awas ya kalau nakal sama Ayah, nanti Nenek nggak buatkan kue cubit!"

"Gak nakal, Nenek! Aqil anak baik!" sahut Aqil cepat.

Abi terkekeh pelan. "Ya sudah, Bu. Abi jalan dulu ya, mau ngecek pembajakan lahan sebelah timur."

"Iya, hati-hati di jalan. Nanti siang Ibu antarkan makan siang ke gubuk," balas Bu Marni.

1
Elly Maryani
mas Abi diam" suka neng Kayla nih... gercep bgt... mau ngapain mas nanti lebaran haji kerumah neng Kayla?🤭😅😂
Fitri Yah
hahahaa .. iso ae ni mas abi 😄
Lisa
Cocok banget nih Abi & Kayla 👍👍😊
D_wiwied
wehehe mas Abi dah mulai berani ya,, godain Kayla terus tuh sampe merah merona wajahnya 😁😆
D_wiwied: masih malu2 tuh mereka
total 2 replies
D_wiwied
sudah tau pas-pas an aja masih kami kejar Din, ga ada harga diri banget sih, gatau diri jg ya kamu
D_wiwied
cieee mas duda senyum2 sendiri pasti keinget kejadian tadi di pematang sawah ya kaaan, awas ati2 lho mas bentar lg bakal muncul benih2 ikan eeh benih2 cinta 😆🤣🤣
D_wiwied
wehh ternyata mas duda bisa bercanda jg ya, malah godain kayla.. gek dibantuin mas jangan digodain terus 😆😂
D_wiwied
kakak Kayla panutan, mas Akbar aja bs nurut.. pertanyaannya kamu dah siap blm Kay seandainya jd ibu mereka 😆😁
Lisa
Abi ini Kayla jatuh malah digodain sih..
Fitri Yah
hahahhaa ...
Fitri Yah
good bi .... hempaskan wanita itu jauh2 👍👍
D_wiwied
jangan2 si mantan nih
D_wiwied
ya ampun kenapa ada bawang dimatakuuu 😭😭😭
Lisa
Mantan istrinya Abi ini seenaknya aj mau mengambil Akbar & Akil..jelas aj Abi g mengijinkan..
D_wiwied
cieee yg khawatir, lupa deh kalo lg ngambek 😆😆
D_wiwied
wkwkwk pengen ketawa liat kelakuan anak2 nya mas Abi tp ntar si Aqil mlh nangis kenceng lagi 😆😆🤣🤣🤣
Sartini 02
bagus jalan ceritanya, sering2 up ya
Lisa
Cpt sembuh y Akil..
Fitri Yah
jadi sediihh bacanya /Sweat/
falea sezi
lanjut cpet nikah sat set
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!