NovelToon NovelToon
Menjadi Antagonis, Tapi Suamiku Terlalu Protektif

Menjadi Antagonis, Tapi Suamiku Terlalu Protektif

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: ayu gerimis

Aku terbangun dan menyadari dirinya telah berpindah menjadi Freya, tokoh antagonis yang kejam, sombong, dan ditakdirkan berakhir tragis — dibenci semua orang, diceraikan dengan hina, dan mati muda. Yang lebih menyulitkan: aku memiliki suami, pria tampan namun dingin yang dalam cerita aslinya tak pernah menyayangi Freya dan justru ikut menghancurkannya.

Aku bertekad mengubah takdir. Aku tak ingin berakhir mati. Namun setiap kali aku mencoba bersikap jahat sesuai watak asli Freya demi tidak dicurigai, sang suami justru bersikap sebaliknya.

Orang lain mencela aku? Ia langsung membela dengan tajam.
Aku hanya sedikit terluka? Ia panik seolah nyawaku terancam.
Aku mencoba menjauh? Ia justru menarikku masuk ke dalam pelukannya dan melarang pergi.

"Siapa pun yang berani menyakiti isteriku, harus siap menghadapi aku," ucapnya dengan sorot mata tajam yang tak pernah kulihat dalam cerita aslinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2: Perubahan yang Tak Terduga

Malam itu aku nyaris tak bisa memejamkan mata. Sepanjang waktu, pikiranku terus dipenuhi isi cerita yang kubaca, serta takdir kelam yang menanti diriku—atau tepatnya, menanti Freya. Cahaya bulan yang menembus tirai jendela tampak pucat, seolah ikut merasakan kecemasan yang membelenggu dadaku. Setiap kali teringat akhir hidup wanita ini, napasku terasa tercekik. Namun aku terus menguatkan hati: kali ini semuanya akan berbeda. Aku tidak akan membiarkan diriku berakhir hancur, sendirian, dan penuh penderitaan.

Saat fajar menyingsing, aku sudah berdiri di depan cermin. Wajah cantik itu masih sama, namun sorot matanya kini tak lagi dingin dan sombong. Ada ketakutan, namun lebih dari itu—ada tekad yang mulai tumbuh. Aku harus berhati-hati. Setiap kata, setiap gerak-gerikku, semuanya akan diperhatikan. Jika aku berubah terlalu drastis, orang akan curiga. Terutama Arga.

Sesuai kebiasaan di novel aslinya, pagi-pagi sekali pelayan datang mengetuk pintu untuk membantuku bersiap. Biasanya Freya akan menyambut mereka dengan bentakan dan kata-kata kasar, menolak dibantu, lalu pergi sendiri dengan wajah cemberut dan penuh amarah.

Tapi kali ini, saat pelayan itu membungkuk hormat dan berkata, "Nyonya, izinkan kami membantu Anda bersiap," aku hanya mengangguk pelan, lalu tersenyum tipis. "Terima kasih. Kalian boleh masuk."

Kedua pelayan itu seketika terdiam, saling berpandangan dengan mata terbelalak. Wajah mereka tampak tak percaya, seolah mendengar hal yang paling mustahil di dunia. Selama ini, Freya tak pernah sekalipun berterima kasih pada mereka, apalagi tersenyum.

Aku pura-pura tak menyadari keterkejutan mereka, lalu membiarkan mereka menyisir rambut dan mendandani diriku dengan tenang. Hanya saja, setiap kali tangan mereka gemetar karena takut salah, aku akan berucap pelan, "Tenang saja. Tidak apa-apa. Lakukan sesuka hati kalian."

Kini keterkejutan mereka berubah menjadi kebingungan yang mendalam. Namun tak ada yang berani bertanya. Setelah selesai, aku berjalan menuju ruang makan dengan langkah yang teratur, berusaha menenangkan jantung yang berdegup kencang.

Di meja makan yang panjang dan megah itu, Arga sudah duduk. Ia tampak tenang mengenakan pakaian kerja yang rapi, wajahnya tampan namun tetap sejuk dan tak tersentuh. Sesaat pandangannya jatuh padanya, namun seketika beralih kembali ke piring di hadapannya dengan tatapan datar—seolah kehadiranku tak lebih dari sekadar hiasan tak berguna.

Dalam cerita aslinya, Freya akan langsung mendudukkan diri dengan kasar, menatapnya dengan tajam, lalu mulai melancarkan kata-kata pedih karena merasa diabaikan. Pertengkaran pun tak terhindarkan. Dan setiap kali itu terjadi, bayang-bayang kebencian di mata Arga semakin pekat.

Aku menarik napas panjang, melangkah mendekat, lalu duduk dengan tenang di kursi seberangnya. Aku tak melontarkan sepatah kata pun. Tak ada pertanyaan sinis, tak ada cemberut. Aku hanya mengambil sendok dengan tenang dan mulai menyantap sarapan perlahan, sepenuhnya tak mempedulikan pandangan yang sesekali ia lempar ke arahku dengan sudut mata.

Keheningan yang panjang menyelimuti ruangan itu. Hanya terdengar suara peralatan makan yang beradu pelan. Arga tampak semakin gelisah. Ia menatapku berkali-kali, seolah menunggu ledakan amarah yang biasa datang. Namun tak ada yang terjadi. Aku tetap tenang, bahkan sesekali meliriknya dan memberikan senyum tipis yang sopan—bukan senyum merendah atau memohon perhatian, melainkan senyum yang tenang dan berjarak.

Akhirnya, ia tak tahan lagi. Meletakkan peralatan makannya pelan, suaranya terdengar rendah dan penuh selidik.

"Kau bermaksud apa?"

Aku mendongak, menatap matanya dengan tulus. "Bermaksud apa dengan apa?"

"Diam saja. Tak membentak, tak menuntut perhatian. Dan senyum itu..." Arga menyipitkan mata, seolah sedang menghadapi makhluk asing. "Apa yang kau rencanakan? Pura-pura berubah agar aku merasa bersalah? Atau ada rencana licik lain yang sedang kau susun?"

Pertanyaan itu menusuk tajam. Hatiku terasa perih. Begitulah pandangan pria ini terhadap Freya—selalu curiga, selalu menganggap buruk, seolah setiap tindakannya pasti menyembunyikan niat jahat. Namun aku tak membiarkan rasa sakit itu berubah menjadi amarah. Aku hanya menatapnya lekat-lekat, lalu berucap dengan suara lembut namun tegas.

"Tidak ada rencana apa pun, Arga. Aku hanya menyadari... selama ini aku mungkin terlalu banyak menuntut dan bersikap buruk. Mulai hari ini, aku tak akan lagi menyusahkanmu. Aku tak akan memaksamu menyukai kehadiranku. Aku hanya ingin hidup tenang, dan membiarkanmu juga begitu. Itu saja."

Arga terpaku. Kata-kata itu seolah menghantam dadanya. Ia menatapku lekat-lekat, matanya menyelidiki setiap inci wajahku, berusaha mencari tanda-tanda kebohongan atau kepura-puraan. Namun yang ia temukan hanyalah ketulusan yang tak pernah ia lihat sebelumnya. Keheningan kembali menyelimuti ruangan, kali ini terasa lebih berat dan penuh pertanyaan.

Aku tak menunggu jawabannya. Setelah menelan suapan terakhir, aku berdiri perlahan. "Selamat berangkat kerja. Hati-hati di jalan."

Tanpa menoleh lagi, aku melangkah keluar dari ruang makan. Namun saat punggungku berpaling darinya, aku tak melihat bagaimana pandangan Arga yang terpaku di tempat, menatap punggungku yang menjauh dengan perasaan bingung yang tak mampu ia sembunyikan. Sesuatu yang jauh berbeda dari kebiasaan Freya, sesuatu yang membuat hatinya yang sedingin es itu tiba-tiba bergetar tak menentu.

Dan aku pun tak tahu... perubahan kecil yang kubawa pagi ini, perlahan mulai mengubah arah alur cerita yang seharusnya berjalan lurus menuju kehancuran.

 

bersambung.....

1
Irsyad
wah keren
Ayu Gerimis: makasiii KK Irsyad udah mampir dan suka yaa 🥰"
total 1 replies
septia19
di tunggu kelanjutannya besti 😍
Ayu Gerimis: siap 👍
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!