Terlukanya hati Istri dan Anak saat Ayahnya memilh lebih memperhatikan kebahagian saudara dan keponakannya, dan mengabaikan tanggung jawabnya kepada istri dan anak anaknya.
"Sedikit sedikit uang sedikit sedikit yang kalian minta, kalian pikir saya ini mesin pencetak uang." Bentak pak Galih kepada anak sulungnya yang minta uang bayar SPP.
"Ini lagi mama kalian nggak becus jadi ibu, taunya cuma nadang doang, nggak bisa usaha cari uang, bisanya cuma mengemis sama suami." hina pak Galih kepada sang istri.
Ingin tau kelanjutannya, ikuti terus cerita mamak ya..... 😘😘😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon devi oktavia_10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Satu
"Pa, minta uang ya, hari ini terakhir bayar SPP, klau aku nggak bayar, nggak di izinkan masuk sekolah." ucap Ares kepada sang ayah yang sedang duduk santai menghisap rokok dan di temani dengan secangkir kopi di ruang tamu.
Brak....
"Sedikit sedikit uang sedikit sedikit uang, kalian pikir saya ini mesin pencetak uang haaa... Dasar benalu kalian ini."
"Punya bini juga sama aja begonya, nggak bisa membantu suami untuk mencari nafkah, nggak ada manfaatnya kalian ini, hanya bisa menyusahkan saja." maki pak Galih menggebrak meja.
Ares memicingkan matanya dan tangan terkepal menahan amarah, sungguh ingin sekali dia memaki balik sang ayah, hanya saja dia terpaksa diam, ibunya selalu melarang jangan membalas ucapan ayahnya.
Di dapur, air mata bu Soraya menetes menahan perih di hatinya, begitu lah suaminya klau anak dan istrinya minta uang, suaminya akan selalu marah besar dan menghina anak istrinya tanpa perduli anak istrinya sakit hati.
"Ma, kenapa papa selalu marah marah kalau kita minta uang, coba saja Alika atau bang Roy yang minta uang, papa selalu memberi dengan senang hati." ujar Laras dengan suara tertahan.
Bu Soraya tidak dapat menjawab ucapan ucapan sang anak, hanya tersenyum palsu menahan luka di hati, tangannya sibuk menyalin lauk ke dalam mangkok.
"Kak, sabar ya, nanti klau adek sudah besar, adek akan cari uang yang banyak, adek akan bahagiakan mama, kakak dan abang." ucap si bungsu yang baru berumur 9th.
"Iya dek, kita harus sukses, biar bisa membahagiakan mama, dan bisa membeli apa yang kita inginkan, tanpa minta uang sama papa." ucap Laras menimpali ucapan sang adik dengan mata berkaca kaca.
Sungguh hati bu Soraya tercabik mendengar obrolan anak anaknya itu.
"Panggil abang sama Papa, buat sarapan." seru bu Soraya menata hidangan sederhana di atas meja.
"Hanya ini yang kamu masak, apa nggak ada yang lain hmmm.... Uang minta terus, tapi masakan nggak jauh dari tempe dan tahu." amuk pak Galih melihat menu di atas meja makan sederhana itu, yang tersakiti hanya orek tempe, sayur toge dan sambal.
"Uang lima. puluh ribu sehari mana cukup buat beli daging pa, dapat beli ini sudah bersyukur." jawab bu Soraya.
"Halah.... Bisa nya jawab aja, makanya kerja dong, cari uang, jangannya cuma bisa minta doang sama suami, kamu pikir saya ini mesin uang." sinis pak Galih.
Deggg....
Sungguh nyeri hari wanita 40th itu mendengar ucapan pedas dari suaminya itu.
Setiap hari tidak ada kata kata lembut yang keluar dari mulut suaminya itu, pasti saja kata kata yang akan melukai perasaan anak istrinya.
"Makan bang, kak, dek, nanti kalian terlambat berangkat sekolah." ucap bu Soraya yang tidak memperdulikan suaminya itu.
"Irit irit tuh makannya, jangan rakus, kalian pikir cari uang gampang." ucap pak Galih lagi semakin menambah luka di hati anak anaknya.
Rasanya makanan yang masuk kedalam mulut mereka, bagai kawat berduri yang di paksa masuk kedalam tenggorokan mereka, sehingga membuat sakit yang teramat dalam.
"Ma, Ares berangkat ya, assalam mu'alaikum." ucap anak laki laki yang baru duduk di KLS 1 SMA itu mencium takzim punggung tangan sang ibu dan mengecup singkat pipi tirus ibunya itu.
"Kakak sama adek juga ya ma." ucap Laras dan Gibran menyalami sang mama bergantian.
"Iya kak, kalian hati hati ya, jajannya jangan sembarangan ya." ucap bu Soraya penuh kasih.
Bu Soraya menatap punggung ke tiga putra putrinya mulai menjauh darinya, laku masuk ke dalam rumah.
"Mas, bisa nggak sih klau ngomong sama anak anak itu lembut, dan jangan selalu menyakiti perasaan mereka." tegur bu Soraya kepada sang suami yang sudah rapi akan berangkat kerja.
"Ck, nggak usah sok ngajarin saya, klau masih bergantung hidup sama saya." sinis pak Galih tanpa perasaan.
"Astagfirullah...." bisik bu Soraya dalam hati, sungguh hatinya sangat sakit mendengar ucapan suaminya itu.
"Saya berangkat, klau saya pulang ke sorean nggak usah telpon lah, saya mau ke rumah ibu, Alika minta di temani main sama saya." ketus pak Galih tanpa menjaga perasaan istrinya.
"Ya." jawab bu Soraya singkat, sudah tidak aneh baginya, sebab hari ini suaminya gajian, sudah pasti keponakan dan adik iparnya minta jatah kepada suaminya itu.
Setelah kepergian sang suami, bu Soraya merapikan rumahnya dengan cekatan, sambil otaknya berfikir ingin mencari kerja apa yang bisa dia lakukan untuk menambah uang sakunya.
Tok...
Tok....
Tok....
Tengah sibuk merapikan rumah, terdengar pintu di ketuk dari luar, bu Soraya meninggalkan kerjaannya untuk melihat tamu yang datang.
"Iya, tunggu sebentar." seru bu Soraya dari dalam.
"Selamat pagi bestee ku...." ujar bu Rini dengan senyum pepsodentnya.
"Astaga, kamu ini, dikira siapa." omel bu Soraya geleng geleng kepala melihat teman sekaligus tetangganya itu.
"Hehehe.... aku lihat suami durjana mu sudah keluar rumah, makanya aku buru buru ke sini." cengir bu Rini lansung membuntuti temannya itu, karena bu Soraya lansung masuk menuju westafel untuk mencuci piring.
"Ada apa perlu apa memang? " tanya bu Soraya yang masih sibuk dengan cucian piring terakhirnya, selesai mencuci piring, lalu dia mengelap tangannya dengan lap kering, dan duduk di kursi meja makan.
"Itu, aku dapat pesanan snack untuk acara bu lurah lusa, dia minta bikinkan aku 250 box snack box, kamu mau nggak bantu aku bikin bolu sama risoles? " ucap bu Rini penuh semangat.
"Serius Rin." seru bu Soraya tak kalah hebohnya.
"Seriuslah, masa bohong sih." omel bu Rini menjulingkan matanya.
"Aku mau, tapi... Modalnya nggak ada." keluh bu Soraya lemah.
"Soal modal, kamu tenang aja, aku yang belanja, kamu tinggal catat bahan bahannya aja, nanti aku yang belanja." ucap bu Rini.
"Baiklah klau gitu." ucap bu Soraya lega.
"Raya, ini ada sedikit rezeki, suami aku kemaren naik jabatan, jadi dia mau ngasih anak anak rezeki." ucap bu Rini memberikan tiga buah amplop ketangan bu Soraya.
"Ya Allah, terimakasih banyak ya Rin, semoga rezeki kamu dan suamimu semakin lancar." ucap bu Soraya berkaca kaca, ya selama ini hanya bu Rini lah yang sangat mengerti keadaannya dan sering membantu bu Soraya, karena dia jauh dari sanak saudara yang berada di kampung.
"Aamiin.... Ya udah, klau gitu aku pulang dulu ya, jangan lupa catet apa aja yang harus di beli, nanti kita bikin di rumah ku aja ya, klau di sini nanti huru hara lagi sama suami mu itu." ucap bu Rini.
"Sippp lah." ucap bu Soraya tersenyum penuh rasa syukur.
Bersambung....
Haiii.... Jangan lupa like komen dan vote ya.... 😘😘😘
yg bnyyyykkkk doooongggg
hal yang dah gak pernah terjadi sekarang di rasakan lagi. tapi apa semua akan kembali kesemula atau dah terlambat??
gimana galih, anak yang masih kecil aja paham duwit yang kamu kasih tak seberapa, tapi sakit ya luar biasa karena uang itu
kaka mu tak berani nanya, tapi kamy luar biasa berani😘
pucat pasi atau serangan jantung🤭
jangan sampai nyesel nanti