Setelah ayahnya meninggal, Azalea hidup bagai pembantu di rumahnya sendiri di bawah kekejaman ibu dan kakak tirinya. Hingga suatu hari, Rosalinda menjual Azalea seharga miliaran rupiah kepada Daxon Ravenzo, penguasa mafia kejam.
Azalea diserahkan ke pria iblis itu bukan untuk menjadi istri, tapi hanya sebagai kandang pewaris. Daxon menginginkan tubuhnya hanya untuk melahirkan anak, tanpa cinta, tanpa belas kasihan.
"Kau kubeli untuk jadi BENIH keturunanku. Jangan bermimpi aku akan menyayangimu, karena bagiku... kau hanya alat."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ᴀᴜᴛʜᴏʀ_ʀᴀʙʙɪᴛ¹⁸, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Di siang yang mendung itu, terlihat seorang wanita muda yang sangat cantik dengan rambut hitam panjang terurai, bersimpuh di depan makam yang masih basah. Bahunya berguncang hebat, tangisnya pecah sejadi-jadinya seakan ingin menyusul kepergian orang yang paling ia cintai di dunia.
Azalea Griscella hancur lebur. Dunia gadis itu seolah runtuh total saat napas terakhir ayahnya berhenti.
"Ya Allah... Ayah... Ayah jangan tinggalkan Azalea... Hiks... Ayah..." Isak Azalea, air matanya mengalir deras membasahi pipi dan nisan makam itu.
Seorang wanita paruh baya yang tampak anggun dan lembut berjongkok di sampingnya. Itu adalah Rosa, ibu tirinya. Wanita itu memeluk bahu Azalea erat, mengusap punggung gadis itu penuh kasih sayang.
"Kamu harus sabar, Sayang..." Ucap Rosa dengan nada yang begitu lembut dan penuh perhatian.
"Jangan menangis terus seperti ini, Nak. Kalau kamu bersedih begini terus, Ayah tidak akan tenang di alam sana. Ayah pasti sedih melihat putri kesayangannya menderita. Ingat... kamu tidak sendirian. Kamu masih punya Ibu, dan Kakak Selvina. Kami keluarga kamu." Ucap Rosa.
Selvina, putri kandung Rosa yang berdiri di samping mereka, ikut berjongkok dan menggenggam tangan Azalea. Wajahnya yang cantik terlihat sendu dan ikut bersedih.
"Apa yang Ibu katakan benar, Azalea..." Ucap Selvina lirih. "Kamu masih punya kami berdua. Kami tidak akan pernah meninggalkan kamu. Anggap saja Ibu dan aku sebagai pengganti Ayah yang akan menjaga kamu selamanya."
Azalea mengangkat wajahnya yang bengkak karena tangis. Ia menatap wajah ibu tirinya dan kakak tirinya itu dengan pandangan penuh rasa terima kasih. Di matanya yang polos dan lugu, mereka adalah malaikat pengganti ayahnya.
Sejak ayahnya menikah dengan Rosa lima tahun lalu, wanita itu dan anak perempuannya memang selalu bersikap sangat baik, manis, dan perhatian pada Azalea. Mereka memanjakannya, selalu ada untuknya, dan membuat Azalea merasa tidak kehilangan kasih sayang.
Namun, Azalea yang terlalu polos dan tulus itu sama sekali tidak menyadari satu hal besar... Bahwa semua kebaikan, senyuman, dan kasih sayang itu hanyalah topeng kepalsuan.
Di balik senyum manis itu, tersembunyi hati yang busuk, penuh ambisi, dan kebencian yang mendalam. Mereka hanya menunggu waktu yang tepat untuk menampakkan wajah aslinya.
"Terima kasih... Terima kasih Ibu dan Kakak..." Isak Azalea, memeluk mereka berdua erat. "Terima kasih sudah menyayangi Azalea. Azalea janji... Azalea pasti akan membalas semua budi baik Ibu dan Kakak Selvina. Kalian adalah keluarga terbaik yang Azalea punya." Ucap Azalea.
Rosa dan Selvina saling bertukar pandang sekilas. Di detik itu, ada kilatan licik yang sangat cepat melintas di mata mereka, namun kembali hilang secepat kilat berganti wajah sedih.
"Sudah, Nak... Ayo kita pulang." Rosa mengusap sisa air mata di pipi Azalea. "Kita harus pergi sebelum hujan turun. Nanti kalau kamu basah kuyup, kamu bisa sakit dan masuk angin. Ayah pasti tidak suka melihat kamu sakit." Ucap Rosa penuh perhatian.
"Iya benar, Azalea." Sambung Selvina sambil menatap langit yang mulai kelabu pekat. "Lihat langit itu, sudah sangat mendung. Sepertinya sebentar lagi akan turun hujan deras. Ayo pulang."
Azalea mengangguk lemah. Ia perlahan bangkit berdiri, namun sempat menoleh kembali menatap makam ayahnya untuk terakhir kalinya.
"Ayah... Tenanglah di sana. Ayah jangan khawatir... Azalea tidak sendiri lagi. Azalea sekarang dijaga sama Ibu Rosa dan Kakak Selvina. Mereka baik sekali sama Azalea. Ayah tenang ya... " Batin Azalea, hatinya yang hancur sedikit terobati karena merasa masih memiliki tempat bersandar.
Mereka bertiga pun berjalan menjauh menuju mobil mewah berwarna hitam yang terparkir di pinggir jalan.
Begitu mereka masuk ke dalam kabin mobil yang nyaman itu...
BYUUUUURRR!!!
Tiba-tiba langit seolah pecah. Hujan turun dengan sangat deras, membasahi seluruh bumi dengan butiran air yang dingin dan tajam.
Suara guntur bergemuruh kencang, petir menyambar menyinari langit yang gelap.
Seolah-olah alam sedang memberi pertanda...Bahwa matahari dalam hidup Azalea telah benar-benar tenggelam. Dan kehidupan barunya yang jauh lebih gelap, lebih dingin, dan lebih mengerikan... Baru saja dimulai.
Sopir menyalakan mesin dan mulai melajukan mobil itu menjauhi area pemakaman.
Azalea yang kelelahan menangis dan hati yang sakit, perlahan menyandarkan kepalanya di pangkuan ibu tirinya. Tubuhnya lemas, dan matanya perlahan terpejam.
Rosa mengusap rambut panjang Azalea dengan gerakan lembut.
Namun, senyum di bibir Rosa saat itu... Bukan senyum kasih sayang. Melainkan senyum kemenangan.
Selvina yang duduk di kursi depan, melirik ke belakang. Ia menatap Azalea yang sedang tertidur pulas itu dengan tatapan penuh rasa iri yang membara.
"Tidurlah, Putri Raja... Nikmati rasa aman ini untuk terakhir kalinya. Mulai besok... Kamu akan tahu siapa kami sebenarnya. " Batin Selvina sinis.
...****************...
Sore hari perlahan tiba. Cahaya matahari mulai memudar, digantikan langit jingga yang mulai kelabu.
Azalea perlahan membuka matanya. Pandangannya masih sedikit kabur, sisa dari tangisan panjang dan kelelahan emosional yang ia rasakan seharian. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan, menyadari bahwa ia kini sudah berada di dalam kamarnya sendiri.
Gadis itu perlahan bangkit dari tidurnya, turun dari kasur empuk beralaskan sutra yang selama ini selalu menjadi tempat ternyamannya. Ia melangkah pelan keluar dari kamar, lalu menuruni tangga besar menuju lantai bawah, tujuannya hanya satu, ruang makan. Perutnya mulai terasa lapar, dan ia berharap bisa makan malam bersama Ibu dan Kakaknya seperti biasa.
Namun, saat kakinya melangkah masuk ke ruang makan yang luas itu... Hati Azalea seketika mencelos.
Di atas meja makan besar yang biasanya penuh dengan hidangan mewah, kini hanya tergeletak sebungkus roti tawar dan sebotol selai coklat. Tidak ada lauk, tidak ada sayur, tidak ada apapun.
Azalea mengerutkan kening bingung. "Mungkin Ibu menaruh makanan di dapur... " batinnya berusaha positif.
Ia pun berjalan menyusuri lorong menuju dapur yang terletak di belakang rumah. Di sana, ia melihat Bi Inah, pembantu rumah tangga yang sudah bekerja lama di keluarganya, sedang sibuk mengelap meja dapur.
"Eh, Non Azalea sudah bangun." Sapa Bi Inah dengan wajah lega. Wanita paruh baya itu tersenyum tulus pada majikannya yang muda.
"Syukurlah... Bibi baru saja selesai membuat nasi goreng. Itu kan makanan kesukaan Non dari kecil." Ucap Bi Inah.
Wajah muram Azalea seketika berubah cerah. Senyum manis kembali terbit di bibirnya.
"Benarkah, Bi? Wah, Azalea lapar sekali nih." Azalea segera mengambil piring bersih, lalu berjalan mendekati wajan yang masih mengepulkan uap hangat.
Saat ia sedang menyendok nasi goreng ke piringnya, Azalea sempat bertanya santai, "Oh iya Bi... Ibu sama Kakak Selvina di mana? Kok ruang makan sepi sekali dan menunya hanya roti?" Tanya Azalea.
Tangan Bi Inah sejenak berhenti bergerak. Wajah wanita itu tampak ragu dan sedih.
"Tadi... kata Nyonya Rosa, beliau mau pergi makan malam di luar sama Non Selvina." Jawab Bi Inah pelan, menundukkan wajah. "Katanya ada acara makan malam penting, jadi mereka berdua berangkat bersama dan... baru akan pulang larut malam."
Jantung Azalea sedikit mencelos. "Pergi makan malam? Tanpa aku? " Batin Azalea.
Namun sifat polosnya kembali mengambil alih pikirannya. 'Mungkin memang urusan dewasa, aku kan masih sedih, jadi mungkin mereka kasihan mengajakku keluar, ' pikirnya memaklumi.
"Ya sudah kalau begitu..." Ucap Azalea lembut, mencoba tersenyum agar Bi Inah tidak merasa bersalah. "Bi Inah lanjut aja kerjanya ya. Terima kasih nasinya, Bibi paling baik." Ucap Azalea.
Azalea membawa piring penuh nasi goreng itu kembali ke meja makan. Ia duduk sendirian di kursi besar yang biasanya ditempati ayahnya.
Sementara Bi Inah kembali menyibukkan diri membersihkan peralatan dapur, Azalea mulai menyantap makanannya dengan lahap. Nasi goreng buatan Bi Inah rasanya sangat lezat, persis seperti buatan mendiang ibunya dulu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
tega banget si valeria mpe celakai azalea😔😔😔
aldric paling penakut iiih🤣
rasaiin kau daxon beli sate ayam sana🥰😂
lanjut thor😄