NovelToon NovelToon
Hakim Dari Kegelapan

Hakim Dari Kegelapan

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / TKP
Popularitas:272
Nilai: 5
Nama Author: Hendry Octavian

Mahesa Bhumi Arka Denta Sikumbang Seorang pengusaha dan pengacara terkenal.Di malam hari dia menjadi Vigilante untuk membalaskan dendam kematian keluarganya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hendry Octavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kobaran yang Merenggut Segalanya

Menteng, Jakarta Pusat

11 September 2000

Langit siang itu seharusnya biru cerah, namun kini tertutup selimut asap hitam pekat yang membumbung tinggi hingga menembus awan. Di Jalan R.M. Panji Soeroso, keheningan lingkungan yang biasanya tenang mendadak pecah oleh teriakan panik dan deru napas yang memburu. Lidah api yang ganas melahap dinding, jendela, dan atap sebuah rumah besar bergaya klasik yang sejak lama menjadi kebanggaan warga sekitar. Bau asap menyengat bercampur dengan aroma kayu terbakar dan sesuatu yang lain—bau yang menyakitkan hati dan sulit dilupakan—terbawa angin ke seluruh penjuru jalan.

"Air! Kita butuh lebih banyak air, cepat!" teriak seorang warga sambil memegangi ujung selang yang airnya mulai menyusut.

"Ambil selang dari rumah Pak RT! Yang besar!" sahut orang lain sambil berlari tergopoh-gopoh.

"Pak Arya! Bu Citra! Kalian di dalam sana?!" panggil tetangga sebelah rumah dengan suara parau, matanya menatap tak percaya pada kobaran api yang semakin meluas.

Beberapa pria berbadan tegap nekat melangkah maju, bahu mereka bergotong-royong mendobrak pintu depan yang sudah hangus di bagian pinggir. Namun hawa panas yang menyengat seketika menghantam wajah mereka, memaksa mereka mundur terhuyung-huyung sambil menutup hidung dan mulut. Api telah menguasai hampir seluruh bangunan, menjadikannya sebuah neraka yang menyala di tengah pemukiman elit.

Rumah itu milik pasangan yang sangat dihormati dan dikenal hampir semua orang di lingkungan tersebut: Ir. Arya Arsyad Sikumbang dan istrinya, dr. Citra Denta Kanaya, dokter yang murah hati dan tak pernah menolak membantu siapa pun yang datang meminta pertolongan. Keduanya dikenal sebagai pasangan yang paling ramah, paling dermawan, dan paling bahagia di antara tetangga lainnya. Tak seorang pun menyangka bahwa rumah yang penuh kasih sayang itu kini berubah menjadi lautan api yang mencekam.

Tak lama kemudian, deru mesin mobil Toyota Land Cruiser 100 terdengar mendekat, lalu berhenti mendadak di tepi jalan tepat di belakang kerumunan warga. Pintu pengemudi terbuka, dan seorang perwira polisi berpangkat Ajun Komisaris Besar turun dengan wajah yang tegang luar biasa. Keringat dingin sudah membasahi pelipisnya meski ia belum bergerak jauh dari mobil. Itu adalah AKBP Andi Rajo Alam Sikumbang.

Belum sempat ia menutup pintu mobil belakang, dua anak laki-laki kembar berusia lima tahun meloncat keluar dengan pakaian tidur yang belum sempat diganti. Mata mereka membelalak tak percaya melihat rumah yang kini tak lagi berbentuk seperti tempat mereka pulang setiap hari.

"Ayah! Bunda!" seru yang satu, Bhumi, suaranya melengking penuh harap sekaligus takut.

"Adik Nadya!" sahut Bayu, kakak beradik yang lain, matanya mencari-cari di antara kepulan asap seolah bisa melihat sosok adik kecil mereka di sana.

Keduanya berlari sekuat tenaga menuju gerbang rumah yang sudah terbakar, tak peduli pada panas yang semakin terasa di kulit mereka.

"Bhumi! Bayu! Jangan ke sana!"

Andi segera melangkah lebar, menangkap kedua bocah itu di tengah lari mereka, lalu memeluk keduanya erat-erat seolah takut kehilangan mereka juga. Tubuh mungil kedua keponakannya itu gemetar hebat di dalam pelukannya.

"Jangan... jangan ke sana, Nak. Berbahaya sekali."

"Tapi Ayah sama Bunda masih ada di dalam! Harus kita selamatkan!" teriak Bhumi sambil meronta kuat, air mata mulai mengalir deras di pipinya.

"Adik Nadya juga belum keluar! Dia takut gelap, Om! Dia takut api!" Bayu menangis semakin keras, tangannya mencengkeram seragam pamannya.

Andi memejamkan mata rapat-rapat. Dadanya terasa sesak luar biasa, seolah ada batu besar yang menindih paru-parunya. Ia tahu betul peluang untuk menyelamatkan mereka sudah hilang sejak api pertama kali muncul.

"Maafkan Om... maafkan Om, Nak. Om hanya sempat menyelamatkan kalian berdua dari tempat penitipan anak tadi. Sisanya... sisanya terlambat."

Tangis kedua bocah itu akhirnya pecah sepenuhnya. Mereka berhenti meronta, hanya bisa menangis tersedu-sedu sambil terus memanggil nama kedua orang tua dan adik perempuan mereka yang masih terperangkap di dalam bangunan yang semakin runtuh. Hati Andi hancur melihat kepolosan yang direnggut secara paksa dari jiwa kedua anak itu.

Dengan tangan yang gemetar hebat, Andi merogoh saku seragamnya dan mengeluarkan ponselnya. Ia menekan nomor yang sudah sangat hafal di kepalanya.

"Tirta..."

"Ya, Yah? Ada apa?" suara di seberang sana terdengar bingung mendengar nada bicara ayahnya yang berantakan.

"Kamu lihat berita di televisi? Atau dengar kabar apa pun soal kebakaran di Menteng?"

"Iya... barusan ada di berita. Itu... itu rumah Om Arya, kan?"

"Iya. Itu rumah mereka."

Suara di seberang telepon mendadak hening total selama beberapa detik, seolah waktu berhenti berputar.

"Bawa motor ke sini sekarang. Ayah butuh bantuanmu untuk membawa Bhumi dan Bayu pergi dari sini."

"Lima menit lagi, Yah. Aku segera meluncur," jawab Tirta singkat dan tegas, lalu sambungan terputus.

 

Tak lama berselang, deru mesin sepeda motor yang kencang terdengar mendekat, lalu berhenti mendadak di pinggir jalan. Seorang pemuda berusia sekitar sembilan belas tahun dengan wajah yang masih memancarkan ketegasan namun penuh kecemasan melepas helmnya, lalu berlari menerobos kerumunan warga menuju ayahnya. Itu adalah Tirta Aji Pamungkas .

"Ayah! Bagaimana keadaan di dalam?" tanyanya napas terengah-engah.

Andi tak menjawab, hanya menyerahkan kunci mobil yang sudah siap di tangannya.

"Bawa Adik kecil kembar kamu,Bhumi dan Bayu pulang ke rumah . Jangan biarkan mereka melihat apa yang terjadi di sini lebih lama lagi."

Tirta mengangguk paham meski hatinya ikut bergetar. Ia berbalik menghampiri kedua keponakan sepupunya yang masih duduk di tepi trotoar dengan mata bengkak.

Ia membuka pintu mobil, lalu berjongkok di depan mereka dan tersenyum lembut—senyum yang berusaha menyembunyikan kesedihan yang sama besarnya.

"Hei... kok dua jagoan Abang ini menangis? Katanya anak laki-laki harus kuat," ucapnya pelan sambil mengusap kepala mereka.

"Rumah kita terbakar, Bang... semuanya hilang," jawab Bhumi lirih.

"Ayah sama Bunda... mereka belum keluar," tambah Bayu dengan suara yang terputus-putus.

Tirta menelan ludah dengan susah payah agar isak tangisnya sendiri tak keluar. Ia merangkul bahu mereka berdua.

"Ayo ikut Abang dulu, ya. Nanti kita bicara banyak-banyak di rumah."

"Nggak mau! Aku nunggu Ayah sama Bunda!" tolak Bayu.

"Adik Nadya masih di sana! Aku nunggu dia!" seru Bhumi.

Tirta menutup matanya sejenak, menarik napas panjang untuk mengumpulkan kekuatan, lalu kembali tersenyum tipis.

"Kalau kalian tetap di sini, Ayah Abang malah makin susah bekerja menolong orang lain. Nanti Ayah Abang jadi sedih kalau melihat kalian sakit karena asap."

Perlahan namun pasti, ia menggendong Bayu lebih dulu dan memasukkannya ke kursi belakang, lalu kembali menggendong Bhumi. Kedua bocah itu akhirnya menurut, meski tangis mereka tak kunjung berhenti dan mata mereka terus menatap ke arah rumah yang kini tinggal puing-puing menyala.

 

Beberapa menit kemudian, sirine mobil polisi dan ambulans terdengar beriringan. Kendaraan pemadam kebakaran pun tiba dengan pasukan lengkap, segera menyusun strategi untuk memadamkan sisa api yang masih menyala di sela-sela reruntuhan.

Seorang anggota polisi berpangkat Brigadir Polisi Dua menghampiri Andi dan memberi hormat dengan sikap tegap namun wajahnya penuh kesungguhan.

"Siap, Komandan. Pasukan sudah lengkap di lokasi."

AKBP Andi membalas hormat itu dengan gerakan yang mantap, meski hatinya sedang berkeping-keping.

"Segera amankan seluruh area lokasi. Pasang garis polisi di sekeliling rumah. Jangan ada seorang pun—termasuk warga—yang masuk sebelum api benar-benar padam dan dinyatakan aman oleh petugas pemadam."

"Siap, Komandan!"

"Setelah itu, segera bentuk tim olah tempat kejadian perkara. Periksa setiap jengkal tanah dan puing dengan teliti. Jangan sampai ada jejak yang terlewat."

"Siap dilaksanakan, Komandan!"

Andi mengangguk pelan, lalu kembali memandang rumah yang kini tinggal rangka yang hangus. Di balik kobaran api itu terdapat adik kandungnya sendiri, Arya—sahabat seperjuangannya, orang yang selalu ia andalkan—beserta istri dan anak bungsunya. Namun sebagai seorang pemimpin dan penegak hukum, ia terpaksa menyembunyikan duka pribadinya di balik sikap profesional yang teguh.

 

Menjelang malam, suasana di lingkungan rumah sudah mulai sepi. Warga perlahan pulang ke rumah masing-masing dengan hati yang masih gelisah, sementara petugas kebersihan dan tim penyelamat masih bekerja di lokasi. Sementara itu, di kamar jenazah rumah sakit pusat kota, suasana jauh lebih hening, dingin, dan menyayat hati.

Lampu ruangan yang berwarna putih terang memantulkan kesunyian yang menyesakkan. Seorang dokter forensik melepaskan sarung tangan karetnya yang sudah lembap, lalu meletakkannya di atas meja dengan gerakan lambat. Di hadapannya berdiri Bripda Arif, tangan kanannya memegang buku catatan kecil sementara tangan kirinya mencatat setiap penjelasan dengan teliti.

"Hasil identifikasi DNA dan pemeriksaan awal sudah keluar," ujar dokter itu dengan nada datar namun berat.

"Bagaimana hasilnya, Dok? Apakah benar korban bertiga?" tanya Arif hati-hati.

Dokter itu mengangguk pelan, lalu menunjuk lembaran kertas di meja.

"Korban pertama dipastikan adalah Ir. Arya Arsyad Sikumbang. Kesesuaian data keluarga seratus persen."

Ia menarik napas panjang sebelum melanjutkan.

"Korban kedua adalah dr. Citra Arka Denta Kanaya. Identitas terkonfirmasi melalui ciri khas medis dan sampel biologis."

Ia berhenti sejenak, seolah memberanikan diri untuk menyebutkan nama yang paling menyakitkan.

"Korban ketiga adalah Nadya Arka Denta Prameswari, anak bungsu berusia Satu Setengah tahun."

Bripda Arif menunduk dalam, matanya terasa panas.

"Jadi... ketiganya meninggal di tempat, Dok?"

Dokter kembali mengangguk, namun ekspresinya kini berubah serius.

"Bukan hanya itu, Bripda. Kami menemukan hal yang sangat mencurigakan pada tubuh korban sebelum api menyentuhnya."

Ia membuka beberapa lembar laporan pemeriksaan awal.

"Pak Arya dan Nadya ditemukan dengan luka tembak di bagian belakang kepala. Peluru masuk dari jarak dekat, dan keduanya sudah meninggal sebelum api mulai menjilat tubuh mereka."

Mata Arif langsung terbelalak kaget.

"Berarti... ini bukan kecelakaan murni? Bukan kebakaran yang tak sengaja terjadi?"

"Benar sekali. Ini bukan kecelakaan biasa," tegas dokter itu.

Ruangan mendadak terasa semakin dingin, seolah suhu udara turun drastis. Dokter itu kembali melanjutkan dengan suara yang makin pelan namun jelas.

"Pada korban perempuan dewasa, Bu Citra, juga ditemukan indikasi kuat adanya kekerasan seksual yang dilakukan beberapa jam sebelum kematiannya. Ada luka memar dan robekan yang tidak berhubungan dengan kebakaran."

Arif mengepalkan tangannya erat hingga urat-urat di lehernya menonjol.

"Ya Tuhan... sungguh kejam," desisnya pelan.

"Selain itu," tambah dokter,

"kondisi jasad menunjukkan adanya tanda-tanda mutilasi atau pengrusakan tubuh yang dilakukan setelah korban meninggal dunia, kemungkinan besar untuk menyamarkan jejak kejahatan."

Kedua orang itu terdiam selama beberapa detik, hanya suara detak jam dinding yang terdengar memecah keheningan.

"Kesimpulan sementara dari tim forensik," ujar dokter itu akhirnya, "ini adalah kasus pembunuhan berencana yang kemudian disamarkan sebagai kebakaran rumah untuk menghapus bukti."

Bripda Arif mengangguk pelan, menyimpan buku catatannya dengan hati-hati seolah itu beban yang sangat berat.

"Baik, Dok. Saya akan segera melaporkan hasil lengkap ini kepada Komandan Andi."

 

Di luar rumah sakit, malam telah larut sepenuhnya. Langit Jakarta tampak kelabu tanpa bintang, seolah ikut berduka atas kejadian yang mengerikan itu. Bripda Arif segera menekan nomor ponsel atasannya.

"Komandan..."

"Iya, Rif. Sudah ada hasil?" suara Andi terdengar berat dan lelah di seberang sana.

"Laporan awal pemeriksaan jenazah sudah selesai, Pak."

"Bagaimana... bagaimana hasilnya?"

Arif menarik napas panjang, berusaha menahan getar di suaranya.

"Korban dipastikan bertiga, Pak. Pak Arya, Bu Citra, dan Nadya. Tidak ada yang selamat."

Terdengar hening sejenak.

"Pak Arya dan Nadya ditemukan dengan luka tembak di belakang kepala, Pak. Mereka sudah meninggal sebelum kebakaran terjadi."

Hening kembali menyelimuti sambungan telepon.

"Dan Bu Citra..." Arif menggigit bibir bawahnya, "ditemukan bukti kekerasan seksual sebelum dibunuh, serta tanda-tanda pengrusakan tubuh setelahnya."

Terdengar suara benda berat jatuh pelan di seberang sana—ponsel di tangan Andi hampir terlepas dan jatuh ke lantai.

Rahang Andi mengeras, matanya yang semula dipenuhi air mata dan kesedihan perlahan berubah tajam, dipenuhi amarah yang membara.

"Siapa pun pelakunya..." ucapnya pelan namun mengancam, mengepalkan tangannya hingga buku jarinya memutih, "...aku akan menemukan mereka sampai ke ujung dunia. Aku pastikan mereka tidak akan lolos dari hukum dan pembalasan yang setimpal."

Sementara itu, di tempat lain yang jauh dari hiruk-pikuk sirine dan tangis duka, di sebuah ruangan remang-remang yang tertutup rapat, seseorang perlahan menekan tombol mati pada televisi yang baru saja menayangkan berita kebakaran di Menteng. Senyum tipis namun dingin dan penuh kemunafikan muncul di sudut bibirnya.

"Api memang pandai menghapus jejak, membakar bukti hingga tak berbentuk lagi," gumamnya pelan pada bayangannya sendiri di dinding.

"Tapi sayang sekali... tidak semuanya bisa dihapus begitu saja."

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!