Mengetahui suaminya berselingkuh, Raina memilih tidak menangis. Baginya, pengkhianatan harus dibalas dengan cara yang sama.
Nyawa bayar nyawa. Selingkuh balas selingkuh.
Target balas dendamnya adalah Hadiraksa Gautama... suami dari Monica, wanita yang merebut rumah tangganya.
Raina mendekati Hadi yang selama ini dianggap pria gagal oleh istrinya sendiri: miskin, tak punya masa depan, dan hidup dari belas kasihan keluarga. Namun siapa sangka, di balik penampilan sederhananya, Hadi menyimpan identitas sebagai pengusaha muda kaya raya yang sengaja menyembunyikan status demi menguji cinta Monica.
Saat permainan balas dendam dimulai, perasaan ikut berubah.
Robby mulai menyesali perselingkuhannya. Monica panik setelah mengetahui pria yang ia buang ternyata jauh lebih berharga dari yang ia kejar.
Mereka ingin kembali pada pasangan masing-masing.
Tapi terlambat...
Karena dua hati yang awalnya dipersatukan oleh luka, perlahan berubah menjadi candu dan saling cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Struk itu
Pagi itu berbau deterjen dan pengkhianatan.
Raina tidak tahu bagian mana yang lebih menyakitkan... aroma lavender dari cairan pencuci yang ia tuang ke ember, atau selembar kertas kecil yang tiba-tiba meluncur keluar dari kantung celana abu-abu milik Robby dan jatuh tepat di telapak tangannya.
Ia berdiri di depan mesin cuci. Matahari baru saja naik setinggi pohon rambutan di halaman. Suasana masih sepi, Robby sudah berangkat kerja sejak pukul tujuh, dan rumah terasa seperti kotak kosong yang terlalu besar untuk satu orang.
Raina sendirian.
Dan di tangannya, selembar struk hotel terlipat dua.
Ia menatapnya beberapa detik sebelum membuka lipatannya.
Grand Serena Hotel & Resort.
Check-in: Jumat, 14 Maret. Check-out: Sabtu, 15 Maret.
Deluxe Room — Rp 1.450.000 per malam.
Atas nama: Robert Saputra.
Tanggal itu Robby bilang ada pelatihan tim di luar kota. Semalam, dua malam, ia tidak pulang. Raina ingat menghabiskan Jumat malam sendirian dengan semangkuk mie instan dan serial televisi yang tidak benar-benar ia tonton.
Grand Serena bukan hotel murahan. Dan Grand Serena ada di kota yang sama dengan kota mereka.
Raina melipatnya kembali dengan rapi. Ia letakkan struk itu di tepi mesin cuci. Kemudian ia melanjutkan memilah pakaian, satu per satu, dengan tangan yang tetap bergerak meski kepalanya sudah berhenti berfungsi normal.
Kemeja putih Robby.
Yang ini terakhir dipakai kapan? Ia mengangkatnya, memeriksa kerah.. kebiasaan lama, karena Robby punya alergi di leher dan kadang perlu dikucek terlebih dahulu sebelum masuk mesin.
Raina membeku.
Di bawah kerah, samar tapi jelas bagi mata yang tahu mencarinya... garis merah muda pudar. Bukan noda makanan, bukan tinta. Bentuknya terlalu sempurna, terlalu berbentuk, untuk menjadi sesuatu yang tidak disengaja.
Bekas bibir.
Raina mendekatkan kemeja itu ke hidungnya. Di balik bau keringat dan sedikit bau parfum Robby yang ia kenal... ada sesuatu yang lain. Manis. Floral. Bukan parfumnya, bukan parfum Raina, bukan sesuatu yang pernah ia beli atau ia kenakan.
Ia menurunkan kemeja itu perlahan.
Kemudian duduk di lantai kamar mandi, punggung bersandar ke mesin cuci yang mulai bergemuruh, dan menatap ubin putih di depannya.
Yang aneh adalah... ia tidak menangis.
Dadanya sesak, ya. Ada sesuatu yang terasa seperti kepalan tangan di tengah rongga dadanya, sesuatu yang dingin, berat dan menekan. Tapi matanya kering. Ia menunggu air mata itu datang... sudah terbiasa, Raina selalu menangis saat terharu menonton film, menangis bahkan karena iklan susu di televisi yang menampilkan ibu dan anak.
Tapi untuk ini, tidak ada.
Mungkin karena jauh di dalam dirinya, bagian yang paling jujur dari Raina sudah tahu. Sudah lama tahu.
Ia mulai mengingat.
Tiga bulan lalu, Robby mulai sering pulang malam. Alasannya selalu masuk akal: proyek deadline, klien dari luar kota, rapat dadakan yang tidak bisa ditinggal. Raina tidak pernah mempertanyakan. Ia percaya.
Lalu dua bulan lalu, Robby tiba-tiba mengganti kata sandi ponselnya.
Raina pikir itu normal.
Sebulan lalu, saat mereka makan malam bersama dan Raina menyentuh lengan Robby untuk mengambil remote televisi, Robby menarik tangannya cepat, refleks, seperti disentuh sesuatu yang panas. Lalu tersenyum canggung dan bilang, "Kaget aja."
Raina pikir itu juga normal.
Tiga minggu lalu, ada nama kontak baru yang muncul di daftar panggilan Robby yang sempat terbuka di meja makan "Pak Hendra - Klien" yang rupanya menelepon hampir setiap hari, selalu di atas pukul delapan malam. Robby selalu mengangkat telepon itu di luar ruangan, di teras, kadang sampai ke halaman. Raina tidak bertanya. Ia pikir itu urusan pekerjaan.
Sekarang, duduk di lantai kamar mandi dengan struk hotel di tepi mesin cuci dan kemeja dengan bekas lipstik di tangannya, Raina menyusun semuanya seperti puzzle.
Dan gambar yang terbentuk sangat jelas.
"Bodoh,"pikirnya. Bukan untuk Robby, tapi untuk dirinya sendiri. "Kamu bodoh, Raina!"
Ia bangkit. Menyelesaikan cucian. Memasukkan semua pakaian ke mesin, menekan tombol, menunggu mesin mulai berputar. Ia menyimpan struk hotel itu di dalam laci mejanya, di bawah tumpukan buku catatan lama yang tidak pernah dibuka siapapun.
Kemudian ia masak. Nasi. Sayur asem. Tempe goreng.
Tangannya bergerak sendiri sementara kepalanya ada di tempat lain.
---
Siang hari berjalan lambat.
Raina duduk di kursi teras dengan segelas teh yang sudah dingin, menatap jalanan perumahan yang lengang. Perumahan Griya Asri blok C, nomor 14. Mereka sudah tinggal di sini lima tahun, sejak setahun setelah menikah. Rumah mungil dengan cat kuning gading yang sudah mulai memudar di sudut-sudutnya.
Dari teras, Raina bisa melihat rumah nomor 9 di seberang jalan... bercat putih, pagar kayu yang sudah sedikit kusam, tapi halaman depannya selalu bersih. Yang mencolok bukan rumahnya, melainkan penghuninya.
Monica.
Ibu rumah tangga biasa, bersuami Hadi... pria pendiam yang kerjanya tidak jelas, kadang proyek bangunan, kadang bantu-bantu warung, kadang tidak terlihat keluar rumah berhari-hari. Dari segi penghasilan, pasangan itu tidak seharusnya mencolok.
Tapi Monica mencolok.
Rambutnya selalu dirawat... lurus, mengkilap, seperti baru keluar dari salon mahal setiap minggunya. Tas-tasnya berganti-ganti. Sepatunya bukan produk pasar. Kulitnya terawat, yang pastinya membutuhkan lebih dari sekadar sabun mandi biasa.
Sekarang ia duduk di teras, menatap rumah nomor 9, dan merasakan sesuatu yang tidak enak mengendap di perutnya.
Monica selalu menyapa Robby dengan ceria setiap kali mereka berpapasan di jalan. Robby selalu membalasnya dengan terlalu ramah... Raina ingat sekarang, ingat dengan detail yang dulu ia abaikan. Tawa Robby yang sedikit lebih ringan. Langkahnya yang sedikit lebih lambat saat lewat depan rumah nomor 9.
Hal-hal kecil yang dulu tidak berarti apa-apa.
Sekarang terasa seperti tulisan yang sudah ada sejak lama, tapi Raina baru belajar membacanya hari ini.
Pukul empat sore, ponselnya bergetar.
Dari suaminya, Robby.
Ia mengangkat telepon.
"Halo."
"Rain, aku kayaknya bakal telat pulang malam ini. Ada lembur dadakan, klien minta revisi proposal sebelum besok pagi."
Suara Robby terdengar datar. Bukan lelah tapi datar. Seperti seseorang yang sedang membaca kalimat dari kertas.
Raina menarik napas pelan. "Oh. Ya sudah."
"Maaf ya. Kamu makan duluan aja."
"Oke."
Ia tutup telepon. Menatap layarnya yang kembali gelap.
Lembur. Klien. Revisi proposal.
Kalimat-kalimat itu tersusun terlalu rapi. Terlalu siap. Robby bahkan tidak pernah menelepon hanya untuk bilang ia akan terlambat, biasanya cukup pesan singkat. Tapi malam ini ia menelepon, seolah suara adalah bukti yang lebih meyakinkan dari sekadar teks.
Raina justru merasa sebaliknya.
Malam itu ia makan sendirian. Nasi yang ia masak tadi pagi, sayur yang sudah sedikit basi rasanya tapi masih bisa dimakan, tempe goreng yang terlalu asin karena tangannya tidak fokus saat memasak.
Televisi menyala tapi tidak ada yang ditonton.
Pukul sebelas malam, lampu di rumah nomor 9 masih menyala. Raina melihatnya dari jendela kamar yang ia buka sedikit, entah sejak kapan ia punya kebiasaan baru memperhatikan rumah itu.
Pukul dua belas lewat tiga puluh, ia mendengar suara kunci di pintu depan.
Robby masuk dengan langkah yang hati-hati... pelan, seperti seseorang yang tidak ingin membangunkan siapapun. Raina berbaring di tempat tidur dengan mata tertutup, napas diatur seperti orang tidur, mendengarkan setiap suara.
Gesper dibuka. Baju dilepas... ia mendengar bunyi lempar halus ke kursi sudut. Lalu suara langkah ke kamar mandi, air mengalir selama cukup lama... mandi, bukan sekadar cuci tangan.
Mandi sebelum tidur setelah pulang tengah malam.
Robby bukan tipe yang mandi malam kecuali sepulang dari tempat olahraga atau perjalanan jauh. Dan ia tadi bilang lembur di kantor.
Raina mendengarkan.
Ketika Robby akhirnya berbaring di sebelahnya, dalam dua menit napasnya sudah teratur. Tidur.
Kelelahan.
Tentu saja kelelahan.
Raina membuka matanya, menatap langit-langit kamar yang gelap.
Ia menunggu dua puluh menit lagi,memastikan napas di sebelahnya benar-benar napas tidur, bukan napas orang yang sedang berpura-pura. Kemudian, perlahan, ia membalikkan badan.
Robby tidur telentang. Mulutnya sedikit terbuka. Wajahnya dalam gelap terlihat seperti wajah yang ia kenal... rahang yang sama, hidung yang sama, lekukan di sudut bibirnya yang sama dengan yang pernah ia tatap selama berjam-jam di awal mereka pacaran.
Ponsel Robby terletak di kasur, tepat di sebelah tangannya yang terbuka.
Raina menatapnya.
Kemudian, dengan napas yang ditahan setengahnya, ia meraih ponsel itu.
Layar menyala tanpa password.
Raina ingat, Robby seminggu terakhir mengeluh jari-jarinya pegal karena terlalu banyak mengetik, dan ia sempat bilang sebentar nanti dikurangi dulu passwordnya biar gampang. Rupanya belum sempat dikunci lagi.
Atau lupa.
Raina membuka daftar aplikasi. WhatsApp...ia buka, gulir percakapan. Semua terlihat biasa: grup kantor, pesan dari ibunya, pesan dari temannya Dicky dan terakhir riwayat chat dengan Raina sendiri yang terakhir diisi pesan tadi sore.
Normal.
Ia membuka email. Juga normal... notifikasi dari marketplace, newsletter kantor, satu email dari klien tentang proposal yang memang ada. Barang bukti yang justru membuat semuanya terlihat terlalu rapi, seperti panggung yang sudah disiapkan.
Ia hampir meletakkan ponsel kembali.
Hampir.
Matanya berhenti di sebuah ikon yang tidak langsung ia kenali... bukan aplikasi yang umum, bukan yang biasa ia lihat di ponsel siapapun. Ikonnya polos, abu-abu, bentuknya seperti gembok kecil. Tidak ada nama tertulis di bawahnya.
Raina menekan ikon itu.
Aplikasi terbuka... semacam aplikasi pesan instan, tapi bukan yang umum. Tampilannya gelap, minimalis. Ada satu percakapan aktif.
Kontak tersimpan hanya dengan satu huruf: M.
Raina menggulir ke atas.
Ia membaca dalam gelap, layar di kecerahan paling rendah yang masih bisa terbaca, mulut terkatup rapat.
Kalimat-kalimat itu pendek-pendek tapi cukup untuk menghancurkan satu per satu hal yang ia bangun selama ini. Ada tawa yang ia bukan bagian di dalamnya. Ada rencana yang dibuat tanpa sepengetahuannya. Ada nama panggilan yang terdengar seperti nama yang diciptakan untuk dunia lain... dunia yang tertutup bagi Raina.
Dan satu pesan, dikirim tadi malam pukul sebelas lewat empat puluh:
"Makasih malamnya. Tadi enak banget."
Dibalas Robby pukul dua belas lewat lima:
"Aku yang makasih."
Raina menggeser ke profil kontak M.
Foto profil kecil, setengah wajah, tapi cukup.
Rambut hitam lurus. Senyum yang Raina pernah balas dengan senyum di depan pos satpam. Wajah yang tiap hari bisa dilihat dari balik jendela kamarnya.
Monica.
Istri Hadi.
Rumah nomor 9.
Raina meletakkan ponsel kembali ke tempatnya... pelan, tepat di posisi semula, dengan presisi yang hanya mungkin dilakukan oleh seseorang yang sedang mengerahkan seluruh kendalinya untuk tidak melakukan hal lain.
Kemudian ia berbaring lagi, menarik selimut sampai ke dagu, dan menatap langit-langit yang sama yang sudah ia tatap sepanjang malam.
Di sebelahnya, Robby tidur nyenyak setelah mandi yang menghapus bukti.
Di seberang jalan, di rumah bercat putih itu, ada seorang perempuan bersuami yang rupanya juga tidak merasa cukup dengan apa yang sudah dimilikinya.
Dan di sini... di bawah selimut yang sama, di kasur yang sama, Raina berbaring dengan mata terbuka dan dada yang tidak bergerak seperti seharusnya.
Ia tidak menangis.
Matanya kering.
Robby dan Monica mungkin akan kacau, karena Monika tahunya hanya menahan uang