Menceritakan tentang seorang mantan pembunuh berantai, yang di bebaskan untuk membantu polisi dalam memecahkan sebuah kasus, yang kemudian membuat dirinya secara resmi menjadi konsultan khusus kepolisian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chocolate Chase, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kunjungan ke Apartemen Stevie
Setelah melihat rekaman kamera pengawas di kantor polisi sore itu, Arthur dan Manuel segera bergerak sesuai rencana. Alih-alih langsung pulang ke apartemen pengawasan, mobil sedan hitam mereka membelah jalanan Manhattan yang mulai temaram menuju kawasan Queens, tempat apartemen Stevie berada. Langit New York malam itu berwarna oranye keunguan, berselimut lalu lintas yang masih padat di bawahnya.
Sesampainya di gedung apartemen yang dituju, mereka melangkah menuju unit milik adik perempuan Anton tersebut. Apartemen studio itu terhitung sederhana untuk ukuran anak keluarga Harrington, dengan dekorasi modern yang tampak agak berantakan.
Stevie membuka pintu dengan wajah pucat. Ia mengenakan hoodie abu-abu yang sama seperti yang terlihat dalam rekaman kamera pengawas. Matanya langsung melebar saat melihat Arthur berdiri di belakang Manuel.
"Detektif Vin… dan pria ini lagi," kata Stevie pelan. "Masuklah."
Ruangan apartemennya tidak besar. Ada beberapa foto keluarga di atas meja, tetapi bagian wajah Anton pada foto-foto tersebut tampak sengaja dirobek di bagian ujungnya. Begitu mereka duduk di sofa, Manuel langsung memulai pertanyaan dengan suara tenang namun tegas.
Stevie menggigit bibir bawahnya, sementara tangannya gemetar hebat. "Aku… aku memang pergi ke penthouse Anton malam itu. Dia meneleponku sekitar jam sembilan malam dengan suara panik. Dia bilang sudah muak menjadi boneka Ayah dan ingin keluar dari perusahaan. Kami akhirnya bertengkar hebat di sana. Aku marah sekali dan mengatainya egois karena ingin meninggalkan keluarga ini sendirian."
Air mata Stevie mulai jatuh membasahi pipinya. "Aku melempar gelas anggur ke lantai sampai pecah. Hoodie-ku bahkan sempat kotor karena cipratan anggur saat aku memeluknya dengan penuh amarah. Setelah itu, aku langsung pulang sekitar jam sepuluh lewat sedikit. Aku sangat takut Ayah akan murka jika tahu kami bertengkar, jadi aku memilih untuk diam saja."
Arthur yang selama ini hanya menyimak, akhirnya bersuara dengan nada lembut namun menghujam. "Stevie, kau memang bertangan kidal, dan serat kain dari hoodie abu-abumu sangat cocok dengan bukti yang ditemukan di tempat kejadian perkara. Namun, ada satu hal yang tidak selaras."
Stevie menatap Arthur dengan mata yang basah. "Apa?"
"Luka gorokan di leher Anton terlalu dalam dan rapi untuk ukuran kekuatan tangan wanita seusiamu," kata Arthur pelan. "Ada orang ketiga yang datang ke penthouse tepat setelah kau pergi. Sahabat masa kecil Anton sendiri, Charlie Moon."
Stevie tersentak kaget, matanya membelalak tidak percaya. "Charlie? Mereka bersahabat sejak taman kanak-kanak. Charlie selalu ada untuk Anton. Kenapa dia tega melakukan itu?"
Arthur mengangguk pelan. "Itulah yang akan kita cari tahu dari mulutnya langsung."
Stevie menangis lebih keras, bahunya terguncang. "Aku tidak membunuh kakakku… aku bersumpah. Aku hanya marah padanya malam itu."
Manuel mencatat semua keterangan Stevie dengan saksama di buku sakunya. Setelah menghabiskan hampir satu jam mendengarkan cerita Stevie tentang dinamika persahabatan Anton dan Charlie serta rahasia bisnis yang mulai retak, mereka pun berpamitan.
Saat mereka masuk kembali ke dalam mobil dinas, Manuel menutup pintu dengan agak keras. Ia menyalakan mesin lalu melirik Arthur. "Besok pagi kita langsung menyergap Charlie Moon. Kau yakin bukti-bukti darimu sudah cukup?"
Arthur tersenyum tipis sambil menatap jalanan yang mulai basah karena gerimis yang baru saja turun. "Cukup untuk menekannya secara psikologis. Kita lihat saja bagaimana reaksinya besok pagi."
Malam harinya, suasana kembali hening di dalam apartemen pengawasan. Setelah menyelesaikan makan malam mereka, Arthur duduk sendirian di balkon kecil sambil memegang botol air dingin. Kasus kematian Anton Harrington kini mulai terbuka lebar, tetapi sebagai mantan pembunuh berantai, Arthur tahu betul bahwa masih ada lapisan kegelapan yang lebih pekat di balik pengkhianatan seorang sahabat.