Kaelen Voss, pemuda yang dianggap sampah karena tak memiliki kekuatan apa pun seketika mendapatkan kekuatan legendaris Sistem Penguasaan Elemen. Dia mampu mengendalikan segala elemen, dari dasar hingga yang terkuat. Melalui perjalanan dan pertempuran, dia bangkit dari keterpurukan, mengungkap rahasia masa lalu, dan akhirnya mengalahkan penguasa kegelapan untuk menjadi sosok terhebat yang menguasai segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sandra Yandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Anak Yang Dihina
Sinar matahari pagi menyinari Kota Aras, sebuah kota perdagangan yang makmur di bagian selatan Kerajaan Aethra. Di sini kehidupan berjalan beriringan dengan kekuatan sihir. Orang-orang berjalan di jalanan berbatu sambil memanipulasi nyala api kecil untuk menyalakan pipa. Menggerakkan aliran air untuk mengisi bejana, atau memadatkan tanah untuk memperbaiki bangunan.
Di dunia ini, kekuatan adalah segalanya, dan kekuatan itu didasarkan pada satu hal yaitu Afinitas Elemen.
Setiap manusia yang lahir di benua ini memiliki kemampuan untuk mengendalikan salah satu dari enam elemen dasar yaitu Api, Air, Tanah, Angin, Petir, atau Cahaya.
Semakin kuat afinitas seseorang. Semakin tinggi status dan kehormatannya. Mereka yang memiliki bakat besar akan menjadi penyihir hebat, ksatria kerajaan, atau bangsawan yang dihormati.
Namun mereka yang tidak memiliki bakat akan dianggap sampah masyarakat.
Dan di Kota Aras itu, ada satu pemuda yang menjadi contoh paling nyata dari kata "sampah" itu. Namanya Kaelen Voss.
Kaelen berusia tujuh belas tahun. Memiliki wajah yang sebenarnya tampan dengan rahang tegas dan mata berwarna abu-abu yang jernih.
Namun wajah tampannya itu sering kali tertutup rambut yang berantakan dan ekspresi pasrah yang mendalam. Dia adalah satu-satunya keturunan dari Keluarga Voss, sebuah keluarga bangsawan yang dulu sangat dihormati karena para leluhurnya dikenal sebagai penyihir elemen terkuat.
Namun kejayaan itu hancur bertahun-tahun lalu setelah sebuah bencana misterius menimpa rumah leluhur mereka, meninggalkan keluarga Voss miskin, menderita, dan kehilangan pengaruh.
Kini Kaelen hidup sendirian di sebuah gubuk kecil di pinggiran kota. Berjuang setiap hari hanya untuk mendapatkan sepotong roti.
Yang terburuk dari semuanya adalah hasil ujian bakat yang dilakukan saat dia berusia sepuluh tahun.
Saat itu, Kristal Penentu Elemen yang dipegangnya tidak memancarkan cahaya apa pun. Tidak ada warna Merah untuk Api, Biru untuk Air, Cokelat untuk Tanah, Hijau untuk Angin, Kuning untuk Petir, maupun Putih untuk Cahaya. Kosong. Hitam pekat.
Kaelen dinyatakan sebagai orang yang tidak memiliki afinitas elemen sama sekali.
"Lihatlah siapa yang lewat! Itu dia 'Pemuda Tanpa Warna'!"
Suara ejekan yang keras terdengar membuat orang-orang di pasar menoleh dan tertawa kecil.
Kaelen seketika menghentikan langkahnya. Menggenggam erat keranjang rotan kosong di tangannya. Dia mengenakan jubah katun yang sudah bertambal di sana-sini. Kain yang dulunya adalah pakaian bagus milik ayahnya, namun kini sudah lusuh dan pudar warnanya.
Di hadapannya, berjalan perlahan sekelompok pemuda berpakaian rapi dan mewah. Di barisan paling depan adalah seorang pemuda berambut cokelat dengan mata yang angkuh, diiringi oleh dua pengikut berbadan besar.
Pemuda itu adalah Rian, putra bangsawan terkaya di Kota Aras, sekaligus penyihir muda berbakat elemen Api tingkat pemula. Bagi Rian, mengganggu dan menyakiti Kaelen adalah hiburan favoritnya.
"Kau mau ke mana, Kaelen?" tanya Rian sambil tersenyum miring. Dia menghalangi jalan pemuda itu. "Mencari sisa makanan di tempat sampah lagi? Atau mungkin kau berharap ada orang yang akan memberikanmu koin perak hanya karena kasihan melihat wajah menyedihkanmu?"
Beberapa orang di sekitar tertawa mendengar ucapan itu. Bagi mereka, melihat anak bangsawan jatuh miskin dan tidak berdaya dihina adalah tontonan yang menghibur.
"Aku hanya mau lewat, Rian," jawab Kaelen pelan.
Kaelen berusaha menekan rasa marah yang perlahan naik ke dada. Dia sudah terbiasa dengan ini. Dia tahu, jika dia melawan. Hukuman yang ia terima akan jauh lebih parah.
"Minggirlah."
"Wah! Berani juga kau bicara begitu padaku!"
Rian melangkah maju. Tatapan matanya menatap rendah ke arah Kaelen. Dia mengangkat tangannya, dan seketika itu juga, nyala api kecil berwarna merah menyala di ujung jarinya.
Penonton seketika bersorak pelan, kekuatan sihir selalu memukau mata mereka. "Kau lupa siapa aku? Dan kau... kau lupa siapa dirimu sendiri? Kau hanyalah sampah yang tidak bisa melakukan apa-apa. Keluargamu sudah hancur, dan kau pun akan mati hancur seperti mereka."
Kata-kata itu menusuk langsung ke hati Kaelen. Ingatan tentang ayah dan ibunya yang meninggal dalam kemiskinan dan sakit. Ingatan tentang bagaimana mereka diusir dari rumah leluhur mereka. Semua itu berputar kembali di kepalanya. Rasa sakit, kesedihan, dan amarah bercampur aduk menjadi satu.
"Jangan bicara buruk tentang keluargaku," ucap Kaelen. Suaranya bergetar menahan emosi.
"Hahahaha." Rian tertawa keras. "Kenapa? Kau mau memukulku? Ayo, coba saja gunakan 'kekuatan'mu itu. Oh, tapi lupa. Kau tidak punya kekuatan apa pun! Kau bahkan tidak pantas disebut manusia di dunia ini!"
Dengan kasar, Rian menyambar keranjang di tangan Kaelen dan melemparkannya ke tanah hingga pecah berkeping-keping. Lalu, dia mendorong dada Kaelen dengan keras hingga pemuda itu terjatuh ke tanah berdebu. Debu kotor menempel di wajah dan bajunya yang sudah lusuh.
"Besok adalah Hari Penilaian Kota," ucap Rian dingin sambil menatap ke bawah. "Anak-anak dari desa sekitar akan datang untuk diuji. Jangan berani-berani muncul di sana. Kehadiranmu hanya akan menodai kemegahan acara itu. Mengerti?"
Kaelen mengangkat wajahnya. Dia menatap tajam ke arah Rian. Mata abu-abunya berkilat penuh amarah. Tatapan itu membuat Rian sedikit terkejut, namun kemudian berubah menjadi kemarahan.
"Berani kau menatapku begitu?!" Rian mengangkat tangannya lagi. Kali ini api di tangannya lebih besar dan lebih panas. "Aku harus memberimu pelajaran agar kau tahu tempatmu!"
Namun sebelum Rian sempat melakukan apa pun, seorang pengurus pasar datang melerai mereka.
"Tuan Rian, cukup sudah," ucap pria paruh baya itu dengan nada memohon. "Jangan buat keributan di sini. Ayahmu akan marah jika sampai ada laporan bahwa kau menggunakan sihir untuk menyakiti orang biasa."
Rian mendengus kesal. Dia kemudian menurunkan tangannya, memadamkan api itu dengan santai. Dia meludah tepat di samping kaki Kaelen.
"Kau beruntung hari ini," bisik Rian dingin.
Setelah itu, Rian lalu berbalik dan pergi bersama teman-temannya, meninggalkan jejak tawa yang mengejek di belakangnya.
Kerumunan orang perlahan bubar, seolah tidak ada apa-apa yang terjadi. Tidak ada yang menolong Kaelen. Tidak ada yang bertanya apakah dia terluka. Bagi mereka, Kaelen adalah orang yang tidak ada artinya.
Kaelen bangkit berdiri perlahan. Dia membersihkan debu dari pakaiannya dengan gerakan lambat dan berat. Dia menatap punggung Rian yang menjauh. Tangan kanannya mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih.
Mengapa? batinnya berteriak. Mengapa aku tidak memiliki kekuatan? Mengapa aku harus menderita seperti ini? Apa salahku? Apa dosa keluargaku hingga kami harus diperlakukan seperti sampah?
Hati Kaelen terasa perih dan kosong. Dia tidak mau hidup seperti ini selamanya. Dia tidak mau terus-menerus dihina, dipukuli, dan dianggap tidak berguna. Dia ingin kuat. Dia ingin membuat semua orang yang meremehkannya menunduk hormat. Dia ingin mengembalikan nama baik keluarganya.
seperti biasa kakak selalu putus tengah jalan😩...suasananya seru+ kepo tau..../Scream/