Emma Taylor terpaksa harus melunasi hutang pamannya kepada seorang pria asing kaya raya yang tinggal di rumah besar Anggrek Residen.
Jatuh tempo pembayaran sudah sangat dekat bagi paman Broeri untuk membayar hutang tersebut namun dia tidak mempunyai uang sepeser pun saat dia ditagih oleh pria asing kaya raya itu yang bernama Noah Jones.
Terpaksa Emma yang harus menanggung hutang tersebut kepada Noah Jones pemilik rumah Anggrek Residen.
Karena Emma Taylor juga tidak mempunyai uang buat melunasi hutang paman Broeri maka dia dipaksa membayar dengan rahimnya.
Bagaimana nasib Emma Taylor selanjutnya, sanggupkah dia melunasi hutang milik paman Broeri Goldman atau dia memilih melarikan diri.
Mari kita simak kelanjutan kisah ini dalam novel berjudul Rahim Bayaran Milik Emma.
Salam buat semua pemirsa 🎂
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reny Rizky Aryati, SE., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 Rahim Bayaran
Emma terperangah kaget ketika seseorang memaksa masuk ke dalam rumahnya.
Orang berpakaian necis, lengkap dengan setelan jas warna hitam menyelonong masuk tanpa permisi.
"PAM !"
Pria asing tak dikenal itu langsung melayangkan tinjunya ke arah muka paman Broeri.
Tak tanggung-tanggung, dia menghajar paman Broeri sampai babak belur.
Seketika ruangan di rumah ini berubah mencekam, ketakutan tercipta secara tiba-tiba tanpa terduga.
Hening sedetik, seusai pria asing itu menghajar habis pamannya, Broeri.
"Siapa?" batin Emma tatkala dia melihat sosok pria asing di depannya.
Ketakutan menjalar di sekujur badan Emma Taylor, membuat bulu kuduknya berdiri, gemetar serta keringat dingin membasahi wajah cantiknya yang khas.
Pria asing nan tampan itu berdiri di hadapannya, sambil mengusap tangannya yang terkena noda darah ke arah saputangan. Ia menatap dingin Emma Taylor.
"Kau Emma Taylor?" tanyanya.
Emma tidak berani bersuara, suaranya tercekat bahkan ia tak berani menelan ludahnya sendiri ketika pria asing itu melihat ke arahnya.
"Perkenalkan namaku Noah Jones, aku kemari untuk menemuimu selain itu aku juga bermaksud menagih hutang pada Broeri Goldman." lanjutnya masih membersihkan tangan.
Emma terdiam, namun tatapannya bergerak ke arah paman Broeri Goldman yang tergeletak tak sadarkan diri.
"Apa maumu?" Emma memberanikan diri bersuara. Ia menoleh ke Noah Jones.
Senyum Noah Jones mengembang di sudut bibirnya yang menawan saat Emma Taylor bertanya kepada dirinya.
"Kau berani juga ternyata padaku, kupikir kau akan merengek minta ampunan tapi kau tidak melakukannya malah balas bertanya." ucap Noah Jones.
"Terus terang aku tidak punya uang sepeserpun untuk melunasi hutang paman Broeri lalu apa yang akan kau lakukan padaku?" tanya Emma.
Noah Jones melirik tajam ke arah Broeri Goldman yang diam tak berdaya di lantai sehabis ia menghajar laki-laki itu. Ia menarik nafas pelan sebelum lanjut bicara.
"Aku ada tawaran buatmu, tapi kau juga tidak bisa menolak tawaranku ini sebab kau harus melunasi hutang-hutang Broeri Goldman mau tak mau, nona." ucap Noah.
Noah Jones menatap tajam pada Emma Taylor yang bersimpuh gemetaran di depannya.
"A-apa tawarannya?" tanya Emma beringsut pelan.
Noah Jones menarik cepat lengan Emma sehingga mereka saling beradu pandangan.
Rahang Noah Jones mengeras, tapi ujung matanya bermain seperti tersenyum saat ia dan Emma Taylor saling menatap.
Noah Jones menahan nafasnya, ia akui bahwa wajah Emma Taylor sangatlah cantik sehingga ia sulit untuk tidak berhenti mengaguminya.
"Apa tawaran untuk ku?" tanya Emma ulang.
Noah Jones mengalihkan perhatiannya pada bibir merah jambu milik Emma yang merekah, ia tak tahan untuk tidak menciumnya namun ia masih bisa menahan diri.
Suara Noah Jones terdengar serak, nafasnya tercekat, menahan gairah.
"Aku butuh rahimmu buat menanam benih anakku, lebih tepatnya untuk calon pewaris Lucent Gem." ucapnya.
Kedua bola mata Emma Taylor terbelalak lebar, ia hampir tak percaya dengan apa yang ia dengar barusan.
"A-Apa?! Apa katamu?!" sahutnya bingung.
"Yah, aku ingin kau menjadi ibu pengganti buatku, aku butuh rahimmu dan aku akan membayarnya." ucap Noah.
"Ya, Tuhanku..." ucap Emma terkejut kaget.
Mereka berdua saling menatap lekat, jelas terlihat bahwa Emma Taylor tidak menyukai tawaran tersebut.
Emma Taylor melepaskan pegangan tangan Noah Jones padanya, ia menggeleng pelan sembari mengangkat tangannya.
"Ini ilegal, dan aku tidak bisa melakukannya. Aku tak sanggup!" ucapnya.
Noah Jones melangkah mundur, ia berjalan ke arah Broeri Goldman yang tergeletak tak sadarkan diri di lantai. Ia tendang pelan tubuh Broeri lalu menoleh pada Emma Taylor.
"Hanya ada satu pilihan untukmu, pertama jika kau menolak tawaran dariku maka kau harus rela melunasi hutang-hutang Broeri Goldman dan aku akan mengirimmu ke Bangladesh untuk kujual di sana."
Noah Jones berkata dengan sorot mata tajam tanpa senyuman, ia tampaknya serius.
Emma tertegun, tak sanggup bersuara, wajahnya kaku dan ia merasakan kedua kakinya seakan-akan tak berpijak lagi di lantai.
Tubuhnya goyang, pandangannya nanar serta kepalanya seperti dihantam godam besar. Seperti ada Lindu yang menghantam dirinya. Ia tertawa pelan.
"Kau bermaksud menindasku, seolah-olah aku ini bukan manusia. Kau memaksaku bahkan berani mengancamku. Aku bisa mengadukan tindakanmu adalah pidana."
Emma Taylor berucap tegas, tatapannya dingin saat ia menatap Noah Jones.
"Tidak ada pilihan buatmu, dan Aku tidak akan pernah melepaskanmu, Emma." sahut Noah.
Noah Jones berjalan mendekati Emma Taylor yang gugup lalu mencengkeram lengan perempuan malang itu sekali lagi.
Pandangan Noah bergerak dari ujung rambut hingga ujung kaki kemudian pandangannya terhenti pada lekuk tubuh Emma Taylor yang mempesona. Dan berpindah pada bibir merekah milik Emma.
"Aku menilaimu bahwa kau cocok sebagai ibu dari anakku, dan aku menginginkan rahimmu untuk aku buahi." ucap Noah serius.
"Kupikir bahwa anda sudah tidak waras lagi, dan kuharap anda membuang jauh-jauh pikiran anda itu sebab aku menolak tawaran gila anda, Tuan Noah Jones."
Emma Taylor mencoba melepaskan cengkraman tangan Noah Jones padanya namun ia tak berhasil melakukannya. Karena Noah menggenggamnya sangat kuat.
Pandangan mereka kembali beradu lekat, sorot mata keduanya terlihat serius.
"Haruskah aku memaksamu, Emma!" bisik Noah di dekat bibir Emma Taylor.
"Jauhkan dirimu dariku!" sahut Emma.
"Dan haruskah aku memaksamu membayar seluruh hutang Broeri Goldman sekitar lima puluh milyar sekarang juga." kata Noah.
Mendengar ucapan Noah Jones membuat Emma Taylor tak berdaya bahkan ia kehilangan kepercayaan dirinya untuk melawan pria di hadapannya ini.
"Apa kau bilang, kau tidak bersungguh-sungguh menyebut nilai hutang paman Broeri kan?" ucap Emma.
"Tidak." sahut Noah, senyum simpulnya merekah. "Aku berkata sungguh-sungguh padamu, hutang pamanmu adalah lima puluh milyar."
"Tidak mungkin dia berhutang sebesar itu, pasti kau sedang mencurangi paman Broeri, dia tidak mungkin berani berhutang sebanyak itu bahkan dia tidak memiliki pekerjaan tetap." sahut Emma.
"Dan bagaimana paman Broeri mu itu menjaminkan keponakannya sendiri sebagai jaminan atas hutang-hutang nya bahkan ia sepakat untuk menjual mu padaku." ucap Noah.
Bola mata Emma Taylor semakin melebar, sorot matanya serius ke arah Noah Jones, tatapannya mewakilkan isi hatinya saat ini.
"Itu tidak mungkin. Paman Broeri tidak akan setega itu padaku. Aku adalah keponakannya, putri dari kakak perempuannya. Kau pasti berbohong padaku." ucap Emma tak terima.
Pandangan Noah Jones menyipit, lalu ia tertawa kecil serta menjauhkan dirinya dari Emma Taylor.
"Bukan masalah bagiku kalau kau tak mau menerima tawaran ku menjadi ibu pengganti buat calon anakku, namun aku tekankan padamu sekali lagi bahwa aku juga tidak main-main dengan ucapanku." ucap Noah sembari menyaku tangan.
Lagi-lagi rahangnya mengeras, dan sorot matanya benar-benar dingin.
Noah Jones tak lagi menyembunyikan suasana hatinya yang terlihat serius, ia sangat kesal terhadap Emma Taylor yang berani menolak tawaran darinya.
"Aku punya bukti resmi, surat perjanjian antara aku dan Broeri Goldman. Jika kau ingin melihatnya, kau bisa datang ke rumah bersamaku." lanjutnya tegas.
"Dan kau kembali mencoba mengancamku." sahut Emma.
"Tidak, aku tidak mengancam mu melainkan memberitahukan hal penting padamu, Emma Taylor." ucap Noah dengan nada serius.
"Aku tidak berkenan meninggalkan rumah ini dan ikut bersamamu, Noah Jones." sahut Emma sembari melipat tangan ke depan dadanya yang membusung indah.
"Sayangnya kau harus pergi bersamaku sebab rumah ini bukan lagi milikmu melainkan milikku." kata Noah.
"A-Apa?!" ucap Emma tercengang.
"Yah, pamanmu, Broeri Goldman telah menjaminkan rumah ini atas hutang-hutang nya padaku. Dan mau tak mau maka kau harus segera angkat kaki dari rumah ini."
Seluruh dunia milik Emma Taylor runtuh seketika, ia tak percaya kalau pamannya akan menjaminkan rumah peninggalan warisan satu-satunya milik ibu kandungnya untuk melunasi hutang-hutang pamannya kepada Noah Jones.